
Dari 2 hari yang lalu Miranda sudah pesan kado ulang tahun untuk mertuanya. Entah Mama Dinda menyukainya atau tidak itu urusan belakang.
Di aula kantor.
"Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia ...”
Nyanyian wajib setiap tahun mulai dikumandangkan lagi siang itu, tepat pukul 10.00 pagi, waktu di mana Mama Dinda pertama kali memperdengarkan tangisannya di dunia, dan sejak lima puluh tahun lalu hingga sekarang.
Tomy meminta sang Mama untuk memejamkan mata dan berdoa dulu, sebelum lilin berbentuk angka lima dan nol itu ditiup. Detik - detik menegangkan bagi Mama Dinda, karena sebentar lagi Tomy akan menanyakan permintaan Mama Dinda, orang yang sedang merayakan pertambahan usia itu.
“Aku mau kado berlian satu set,” seru Mama Dinda yang diikuti oleh teriakan dan sorakan dari seisi aula itu.
Tomy terkekeh. Dia mengiyakan permintaan sang Mama. Kebetulan dia baru saja mendapat bonus yang banyak kemarin dan hasil bonusnya setara dengan satu buah mobil Ferrari. Tak ada yang keberatan dengan keinginan Mama Dinda, bahkan Miranda sebagai pengendali keluar masuknya uang pun menyambut kalimat Mama Dinda dengan senyuman lebar walau sedikit terpaksa.
Jujur, selama ini Miranda menanggung rasa dendam dan sakit hati yang berkepanjangan yang membuat hati Miranda semakin sakit. Bahkan bulan - bulan belakangan ini sampai harus berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.
Miranda berjalan mendekat ke arah mereka.
"Mah, ini ada hadiah kecil dari ku. Mohon di terima!" Miranda mengulurkan paper bag berwarna merah muda yang berisi kado untuk hadiah ulang tahun Mama mertua Miranda.
Tanpa menoleh, "Ya taruh saja disitu!" ucap Mama Dinda dingin sambil menyalami tamu - tamu lain yang datang.
Miranda tersenyum hambar kemudian mengambil kursi dan duduk sembari menunggu sang suami kembali menyambut tamu - tamu nya. Suasana terasa canggung walau kenyataannya ini bukan yang pertama dia lalui selama resmi menyandang menantu di rumah itu tapi tetap saja rasanya tidak pernah berubah dari tahun - tahun sebelumnya. Ini merupakan sebuah tantangan besar dalam kehidupan Miranda untuk datang dan bergabung di acara ulang tahun mertua sekaligus ulang tahun perusahaan.
__ADS_1
Tiba - tiba datang seorang gadis cantik dan seksi menghampiri Mama Dinda dan Tomy.
"Hai, Tante. Selamat ulang tahun. Aku bawakan hadiah buat Tante. Aku beli waktu masih di Amerika." ucap wanita itu dengan senyum lebarnya, Diana.
Mama Dinda menatap wanita itu dengan tatapan heran. Sembari mengerutkan kening dan mengingat - mengingat wanita cantik yang kini sudah berdiri tepat di hadapan nya. Melihat kebingungan yang ada di wajah Mama Dinda, Diana pun memperkenalkan diri.
"Hallo Tante, aku Diana. Masa Tante Lupa." ucap Diana.
"Diana?"
"Ya, Tante aku Diana. Teman kuliah Tomy dulu. Apa Tante sudah mengingat nya?"
Setelah terdiam beberapa saat. "Oh, Diana si gadis pendiam dan pemalu itu ya? Wah, kamu dah besar ya sekarang dan makin cantik nggak kayak menantu ku dah jelek, pendek, buluk dan yang dia tahu hanya meminta uang." ucap Mama Dinda sembari melirik kearah Miranda. Diana mengikuti arah mata Mama Dinda.
"Hmmmmm."
"Dia kerja dimana?"
"Dia membuka bisnis kecil - kecilan."
"Selera Tomy rendah juga ya."
"Ya begitu lah. Kamu kok bisa ada disini? Sejak kapan kamu datang dari Amerika? Tante kangen sama kamu. Sudah lama kita tidak jalan - jalan, belanja bareng, nonton bareng dan masih banyak yang mau aku lakukan sama kamu."
