
Sejak hari itu, Bavarian memutuskan Elita melanjutkan rawat jalan saja. Bavarian mengajak Elita kembali kerumah, dan meminta Elita bed rest di rumah saja. Bavarian bahkan menyediakan perawat khusus untuk Elita, juga beberapa bodyguard.
Beberapa kali terdengar suara wanita mengamuk, entah itu tante Amel atau mantan pacar Bavarian. Elita tidak tahu pasti karena mereka tidak berhasil masuk.
Bavarian juga memutuskan untuk pindah rumah sakit, agar tidak berjumpa dengan Adrian. Sudah satu bulan berlalu, perut Elita sedikit membuncit, namun masih belum terlalu menunjukkan dirinya wanita hamil.
"Va. Aku kok pengen banget makan indomie ya," monolog Elita karena Bavarian sedang sibuk bermain bersama Eric.
"Nggak usah aneh - aneh. Inget lagi hamil," sahut Bavarian.
"Tapi pengen banget. Rasa kari. Please," rengek Elita.
"Sayang. Setelah melahirkan, aku janji beliin kamu indomie. Sedus juga gak masalah. Oke?" Elita mendengus sebal mendengarnya.
"Va. Kabar mantan kamu gimana?" tanya Elita penasaran.
"Kan sudah kubilang, sudah aman," sahut Bavarian. Dua minggu lalu, Bavarian bilang sudah memberi perempuan itu pelajaran. Entah pelajaran apa. Berarti suara wanita mengamuk yang tersisa adalah tante Amel.
"Kalo mama kamu?"
"Udah biarin aja. Gak usah dipikirin," Bavarian mengusap kepala Elita dengan lembut.
__ADS_1
Sebenarnya sejak kejadian itu, Elita penasaran dengan masalah keluarga mereka yang melibatkan dirinya. Elita mulai paham dengan maksud Bavarian yang mengatakan Adrian tertarik padanya. Tapi Elita penasaran dengan apa yang dibicarakan Adrian hingga tante Amel mendadak membencinya.
Suasana hati Bavarian sepertinya sedang baik. Tidak ada salahnya mencoba menanyakan hal itu.
"Va," panggil Elita.
"Hmm?" balas Bavarian yang baru keluar dari kamar mandi.
"Adrian sebenernya kenapa?" tanya Elita.
Bavarian hanya tersenyum, kemudian bergabung bersama Elita merebahkan tubuh di atas tempat tidur.
"Kenapa? Cemas?" goda Bavarian. Nah kan, mood nya lagi bagus. Biasanya kan ngamuk - ngamuk.
"Dan apa?" tanya Bavarian.
"Dan sepertinya... Kamu ada masalah sama keluarga kamu ya?" tanya Elita hati - hati. Tak ingin membangunkan macan dari tidurnya.
"Mungkin sekarang waktunya jujur sama kamu," ucap Bavarian membuat Elita penasaran.
-- Bavarian's POV --
__ADS_1
Gadis itu sangat cantik. Aku melihatnya saat tidak sengaja berpapasan di toilet. Dari atributnya, aku tau dia murid baru. Anak kelas 10. Elita, nama yang tertulis di karton yang tergantung di dadanya.
Saat jam istirahat, aku memperhatikan anak - anak kelas 10 yang sedang menjalani masa orientasi. Tapi aku tidak berani mendekatinya. Bisa ngamuk Tesa. Tesa pacarku, baru tiga bulan sih. Tapi memandangi Elita yang cantik itu cukup menghibur. Anak itu terlihat menonjol dibandingkan murid - murid lain. Entah di mataku saja, atau memang dia sangat cantik. Aku sering melihatnya bersliweran di kantin bersama teman - temannya, juga Adrian, adikku.
Aku tahu, Adrian menyukai Elita. Setiap pulang sekolah, dia selalu menceritakan Elita dengan menggebu - gebu. Mama dan papaku senang mendengarnya. Adrian tipe anak yang sulit bergaul, melihat dia bersemangat menceritakan Elita tentu membuat orang tuaku senang.
Adrian setiap hari menceritakan betapa cantiknya Elita hari itu, kegiatan yang ia lakukan bersama Elita hari itu, obrolan mereka, aku sampai muak mendengarnya. Bukan aku cemburu. Aku belum ditahap itu dengan Elita yang bahkan tidak kukenal. Aku cemburu pada kedua orang tuaku yang selalu bersemangat mendengar cerita Adrian.
