
Aku memintanya menjadi kekasihku. Namun aku memintanya untuk merahasiakan hubungan kami. Kalau Adrian tahu aku dan Elita berpacaran, pasti mulutnya ngadu aneh - aneh ke orang tuaku. Kubilang padanya bahwa aku belum diizinkan berpacaran.
Dari situ juga aku tahu bahwa adikku memang menyebalkan. Saat kubilang untuk merahasiakan hubungan kami, termasuk dari Adrian, Elita bingung hubungan Adrian dengan kami. Adrian tidak pernah menceritakan bahwa dia adalah adikku. Adik kurang ajar kan?
Saat memperkenalkan diri di hadapan orang tua Elita, aku disambut hangat oleh mereka. Figur keluarga yang sangat aku harapkan dapat kumiliki bersama Elita.
Elita senang sekali menyiapkan makanan untukku saat kami akan makan. Pernah aku mengusilinya, memintanya menyuapi aku, dan itu ia lakukan. Alhasil aku ketagihan. Aku suka saat dia menyuapiku. Berawal dari usil, menjadi suatu kebiasaan.
Aku bahkan membeli playstation untuk aku bermain selama di rumah Elita. Kalau biasanya orang pacaran mengajak pacarnya ke mall atau jalan - jalan, berbeda dengan kami. Sepulang sekolah aku sudah di rumah Elita. Sehabis makan siang, mengerjakan PR bersama, aku biasa tidur siang disana. Keluarganya menyiapkan kamar tamu untukku. Tentunya kami tidur di kamar masing - masing. Aku sangat menyayanginya, tak ingin merusaknya. Sehabis tidur siang, aku main playstation, sedangkan dia entahlah aku tidak terlalu peduli. Mandi sore juga kulakukan di rumah itu. Setelah mandi sore, aku kembali main playstation. Biasanya kedua orang tua Elita pulang sekitar pukul 18.00 dan kami makan malam bersama.
Aku menyayangi kedua orang tua Elita karena mereka juga tampaknya menyayangiku. Fix, calon mertua idaman.
Elita juga telaten menyiapkan segala kebutuhanku. Fix, calon istri idaman. Pantas saja adikku yang culun itu nyaman bersama Elita, bahkan sampai menggilai Elita. Pacarku memang top markotop.
Suatu hari, saat aku dirumah, aku kembali mendengar cerita tentang Elita dari mulut Adrian. Adrian bilang hari ini Elita memuji ketampanannya dan kepintarannya. Hari ini juga Elita mengajaknya ke cafe. Hah?
__ADS_1
Buru - buru aku ke rumah Elita menanyakan kemana saja dia hari itu. Kebetulan siang tadi aku ada pertandingan basket sehingga belum sempat bertemu dengannya. Ternyata memang benar, Elita ke cafe bersama Adrian guna mengerjakan tugas kelompok. Emang dasar mulut comberan tuh Adrian. Elita juga memang memuji Adrian tanpa ada tendensi khusus. Sejak saat itu aku menjadi overprotektif padanya.
Di lain hari, aku juga mendapati beberapa temanku, juga kakak kelas yang mencoba mendekati Elita. Yah resiko back street. Mereka taunya Elita jomblo. Sungguh aku tersiksa dengan semua rumor yang masuk ke telingaku.
Hingga akhirnya kuputuskan untuk menidurinya. Aku pikir dengan aku memerawaninya membuat dia terikat padaku. Sialnya, hasil dari kegiatan panas yang biasa kami lakukan membuahkan kehamilan. Aku frustrasi memikirkan apa yang harus kulakukan. Bertanggung jawab dengan menikahinya, tentu akan dengan senang hati aku lakukan. Masalahnya adalah aku yang bahkan lulus sekolah saja belum. Bagaimana aku akan menghidupi Elita dan bayi itu? Belum lagi keluargaku yang belum tentu setuju, karena Elita digadang - gadang calon istri idaman Adrian. Dengan berat hati aku menghubungi Daniel. Kuceritakan semua masalahku padanya. Sebelum mengetahui Elita adalah sepupu Daniel, aku memang terkadang menceritakan masalahku padanya. Daniel marah, namun sepertinya dia memahami posisiku. Ia menyiapkan obat yang kubutuhkan, serta kusiapkan Jessi untuk menemani Elita.
