Aku Pantas Dicintai

Aku Pantas Dicintai
Eric


__ADS_3

"Dasar pela*cur! Emang cowok kamu itu tau kalo kamu udah nggak perawan?" ejek Bavarian.


"Denger ya Lita. Cuma aku yang mau nikahin kamu dengan tulus karena aku yang udah jebol kamu," seperti mengulang masa lalu, kata - kata ini kembali dilontarkan Bavarian. Dulu, saat Elita memilih putus dibandingkan aborsi, Bavarian juga berkata seperti ini. Saat Elita memutuskan untuk putus setelah aborsi, Bavarian juga berkata seperti ini. Entah dimana hati laki - laki itu begitu tega berkata seperti itu berulang kali.


"Reno tau," jawab Elita.


"Itu cuma masa lalu. Masa - masa aku masih bodoh," lanjut Elita.


"Awas kamu berani nikah sama dia," ancam Bavarian.


"Kamu pikir sekarang kamu pinter? Dasar wanita iblis," hina aja terus, batin Elita.


"Anak yang tadi pagi kamu antar ke sekolah sama cowok itu, itu anakku kan? Kamu bohongi aku dan nekat lahirin anak itu kan?" Elita tercengang dengan apa yang ia dengar. Bavarian tau tentang Eric?


"Aku ngikutin kalian. Setelah kamu masuk kantor, aku balik lagi ke sekolah itu dan cari tau tentang anak itu. Tanggal lahir anak itu cocok dengan waktu kamu dinyatakan hamil. Dia anakku kan?"


Elita hanya diam. Tak ingin menjawab pertanyaan itu.


"Kamu pasti tau kalo sekarang aku pengacara kondang. Kalo kamu berani nekat nikah sama cowok kamu itu, aku bakal tuntut hak asuh anak itu. Siapa namanya? Eric? Bahkan kamu bilang ayahnya meninggal. Gila kamu Lit," Elita menggelengkan kepala. Sungguh selera makannya rusak gara - gara si brengs*ek ini.


Setelah meneguk es teh manis untuk melegakan kerongkongannya, Elita mulai mencoba menanggapi ucapan Bavarian.


"Va, kamu lupa ya, kamu yang paksa aku aborsi? Kamu nggak pernah mau anak itu lahir. Kenapa sekarang kamu minta hak asuh?"

__ADS_1


"Aku memang minta kamu aborsi. Kamu tahu jelas kondisi kita saat itu. Kita masih pelajar. Sekarang aku sudah sukses, aku bisa menghidupi anak itu. Anak itu anakku kan? Kecuali kamu main - main sama cowok lain dibelakangku," sungguh Elita tidak habis pikir dengan manusia itu.


"Silahkan kamu tuntut sesukamu. Aku nggak peduli. Lakuin yang mau kamu lakuin asal jangan pernah tunjukkan wajah brengsek kamu itu di hadapanku," Giliran Bavarian yang pias mendengar ucapan kasar Elita. Selama ini Elita adalah gadis yang lembut tutur katanya. Jelas ia tidak menyangka ucapan yang keluar dari mulut wanita itu.


Elita meninggalkan Bavarian setelah membayar makanan yang tidak ia habiskan itu. Ia kembali ke kantornya untuk mengambil tasnya. Ucapan Bavarian membuatnya ketakutan Bavarian akan mengambil Eric.


Elita memutuskan menjemput Eric di sekolah menggunakan taksi online. Ia terpaksa menceritakan permasalahannya pada rekan seteamnya. Memahami permasalahan Elita, mereka juga menyarankan Elita segera menjemput Eric.


"Mami mami," seru Eric ceria.


"Kok tumben mami jemput Eric siang - siang?" tanya anak itu.


"Mami mau ajakin Eric jalan - jalan," jawab Elita.


"Papi boleh ikut?" sela suara yang lagi - lagi tidak diharapkan kehadirannya.


Eric jelas melongo karena bingung. Papi? Selama ini yang anak itu ketahui adalah papinya sudah lama meninggal. Siapa laki - laki yang mengaku - ngaku sebagai papinya ini?


"Halo ganteng. Kenalin aku Bavarian, papi kamu," ucap Bavarian yang berjongkok agar sejajar dengan Eric.


"Om bohong. Papiku sudah meninggal," Bavarian berusaha menahan amarahnya mendengar ucapan anaknya.


"Om suka sama mamiku ya? Om cari pacar yang lain aja. Mamiku pacarnya om Reno," lanjut bocah itu lagi.

__ADS_1


Bavarian hanya tersenyum sambil mengusap kepala Eric. Ia menarik tangan Elita dan membawanya menjauh dari Eric.


"Dasar pela*cur sialan kamu Lit. Denger ya, aku bakal rebut hak asuh Eric. Dan akan kupastikan kamu nggak bisa ketemu Eric lagi," ancam Bavarian.


"Oh ya? Tapi kalau aku yang menang, kamu yang harus pergi jauh dari hidup kami," balas Elita.


"Silahkan kalau kamu nggak percaya keahlianku menghancurkan hidupmu,"


"Aku percaya. Sangat percaya kalau untuk hal itu," sahut Elita cepat.


"Kamu bakal menyesal dan memohon supaya bisa ketemu Eric," ancam Bavarian kemudian pergi.


Sejujurnya Elita takut, bahkan sangat takut dengan ancaman itu. Elita sudah lama mengenal Bavarian. Lelaki itu sangat cerdas. Elita yakin, Bavarian adalah seorang pengacara yang handal dengan kecerdasannya itu. Tentu saja hal ini membuat Elita takut.


Elita sampai tidak bisa tidur saking takutnya dengan ancaman Bavarian. Meskipun Bavarian tidak menampakkan batang hidungnya selama beberapa hari ini, tak kunjung membuat Elita tenang. Justru membuatnya makin cemas. Elita yakin Bavarian sedang menjalankan aksinya.


Elita menghubungi Jesi dan menceritakan masalahnya. Beruntung ada Jesi yang bersedia membantu apabila Bavarian nekat menuntut hak asuh Eric.


Hari - hari ketika Bavarian menghilang, Elita tidak berani meninggalkan Eric di daycare. Membuatnya hanya tinggal di rumah dan menunggu Eric di sekolah saja. Urusan pekerjaan ia kerjakan by phone. Elita khawatir jika ia tetap bekerja, Bavarian tiba - tiba muncul dan mengganggu Eric.


Kekhawatirannya memang tidak jelas. Reno, Lisa, Sisil, dan Kenny, teman - teman seteamnya juga sering mengunjungi Elita di rumah karena ikut khawatir dengan kemunculan Bavarian. Pengamanan di komplek juga lebih diperketat sejak kemunculan Bavarian yang membuat keributan.


Nasihat beberapa teman yang mengatakan bahwa Bavarian tidak akan muncul lagi pada akhirnya salah. Tindakan Bavarian yang serius dengan permohonan hak asuh anak benar nyatanya seiring dengan datangnya surat dari pengadilan. Kaki Elita sampai lemas saat menerima surat itu.

__ADS_1


Sisil dan Kenny membantu Elita mencari pengacara yang dapat membantu Elita memenangkan kasus itu. Biar bagaimanapun caranya, Elita akan mempertahankan Eric.


__ADS_2