
Assalamualaikum...
Terimakasih untuk yang sudah mampir di karya receh aku. Salam kenal🙏 semuanya. Don"t worry for sure I feedback. Please leave to trace ➡️❤️➡️🌟.
POV 1.
Waktu yang tertera pada jam tangan aku masih menunjukkan siang hari. Dada ku bergemuruh, pikiran ku berkelana. Aku merubah gaya berkendaranya seketika itu juga. Di naikkan sedikit kecepatannya dari biasanya tanpa bermaksud mengganggu mobilitas kendaraan lain. Aku tiba di sebuah taman dan segera memarkir kendaraan ku. Aku terdiam, aku segera mencari ruang kosong. Masih sepi, masih hening, aku bergegas turun dari mobil dan menapaki setiap anak tangga pada taman itu menuju taman selanjutnya. Aku duduk di sebuah bangku lalu menaruh tas di samping tempat duduk ku, kejadian beberapa jam yang lalu sempat terbersit saat perjalanan.
Aku duduk terdiam dan kemudian merintih. Aku menangis sendiri di sini. Ya, disini. Meneteskan banyak air mata yang tidak lagi kurasakan menetes tapi mengalir, sekali, dua kali entah berapa kali melewati aliran yang terbentuk di pipi ku. Hati ku yang sudah tak berbentuk indah karena banyak luka dan tambal sulam ini kembali hancur. Badan ku terasa remuk dan jiwa terasa melayang. Aku menangis, kecewa, patah hati berbaur jadi satu.
Aku membiarkan diri ku menjadi aku saat ini juga. Berduka dalam kehancuran, menangis karena patah hati yang mendalam, tak berdaya karena kekecewaan yang terlalu menusuk. Dia bertanya kenapa Tuhan? Kenapa harus lagi aku mengalami duka ini, dan aku bertanya seakan diriNya ada di kursi hadapannya menyimak setiap curahan hatinya. Entah apa salah dan dosa ku ke pada mereka semuanya sudah di berikan cinta dan perhatian yang lebih. Aku tidak pernah berharap sebuah materi membalas semua tulus semangat dan hidup yang bisa dia berikan kepada mereka, Aku hanya butuh semangat dan hidup yang sama yang dia perlukan saat ini dia sedang terseret - seret berjalan dalam kesendirian. Ke-sen-di-ri-an. Ya sebuah kenyataan pahit yang sangat mujarab menusuk dan menghancurkan kehidupan ku!!!.
Aku menangis deras tak kala mengingat ucapan dan perlakuan mereka di beberapa jam yang lalu. Aku kecewa karena itu yang aku butuhkan saat ini adalah dukungan dari sang suami tapi seharusnya suami yang seharusnya memberikan dukungan secara terang - terangan menghina ku di depan umum. Jika saja aku tidak pernah menyiapkannya kado untuk mertua mungkin aku masih bisa sedikit tidak mengaharap ada sebuah pelukan yang bisa memberiku sebuah nafas disaat aku tersengal sesak. Aku kecewa, patah hati pada suami ku sendiri.
Ada satu titik dimana aku merasa sangat kecewa karena sebuah perbuatan. Sampai membalas pesan atau menjawab panggilan pun aku enggan. Aku hanya bisa menangisi nasibku dalam diam. Kemudian menyesali tindakan yang orang lain lakukan. Tidak merugikanku, memang. Tapi jika yang kamu rasa itu pilu, bagaimana aku tidak ikut merasa ngilu?
Ketika peduliku seperti tak mereka hiraukan, tapi diamku kamu anggap amarah. Mungkin memang benar. Bahkan lebih dari sekedar murka. Semenyebalkan apapun kamu, aku tidak bisa membencimu. Aku hanya membenci hal - hal yang kamu lakukan yang tidak sesuai inginku. Aku mau peduli, tapi aku lelah tidak dihargai. Aku manusia biasa, batas kesabaranku dapat kamu lihat jelas dengan mata. Jika sesuatu yang kukatakan baik, can’t you just take it? No need to argue with me. I’m tired, bro. Like the bottom of my heart, I’m tired.
❤️❤️❤️❤️❤️
Drak…
Bunyi pintu kamarku yang kututup dengan membantingnya yang pasti dengan sangat keras.
