
"Elita kabur dari Jakarta tanpa pernah bilang ke Bavarian kalau dia sedang hamil. Bavarian juga tidak pernah meminta aborsi," ucapan Jesi membuat banyak pihak terkejut. Jesi adalah saksi hidup semua yang dialami Elita. Bagaimana mungkin Jesi bisa berkata seperti itu?
Elita shock. Ia benar - benar tidak berkonsentrasi dengan jalannya sidang. Baik Jesi maupun Daniel kompak mengatakan kebohongan itu. Elita menatap Daniel dengan kebencian. Bagaimana mungkin sepupunya itu berpihak pada Bavarian? Namun Daniel seolah tidak peduli dengan kekecewaan Elita.
"Berdasarkan keterangan para saksi, kami putuskan hak asuh anak jatuh pada Bapak Bavarian Santoso," ucap hakim sebelum mengetuk palu. Elita lemas mendengar keputusan hakim. Bagaimana mungkin hak asuh anak jatuh pada ayah. Bahkan meskipun mereka pasangan suami istri yang telah berceraipun, bukannya hak asuh anak selalu jatuh pada ibu?
Sisil memeluk Elita yang sudah sangat lemah mendengar keputusan hakim. Wajahnya pucat. Sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
"Lit. Lita. Lita," samar samar terdengar suara Sisil. Elita kini berada di mobil Sisil dan Kenny.
"Cik. Eric cik. Aku harus gimana cik?" Elita mulai menangis.
"Lit. Kamu harus kuat ya. Kamu coba bahas ini sama mantan kamu itu. Dia pasti masih punya perasaan untuk mempertemukan anaknya dengan ibu kandungnya sendiri," saran Sisil sambil memeluk Elita yang terus menangis.
Setelah merasa lebih tenang, Kenny dan Sisil mengantar Elita pulang sekaligus menjemput Eric terlebih dahulu.
"Bu Lita, di dalam ada keributan Bu. Tadi ada laki - laki yang mengaku ayahnya Eric menjemput paksa Eric. Tapi Eric tidak mau, jadi sekarang laki - laki itu ada di dalam kantor kepala sekolah Bu," ucap petugas keamanan sekolah Eric. Jantung Elita terasa mencelos. Bavarian benar - benar serius akan mengambil Eric.
Elita, Sisil, dan Kenny segera menuju ruangan kepala sekolah. Disana terdengar tangisan Eric dan Bavarian yang berusaha mendekati Eric.
"Mami," teriak Eric
"Om itu maksa jadi papi mi. Om Kenny bilangin om Reno, om itu nakal," adu Eric pada Kenny.
"Miss. Bisa minta tolong bawa Eric dulu sebentar," pinta Elita.
Eric keluar ruangan bersama guru, kepala sekolah dan Sisil.
__ADS_1
"Kami tunggu di luar," bisik Kenny dijawab anggukan oleh Elita.
"Elita yang sekarang ternyata gatel ya. Reno, Kenny, siapa lagi?" ejek Bavarian.
"Jangan ngawur. Kenny itu suaminya Sisil," balas Elita sambil mendudukkan bokongnya ke kursi yang ada di ruangan itu.
"Aku akan bawa Eric pulang ke rumahku. Jadi mohon kerjasamanya, kamu bilang ke Eric kalau aku papinya," ucap Bavarian yang ikut duduk di hadapan Elita.
"Kamu nggak bisa bawa Eric,"
"Keputusan pengadilan sudah jelas kan?"
"Aku nggak bisa kehilangan Eric. Aku mohon. Dia satu - satunya keluargaku Va," jatuh sudah air mata Elita. Kali ini dia harus memohon pada Bavarian.
"Kamu harus tau rasanya jauh dari orang yang penting untuk kamu," sahut Bavarian seolah tidak peduli dengan tangisan Elita.
Bavarian hanya tersenyum.
"Aku nggak perlu mengotori tanganku untuk perempuan jahat seperti kamu. Singkatnya, aku mau kamu persiapkan semua keperluan Eric. Besok aku bawa Eric ke Jakarta," Bavarian tetap pada pendiriannya membawa Eric.
Elita hanya bisa menangis. Memohon pun percuma. Sepertinya laki - laki itu sama bencinya dengan dirinya.
"Kamu bisa tetap sama Eric dengan syarat,"
"Apa?" tanya Elita cepat. Tak ingin kehilangan kesempatan untuk bersama anaknya.
"Menikah sama aku,"
__ADS_1
Cih! Jangan harap! cibir Elita dalam hati.
"Jangan ge-er dulu. Kamu nikah supaya kamu bisa tetap jadi ibunya Eric. Kecuali kamu mau perempuan lain yang jadi ibunya?" sambung Bavarian.
"Terserah apapun keputusan kamu. Kalau kamu mau, kita bisa nikah besok sebelum pulang ke Jakarta," sambung Bavarian lagi.
"Bukannya untuk kanonisasi butuh waktu setidaknya tiga bulan?" tanya Elita.
"Itu urusanku," jawab Bavarian kemudian pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah. Diluar, sudah ada Eric yang sedang digendong Kenny.
"Gimana?" tanya Sisil.
"Dia ngajak nikah cik," jawab Elita membuat Sisil dan Kenny tersenyum.
"Sepertinya memang dia masih suka sama kamu," ucap Sisil sambil menggandeng Elita menuju ke mobil diikuti Kenny yang menggendong Eric.
"Dia bilang kami nikah biar aku tetap bisa jadi ibunya Eric cik," sahut Elita.
"Aku cowok Lit. Aku tau dia masih punya rasa sama kamu. Keliatan banget kayak pengen makan orang liat kamu sama aku, kamu sama Reno," sahut Kenny.
Mereka menuju rumah Elita. Disana sudah ada Daniel dan Jesi. Elita enggan untuk bertemu, tapi keduanya menunggu kedatangannya di depan pintu rumah.
"Lit," Jesi yang terlebih dulu bersuara. Elita tidak peduli. Ia membuka kunci pintu, lalu membawa Eric masuk ke dalam.
Elita menutup pintu tak ingin kedua orang itu masuk. Jesi mengetuk pintu, memanggil namanya, tapi Elita tetap tak iba.
Sepertinya Jesi dan Daniel memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Elita. Mereka berdua cukup sadar diri dengan kesaksian palsu mereka di pengadilan.
__ADS_1