
Apa aku kabur aja ya?
Ya, sepertinya emang itu cara satu-satunya untuk menghindari dia
Kabur kemana tapi
Elita berpikir keras cara agar Eric tetap bersamanya. Seperti pecundang yang hanya bisa kabur dari masalah, namun memang sepertinya hanya ini satu - satunya jalan. Elita segera mengemasi pakaian, surat - surat berharga, dan keperluan Eric. Malam ini ia berencana kabur. Saat sedang sibuk berkemas, bel rumahnya berdenting. Elita segera memeriksa, siapa tamu malamnya itu. Sialnya, Bavarian. Bagaimana orang itu bisa masuk lagi ke komplek?
Wajah Bavarian terlihat tidak bersahabat. Matanya melotot memberi kode agar segera dibukakan pintu. Elita pasrah saja, daripada lelaki itu membuat keributan lagi.
"Ada apa?" tanya Elita saat membuka pintu.
"Malam ini, aku tidur disini," jawabnya santai sambil nyelonong masuk rumah.
"Ngapain?" hanya itu kata yang sanggup keluar dari mulut Elita. Kacau! Gimana cara kabur kalau Bavarian ada disini?
"Jaga - jaga ada yang menculik anakku saja," jawab lelaki yang masih saja celingukan seperti sedang mencari sesuatu di rumah itu.
"Kamu ngapain sih?" tanya Elita kesal melihat tingkah Bavarian.
"Aku laper," jawabnya tanpa dosa. Membuat Elita menggeram kesal saja.
"Ya kamu kan pengacara tajir, bisa beli makan diluar kan?" sindir Elita.
"Bisa sih. Tapi kayaknya lebih enak masakan istri," jawab Bavarian yang sudah ditahap inspeksi rice cooker.
"Kamu ada nasi dan lauk, ga ada niatan ngelayanin suami gitu?" lanjut Bavarian yang kemudian duduk di kursi meja makan.
Suami? Jijik banget Elita mendengarnya.
Tapi tetap saja Elita bergerak untuk mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk. Memberikannya ke hadapan Bavarian yang tersenyum puas. Tak lupa ia berikan segelas air dingin. Kebiasaan lelaki itu masih Elita ingat, pasalnya selama mereka pacaran dulu, Elitalah yang mengurus semua keperluan Bavarian.
"Duduk!" perintah Bavarian.
Elita menurut saja. Bavarian memberi kode lewat matanya yang menunjuk ke arah piring. Ah sial! Lelaki itu minta disuapi.
"Emangnya kamu nggak punya tangan?" protes Elita.
Bavarian hanya diam dan tersenyum. Wajah yang sangat menyebalkan bagi Elita.
"Makan sendiri. Eric aja makan sendiri," lanjut Elita, namun tak dihiraukan Bavarian. Lelaki itu setia diam dan tersenyum padanya. Membuat Elita bergidik ngeri sendiri. Akhirnya terpaksa bergerak menyuapi lelaki itu. Itulah kebiasaan Bavarian dulu, ia hanya mau makan saat disuapi Elita.
"Jadi siapa aja yang akan ikut aku ke Jakarta? Apa istri cantikku juga ikut?" tanya Bavarian setelah menghabiskan makanan.
"Kita bukan suami istri," sahut Elita mengingatkan.
__ADS_1
"Jadi keputusan kamu tetap tinggal disini?" tanya Bavarian
"Ya," jawab Elita mantap.
"Terimakasih ya sayang, kamu mengizinkan aku buat cari mama baru untuk Eric. Mohon kesadarannya buat jauh - jauh dari kami ya, karena kamu cuma orang asing," Elita menjatuhkan piring yang sedang ia cuci, sedikit shock dengan ancaman Bavarian yang akan menjatuhkannya dan Eric. Elita mencoba bersikap tenang, menyelesaikan cucian piringnya. Setelah itu ia menyusul Bavarian yang tampaknya sedang melihat Eric.
"Persiapan kabur ya?" sindir Bavarian yang melihat barang - barang yang telah Elita kemasi.
Elita menarik tangan Bavarian, tak ingin mengganggu tidur Eric, namun Bavarian menghempasnya. Lelaki itu ngeloyor keluar dari kamar Eric, lalu masuk ke kamar Elita.
"Va, kita perlu bahas ini," ucap Elita melihat Bavarian yang melelas jasnya san menggantungnya.
"Mau bahas apa?" tanya Bavarian yang kemudian merebahkan tubuh di tempat tidur.
"Kamu nggak bisa pisahkan aku dari Eric. Cuma dia keluargaku," Bavarian seperti tidak menggubris permohonan Elita. Bahkan lelaki itu memandangnya seperti mengejek.
"Kamu pikir aku peduli?" balasnya.
"Aku sudah tawarkan supaya kalian bisa bersama, kita menikah. Tapi kamu nggak mau, ya aku bisa apa," lanjut Bavarian lagi.
Gimana ini? Masa iya aku nikah sama dia? Sama aja kembali ke kandang macan dengan rela dong, pikir Elita.
