AKU ISTRI MU BUKAN PENGEMIS NAFKAH

AKU ISTRI MU BUKAN PENGEMIS NAFKAH
Bagian 15.


__ADS_3

Assalamualaikum...


Maaf saya hanya akan mendukung karya yang sudah meninggal kan jejak di karya saya berupa like, bintang. terimakasih 🙏🙏


Waktu menunjukkan jam 4 sore. Miranda masih berperang dengan peralatan dapurnya. Ia menyiapkan makan malam dengan sangat serius. Miranda tak pernah menganggap memasak adalah kegiatan remeh. Ia tak pernah percaya bahwa seorang istri yang tak pernah memasak untuk keluarganya adalah seorang Ibu yang baik. Jika ada yang meremehkan pekerjaan memasak, Ibu akan menangkisnya dengan satu argumen: masakan yang diberkahi Tuhan adalah masakan yang lahir dari tangan seorang Ibu yang menghadirkan cinta dan kasih sayangnya pada setiap zat rasa masakan yang dibikinnya. Ibu meyakini bahwa makanan adalah bahasa cinta seorang Ibu kepada keluarganya, seperti jembatan yang menghubungkan batin antarmanusia. Sampai di sini, anak-anaknya akan berhenti mendengar penjelasan yang sudah mereka hapal di luar kepala. Ibu takkan berhenti bicara kalau kedamaiannya diusik. Dan yang bisa menghentikannya hanya dirinya sendiri.


Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Angin berhembus masuk kesela - sela jendela, hingga seolah membelai apapun yang ada diruangan itu. Miranda kembali kekamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu, terlebih malam ini mertua dan suaminya bakal kedatangan tamu. Setelah mandi, Miranda menuju tempat dimana dia menyimpan beberapa aksesoris nya, dia mengambil sebuah kalung berlian yang berhasil dia beli dari hasil jerih payahnya bekerja selama ini. Setelah itu dia merapikan beberapa koleksi sepatunya yang sedikit berantakan di dalam lemari kaca. Kemudian Miranda menuju meja riasnya. Dia duduk di depan meja kaca rias dan memakai pelembab kebawah matanya dan juga lehernya.


Miranda kemudian tersenyum melihat parfum yang tutupnya di biarkan terbuka oleh Tomy. Miranda bergegas menutup parfum itu. Di tempat yang berbeda Diana pun sedang meletakkan parfum yang sama dengan Tomy di atas meja.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara seseorang membuka pintu ruangan itu. Tomy pun menoleh, dan dilihatnya wanita tinggi, berdress rapih berwarna biru, high heels hitam, berambut hitam panjang terurai dan membawa seikat bunga. Perlahan - lahan berjalan masuk kedalam rumah dengan senyum mengambang di wajahnya.


"Aku baru saja mau pergi menjemput mu."


"Aku tadi keluar mencari sesuatu, karena jarak nya sudah dekat ya sudah aku langsung aja kesini." ucap Diana sembari memberikan bunga yang dia bawa untuk Tante Dinda.


"Karena semua sudah berkumpul, yuk kita makan malam sekarang!" ucap Mama Dinda lalu berdiri dan menghampiri Diana kemudian menggandeng tangan nya menuju ruang makan.


Miranda sedang mengatur piring di atas meja, Diana duduk di kursi bersebelahan dengan Tomy.


"Maaf mbak itu kursi ku." ucap Miranda protes melihat Diana kini menduduki di kursi nya.

__ADS_1


"Mira, kamu bisa duduk di mana saja. Tidak mudah Diana untuk makan malam disini." ucap Mama Dinda. Akhirnya Miranda mengalah dan duduk di samping Mama Dinda. Ketika Miranda hendak menaruh nasi kepiring sang suami, Mama Dinda menahan tangan miranda dan membiarkan Diana yang melayani Tomy.


"Tapi, Mah?"


"Biarkan Diana yang melakukan nya."


Tiba - tiba, Miranda fokus pada gelang yang di kenakan Diana yang sama persis dengan miliknya buat kado ulang tahun Mama Dinda. Diana menyadari itu, dia pun bertanya.


"Ada apa mbak melihat saya seperti itu? Apa mbak belum pernah melihat wanita cantik yang mengenakan gelang mahal?"


"Ti ... tidak, bukan begitu. Gelang yang kamu kenakan sepertinya tidak asing di mata saya."


"Mana mungkin kamu mampu membeli gelang semahal itu. Biar pun kamu menabung hingga bertahun - tahun lamanya, juga tidak akan kebeli sama kamu." Mama Dinda menyela.


"Sudah - sudah jangan ribut. Kita sedang berada di meja makan. Tolong jaga sikap, terutama kamu Miranda. Diana tamu Mama dan tamu ku juga. jadi, tolong jaga sikap."


"Diana, setiap akhir pekan luangin waktu mu untuk makan malam bersama mama ya!" Diana menatap mata Mama Dinda.


"Bukan suatu yang sulit bukan untuk memenuhi permintaan Mama?"


"Tidak Mah."

__ADS_1


Miranda kesal, tapi berusaha menahan diri.


Tomy lalu membahas soal pekerjaan dengan Diana.


"Ngomong - ngomong apa kamu sudah mendapatkan kontrak kerja dengan perusahan pelangi?"


"Minggu depan direktur Lina akan mengadakan pertemuan dengan direktur pelangi."


"Kenapa proyek penting kamu serahkan keorang lain?" Hal - hal penting harus di tangani olehmu secara langsung."


"Direktur Lina telah bertanggung jawab atas itu


dan memiliki pengetahuan dalam masalah ini."


Mama Dinda menatap tajam Tomy dan Diana.


"Kalau begitu aku akan melakukannya pertemuan dengannya."


"Cuaca bagus malam ini. Mari kita makan di halaman hidangan penutup nya!"


Satu per satu mereka keluar menuju halaman rumah, yang sudah didesain layaknya makan malam romantis. Hanya piring-piring kotor yang tersisa di meja makan. Miranda membawanya ke dapur, mencuci piring-piring itu sampai bersih dan mengelap meja makan. Ritual berikutnya adalah Miranda menyusul mereka keluar.

__ADS_1


__ADS_2