
Miranda duduk dibangku belakang sembari melihat tabletnya. Sementara Gina duduk dibangku depan terus menguap disebelah sopir.
“Bagaimana kalau kita istirahat dahulu di Rest Area?” ucap Miranda.
“Direktur, apa anda ingin minum kopi? Sedari tadi saya perhatikan anda terus menguap." tanya pegawai wanita senior. Wina tak bisa berkata apa - apa karena memang saat ini dia sangat mengantuk.
Sesampai di Rest Area, Wina pikir akan di ambilkan air oleh pegawai wanita senior, Shella. Wina pikir lebih baik makan ramyeon saja dari pada minum air. Shella binggung dan kaget. Miranda pikir kalau makanan itu tak pantas untuknya.
"Itu ... Sama seperti bencana restoran sashimi waktu terakhir kali, itu bisa menjadi masalah jika Anda mengambil foto. Tapi jika Anda bersikeras, akan saya temani.” ucap Shella.
“Itu hanya candaan. Saya akan tinggal dimobil dan Kamu bisa ikut juga.” kata Miranda pada sopirnya. Keduanya pun turun dari mobil.
“Ramyeon terasa enak jika makan di Rest Area.” keluh Miranda yang tak bisa makan disembarang tempat karena imagenya.😂😂
Setelah selesai makan, Shella bertanya apakah Wina mau pergi ke sesuatu tempat. Wina meminta agar mengantar ke kantor saja karena selepas bekerja akan menghadiri pesta ulang tahun mantan Ibu mertua nya. Mereka pun sampai ruang kerja yang luas.
“Seleranya dalam pakaian tak pernah berubah. Meski begitu, kancing - kancing kali ini cukup indah.” komentar Wina lalu mulai masuk ruangan nya.
“Berapa lama menurutmu aku harus melakukan ini? Mungkinkah aku harus seperti ini sampai berusia 60?” tanya Wina mengganti pakaian berwarna biru dengan tatapan dingin.
“Ketika Anda berusia 60, pacar anda akan berusia 100 lebih. Semua makanan hebat di dunia ini tak akan membuatnya tetap sehat pada usia itu.” ucap Shella.
"Itulah yang dia suka. Sesuatu yang menurut orang lain mengejutkan seperti permainan baginya.” ucap Wina. Shella mengaku menyesal berkata begitu.
“Itu mungkin kasar tapi menyegarkan untuk mendengar.” komentar Wina.
“Anda seharusnya tak pernah menyetujui undangan itu. Menghadiri pesta ulang tahun mantan ibu mertua dan itu sedikit tak wajar, meskipun itu bagian dari perjanjian.” ucap Shella.
__ADS_1
“Jika aku tak setuju, maka aku tak akan pernah bercerai.” balas Wina. Shella membenarkan.
“Kupikir semuanya sudah berakhir ketika Tuan Armada meninggalkan mu, tapi nenek sihir itu menggantikannya. Ini semua kekacauan besar.” Kata Shella. Wina tak berkomentar hanya bisa menghela nafas panjang.
"Apakah kamu sudah selesai bersiap?" tanya Miranda dari balik pintu.
"Sedikit lagi selesai."
"Buruan, wartawan sudah menunggu!"
Wartawan sudah menunggu didepan gedung, melihat Wina datang semua langsung mendekat untuk mengambil gambar dan meminta agar bisa berbicara. Di ruangan sudah banyak orang yang berkumpul, Wina datang menemui mantan mertuanya mengucapkan selamat ulang tahun.
“Oh, kamu di sini ... Bagaimana keadaan Ayahmu? Apa dia sehat?” tanya Nyonya Armada. Wina mengaku Ayahnya sehat.
“Dia pasti sibuk sebagai perwakilan kades.” kata Nyonya Armada, Wina pikir itu sudah seharusnya.
Armada menyapa mantan Istrinya yang datang, Wina mengaku senang bertemu denganmu sesudah sekian lama. Armada merasa ragu sesuatu yang benar di antara mereka, karena Wina meminta hotel dibawah alimentasi dan berpikir mantan istrinya itu bodoh.