“Aauuhh … kenapa nggak ada bisa ngerti aku sedikit sih?” teriakku sebal yang diakhiri dengan menghempaskan tubuh ke ranjang tembat tidur empuk ku dan segera menutup wajahku dengan bantal. Tak terasa lagi - lagi mataku sudah mengeluarkan air bening di sudut - sudut kelopak mata yang bertanda bahwa aku sudah tidak dapat menahan kesedihan. Yah … aku kembali menangis entah kali keberapa, menangis karena malangnya hidupku. Menangis karena tidak ada yang mengerti aku. Dan menangis atas nasib ini.
Pagi menjelang, sinar - sinar lembut matahari memancarkan sinarnya dari celah - celah jendela kamar sukses membangunkanku dari sebuah mimpi. Aku selalu berharap semalam hanya mimpi. Benar! hanya mimpi. Aku bangun dengan lemah dari ranjangku dan segera menyambar handuk untuk segera mandi. Berjalan di cermin ukuran besar yang ada dalam kamar. Di sana aku bisa melihat dengan jelas mata sembab yang menggambarkan sejuta kesedihan dan kekecewaan. Melihat sosok di cermin itu aku hanya bisa tersenyum pahit, ternyata ini bukan mimpi melainkan kenyataan yang harus aku hadapi. Setelah melihat diriku yang tak berguna ini, segera aku melanjutkan langkah gontaiku menuju kamar mandi yang terdapat dalam kamarku.
“Selesai…” gumamku setelah merapikan pakaian ku sebagai sentuhan terakhir dan siap untuk berangkat kekantor. Tanpa berkata apapun ataupun menyapa mertua dan suami ku, aku langsung menyambar kunci mobil di gantungan ruang tengah rumah dan segera melajukan mobilku dengan sangat - sangat kencang tanpa sarapan dan pamit dulu pada dua orang yang selalu aku hormati, sayangi, namun kini mereka membuat aku kecewa dan sangat kecewa.
__ADS_1
Dalam perjalanan aku teringat pada kejadian kemarin. Hari tersuram dalam hidupku. Ingin aku melarikan diri dari dunia ini dan dari semua kenyataan hidup ini. Tapi, tetap saja aku tak bisa. Aku tidak memiliki tempat tujuan lain yang pantas untuk menampung wanita putus asa sepertiku.
Tetes demi tetes air bening ini mengalir dari mata sayupku hingga tak terasa aku sudah berada di depan gerbang kantor. Segera aku masuk dan berjalan gontai menuju ruangan ku. Setelah sampai, aku segera menyimpan tas dan merebahkan diri di sofa tempat duduk dan menutup wajah ku dengan bantal sofa. Heran!! Itulah yang mungkin Wina rasakan melihat tingkahku itu.
“Mir, Kamu kenapa? Kamu gak apa - apa kan!”
“ Tidak apa - apa.” jawab ku singkat.
“Benar, kamu gak apa - apa?”
“Iya.” jawab ku dengan menampakan wajah tersenyum pada sahabatku yang cerewet itu. Aku yakin jika tidak begitu ia akan selalu bertanya karena kawatir pada ku.
“Apa kamu habis menangis?”
“Biasa ... Mas Tomy dan Mama mertua ku.”
“Oh … sabar ya!” ujar Wina sahabatku sambil menepuk - menepuk pundaku memberi dukungan.
Selama bekerja berlangsung aku sama sekali tidak fokus dengan apa yang aku kerjakan. Pikiranku malah ada di tempat lain dan dalam memori yang membuatku lebih terpuruk lagi. Terngiang - ngiang dengan apa yang dikatakan Ibu mertua.
“Kue mahal ini nggak cocok dengan lidahmu. Lagi pula harga kadomu dengan kue ini jauh bandingannya...” ucap Mama Dinda.
“Kamu pantasnya membantu pegawai disini melayani tamu - tamu yang hadir."
Huuhhh … kuhembuskan nafas dengan kasar mengingat itu.