__ADS_1
"Nanti ya kita jalan - jalan. Oh iya Tante, aku punya hadiah untuk Tante." ucap Diana sembari menyodorkan paper bag yang dia bawa. Mama Dinda menerima nya.
"Ya ampun anak kesayangan Tante! Nggak usah repot - repot sayang! Tiap tahun kamu selalu saja menyiapkan kejutan kado untuk Tante. Pasti harganya mahal ya, kamu selalu saja memanjakan Tante dengan barang branded." ucap Mama Dinda sembari memeluk Diana. Tampak sekali ada binar bahagia di mata wanita yang sudah melewati paruh baya itu.
"Nggak apa - apa Tante, untuk Tante apa sih yang nggak." ucap Diana setelah saling melepas pelukan dengan Mama Dinda.
"Iya, makasih ya sayang. Oh, ya Na yuk duduk, kita makan bersama - sama!" Mama Dinda menggandeng tangan Diana melewati meja Miranda menuju stand makanan yang tertata rapi. Sudut mata Miranda mengekori mereka. Tampaknya Mama Dinda mengambilkan wanita itu beberapa pudding dan buah. Mama Dinda menggandeng tangan Diana menuju meja yang berseberangan dengan meja Miranda. Miranda sesekali mengedarkan pandangan nya untuk mencari keberadaan sang suami. Keberadaan Miranda sudah seperti siluman yang ada tapi tak nampak oleh mata mereka.
"Ibu Dinda beruntung banget ya punya anak angkat seperti Diana. Baik, cantik, kaya, bikin iri hati." ucap beberapa ibu - ibu arisan yang di undang Mama Dinda, mereka duduk berseberangan dengan meja Mama Dinda.
"Iya lah nggak seperti si ono noh, yang bisanya cuman minta uang, uang dan uang. Beginilah karena saya dapat menantu miskin dan hanya merepotkan anak saya dan hanya menjadi beban buat anak saya." Miranda mendengar Mama Dinda memelankan ucapan nya. Tetapi tetap saja jarak yang tidak cukup jauh masih bisa mendengar nya.
Wajah Miranda terasa panas dan malu ketika beberapa pasang mata beralih memandang ke arahnya. Miranda duduk dengan kikuk. Ingin rasanya dia berlari meninggalkan ruangan ini pada menit dan detik ini juga.
"Bukankah dulu Bu Dinda ingin menikahkan Tomy dengan Diana." timpal seorang wanita yang kira - kira seumuran dengan Mama Dinda.
"Makanya dulu saya melarang Tomy untuk menikahi wanita kampung dan miskin itu. Tapi tetap saja si Tomy ngeyel untuk di nikahkan dengan wanita kampung itu. Mungkin pakai guna - guna kali yaaaaa. Biar Tomy nggak berpaling dari nya dan selalu mencintai nya." ucap Mama Dinda yang masih terdengar jelas walau suaranya sudah di pelan kan. Ada rasa nyeri di dada Miranda. Sehina itukah Miranda di mata mertuanya?
"Hai ... Mbak Diana." Gina kali ini yang datang. Mantan sekretaris Mas Tomy. Dia datang bersama staf yang lainnya.
Mereka tampak cipika - cipiki dan mengobrol sebentar. Tampak mereka menyerahkan kado yang di sambut hangat dan senyuman oleh Mama Dinda dan langsung di pisahkan. Berbeda dengan kado pemberian dari Miranda yang dibiarkan saja teronggok bersama kado - kado tamu yang lain. Mungkin Mama Dinda berfikir kado Miranda terlalu biasa dan berkesan kado murahan.
"Eh ... bukan kah itu istri Pak Tomy? Ngapain dia duduk di sana menyendiri? Ayo gabung sini." ucap Gina, yang baru menyadari keberadaan Miranda. Walaupun mereka baru bertemu satu kali tapi Gina tidak mungkin bisa melupakan wajah Miranda begitu saja. Miranda hanya mengangguk dan tersenyum kepada mereka. Sementara yang lain hanya hanya menoleh dan menatap datar ke arah Miranda.
__ADS_1