“Lalu aku membaca artikel tentang itu, dan itu luar biasa. Ku dengar, kamu baru saja membuka cabang di kota Cianjur bersama teman lama mu.” ucap Armada.
“Terima kasih. Kenapa kamu tak menikah lagi?” tanya Wina.
“Apa Kamu masih berharap padaku?" komentar Armada.
“Begitu dia memiliki menantu baru, maka dia akan berhenti mengusik ku.” balas Wina.
"Sebenarnya, ibuku akan membuatmu berdiri disampingnya. Kamu tahu bagaimana dia.” komentar Armada.
__ADS_1
“Ini bukanlah candaan aku lebih suka kamu menyelesaikan masalah ini.” tegas Wina.
"Lagi pula ludah yang sudah aku muntahkan tidak mungkin aku jilat kembali."
"Kamu jangan terlalu sombong, apa kamu akan senang jika bertemu denganku di lain hari? Kamu dan pesona mu tanpa akhir, tapi wajah muram seperti biasanya.” goda Armada.
“Kamu memohon cerai sesudah bertemu wanita impianmu, lalu apa artinya semua omong kosong ini?” keluh Wina.
Armada mengajak Wina makan karena ibunya sudah menyiapkan pesta. Wina menyuruh Armada pergi saja karena membuatnya tak nyaman. Armada pikir kalau di mana Wina akan merasa nyaman di rumahnya karena ia hanya berusaha berteman.
***************
Malam harinya mereka sudah berkumpul semua di meja makan. Tapi hingga jam 9 malam hidangan makan malam belum juga di hidangkan.
"Aku mau ganti baju dulu." ucap Miranda yang hendak melangkah pergi. Namun, saat akan beranjak pergi Mama mertuanya mencekal tangannya.
Menjalin hubungan dalam ikatan pernikahan selama bertahun - tahun belum membuat semuanya bisa akur baik dari Mama mertua atau suaminya sendiri. Bahkan masih sejak pacaran dulu, Mama mertuanya terkesan cuek dan acuh tak acuh kepada Miranda karena Miranda datang dari keluarga yang kurang berada dan tak sebanding dengan dirinya yang memiliki segala - galanya.
Mereka tidak pernah pergi jalan - jalan bersama atau bahkan asal sekedar mengobrol santai di rumah. Mereka sangat berbeda dari menantu dan mertua pada umumnya.
"Semenjak dia bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, dia hampir melupakan kewajibannya sebagai seorang istri sekaligus Ibu yang memiliki putri, suami dan mertua yang harus dia jaga dan rawat." ucap Mama mertuanya.
"Sekarang Mama tanya. Hari ini kamu tidak masak lagi?"
"Iya Mah, Miranda capek. Kita pesan makan saja ya?"
"Kemarin pesan, malam ini pesan. Kapan kamu masak dan mulai memperhatikan rumah, suami, anak dan ibu mertua mu yang sudah tua ini?"
__ADS_1
"Tunggu ... tunggu ... tunggu. Bukan kah sebelum aku bekerja, aku kalian katakan istri pemalas, istri yang hanya pintar menghabiskan uang suami, istri boros, istri yang nggak tau bagaimana rasa sulit nya mencari uang. Di mana kata - kata Mama yang dulu yang hampir tiap hari Mama cermahkan ke aku. Aku sudah berusaha menjadi Istri, Ibu dan menantu baik untuk kalian tapi kalian terlalu banyak banyak maunya. Aku hanya manusia biasa yang bisa merasakan capek dan lelah. Sekarang aku sudah kerja dan memiliki penghasilan sendiri walau belum bisa di bandingankan dengan usaha dan penghasilan putra ibu tapi setidaknya aku sudah berusaha menjadi yang terbaik agar bisa kalian hargai tapi hingga sekarang belum aku rasakan dari kalian. Dan aku sudah menuruti kemauan kalian yaitu bekerja agar tidak hanya pintar menghabiskan uang tapi juga belajar bagaimana sulitnya dalam mencari uang. Justru aku bersyukur dan mengucapkan banyak terimakasih untuk Mama dan Mas Tomy karena dari hinaan dan caci maki kalian lah aku bisa berada di titik ini." ucap Miranda menangis dan pergi meninggalkan mereka semua kekamar.