Aku Pantas Dicintai

Aku Pantas Dicintai
Teman Lama


__ADS_3

Tiga bulan berlalu begitu saja. Elita pada akhirnya menikah dengan Bavarian. Pernikahan yang bisa dibilang sangat sederhana. Bavarian memberikan gaun pengantin yang sangat cantik, make up artist terkenal, dekorasi di gereja juga sangat indah. Hanya saja acara pernikahan hanya dihadiri Ferry, Jessi, dan Daniel. Tidak ada satu orangpun keluarga Bavarian yang tampak. Elita dapat merasakan pernikahan yang terkesan disembunyikan itu. Namun ia tidak peduli. Tujuannya menikah hanya Eric.


"Maaf keluargaku nggak bisa hadir," ucap Bavarian setelah acara selesai.


"Aku nggak peduli. Justru bagus kalo gini," balas Elita.


"Maksud kamu?" Bavarian mengernyitkan dahi, tak paham dengan yang dimaksud Elita.


"Nggak ada yang tahu pernikahan ini. Suatu saat kalo kita cerai, itu bagus," jelas Elita santai.


"Jangan mimpi! Aku akan siksa kamu seumur hidup," geram Bavarian kemudian berlalu meninggalkan Elita .


Elita heran. Elita bukan pacar pertama Bavarian. Kenapa sepertinya Bavarian patah hati sekali padanya? Bukankah dalam sebuah hubungan, putus sambung itu hal yang biasa?


Hari - hari Elita menjadi Nyonya Santoso masih sama saja. Elita tidak diizinkan meninggalkan apartment. Elita hanya boleh ke playground bersama Eric. Selain itu, Elita hanya tinggal di dalam apartment. Sesekali akan datang petugas homecare utusan Bavarian untuk perawatannya. Segala perawatan rambut, kulit, tubuh, kuku, semua dilakukan di rumah saja. Eric pergi ke sekolah diantar Ferry. Bavarian benar - benar mengurungnya dalam sangkar emasnya.


Elita sendiri tidak pernah lagi penasaran ingin keluar ke minimarket. Tamparan dan caci maki Bavarian saat itu sangat membekas di ingatannya.


Sudah dua bulan mereka menikah, Bavarian masih tidak mempertemukan Elita dengan keluarganya. Elita mencoba untuk tidak berpikir macam - macam, hanya saja rasa penasaran tentang balas dendam yang direncanakan Bavarian terus mengganggunya. Apa yang sebenarnya akan dilakukan Bavarian pada dirinya?


Bavarian sendiri sepertinya tidak ada tanda - tanda bersama perempuan lain selain dirinya. Setiap pagi dan malam Bavarian selalu berhasrat menidurinya, kecuali saat Elita datang bulan.


"Hoek hoek," pagi itu Elita benar - benar merasa kacau. Tubuhnya terasa amat tidak nyaman. Rasa pusing teramat sangat yang membuatnya merasa mual.


"Kamu sakit?" tanya Bavarian membantu Elita mengikat rambut panjang wanita itu, lalu memijit tengkuknya.


"Kepalaku pusing banget," keluh Elita.


"Padahal pengen nyangkar," celetuk Bavarian membuat Elita geleng - geleng.


"Aku suruh Ferry buat panggil dokter," ucap Bavarian yang hanya diangguki Elita.


Siang harinya, seorang dokter perempuan datang memeriksa Elita. Karena Elita sedang sakit, Bavarian memutuskan tinggal untuk menemani Elita.


"Gimana dok?" tanya Bavarian penasaran.

__ADS_1


"Sepertinya istri bapak sedang hamil. Lebih baik bapak ke rumah sakit dan memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan, supaya lebih pasti" jawab dokter itu.


"Dokter ada rekomendasi dokter spesialis yang bisa kerumah?" tanya Bavarian.


"Lebih baik di rumah sakit pak. Supaya bisa USG sekalian," Bavarian manggut - manggut, lalu memberi kode pada Ferry untuk segera menjadwalkan Elita.


Elita tidak terkejut jika dirinya hamil. Bagaimana tidak, Bavarian rutin meminta haknya. Bavarian juga menolak segala jenis kontrasepsi. Elita pernah menawarkan dirinya saja yang melakukan suntik kontrasepsi, namun ditolak Bavarian dengan segala caci maki. Bavarian menganggap Elita mencoba mencari laki - laki diluar sana, makanya tidak bersedia dihamili lagi. Benar - benar gila.


