Aku Milik Siapa?

Aku Milik Siapa?
Berpisah


__ADS_3

 Aku bangun di sambut dengan matahari yang menyentuh kulit ku. Ku lihat, mama sudah tidak ada di ranjang bersama diri ku.


Aku menerawang kejadian tadi malam, aku hampir tidak percaya aku bisa tidur bersama mama. Aku beranjak dari tempat tidur dan membereskan ranjang.


Aku pergi ke dapur di mana aroma masakan mama mulai tercium.


" Selamat pagi ma ". Tsugumi


" Ehh, sudah bangun. Pagi juga nak. Jangan lupa hari ini kamu tidak boleh telat lho ya, itu mama beli tiket mahal ". Mama.


" Iya ma, aku kan mau sarapan dulu ". Tsugumi.


" Iya udah, ayo cepet di makan ". Mama.


Aku makan dengan cepat. Aku makan sambil terus melirik ke arah jam dinding. Jam 7.00 aku harus segera berangkat. Kereta yang mama pesan akan tiba pukul 9.00. Jarak dari rumah ke stasiun cukup jauh juga. Oleh karena itu aku berangkat sangat awal.


Aku pergi ke kamar untuk ke terakhir kali nya. Aku memandangi kamar ku dan mengatakan selamat tinggal pada tempat favorit ku ini. Aku menarik koper ku keluar dari kamar. Aku memeluk mama dan mulai menangis sejadi jadinya. Mama mencoba menenangkan ku agar aku tidak menangis.


Setelah cukup tenang, aku pergi ke stasiun menggunakan taksi.


Di dalam taksi, aku terus memandang kota Tokyo tempat kelahiran ku. Karena hari ini adalah hari terakhir aku tinggal di sini.


***


Aku tiba di stasiun pukul 8.39. Aku bergegas turun dari mobil taksi dan menarik koper ku keluar. Setelah menyelesaikan masalah tiket, aku duduk di kursi yang ada di stasiun.


Aku memandangi telpon ku karena banyak pesan yang masuk. Banyak yang menanyakan karena aku akan pergi ke desa. Aku tersenyum melihat pesan pesan dari mereka.

__ADS_1


Dan kereta yang akan membawa ku ke desa pun datang. Aku masuk kedalam dan melihat interior kereta ini. Interior di dalam kereta terlihat tidak modern. Kursi dan meja terbuat dari kayu. Namun masih mengikuti jaman.


Aku duduk dan memandangi jendela kereta.


" Aku akan meninggalkan kota ini, selamat tinggal Tokyo ". Tsugumi berkata kecil.


Perjalanan Tokyo sampai ke Cherry village adalah sekitar 5 - 6 jam. Kereta ini terus melewati sawah, perkebunan, hutan, sungai, gunung serta perbukitan. Aku sampai bosan melewati semua ini. Dan aku pun memutuskan untuk tidur di kereta ini.


***


Suara masinis kereta berkata,


" Pemberhentian selanjut nya, Cherry village ".


Aku terbangun karena suara masinis itu.


Aku turun dari kereta. Aku duduk di depan stasiun. Aku menghubungi mama, kata mama paman akan menjemput ku menggunakan mobil. Aku telah menunggu selama 30 menit sampai aku hampir tertidur. Paman yang yang dikatakan oleh mama itu tidak juga datang.


Saat mata ku mulai tertutup karena rasa kantuk, terdengar suara kuda yang sangat keras, seakan akan kuda itu ada di depan wajah ku. Benar saja, saat aku membuka mata kuda itu berada di depan wajah ku seakan akan ingin mencium ku. Dengan sontak aku pun berteriak karena kaget.


Pria pemilik kuda itu turun dari kuda nya. Dia meraih tangan ku yang sedang menutupi wajah ku. Pria itu berkata,


" Hei, tidak apa apa, maafkan aku. Tadi Gisel tidak bisa mengontrol diri nya dan lupa untuk mengerem. Kenalkan nama ku Yuuto ".


" Hai, iya nama ku Tsugumi ". Tsugumi.


Yuuto menuntunku untuk naik ke atas kudanya. Baru kali ini aku naik di atas kuda. Aku berpegangan erat pada Yuuto selama perjalanan. Tanpa ku sadari, ternyata Yuuto tertawa kecil karena melihat sikap ku.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, aku dan Yuuto sampai di sebuah pondok yang cukup besar di mana nenek tinggal. Di sebelah pondok itu terdapat peternakan yang besar.


Aku turun dan dituntun oleh Yuuto. Saat menginjak tanah, aku di sambut oleh seorang anak perempuan. Kata Yuuto anak manis ini bernama Haruka.


Haruka menarik tangan ku dan membawa ku masuk ke dalam pondok. Saat masuk pondok aku di sambut oleh nenek. Saat melihat raut wajah nenek, aku merasa sedikit takut. Wajah nenek terlihat galak dan judes. Aku takut selama 3 bulan ke depan aku akan selalu di marahi oleh nya.


Saat aku duduk di kursi yang terbuat dari bambu, datang lah paman Toshi dari arah peternakan. Paman Toshi menyambut kedatangan ku dan meminta maaf karena tidak bisa menjemput ku. Paman Toshi mendekat kepadaku dan berbisik,


" hati hati dengan nenek, dia sedikit galak. Tapi dia sangat menyayangi mu ".


Paman pun kembali ke peternakan. Aku tertawa kecil saat paman berbisik. Aku melirik ke arah nenek. Benar saja, tatapan nenek kepada ku seakan tidak menyukai ku. Namun kata paman, dia menyayangi ku. Jadi aku harus positif thinking saja.


Yuuto menghampiri ku dan mengajak ku untuk pergi ke kamar ku. Setelah sampai aku di suruh untuk membereskan barang barang ku. Yuuto memberi pesan bila selesai aku harus pergi ke peternakan.


Ya, di sini aku akan di daftar kan di kampus baru dan aku harus bekerja di peternakan.


Dan sekarang aku pun harus pergi ke peternakan sesuai kata Yuuto, bila aku tidak segera ke sana, nenek lah yang akan menjemput ku dengan amukan.


Aku bergegas turun dan pergi ke peternakan. Yuuto menghampiri ku dan memberikan dua ember. Pertama, aku bingung, untuk apa membawa ember ?. Yuuto mengajak ku dan kita pergi ke kandang sapi. Sekarang aku paham, Yuuto akan memerah susu sapi.


Yuuto duduk dan memerah susu. Yuuto terlihat akrab dengan sapi perah itu. Yuuto seperti mengobrol dengan sapi. Tangan Yuuto sangat telaten saat memerah susu.


Dua ember telah penuh dengan susu. Yuuto kembali ke gudang untuk menaruh susu.


Saat Yuuto kembali, Yuuto membawa segelas susu sapi yang baru ia perah tadi. Yuuto memberikan segelas susu sapi itu kepada ku.


Baru kali ini juga aku minum susu dari sumbernya. Rasa nya benar benar lezat.

__ADS_1


Yuuto menyuruh ku untuk kembali ke pondok untuk membantu nenek dan bibi memasak makan malam.


__ADS_2