“Miranda kamu harus kuat, tidak ada yang harus ditangisi.” lirihku menguatkan diri sendiri. Wina yang ada disebelahku hanya bisa menatap nanar kearahku. Yah … dia cukup tahu permasalahan yang aku hadapi.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Kini aku berdiri di depan pintu rumah, hanya menatap pintu itu dengan penuh keraguan. Apa aku harus langsung pulang setelah jam kerja usai? Aku pun dengan ragu memutar kenop pintu dan segera masuk ke dalam rumah. Deg … suara teriakan itu terdengar lagi, bukan!! Selalu terdengar lebih tepatnya. Kata - kata makian apa pantas dikeluarkan dari mulut seorang mertua? Dan apa pantas seorang suami berkata seperti itu? seorang yang terpelajar tidak dapat menahan egonya untuk sekadar menjernihkan keadaan.
Tapi kini keadaan telah berubah. Banyak hal yang membuatku sedih, kecewa dan bahkan membuat stres. Ingin aku lari dari kenyataan hidup ini tapi apa daya aku hanya seorang wanita yang lemah.
Segeraku langkahkan kaki menuju kamar. Tapi langkah ku terhenti tatkala sebuah suara memanggil namaku.
Sekarang aku duduk dengan tenang di ruang keluarga rumah ini dan hanya bisa menunduk lesu sekarang. Aku yakin Mama mertua sedang menatapku, entah tatapan apa itu, kasihankah?, sedihkah? atau kecewa?
“Mir, keputusan Mama sudah bulat, jadi...”
“Iya aku, jika kamu tetap tidak menyetujuinya maka itu sia - sia karena tidak ada lagi yang dapat dipertahankan."
Mendengar hal itu hatiku makin sakit. Benar mungkin tidak ada harapan lagi.
“Baik aku menyetujuinya, maka cepatlah bercerai!” lirihku pelan dengan isakan tangis berat.
“Bukankah kalian memang selalu tidak peduli padaku? Yang kalian pedulikan selalu wanita lain. Tapi apa bisa kalian memikirkanku sekali saja tanpa adanya yang lain. Mas Tomy dan Diana sudah lama putus, dan saat ini aku lah masa depan nya. Apa Mama perlu waktu yang lama untuk bisa melupakannya dan memikirkan aku sebagai menantu, menantu selalu kalian lukai. Sepertinya itu akan selalu sia - sia di mata Mama setiap kali apa yang aku lakukan.” jelasku panjang lebar dengan air mata yang terus mengalir.
"Miranda..."
“Bercerailah cepat! Mungkin dengan begitu dapat membaskan aku dari sakit ini.” teriakku sambil berlari menuju kamar.
Aku sekarang yakin Tomy dan Mama kaget dengan apa yang aku katakan tadi dan juga karena teriakanku, ya itu adalah teriakan pertamaku kepada mereka berdua sejak aku dilahirkan. Itu karena aku sudah tak tahan lagi. Mengapa mereka tidak bisa melirikku sedikit saja? Apa Diana harus selalu menjadi calon menantu kesayangan mereka?
Aku merasakannya sendiri selama hidupku, aku selalu dibanding - bandingkan. Mereka selalu berkata Diana adalah orang yang baik, rajin, dan tidak ada yang salah darinya. Sedangkan aku selalu menjadi yang terburuk, termalas, dan perbuatanku selalu salah dimata mereka. Meski aku sudah mati - matian mengambil hati mereka tetap aku tidak ada apa - apa nya di bandingkan Diana.
Realitanya keluarga memang harta yang paling berharga. Cinta yang paling tulus pun datangnya dari keluarga. Tidak ada yang bisa memberikan kasih sayang yang tak terhingga selain orang tua. Besarnya mengalahkan emosi jiwa dan saat itulah cinta sejati sesungguhnya terbentuk. Baginya hadiah terbesar dari Allah yang bermakna adalah sebuah keindahan, kebahagiaan dan keharmonisan sebuah keluarga. Tetapi apa jadinya jika keharmonisan itu tak pernah Ia rasakan. Itulah yang dialami oleh wanita dari keluarga sederhana saat ini.
Waalaikumsalam.....
__ADS_1
Terimakasih untuk yang sudah mampir di karya receh aku. Salam kenal🙏 semuanya. Don"t worry for sure I feedback. Please leave to trace ➡️❤️➡️🌟.