AKU ISTRI MU BUKAN PENGEMIS NAFKAH

AKU ISTRI MU BUKAN PENGEMIS NAFKAH
Bagian 9.


__ADS_3

"Eh, ada istri Pak Tomy! Ayo gabung sini!"


Mantan sekretaris Tomy baru menyadari kehadiran istri mantan bos nya itu. Dia melambaikan tangan sembari tersenyum. Miranda hanya tersenyum kepada Gina. Sementara yang lain hanya menoleh tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Ngapain ngajak dia kemari? Lagi pula meja nya dah nggak muat. Biarkan saja dia disana. Meja disini untuk orang - orang wanita karir dan memiliki penghasilan sendiri, bukan wanita yang cuman bisa meminta dan menyusahkan seperti dia." Kalimat yang terucap secara spontan dari wanita yang melahirkan suami Miranda itu kembali menyiutkan nyali Miranda sebagai menantu, walaupun kenyataan sekarang dia pun sudah memiliki bisnis sendiri mungkin belum cukup dan belum masuk hitungan sebagai menantu Mama Dinda. Miranda merasa sangat kecil dan tidak berharga di mata mereka.


"Ibu ..." Gina membuang nafas secara kasar lalu berdiri menghampiri meja Miranda.


"Maafin ya Bu, atas sikap Tante Dinda tadi." ucap Gina sembari menyalami Miranda lalu memeluknya sekilas. Gina merasa tidak enak atas perlakuan Mama Dinda.


"Nggak usah di fikirkan, aku baik - baik saja. Kata - kata seperti itu sudah menjadi makanan hari - hari ku di rumah."


"Pak Tomy mana ya? Kenapa meninggalkan kamu disini sendirian?" ucap Gina mencari mantan bos nya sekaligus sahabatnya waktu masih sama - sama berjuang di bangku sekolah dulu.


"Entahlah, dari tadi aku duduk disini sendirian."


Gina mengangguk, tidak lama kemudian hp Gina berdering. Gina mengangkat telepon kemudian menjauh. Dia mengisyaratkan pada Miranda untuk berpamitan. Miranda kembali sendiri. Merasa semakin canggung dan tidak nyaman.


"Miranda, dari pada kamu bengong disitu, mending kamu sumbang tenaga. Bantu - bantu pelayan disini untuk melayani tamu - tamu Mama dan tamu undangan perusahaan. Memang pantesnya kamu tuh disini bantu - bantu, bukan duduk bersama kami disini! Kamu cocoknya jadi pembantu bukan menantu ku." ucapan sinis Mama Dinda yang kini sudah berdiri di depan meja Miranda sembari membawa sebuah kado.


"Iya, Mah." ucap Miranda kemudian berdiri dari tempat duduknya mulai memunguti piring dan gelas kotor yang ada di atas meja kemudian membawanya kebelakang untuk di cucinya.


Ketika sedang asyik dengan pekerjaan nya.

__ADS_1


"Nah begitu dong, kan enak. Bantu - bantu kek untuk meringankan beban pegawai yang bertugas hari ini disini, jangan cuman duduk manis disana karena kamu tidak pantas untuk duduk disana." ucap Mas Tomy yang kini sudah berdiri di belakang Miranda. Mas Tomy kemudian berjalan ke arah meja dimana ada Mamanya dan Diana duduk berbincang - bincang.


"Ma, selamat ulang tahun! Maafkan aku jika belum bisa menjadi anak baik seperti yang Mama harapkan, belum bisa bahagiakan Mama, belum bisa menjadi anak yang Mama banggakan. Namun bagiku, walaupun anak mu ini sudah memiliki istri dan anak, Mama tetap mendapatkan tempat yang tinggi di hati ku." ucap Tomy sembari memeluk Mama Dinda. Ucapan itu nampak tulus keluar dari mulutnya dari hati yang paling dalam.


Miranda menatap wajah Mama mertuanya itu, tampak biasa saja. Entah apa yang dia pikirkan.


"Hmmmmm! Apa cuman ngucapin selamat ultah? Hadiahnya mana?" Diana membuyarkan lamunan mereka. Mereka pun saling melepas pelukan. Tomy menoleh sembari mengulas senyum.


"Jelas bukan cuman ucapan dong." ucap Tomy sembari mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dalam jas nya.


