AKU ISTRI MU BUKAN PENGEMIS NAFKAH

AKU ISTRI MU BUKAN PENGEMIS NAFKAH
Bagian 12


__ADS_3

Assalamualaikum...


Terimakasih untuk yang sudah mampir di karya receh aku. Salam kenal🙏 semuanya. Don"t worry for sure I feedback. Please leave to trace ➡️❤️➡️🌟.


"Masih ingat pulang juga kamu. Buruan masak malam ini Mama akan kedatangan tamu spesial untuk makan malam bersama."


Miranda masuk kedalam rumah tanpa banyak tanya karena dia sudah tau siapa tamu yang di maksud Mama mertuanya itu.


Miranda sudah berada di dapur berkutat dengan bumbu dan lain sebagainya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Di kantor


"Kamu siap - siap, ya, nanti sore aku jemput untuk ketemu Mama sekalian Mama kepingin makan malam sama kamu." ucap Tomy, pagi tadi saat mereka makan siang bersama. Setelah itu semua pekerjaan Diana berantakan, beberapa laporan yang harusnya selesai setelah jam makan siang, malah mangkak. Satu proposal yang ia kumpulkan ke bos, diminta revisi. Untung kesalahannya tak patal, namun tetap membuat air muka atasannya berubah.


"Fokus, Diana! Tak biasanya kerjaan kamu berantakan begini." tegur Pak Tomy. Atasannya itu memang sudah sangat mengenal dirinya sejak dulu, Tomy  adalah kakak tingkat sekaligus sahabat dekat masa kuliah.


Diana menunduk, ujung flatshoesnya ia gesekan ke ujung keramik.


"Duduk sini!" perintahnya.


"Maafkan, saya, Pak! Akan segera saya perbaiki!" ucap Diana cepat. Ia tahu semua kesalahannya, ucapan Tomy tadi siang sangat memecah konsentrasinya. Tomy akan membawa Diana kerumahnya untuk makan malam padahal ini bukan kali pertama tapi entah kenapa dia nampak gugup.


"Kamu nggak sakitkan?" ucap Tomy sembari menempelkan tangan di kening bawahannya itu. Diana menggeleng kuat.


"Aman, Pak! Saya sehat!" Jawabnya cepat. Wanita berblazer navy itu melirik jam di mejanya.


"Kamu, kenapa? Saya perhatikan dari tadi nggak tenang gitu?" tanya Tomy sembari duduk. Mereka kini sedang duduk bersisian. Diana menggeleng pelan, ia tersenyum tipis. Berusaha menyembunyikan gundah hatinya.


"Kalau soal laporan, tenang aja! Kamu bisa selesaikan besok!" ucap atasannya itu berusaha memberi solusi.


Diana mengangguk, "Terima kasih banyak, Pak!" ucapnya berusaha profesional antara cinta dan pekerjaan.


"Jadi, mau cerita nggak ni!" kali ini Tomy sepertinya sudah geregetan dengan tingkah bawahannya. Gadis di depannya itu, terlalu polos untuk menutupi kegundahan hatinya.


"Kelihatannya kamu lagi galau!" tambahnya, melihat wajah kaget Diana.


"Emang kelihatan banget, ya Pak?" Diana meraba wajahnya. Membuka cermin kecil dan meriksa mukanya dengan gugup.


Pak Tomy tertawa.


Merasa dikerjai, Diana menutup cermin dan menghembuskan napasnya kasar.


"Aku takut, Pak!" suaranya terdengar menahan sesak. 


Pak Tomy segera menghentikan tawanya. Dia mengusap bahu gadis dengan terusan merah muda itu lembut. Untung suasana kantor sudah mulai sepi. Hanya menyisakan mereka beberapa orang yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Apakah harus malam ini ya makan malamnya bersama Tante Dinda? Aku takut. Aku takut Miranda, aku takut dia akan menyakiti aku, aku takut datang kerumah kamu mengingat status kita dan sudah berbeda, aku nggak mau di sebut pelakor ..." ucap Diana pelan. Mata bulatnya sedikit berkaca. Tomy mendekatkan badannya, memijat bahu Diana pelan, memberi ruang dan kesempatan untuknya menuntaskan cerita.


"Seperti yang kamu tahu, aku jauh dari Mama ku. Dengan adanya Mama Dinda disisiku seolah - olah aku memiliki Mama kedua disini. Aku bingung harus seperti apa bersikap di depan Mama nanti dan aku harus bersikap seperti apa disaat bertemu dengan istri mu. Aku takut Miranda tak bisa menerima hubungan kita." Diana mulai terisak, mencurahkan semua sesak yang menumpuk di dadanya sejak siang tadi.


