Aku Pantas Dicintai

Aku Pantas Dicintai
Reno


__ADS_3

Jadwal keberangkatan menuji Korea tiba. Elita bersama Eric bersama beberapa teman yang juga mendapatkan bonus liburan ke Korea sudah di bandara. Pesawat transit di beberapa kota, salah satunya Jakarta. Sebenarnya ada rasa malas pada Elita harus tinggal selama beberapa menit di bandara Jakarta, tapi yasudahlah. toh dirinya tinggal di kota kecil. Mau tidak mau seperti itu.


Elita, Eric, dan beberapa teman Elita menunggu di lounge bandara. Sambil ngopi, ngemil, dan ngobrol santai. Jangan lupakan Reno yang juga ikut dalam perjalanan, tentunya Eric sangat senang dapat bertemu Reno lagi.


"Aku ke toilet sebentar, tolong nitip Eric ya," pinta Elita pada Reno karena dibanding teman - temannya yang lain, hanya Reno yang paling akrab dengan anaknya.


"Jangan lama - lama. Kita udah mau berangkat," ingat Reno dijawab anggukan oleh Elita.


Elita segera menuju toilet. Untungnya tidak banyak orang di dalam toilet sehingga ia segera kembali ke lounge.


"Lita?" seru seseorang yang tidak sengaja Elita jumpai saat keluar dari toilet. Orang yang sudah sangat tidak ingin ia jumpai lagi.


Elita berlalu begitu saja, anggap saja angin kentut. Tapi tidak dengan Bavarian. Ia mencekal tangan Elita.


"Kamu kemana aja? Aku cari - cari kamu," tanya Bavarian.


"Bukan urusan kamu. Kita udah putus jadi anggap aja kita orang asing," jawab Elita ketus.


"Nggak! Inget ya waktu itu aku bilang nggak," nada suara Bavarian sepertinya naik karena kesal.


"Sorry ya aku buru - buru, udah mau terbang," kelitnya


"Kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Bavarian tak ingin melepas tangan Elita.


"Pesawatku udah nunggu. Lepasin gak?!" Elita naik pitam kali ini.


"Jawab dulu dimana kamu tinggal," desak Bavarian.


"Tangerang," jawab Elita asal.


"Alamat lengkap," Bavarian tidak sebodoh itu menerima nama suatu daerah.


Elita terpaksa menyebutkan sebuah alamat yang ia karang indah begitu saja.


"Awas kamu berani bohongi aku," ancam Bavarian mulai melepaskan tangan Elita. Kesempatan itu ia pergunakan segera kembali ke lounge.


"Cari sana tu alamat bareng ayu ting ting," gerutu Elita dalam hati.


Elita kembali bersama Eric dan teman - temannya. Eric sedang dipangku Reno. Elita tersenyum melihat anaknya yang sangat ceria hari ini.

__ADS_1


Tak lama, pesawat mereka disebut. Elita dan rombongan segera menuju gate yang disebutkan. Elita berjalan bersama teman - temannya, sedangkan Eric digendong Reno.


 


Asiknya jadi agen asuransi... Ketika on target, dapet bonus jalan - jalan..


Semarang..


Liburan sudah berakhir. Kini mereka kembali menjalani rutinitas seperti biasa.


"Pembohong!" pesan yang tiba - tiba muncul di whatsapp Elita.


Apakah ada nasabah yang merasa tertipu olehnya? begitu pikir Elita.


Elita segera menghubungi nomor itu.


"Halo, selamat pagi, dengan siapa ini ya?" sapa Elita saat telpon terhubung.


"Buka pintu rumah kamu," suara itu.


Tubuh Elita bergetar ketakutan. Ia berjalan menuju jendela untuk mengintip. Dunia terasa hampir runtuh saat melihat sosok itu berdiri di depan pintu rumahnya.


Gawat!


"Ngapain kamu disini?" tanya Elita masih melalui panggilan telepon.


"Buka pintunya," geram Bavarian.


"Enggak. Ngapain kamu disini. Pergi. Jangan ganggu aku lagi,"


"Elita ternyata sudah berani melawan ya sekarang? Buka nggak pintunya? Atau aku dobrak pintunya," ancam Bavarian.