Aku terlalu pengecut untuk menemani Elita melewati masa - masa sulitnya. Aku membiarkannya menahan sakit seorang diri. Aku hanya diam, mengurung diri di kamar. Aku menangis semalaman karena perasaan yang campur aduk. Aku merasa kecewa menjadi laki - laki. Aku juga merasa sedih harus membunuh anakku sendiri. Aku juga merasa takut, jika Elita membenciku, dan meninggalkanku. Mamaku sempat mendengar tangisku. Mama sempat khawatir, ia memelukku. Pelukan yang lama tak pernah kurasakan.
"Kamu kenapa oh?" begitu tanya mama berulang - ulang karena aku tak menjawab pertanyaannya. Bahkan hingga esok harinya, saat emosiku lebih stabil, aku tetap tidak menjawab pertanyaan itu. Pikiranku masih kalut. Kudengar kabar dari Jessi bahwa Elita kesakitan. Aku sangat mencemaskan keadaannya.
Belajar dari pengalaman, aku mulai belajar cara pakai ****** supaya lebih aman. Aku mulai menyukai apa yang kami lakukan. Pacarku tak hanya cantik dan baik, dia juga sangat seksi saat kulucuti pakaiannya. Sebagai lelaki normal yang sudah merasakan nikmatnya, jelas sulit untik menghentikannya.
Saat lulus SMA, aku melanjutkan pendidikan di fakultas hukum di universitas. Elita juga mulai mempersiapkan perguruan tinggi. Saat itu, aku kembali takut jika harus berpisah darinya. Sehingga aku memintanya melanjutkan pendidikan di universitas yang sama denganku. Dan ia menurut.
Beruntung di universitas ini tidak ada fakultas kedokteran. Bye Adrian!
__ADS_1
Ya, adikku melanjutkan pendidikan kedokteran. Dia sangat sedih akan berpisah dari Elita. Dia juga membual bahwa Elita sangat sedih harus jauh darinya. Dasar cowok kuper, ge er muluk! Lu kira Elita naksir lu gitu?
Di universitas, Elita cukup terkenal. Banyak senior yang mencoba mendekatinya. Jelas hal ini membuatku kebakaran jenggot.
Sebenarnya keposesifanku tak jelas. Aku tau Elita tidak akan mungkin macam - macam. Aku tau dia selalu mengabaikan laki - laki yang mencoba mendekatinya. Tapi entah mengapa aku merasa ketakutan berlebih. Aku takut tidak bisa bersamanya lagi. Aku merasa hidupku bergantung padanya.
Suatu hari, aku benar - benar bodoh. Hari itu, kedua orang tuanya pergi kondangan. Karena terlalu berhasrat melihatnya keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk, serta buru - buru sebelum orang tuanya datang, belum lagi ocehan - ocehannya saat aku menggagahinya, selalu membuatku bersemangat, sehingga aku melupakan kondomku.
Tak lama setelah hari itu, aku mendapat kabar tentang kecelakaan yang dialami Elita sekeluarga. Aku dihubungi pihak rumah sakit karena om Juan, ayah Elita meninggal dunia. Tante Noni dalam keadaan kritis. Elita juga kondisinya tidak cukup baik secara psikis setelah mendengar papanya meninggal. Ditambah dia dalam keadaan hamil.
Sebenarnya aku sudah menduga perbuatanku hari itu dapat membuatnya hamil. Aku bersyukur Tuhan memberiku kepercayaan itu. Hanya saja, waktunya belum tepat. Aku belum bisa menjaga mereka. Terbesit niatan untuk menikahinya diam - diam. Toh kedua orang tuanya sudah meninggal. Jika aku menikahinya, bisa saja kami tinggal di rumahnya. Toh uang jajanku cukup untuk kami. Hanya saja, jika aku ketahuan menikahinya, jelas itu akan menimbulkan keributan.
Sekali lagi aku mengambil pilihan untuk menggugurkan bayi itu.
Daniel sempat mengingatkanku untuk tidak melakukan ini. Daniel khawatir jika Elita terus menerus melakukan aborsi, hal itu berdampak pada rahimnya. Tapi aku tak punya pilihan lain.
__ADS_1