Sorenya, Elita bersama Bavarian ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Kerja Ferry benar - benar memuaskan. Entah berapa gajinya, dan kenapa seorang pengacara seperti Bavarian sampai memiliki asisten segala.


Elita dinyatakan hamil. Bavarian sangat senang mengetahui hal itu. Reaksi yang jauh berbeda dibanding dulu. Dulu, Bavarian sangat ketakutan saat mengetahui kehamilannya.


"Kamu tunggu disini. Aku antri di farmasi dulu," ucap Bavarian yang diiyakan Elita. Elita duduk di sebuah sofa yang ada di lobby rumah sakit. Ternyata ini rasanya hamil tanpa harus takut membesarkannya.


"Lita!" Elita mencari sumber suara yang memanggilnya. Adrian.


"Hi! Kamu kok disini?" sapa Elita agak takut. Jika Bavarian melihatnya bersama laki - laki, pasti lelaki itu akan marah.


"Iya, aku ada panggilan kerja disini. Aku ditawari praktek disini. Jodoh banget ketemu kamu," jawab Adrian yang ikut duduk di samping Elita.


"Kamu kemana aja selama ini?" tanya Adrian.


"Kamu tambah cantik," puji Adrian.


"Makasih," jawab Elita.


"Oh ya, aku minta kontak kamu dong?" duh bingung kan kalau gini. Mau nolaknya gimana. Akhirnya Elita terpaksa memberikan kontaknya pada Adrian.


"Yan, aku duluan ya," ucap Elita tak ingin berlama - lama dengan Adrian.


Elita buru - buru pergi dari lobby untuk mencari Bavarian. Ia tak ingin terlibat masalah, apalagi saat ini dirinya sedang hamil.


"Va. masih lama?" tanya Elita.


"Sebentar ya. Kamu kalo capek duduk dulu aja," ucap Bavarian sambil mengusap kepala Elita lembut.

__ADS_1


"Kalo aku nunggu di mobil aja gimana?" Bavarian setuju menyerahkan kunci mobilnya pada Elita.


----


Keesokan harinya,


"Lita! Lita! Dimana kamu Lita?!" Elita melirik jam di dinding. Baru jam sebelas siang. Kenapa Bavarian sudah pulang lagi? Marah - marah lagi.


"Kenapa Va?" tanya Elita keluar dari kamar untuk menemui Bavarian.


Bavarian bergegas menghampiri Elita, lalu menarik rambut panjang Elita.


"Dasar pelacur! Berani macem - macem ya kamu di belakangku?" maki Bavarian. Kesambet dimana sih ni orang? Kok tiba - tiba marah - marah kesetanan begini.


"Maksud kamu apa? Aku nggak pernah keluar rumah. Aku juga lagi hamil, emangnya laku?" jawab Elita mencoba melepas rambutnya, namun Bavarian menariknya kuat sekali hingga terasa pedih kulit kepalanya.


"Kamu hubungan sama Adrian kan?" selidik Bavarian.


"Kemarin aku nggak sengaja ketemu dia di lobby. Tapi aku nggak banyak ngobrol sama dia. Aku juga nggak bilang apapun tentang hubungan kita,"


"Hubungan?" ulang Bavarian.


"Aku tau hubungan kita cuma pernikahan bawah tanah. Nggak ada yang boleh tau termasuk keluarga kamu kan? Makanya aku nggak banyak ngomong sama Adrian," Bavarian melapas tangannya dari rambut Elita.


"Kamu pikir kayak gitu?" tanya Bavarian.


"Awas kamu masih ada hubungan sama Adrian. Dia itu suka sama kamu dari dulu," lanjut Bavarian.


"Semua orang kamu mikirnya gitu," balas Elita ketus.


"Adrian suka sama kamu. Makanya aku mau kita backstreet," jelas Bavarian.


"Terserah kamu mau ngomong apa. Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu," balas Elita kemudian meninggalkan Bavarian kembali ke kamarnya.


Sudah cukup tubuhnya merasa tidak karuan. Ditambah Bavarian yang muncul tiba - tiba dengan semua kemarahan dan pikiran anehnya.

__ADS_1


"Mulai sekarang kamu nggak boleh pergi - pergi," ucap Bavarian kemudian meninggalkan apartment.


Lah? Bukannya dari kemarin memang nggak pernah boleh pergi ya? Benar - benar aneh si Bavarian, pikir Elita hanya bisa geleng - geleng kepala dan mengelus dada.


__ADS_2