
"Suami mu juga menyukai Kimchi sawi? Aku juga sangat menyukai Kimchi sawi. Mama ku dulu waktu masih hidup sangat suka memasak Kimchi sawi untuk ku."
"Kapan - kapan aku akan membuatkan kamu kimchi sawi."
❤️❤️❤️❤️❤️
Dalam perjalanan pulang, Diana merasa terganggu dengan ucapan Miranda dan Wina. Yang mengatakan kalau kalung dan gelang yang mereka pakai satu set.
Diana melirik gelang nya.
"Mah, boleh Diana bertanya?"
"Tentang?"
"Mama dapat gelang ini dari mana? Kenapa Miranda mengatakan kalau gelang ini satu set dengan kalungnya?"
Mama Dinda pura - pura bingung.
"Sejujurnya, gelang yang kamu pakai itu Tomy yang belikan khusus buat kamu sebagai tanda atas kembali nya kamu kesini lagi. Dan entah bagaimana ceritanya Mama juga nggak tau kenapa bisa gelang dan kalung Miranda terlihat satu set dengan gelang mu."
"O ... begitu."
"Dimana dia membeli gelang ini?"
"Entahlah."
Diana pun teringat kejadian hari itu. Setelah semua tamu undangan sudah pulang kerumah masing - masing, Mama Dinda mengeluarkan dari dalam tas sebuah gelang berlian yang sangat mewah hadiah dari Miranda.
Diana heran, "Apa ini? Hari ini bukan hari ulang tahun ku atau juga bukan hari valentine."
__ADS_1
"Setiap hari adalah hari ulang tahun mu dan hari valentine mu."
"Tapi ini sangat berlebihan."
"Tidak ada yang berlibahan jika itu untuk mu."
Diana menatap gelang nya.
"Gelang ini sungguh sangat indah."
Mama Dinda mengantar Diana pulang.
Saat hendak turun dari mobil, seorang wanita yang sudah berumur memanggil Diana.
"Diana."
Diana terkejut melihat wanita itu. Lalu dia buru - buru berpamitan dengan Mama Dinda.
Diana kesal, "Bagaimana Mama tahu alamat rumah ku?"
"Jangan karena semua akun sosial media ku, kamu block lantas aku tidak bisa menemukan persembunyian mu."
"Sangat tidak bijaksana jika semua kontak kamu block."
"Katakan pada ku kenapa Mama bisa ada disini?"
"Jangan terburu - buru, aku berada disini hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya aku miliki."
"Apa katamu?"
__ADS_1
"Kita ini kan satu keluarga. Berusaha lah untuk berdamai dengan ku."
"Apa berdamai? Keluarga?"
"Tentu saja kita adalah keluarga. Kita bukan orang asing."
"Aku tidak bisa menyerahkan apa yang saat ini sudah aku miliki. Jadi Pergilah!"
Mama Dinda memperhatikan dari dalam mobil. Dan melihat apa yang mereka sedang lakukan.
Dia khawatir pada ketiga pria itu.
Wanita tua itu marah. "Apa aku terlihat seperti pengemis yang sedang mengemis harta mu? Aku kesini hanya ingin mengambil hak apa yang seharusnya aku miliki. Lagi pula kalian kan juga sudah bercerai seharusnya harta gono gini di bagi rata."
"Apa katamu?"
Wanita itu berkata."Jika terlalu sulit untukmu ....."
Wanita tua itu berkata lagi, "Nasib buruk ini, aku sangat muak."
"Aku muak? Dan menganggapnya sebagai tanda buruk. Kamu harus mencoba dan membuatnya menjadi hubungan yang baik dengan bersikap baik. Kamu akan berhenti menggangguku jika mau mati. Baiklah jika begitu. Aku akan mati untukmu."
Tanpa rasa takut, Diana melangkah ketengah jalan tanpa memperdulikan mobil yang lewat silih berganti.
Sontak wanita tua itu kaget, "Hei ... hei, wanita gila
Apa yang sedang kamu lakukan? Hei ... Astaga orang gila itu."
Diana berdiri di tangah jalan dan berbalik menatap wanita itu.
__ADS_1
Diana lalu memejamkan matanya. Mobil box datang hendak menabraknya, tetapi Mama Dinda menarik tangan Diana.