Elita segera memutuskan panggilan dan segera menghubungi petugas keamanan komplek. Tak lama, petugas keamanan dengan beberapa pria datang. Mereka meminta Bavarian untuk pergi dari komplek. Samar - samar terdengar Bavarian menyebut Elita adalah istrinya. Tapi Elita tetap tak ingin membuka pintu. Semua yang sudah berakhir sudah selayaknya berakhir.


"Buka Elita!" teriak Bavarian terdengar sampai ke dalam rumah. Terlihat beberapa orang keluar dari rumahnya karena mendengar ribut dari rumah Elita.


"Diluar ada apa mi?" tanya Eric


"Ada penjahat. Udah kita di dalam sini aja," jawab Elita.

__ADS_1


"Lit. Lita. Buka pintunya Lit," kali ini bukan suara Bavarian, melainkan Reno.


"Eric jangan keluar rumah ya. Disini aja. Mami liat Om Reno dulu," bocah itu mengangguk.


Elita keluar rumah, melihat Reno ada di depan pintu rumahnya. Di halaman rumah, terlihat Bavarian bersama petugas keamanan dan beberapa pria yang diketahui Elita memang Pak RT dan beberapa penghuni komplek.


"Dia ngaku suami kamu. Bener?" tanya Reno.


"Bukan," jawab Elita mantap. Memang mereka tidak pernah menikah kan?


"Pak. Tolong jangan biarkan laki - laki ini masuk lagi. Saya nggak kenal," seru Elita membuat Bavarian melotot mendengarnya. Wajahnya merah menahan marah melihat Elita dan Reno.


"Ayo pak, jangan buat keributan disini. Bapak bisa kami laporkan polisi kalau begini," ancam Pak RT.


Mau tidak mau, Bavarian pergi meninggalkan komplek. Untung saja hari ini Reno menjemput Elita dan Eric. Memenuhi permintaan Eric yang sudah lama tidak diantar sekolah Reno, serta dengan alasan Elita pasti lelah sehabis berlibur dari Korea Selatan.


"Itu tadi papinya Eric?" tanya Reno hati - hati setelah mereka mengantar Eric ke sekolah.


"Bukan. Bapaknya Eric sudah mati," jawab Elita dingin.


"Terus dia siapa? Kenapa ngaku - ngaku suami kamu?" selidik Reno.


"Hanya pecundang," jawab Elita tidak memecahkan rasa penasaran Reno, justru membuat Reno makin penasaran. Namun Reno tak ingin memperpanjang topik itu karena Elita terlihat tidak suka.


"Lita. Kita harus bicara," Bavarian menghadang Elita yang keluar dari kantor agensi untuk membeli makan siang di rumah makan depan kantor.


Elita tidak menghiraukan kehadiran laki - laki itu, namun Bavarian terus mengikutinya.


"Siapa cowok itu?" tanya Bavarian membuat Elita mendengus sebal. Pertanyaan yang dulu biasa Bavarian tanyakan saat melihat Elita bersama laki - laki.


"Tante, nasi campur komplit satu ya," ucap Elita pada tante penjual nasi campur.


"Tumben nggak sama Reno nik," goda tante itu saat mengantarkan makanan Elita.


"Reno lagi ketemu nasabah tan," jawab Elita.


"Namanya Reno? Ada hubungan apa kamu sama dia? Ingat ya Lit, kamu itu pacarku. Awas kamu berani macem - macem sama laki - laki lain," cecar Bavarian kesal karena tak digubris sama sekali.


"Kamu aja kumpul kebo sama pacar kamu aku gak peduli. Ngapain sekarang ngancam - ngancam aku?" balas Elita.

__ADS_1


"Jadi selama ini kamu tau aku ngapain aja? Kenapa aku nggak boleh tau kamu tapi kamu tau tentang aku?"


"Sebenernya aku nggak peduli. Kecelakaan aja kalo tau tentang kamu. Jadi tolong jangan ikut campur urusanku sama calon suamiku," balas Elita kali ini terpaksa menyebut Reno calon suaminya. Biar pergi jauh tu laki.


__ADS_2