Aku Pantas Dicintai

Aku Pantas Dicintai
Kemarahan Amel


__ADS_3

Elita melihat Bavarian sedang membaca beberapa tumpuk kertas di ruang kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Laki - laki itu masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Va," panggil Elita yang duduk di kursi yang berhadalan dengan meja kerja Bavarian.


"Hmm? Kenapa belum tidur sayang?" sahut Bavarian masih fokus pada pekerjaannya.


"Masalah Adrian," ucap Elita agak takut. Benar saja, kata Adrian membuat Bavarian menghentikan kegiatan membacanya.


"Aku mau jelasin. Waktu itu gak sengaja ketemu di lobby. Terus dia minta kontak aku juga. Terus dia lihat aku masuk mobil kamu. Dia ngechat dari kemarin, tapi aku nggak bales," Elita menyodorkan ponselnya.


Bavarian yang memperhatikan cerita Elita meraih ponsel itu. Tampak rahangnya mengetat. Kemudian meletakkan ponsel itu.


"Kenapa kamu jelasin ke aku?" tanya Bavarian.


"Aku nggak suka kamu terus - terusan bilang aku perempuan gampangan," jawab Elita.


"Bukannya kamu emang kayak gitu? Dilepas sebentar udah sama cowok lain?" Elita meneteskan air mata. Kemudian beranjak meninggalkan laki - laki brengsek itu.


Bavarian meraih cepat - cepat meraih lengan Elita. Menariknya dalam pelukannya.


"Kalau kamu mau buktikan kamu bukan perempuan seperti itu, kamu cukup tinggal dirumah, dan jangan pernah berani bertemu laki - laki lain, apalagi sampai berani dekat sama laki - laki lain," ucap Bavarian.


"Selama ini juga aku dirumah terus. Cuma sekali ketemu itupun nggak sengaja. Aku juga udah berusaha hindari dia," balas Elita tak terima.


Bavarian tidak berniat membalas apapun. Dirinya hanya mencium Elita. Elita sudah tahu akan kemana selanjutnya hanya bisa pasrah. Laki - laki ini akan makin marah jika ia melawan.


"I love you," ucap Bavarian setelah mengakhiri aktivitas panas mereka di atas meja kerjanya.


Hah? Elita melongo mendengarnya. Mabok nih orang, batin Elita.


"Dont you love me? like you did" tanya Bavarian.


"I dont," jawab Elita akhirnya karena Bavarian tampaknya menunggu jawabannya.


"See? Gimana aku nggak mikir kamu perempuan murahan? Kamu bakal bersedia ditiduri tanpa cinta," lagi? batin Elita.


"Kamu cuma perempuan yang bersedia ditiduri dan menikmati fasilitas yang aku miliki," lanjut Bavarian.


Wah! Kepentok meja atau gimana ni orang? Jelas - jelas dia yang ngancam supaya nikah, dia juga yang larang kerja, gerutu Elita dalam hati.


Elita buru - buru memakai pakaiannya. Setelah memakai semuanya Elita meninggalkan Bavarian.


"Aku benci kamu. Dan selamanya akan benci kamu. Aku pastikan suatu hari kita akan bercerai," ucap Elita penuh penekanan sebelum meninggalkan Bavarian.


"Sayangnya aku nggak akan biarkan itu terjadi," sahut Bavarian.

__ADS_1


 


Sejak malam itu, Elita dan Bavarian saling diam. Bavarian masih tetap pulang ke rumah, bermain dengan Eric, juga membuatkan susu dan menyiapkan jus ibu hamil untuk Elita. Selebihnya mereka hanya diam, tanpa tegur sapa. Sudah tiga hari mereka saling diam.


"Dasar pelacur!" Elita yang sedang tidur siang dikejutkan karena seorang perempuan menariknya dari tempat tidur. Elita tidak sempat melihat perempuan itu karena merasakan sakit di pantatnya akibat jatuh dari tempat tidur.


"Pelakor! Perempuan nggak tahu malu!" teriak perempuan itu histeris menarik rambut Elita, mencakar, memukul.


Elita yang merasa kesakitan tiba - tiba tidak sadarkan diri. Saat dirinya sadar, dirinya sudah berada di rumah sakit, bersama Adrian.


"Kamu udah sadar?" tanya Adrian.


"Kok aku disini?" Elita balik bertanya.


"Kamu ditemukan orang, pingsan di jalan. Untung kamu segera dibawa ke rumah sakit," jelas Adrian.


"Bayiku?" tanya Elita.


"Tenang. Dia baik - baik saja. Tapi kamu harus bed rest dulu beberapa hari," jelas Adrian hanya dijawab anggukan oleh Elita.


"Kamu udah nikah Lit?" tanya Adrian lagi, Elita kembali mengangguk.


"Apa suami kamu Bavarian?" selidik Adrian hati - hati.


