AKU ISTRI MU BUKAN PENGEMIS NAFKAH

AKU ISTRI MU BUKAN PENGEMIS NAFKAH
Bagian 7.


__ADS_3

"Kenapa aku harus menjalani kehidupan yang melelahkan seperti ini?โ€


...****************...


Mama Dinda memegang dadanya dengan wajah panik kesakitan.


"Istrimu sengaja ya berkata kasar seperti itu sama sama Mama karena dia ingin membunuh Mama pelan - pelan. Biar dia bisa menguasai rumah ini dan semua aset yang kita miliki."


Miranda segera turun kembali kelantai bawah setelah kekesalan hatinya sedikit menyurut. Mama Dinda melempar serbet keatas kepala Miranda dan memarahinya karena belum memasak hingga sekarang.


"Mau jam berapa kita makan? Jika sudah bosan menjadi Istri anak ku silahkan keluar dari rumah ini dan jangan harap kembali lagi."


Mama Dinda kembali melempar serbet ke wajah Miranda karena Miranda hanya diam saja tanpa menjawab.


"Kenapa diam? Jawab." titah Mama Dinda.


"Kembali ke kamarmu! Dan jangan menampakkan batang hidung mu di hadapan ku lagi. Aku muak melihat wajah mu itu."


"Kenapa Mama selalu mengusik aku? Aku sudah berusaha menjadi Istri, Ibu dan menantu yang baik untuk Mama, untuk Putri dan untuk Mas Tomy, tapi sepertinya apa yang semua aku lakukan tidak berarti apa - apa di mata Mama." Miranda pun kembali ke kamarnya dengan wajah sedih. Hari ini di lalui dengan penuh drama yang sangat panjang dan melelahkan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Keesokan harinya.


Miranda melayani orang - orang di meja makan sembari membicarakan acara ulang tahun perusahaan sekaligus ulang tahun ke 50 untuk Mama Dinda.


"Kita hanya akan mengundang keluarga inti dan keluarga besar kita. Bisa - bisanya Mama mempunyai besan yang miskin dan menjijikan serta tak memiliki satupun bisnis yang bisa di banggakan kepada relasi dan rekan bisnis perusahaan kita." ucap Mama Dinda sembari menatap sinis kepada menantunya itu.


"Aku sengaja dulu merestui pernikahan kalian, karena Mama kira waktu itu Tomy sudah membawa menantu yang tepat untuk Mama dan Mama kira menantu yang bisa membantu ekonomi keluarga nyatanya Tomy menikahi wanita hanya sebuah beban untuk keluarga ini." ucap Mama Dinda masih dengan tatapan yang sama.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Miranda sudah berada di dalam mobil. Miranda mengeluarkan foto dirinya bersama Mama nya dari dalam dompet, mengingat kejadian masa lalu.

__ADS_1


...14 tahun yang lalu....


"Aku jelas mewarisi sifat lemah lembut Mamah, sifat mengalah Mama walau kadang - kadang Mama pemarah. Kadang dia marah karena suara ku yang terlalu meninggikan suara."


Mira panggilan kecil Miranda. Mira sedang bermain sepeda bersama teman - temannya di lapangan. Saat sedang asyik bermain, tiba - tiba Mira dan kawan - kawan melihat mobil pemadam kebakaran lewat di depannya. Mira dan kawan - kawan mengikuti mobil pemadam itu dari belakang. Miranda terkejut mobil pemadam itu berhenti tepat di depan rumahnya. Miranda turun dari sepedanya kemudian menjatuhkan dan berlari ke arah rumahnya.


Dengan sigap warga menangkap tubuh mungil Miranda. Miranda meronta - ronta meminta di lepaskan tapi orang - orang itu cukup kuat menahan tubuh Miranda.


Beberapa jam kemudian si jago merah pun dapat di padamkan. Miranda pun lari masuk kedalam rumah mencari keberadaan sang Ibu. Miranda berteriak histeris tatkala mendapati sang Ibu tergelatak tak bernyawa di lantai dengan badan hampir semuanya gosong dan hampir tak di kenali. Sembari menangis Miranda meminta pertolongan untuk membawa sang Ibu kerumah sakit, namun nyawa sang ibu tak bisa di selamat kan.


Mendadak Miranda meneteskan air mata.