Diana sudah mengenal keluarga Mama Dinda sejak masih kuliah dulu. Sebelum Diana memutuskan untuk pindah keluar negri Mama Dinda lah yang mengurus Diana. Tapi semua sudah berubah. Bahkan Diana digadang - gadang sebagai calon istri Tomy.


Tomy memeluk bawahan yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu. Ia biarkan hingga isakan mereda. Tomy tersenyum, menenangkan Diana.


"Ketekutan aku berlebihan, ya Mas?" sebelum ia menjadi bawahan Tomy di perusahaan milik keluarganya ini, ia memang sudah terbiasa memanggil kakak. Namun, demi profesionalitas ia memanggil Bapak jika sedang di kantor.


Tomy menggeleng cepat. 


"Wajar, kok! Tenang saja all is well!" ucap Tomy mengerlingkan sebelah matanya.


Diana sudah lebih tenang, mereka pun berjalan menuju di lobi kantor untuk segera pulang. Tomy meyakinkan gadis itu, bahwa semuanya akan baik - baik saja. Dia juga menceritakan pengalamannya dulu saat akan bertemu calon mertuanya untuk pertama kali sangat gugup.


"Nanti aku jemput. Dandan yang cantik. Always positif thingking." pesan Tomy sebelum mereka berpisah di parkiran. Sebelum mereka berpisah Tomy menyerahkan sebuah paper bag kepada Diana.


"Dengan cara yang tidak terduga, hidup kadang akan melemparkan penggalan kisah menyakitkan tepat di wajahmu. Jika kisah menyakitkan itu biasanya hanya kamu dengar atau kamu baca dari kisah orang lain, akan ada saatnya hidup memaksamu melaluinya juga..."


..."Semua tak seperti yang diharapkan. Cinta hanya ada dalam mimpi, cinta hanya ada dalam hati, cinta hanya terungkap dari tulisan ini. Kali ini pagi menceritakan tentang dingin malam, tentang kopi yang begadang, dan doa-doa sisa air mata. Ternyata aku masih terlalu mentah untuk mekar bersamamu, aku masih terlalu kanak-kanak untuk mengiringi langkahmu. Untuk lembar-lembar berikutnya, tulislah kisah barumu. Hari kemarin atau esok sama saja dengan hari ini. Duka dan suka menjadi seirama lagu, matahari di luar, matahari dalam hati menyatu dalam kepiluan sukmaku. Ada yang meleleh di ujung kedua mataku, begitu goretan-goretan pena itu selesai kubaca. Ternyata bendungan air mataku tidak terlalu kuat sehingga jebol lagi, meski baru sedikit.”...


...****************...


...Lengkaplah sudah sepi ini mengurung sendiriku...


...Terkulai dikunyah nelangsa yang berapi-api...


...Bersimbah angan tanpa tujuan...


...Dalam derap gerimis yang pongah menghujam...


...Terbuai wajahmu menyusup bertubi-tubi...


...Membawa sebaris kata bahagia yg menenggelamkan nurani...


...Di atas pengharapan tak berkesudahan...


...Tentang rindu kusam...


...Tentang cinta terbuang...


...Mengutip satu namamu di antara keluh kesah...


...Gundah gelisah, air mata, dan lara...


...Masihkah ada sedikit senyum darimu...

__ADS_1


...Di batas penantianku yang kini makin terbata...


...Jika masih ada ruang di hatimu...


...Untukku, sedikit saja, tolong bicaralah...


...Pada tanah membentang...


...Pada pohon-pohon rindang...


...Dan angin yang mengusik keangkuhan...


...Setidaknya biar ada tanda yg bisa kubaca dan kuraba...


...Janganlah sepi yang hadir...


...Janganlah semu yang membeku...


...Karena aku selalu berjalan menujumu....


...****************...


...Mencoba tuk bertahan di tengah kepungan badai cobaan...


...Lelah dalam melangkah menggenggam cinta tak berbalas...


...Warna pelangi hanyalah semu yang dirasakan...


...Hilang tersalip awan-awan biru yang menderu-deru...


...Lupakan semua kenangan dan janji-janji hati...


...Kepastian sudah diberikan...


...Namun pengkhianatan menjadi jawaban...


...Cinta sejati kini telah ternodai...


...Hampa terasa sunyi di dalam jiwa...


...Menanti harapan melepas masa-masa kelam...


...Melangkah maju menuju sebuah harapan...


...Cinta sejati sudah jauh dan pergi...


...Berlalu pilu ditelan oleh sang waktu...

__ADS_1


Waalaikumsalam...


Terimakasih untuk yang sudah mampir di karya receh aku. Salam kenal🙏 semuanya. Don"t worry for sure I feedback. Please leave to trace ➡️❤️➡️🌟.


__ADS_2