Hubunganku dengan keluargaku tidak terlalu dekat. Kedua orang tuaku sibuk memanjakan Adrian. Kadang aku merasa seperti anak pungut saja. Tapi aku paham, bukan demikian. Adikku memiliki tubuh yang lebih rentan. Dia mudah sakit. Hal itu membuat kedua orang tuaku, terkhusus mamaku, sangat protektif padanya. Selain masalah fisik, Adrian juga sulit bersosialisasi. Entah kenapa dia sulit berteman, mungkin karena sifat menyebalkannya. Ya, bagiku dia sangat menyebalkan. Tapi tak tahu juga bagaimana penilaian orang lain tentangnya. Yang jelas, bagi keluargaku, Adrian anak yang manis dan baik.
Masalah sulit bersosialisasi juga membuat Adrian kerap pindah sekolah karena kasus bullying. Saat SD, dia sudah tiga kali pindah sekolah, saat SMP juga terjadi kasus bullying, kemudian ia melanjutkan sekolah di rumah. Masuk SMA, sepertinya aman terkendali. Adrian memiliki teman, yah si Elita ini.
Adrian menyebalkan. Kenapa?
Jelas, karena kelahirannya, membuat aku tersingkirkan. Dirinya yang sering sekali sakit, membuat aku terabaikan. Semua kasih sayang dan perhatian keluargaku habis untuk Adrian.
Tidak itu saja. Adrian suka sekali bermain peran karena tahu dirinya adalah anak emas keluarga. Seringnya, dia mengambil barang dari kamarku tanpa izinku. Saat aku membutuhkannya, barang itu rusak atau hilang atau dia lupa menaruhnya dimana. Dengan kelalaiannya itu, ia sama sekali tidak menyesal, justru bersikap arogan padaku. Membuatnya kesal dan akhirnya perkelahian tidak dapat dihindari. Saat kami sudah babak belur, Adrian selalu menyalahkan aku di depan orang tua kami, dan tak ingin mendengar penjelasanku, mereka memarahiku. Hal jtu sering terjadi, sehingga membuatku malas berada di rumah. Aku lebih sering menghabiskan waktu di warnet , tak jarang juga tidur di warnet. Bagi mereka, aku adalah anak nakal yang suka kelayapan tidak jelas.
Dari warnet aku mengenal banyak teman, dari yang baik sampai yang brengsek. Aku mulai mengenal rokok, alkohol, dan bokep berkat terlalu sering tinggal di warnet. **** pertamaku saat aku kelas sepuluh bersama Cindy. Dia pacar pertamaku, anak warnet juga. Tapi tak bertahan lama, sekarang aku bersama Tesa. Tidak seperti bersama Cindy, aku nggak pernah ngapa - ngapain Tesa.
Hal lucu bersama Elita dimulai saat aku baru saja putus dengan Tesa. Tesa bilang dia ingin serius belajar karena nilainya turun. Tak apa. Sekitar dua bulan putus dari Tesa, aku melihat Elita di warnet tempatku biasa nongkrong. Apakah dia gamer juga?
__ADS_1
Seolah Jakarta sangat sempit saja. Elita ternyata sepupu Daniel. Daniel adalah teman yang kukenal dari warnet juga. Kami biasa main bareng, kadang juga nongkrong di depan warnet sambil merokok bersama. Selain itu, Daniel juga sedang pendekatan dengan Jessi, sepupuku. Dari sanalah aku mulai berkenalan dengan Elita.
Elita bukan gamer. Dia ada di warnet itu karena ada keperluan dengan Daniel. Kebetulan warnet tempatku dan Daniel nongkrong dekat dengan rumahnya. Kami mulai bertukar pin. Awalnya chat biasa, lama kelamaan semakin intens. Bagiku, dia sangat menarik dan mampu mengisi kekosonganku. Elita tipe perempuan yang hangat. Perhatian - perhatian kecil yang biasa baginya, namun sangat luar biasa bagiku. Sosok ibu yang tak pernah kurasakan, tergantikan olehnya. Hingga aku sangat yakin untuk memilikinya. Tak peduli harus berkelahi dengan Adrian, aku sangat ingin terus bersama Elita.