"Ma, selamat ulang tahun! Ini ada hadiah kecil dari ku. Gunakan saja kartu ini jika Mama mau membeli sesuatu yang Mama inginkan."


Tampak wajah Mama Dinda berbinar. Wanita kepala lima itu tersenyum lebar. Di tepuk - tepuknya pundak Mas Tomy.


"Tomy, Diana, yuk kita kedepan untuk potong kue!" ucap Mama Dinda sembari menoleh ke arah Tomy dan Diana.


Miranda duduk sendirian, sedang kan Tomy, Diana dan Mama Dinda duduk di meja paling depan. Kue akhirnya di potong - potong. Setelah MC memandu membacakan do,a. Potongan - potongan kue itu di letakan dalam piring - piring kecil.


Mama Dinda memberikan potongan kue pertamanya pada Mas Tomy. Kemudian potongan kedua pada Mba Diana. Potongan kue yang lainnya di berikan kepada Gina yang baru saja datang bersama kekasihnya. Kemudian potongan kue selanjutnya di berikan kepada tamu - tamu arisan nya Mama Dinda yang sempat berhadir siang ini. Setelah semuanya mendapat bagian kue, potongan kue terakhir di berikan kepada Miranda.


"Mah, kok cuman setengah? Yang lain dapat satu piring penuh." tanya Miranda tak terima, karena tamu - tamu yang hadir dalam acara ulang tahun Mama Dinda dan perusahaan mendapat bagian yang sama rata sementara dia sendiri hanya mendapat setengah sedang kan kue ultah Mama Dinda masih banyak sisanya di atas meja.


"Kue - kue sisanya ini untuk ponakan Mama. Mereka sudah dalam perjalanan kesini dan sebentar lagi nyampai." ucap Mama Dinda sembari melirik ke arah Tomy.

__ADS_1


"Tom, kue - kue ini tolong kamu simpan dulu ya untuk ponakan - ponakan Mama." ucap Mama Dinda sembari menyodorkan kotak berisi kue kepada Tomy.


"Iya Mah."


"Sekalian ini juga di simpankan buat ponakan Mama." ucap Miranda sembari menaruh kembali kue itu kedalam kotak.


"Kue mahal ini nggak cocok dengan lidahmu, lagi pula harga kadomu dengan kue ini sangat jauh bandingannya. Kado mu pun cuman ada satu, itu pun syukur - syukur jika kadomu itu bernilai ratusan juta." celetuk Mama Dinda sembari menyuap kue ulang tahun kedalam mulutnya.


"Kamu sih kebanyakan nggak nurut sama orang tua. Coba dulu kamu nikah sama Diana, sudah pasti kamu akan hidup senang juga. Bisa memenuhi segala kebutuhan Mama dengan gampang." tambah Mama Dinda.


Brak...


Tanpa Miranda sadari, tangan Miranda menggebrak meja sehingga semuanya terkejut dan menarik perhatian para tamu yang sedang menikmati hidangan.


"Aku memang tidak berpendidikan tinggi seperti kalian dan aku juga tidak sekaya kalian. Namun, aku dididik oleh almarhumah Mama ku untuk bisa bersikap sopan santun dan menjaga setiap tutur kata yang aku keluarkan dari mulutku agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Apakah kalian tidak pernah belajar aqidah akhlak dan tata Krama di sekolah? Bagaimana caranya menjaga lidah disetiap ucapan? Buat apa cantik, ganteng dan kaya kalau tidak memiliki Budi pekerti dan hanya memelihara kedengkian."


Ucapan Miranda cukup lantang, telak membuat wajah Mas Tomy dan Mama Dinda merah padam.


Mereka saling melempar pandang.


"Miranda, diam! Kamu seharusnya bersikap sopan santun pada orang yang lebih tua! Jangan seperti ini! Tolong hargai acara Mama dan acara perusahaan ini! Jangan membuat malu nama keluarga di muka umum!" ucapan Mama Dinda seolah - olah tersirat jika Miranda lah yang membuat malu. Padahal dirinya lah dan sang anak nya biang kerok kenapa acara ini menjadi mengundang keributan.


Miranda tidak lagi melayani perdebatan yang hampir menguras habis tenaga dan waktu nya. Langkahnya mengayun keluar dari aula itu tanpa memperdulikan tatapan mata mereka.

__ADS_1


__ADS_2