"Kenapa Bavarian?" Elita balik bertanya.


"Aku rasa siapa suamiku nggak ada hubungannya sama kamu yan," jawab Elita. Bavarian saja menyembunyikan pernikahan mereka, masa Elita harus membongkarnya?


"Siapapun ayah dari anak kamu, aku harap itu bukan Bavarian. Bavarian itu brengsek. Dia pergi dari rumah dan ganti - ganti perempuan, kumpul kebo, malu - maluin keluarga," lanjut Adrian.


"Kamu nggak hubungi keluarga kamu? suami kamu?" tanya Adrian lagi.


"Aku nggak punya keluarga. Orang tuaku sudah meninggal. Aku nggak bawa hp, nggak hafal nomor suamiku. Sudahlah. Nanti dia akan menemukanku," ucap Elita. Adrian hanya diam seperti menelaah jawaban Elita. Sepertinya hubungan Elita dan suaminya kurang baik.


"Yaudah. Kamu istirahat dulu aja. Aku harus visit. Nanti aku kesini lagi," pamit Adrian hanya diangguki senyuman oleh Elita.


Entahlah. Apakah Bavarian mencarinya atau tidak. Elita sudah tiga hari berada di rumah sakit. Kedua orang tua Adrian juga sempat menengoknya. Keduanya sangat baik, tapi tidak membahas Bavarian sama sekali.


Di hari ke empat, hari itu Elita baru saja menyelesaikan makan paginya. Pintu kamar, dibuka.


"Lita!" Bavarian yang tampak tegang.


"Kenapa kamu nggak hubungi aku?" tanya Bavarian mengelus kepala Elita.


"Aku nggak tau. Aku bangun udah ada disini. Nggak bawa HP, nggak hafal nomor kamu juga," jawab Elita santai sambil merapikan piring makannya.

__ADS_1


"Aku nyari kamu kemana - mana. Eric nangis cari kamu sampai dia sakit," ucap Bavarian.


"Sakit?" Elita shock mendengar anaknya sakit. Selama ini mereka tidak pernah terpisah, wajar anak itu takut.


"Tenang aja. Ada Ferry yang urus," jawab Bavarian.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Bavarian.


"Katanya disuruh bed rest," jawab Elita.


"Perempuan yang ngamuk itu pacar kamu ya?" tanya Elita.


"Kenapa? Cemburu?" goda Bavarian.


"Bukan. Jangan salah paham. Kalau dia pacar kamu, harusnya kamu jangan nikah sama aku dan jangan bawa Eric. Saat itu aku yang disana jadi korban amukannya. Coba kalau Eric yang ada di rumah itu," jelas Elita sepertinya tidak dapat diterima Bavarian. Wajahnya berubah kesal.


"Tenang aja. Aku bakal urus semuanya," sahutnya singkat.


"Harusnya kita nggak perlu ketemu lagi. Harusnya kamu tetap sama dia, dan aku sama Eric," lanjut Elita.


"Udah deh. Sekarang kamu istriku," Bavarian yang kesal meninggikan suaranya.


"Istri?" suara lain. tante Amel, mamanya Bavarian.


"Jangan bilang kalian sudah menikah?" selidik tante Amel.


"Iya ma. Elita istriku," jawab Bavarian.


Plak! Sebuah tamparan dari tante Amel untuk Bavarian membuat Elita tercengang.


"Kurang ajar! Kamu tau kan adik kamu cinta mati sama Elita? Kalau kamu benci adik kamu, nggak gini caranya," pekik tante Amel.


"Elita. Bisa - bisanya kamu kemakan buaya ini dibanding Adrian?" protes tante Amel.


"Tapi tante, Bavarian anak tante juga," sahut Elita.


"Justru karena dua - duanya anak tante. Kamu datang memperkeruh suasana. Kamu dekati Adrian tapi juga dekati Bavarian," omel tante Amel.


"Ma, aku sudah pacaran sama Elita sejak lama. Sejak kami SMA. Adrian nggak pernah ada hubungan serius sama Elita," Bavarian mencoba menjelaskan.


"Nggak ada hubungan serius gimana, setiap hari dia sama adik kamu terus. Dia main - mainin kalian," tante Amel tak mau kalah terus menyudutkan Elita.


"Ma. Itu perasaan Adrian doang yang ke ge er an. Mereka cuma teman sekolah biasa. Kalo mama gak percaya, mama bisa tanya Jessi. Aku sama Elita sejak dulu pacaran ma," kekeh Adrian.


"Mama nggak mau tau. Kamu kan juga pacaran sama Selly, sama Silvi, siapa lagi lah itu yang kamu ajak kumpul kebo. Kamu balik aja kumpul kebo, tinggalin Elita," putus tante Amel.

__ADS_1


"Nggak bisa ma. Lita lagi hamil anakku. Belum anak pertama kami. Usianya lima tahun,"


__ADS_2