Tomy memperhatikan Miranda dari kaca spion. Dan tiba - tiba meminta supirnya untuk menghentikan mobilnya.


"Silahkan kamu naik taksi kekantor mu! Kamu pernah merasakan emosi? Terkadang kamu sulit untuk aku tebak." ucap Tomy kemudian meninggalkan Miranda yang masih diam mematung di jalan raya.


***********


"Kamu kenapa Mir?"


Miranda langsung memeluk sahabatnya itu. Sambil menangis sesegukan di pelukan sang sahabat.


"Katakan, ada apa dengan mu? Siapa yang membuat kamu menangis seperti ini?"


Namun Miranda hanya diam dan membisu. Wina menyuruh Miranda untuk duduk dan menenangkan diri. Beberapa saat kemudian.


"Aku merindukan Mama ku." ucap Miranda lirih, pelan tapi masih nampak di dengar di telinga Wina .


"Kamu yang sabar ya sayang, doa kan yang terbaik untuk Mama mu disana semoga mendapatkan tempat yang indah bersama kekasih Allah. Aamiin." ucap Wina kembali memeluk Miranda.


"Terimakasih."


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Di rumah.


"Mas, kenapa sih setiap ulang tahun Mama, kita harus rayakan? Giliran aku minta uang untuk keperluan rumah, di katakan boros dan nggak bisa mengatur keuangan?โ€ tanya Miranda. Mereka sedang bersantai di depan televisi sambil melepas penat setelah seharian beraktivitas di luar rumah.


โ€œKenapa juga kamu baru tanya sekarang, bukankah Mama tiap tahun tiup lilin ulang tahun?โ€ sahut Mas Tomy sekenanya.


โ€œYa nggak apa - apa Mas, cuma iseng tanya aja. Tadinya kukira Mas juga ingat tanggal ulang tahun ku, nyatanya Mas hanya mempersiap kan hari ulang tahun Mama dan hari ulang tahun perusahaan."


โ€œHey menantu tidak tau diri. Kalau hari ulang tahun mu di rayakan yang ada uang Tomy habis, tapi kalau aku, uang Tomy akan selalu ada untuk aku. Jadi, nggak usah ngarep untuk ulang tahun." ucap Mama Dinda yang tiba - tiba datang dari belakang dan duduk gabung dengan mereka.


"Masih di beri umur untuk bertemu tahun yang akan datang aja sudah harus bersyukur, jadi jangan banyak mengkhayal untuk di rayakan hari ulang tahun mu."


Miranda termenung. Pandangannya kosong, sebab angannya mengembara dari masa ke masa di mana Tomy selalu merayakan hari ulang tahunnya berdua dengannya. Setiap hari mereka lalui dengan penuh cinta satu sama lain, bahkan Tomy tidak pernah melewatkan ulang tahun Miranda tanpa dirayakan.


Miranda baru menyadarinya setelah menjadi ibu, bagaimana repotnya menyiapkan pesta ulang tahun Mertuanya. Mulai dari dekorasi, konsumsi, mengisi acara, mengirim undangan, dan banyak hal lain yang Tomy siapkan sendiri. Decak kagum dan gelengan kepala kadang muncul dengan sendirinya bila ia teringat akan kasih sayang sang Suami yang dulu.


Napas Miranda semakin berat. Batinnya kembali bimbang. Miranda yang telah membulatkan tekad untuk meminta hadiah sebuah izin untuk mencari kini lemah lagi. Suara hatinya terus menggema, mengatakan bahwa ia tak boleh mengkhianati dirinya sendiri, yang telah susah payah menopang dan mengayomi hingga ia kini menjadi istri seorang pengusaha yang terbilang sukses.


โ€œMa, Mama mau minta hadiah apa tahun ini?โ€ tanya Miranda.


"Alah ... nggak usah sok - sok an deh mau membelikan Mama hadiah. Yakin kamu mampu membelikan Mama hadiah?"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


2 hari kemudian.


Miranda membantu Tomy memilih pakaian yang akan di kenakan. Tomy memberitahukan sang Mama jika dirinya sudah selesai berkemas.


"Ya sudah tuk berangkat, nanti kita terlambat."


*************


Semua keluar dari dalam mobil kemudian langsung menuju aula kantor karena acara akan segera di mulai.

__ADS_1


__ADS_2