"Oke. Aku mau nikah sama kamu," putus Elita dengan berat hati.
Bavarian bangun dari posisi tidurnya sambil tersenyum puas. Ia bangkit mendekati Elita. Jelas itu membuat Elita takut.
Bavarian ******* bibirnya. Sepersekian menit Elita terkejut dengan perbuatan Bavarian. Setelah sadar, ia segera mendorongnya.
"Kamu apa - apaan sih?!" bentak Elita kesal.
"Aku laki - laki normal. Aku nggak akan mau menikahi pelacur. Aku mau cek langsung," jawab Bavarian.
"Cek?" ulang Elita bingung. Maksudnya gimana tuh? Elita tak paham.
Bavarian kembali mendekati Elita.
"Bentar. Maksudnya apa dicek?" potong Elita.
"Sudah. Kamu diam dan ikuti aja," Elita terdiam saat Bavarian menciumnya. Lama kelamaan ciuman Bavarian turun ke lehernya, jelas perlakuan itu membuat Elita merinding disko. Belum tangan Bavarian mulai meremasi dadanya. Saat Elita mencoba menyingkirkan tangan Bavarian, Bavarian justru mengalihkannya ke kegiatan membuka kancing piama Elita.
"Va, kamu mau ngapain?" Elita mencoba menutup kembali baju yang sudah dibua Bavarian.
"Aku mau cek, sudah berapa cowok nidurin kamu. Aku nggak mau nikah sama perempuan yang ditiduri banyak laki - laki," jelas Bavarian kembali ke aktivitas melucuti baju Elita.
"Aku nggak pernah tidur sama cowok lain selain kamu," sahut Elita cepat.
__ADS_1
"Oh ya?" lelaki itu menyeringai menatap Elita yang tampak ketakutan.
"Oke, biar aku cek kalau begitu," lanjut Bavarian.
"Apa nggak ada cara lain? Ke dokter gitu?" lanjut Elita masih mencoba.
"Aku mau buktiin itu sendiri," ucapan terakhir Bavarian karena setelah itu Elita hanya bisa mendesah dengan perlakuan Bavarian.
Setelah selesai memeriksa secara langsung, Bavarian memeluk Elita.
"Bagus. Kita akan segera menikah," Elita hanya diam saja. Ia merasa sangat kesal pada dirinya sendiri yang sangat menikmati kegiatan panas itu. Dalam hati dia pasti ngejek aku, batin Elita.
Hatinya terus bergemuruh menyalahkan dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia terlelap di pelukan Bavarian.
Pagi harinya, Elita terbangun karena Bavarian kembali menggagahinya. Elita kembali hanya bisa membiarkan hal itu.
"Kamu nggak bisa minta yang baik apa gimana sih?" omel Elita saat Bavarian telah selesai.
"Kenapa? Toh itu kewajiban istri kan?" sahut Bavarian membuat Elita kesal.
"Ayo siap - siap, kita flight siang," lanjut Bavarian yang kemudian masuk ke kamar mandi.
Elita memakai kembali piamanya, menyiapkan sarapan untuk Eric dan lelaki menyebalkan itu. Saat Bavarian selesai mandi, Elita kembali mencoba berdiskusi dengannya. Meski Elita tahu bahwa Bavarian susah dilawan, tapi tak ada salahnya mencoba.
"Va. Aku nggak bisa pindah sekarang. Banyak yang harus aku urus. Sekolah Eric, kerjaan aku," ucap Elita hanya mendapat lirikan dari Bavarian.
"Aku udah urus sekolah Eric," sahut Bavarian.
"Oke. Tapi aku harus urus kerjaan aku,"
"Kamu agen asuransi kan?" potong Bavarian. Elita hanya mengangguk.
"Kamu bisa kerja dimana aja Lita. Jangan banyak alasan deh," lanjut lelaki itu.
"Lagian saat kita nikah nanti, aku gak mau kamu kerja. Aku masih sanggup hidupi kalian. Tugas kamu cuma dirumah, urusin Eric, urusin suami kamu, layani suami kamu. Ngerti?" Elita melongo mendengar penuturan Bavarian.
"Tapi aku kan juga pengen punya penghasilan sendiri, Va," lanjut Elita.
"Berapa penghasilan kamu perbulan? Aku bayar. Tugas kamu dirumah, jadi istri yang baik. Ngerti kamu?" tuh kan. Ribet melawan Bavarian, batin Elita.
"Tapi"
"Lita. Kamu tau kan, aku nggak suka dilawan?" Elita kembali mengangguk. Bibirnya manyun karena kesal, usahanya membujuk Bavarian pada akhirnya benar - benar gagal.
Bavarian yang yang melihat Elita cemberut tersenyum, lalu mengecup bibir manyun itu. Membuat pemiliknya kaget. Tapi Bavarian sudah buru - buru meninggalkan Elita menuju kamar Eric.
__ADS_1
Elita kesal setengah mati.