Aku Pantas Dicintai

Aku Pantas Dicintai
Luka


__ADS_3

Welcome back Jakarta!


Ya, Elita kembali menginjakkan kaki ke kota itu. Elita hanya berpamitan dengan teman - teman di kantor via chat karena Bavarian tidak mengizinkan. Kembali dengan ancaman akan membawa Eric jika Elita tetap ngeyel.


Bavarian membawa Elita dan Eric ke sebuah apartment yang cukup mewah. Bahkan di dalam unitnya, Bavarian memiliki kolam renang. Jelas Eric senang melihatnya. Eric mulai berinteraksi dengan Bavarian juga setelah Bavarian kembali mengancam Elita untuk menjelaskan pada Eric bahwa dirinya adalah ayahnya. Awalnya canggung, tapi Bavarian pintar menyogok anaknya dengan memberikan banyak mainan bagus.


"Sudah kamu urus?" tanya Bavarian pada seorang laki - laki berstelan jas.


"Sudah bos. Dia sempat mengamuk, tapi sudah saya amankan. Penjagaan juga saya perketat, jadi dia tidak akan bisa masuk. Password juga sudah saya ganti bos," jawab lelaki itu.


"Oh ya sayang. Ini Ferry, asistenku," ucap Bavarian yang disusul Elita berkenalan dengan Ferry si asisten.


"Gak usah pegang - pegang," Bavarian menampik tangan Elita yang sudah menjulur untuk berjabat tangan. Ferry hanya tersenyum. Akhirnya Elita hanya memberikan senyum untuk sopab santun pada orang yang baru dikenalnya.


"Gak usah senyam senyum. Jangan ganjen ya kamu jadi cewek," tegur Bavarian membuat Elita kesal. Entah Bavarian sadar atau tidak dengan setiap ucapannya. Elita sakit hati karena Bavarian selalu menganggapnya seperti wanita murahan. Tapi apa yang bisa ia lakukan untuk melawan?


"Terus untuk pernikahan gimana?" tanya Bavarian.


"Tetap nggak bisa bos. Tiga bulan sudah paling cepat. Tapi saya sudah mendaftarkan kelas pernikahan juga bos. Bos dan bu bos tinggal datang saja. Semua persiapan pernikahan di gereja juga sudah saya siapkan. Bos tinggal fitting gaun pengantin saja," jawab Ferry lagi.


Bavarian memberi kode agar Ferry pergi, kemudian lelaki itu pergi.


"Kamu suka?" tanya Bavarian sambil memeluk Elita dari belakang. Elita hanya mengangguk. Bagus sih, hanya saja dirinya tak sepenuhnya ingin menjadi bagian dari Bavarian.


"Aku dulu beli apartment ini, desain semuanya seperti kesukaanmu. Kamu bilang pengen punya tempat tinggal yang ada playground untuk anak - anak, makanya aku beli unit disini. Dibawah ada playground, kamu sama Eric bisa main disana. Kolam renang, bathtub semua seperti yang kamu pengen dulu. sprei juga udah aku ganti smaa warna kesukaanmu," jelasnya kemudian mencium pipi Elita.


Elita terkejut mendengar penuturan Bavarian. Menyiapkan semuanya untukku? Bukannya dia tinggal disini sama pacarnya ya? Kenapa sekarang bilang didesain sesuai kesukaanku? pikir Elita.

__ADS_1


"Sekarang aku berangkat kerja dulu. Awas kamu macam - macam dibelakangku. Jangan pernah berencana kabur bawa Eric, kamu bakal lebih susah kalau sampai berani lakuin itu," ancam Bavarian.


Bavarian melepas pelukannya kemudian memeluk dan mencium Eric. Setelah berpamitan pada bocah itu, Bavarian pergi.


"Mami. Aku suka disini. Rumah papi besar dan bagus," ucap Eric polos. Elita hanya tersenyum. Lelaki itu mampu memfasilitasi anaknya dengan lebih baik. Padahal Elita sudah berusaha sangat keras. Kini Elita merasa kerdil di hadapan Bavarian.


Elita berkeliling sekitar rumah. Kamar untuk Eric sudah didekor sangat baik. Tempat tidur didesain seperti mobil, juga semua mainan dan buku tersedia. Eric bersemangat memainkan semua mainannya. Melihat Eric bermain di kamar, Elita memutuskan melihat dapur, melihat apa yang bisa dia siapkan untuk makan malam.


Bavarian, atau mungkin Ferry sepertinya baru saja mengisi kulkas. Banyak sekali bahan makanan segar yang tampak masih baru. Yah setidaknya ia tidak khawatir akan kelaparan.


 


Seminggu sudah Elita tinggal bersama Bavarian. Beberapa kali Jesi dan Daniel berusaha mendatanginya, tapi Elita enggan berurusan dengan kedua orang itu.


Hari itu Elita ingin sekali makan mie instan. Sayangnya, mie instan tidak dapat ia temukan di rumah itu. Elita berpikir untuk membelinya di minimarket dekat apartment. Elita mengajak Eric tentunya, berjalan menuju minimarket. Selama tinggal bersama Bavarian, ini kali pertama Elita keluar dari gedung mewah itu.


"Bu bos darimana? Bos nyariin. Saya sampai disuruh cek cctv," ucap Ferry lega melihat Elita dan Eric.


"Ketemu Fer?" suara Bavarian terdengar saat Elita membuka pintu.


"Papiii!!" seru Eric membuat Bavarian menghampiri sumber suara itu.


"Eric, kamu dari mana?" tanya Bavarian yang langsung memeluk dan menggendong anaknya.


"Jajan sama mami di indomar*et," jawab anak itu polos.


Elita segera ke dapur untuk merapikan belanjaannya. Tak lama, lengannya ditarik dan sebuah tamparan mendarat di pipi putihnya.

__ADS_1


"Dasar pelacur!" teriak Bavarian membuat Elita ketakutan. Ada apa orang ini? Kenapa dia ngomong kayak gitu? namun Elita tidak sanggup mengucapkan sepatah kata. Hanya air mata yang tiba - tiba menetes.


"Aku sudah bilang kamu nggak boleh pergi, kenapa kamu keluar? Ngelont*e ya kamu di luar?" Nyes! Sakit sekali rasanya mendengar ucapan itu.


"Aku cuma belanja di minimarket Va," lirih Elita menahan rasa sakit.


"Kamu bisa nitip aku," balas Bavarian.


"Aku cuma keluar dekat dan,"


"Kamu pikir aku bisa percaya sama perempuan seperti kamu? ha?" potong Bavarian.


"Jawab!" bentak Bavarian.


"Kalo kamu nggak percaya, ngapain kamu nikahin aku?" meledaklah semua yang Elita tahan.


"Balas semua yang aku rasakan saat kamu ninggalin aku!" Bavarian tak ingin kalah meninggikan suaranya.


"Kamu gila!" Elita berlalu meninggalkan Bavarian.


Elita mengurung diri di kamar. Menangis melampiaskan sakit yang ia rasakan. Bavarian yang sekarang, bukan Bavarian yang dulu. Dulu, Bavarian memang over protektif padanya. Tidak pernah suka dirinya bersama laki - laki lain, selalu marah jika ada yang mendekatinya, namun Bavarian tidak pernah sekasar ini.


Rasa bencinya pada Bavarian yang lepas tanggung jawab kini bertambah karena perilaku kasarnya. Elita ingin sekali lari sejauh mungkin dari Bavarian, namun ia tidak bisa jika harus kehilangan Eric.


Belum perilaku Bavarian yang selalu menidurinya dengan ancaman Eric, membuatnya jijik pada tubuhnya sendiri. Ingin menolak, tapi tunduk pada ancaman Bavarian. Belum lagi reaksi tubuhnya akibat sentuhan - sentuhan itu membuatnya justru menikmatinya. Mungkin benar kata Bavarian, Elita hanya perempuan murahan. Dengan mudahnya bersedia ditiduri laki - laki. Seorang pelacur saja dibayar mahal, sedangkan dirinya hanya dicaci maki.


Lama menangis membuat Elita tertidur. Ia tidak lagi ingat harus menyiapkan makanan untuk anaknya. Bahkan ia lupa pada mie instan yang awalnya sangat ingin ia makan.

__ADS_1


Pagi harinya, Elita bangun kesiangan. Kamar masih kosong. Sepertinya Bavarian sudah berangkat kerja. Ah biarkan sajalah Lit. Toh males juga ketemu lelaki brengsek itu, pikir Elita.


__ADS_2