Aku Pantas Dicintai

Aku Pantas Dicintai
Bavarian


__ADS_3

Aku mau kita putus


Kalimat yang paling tidak ingin kudengar akhirnya harus kudengar. Jelas aku menolaknya. Aku sangat mencintainya. Bahkan jika aku harus memilih antara semua anggota keluargaku atau Elita, aku akan memilih Elita. Hanya dia sumber kebahagiaanku, hanya dia yang mengerti aku, hanya dia yang menyayangiku, hanya dia. Aku bertahan begini juga untuk dirinya. Jika bukan karena Elita, masa bodoh dengan kuliah. Aku berjuang segera menyelesaikan pendidikanku agar cepat bekerja, cepat berpenghasilan sendiri sehingga aku bisa memperjuangkannya. Kenapa dia justru melepasku?


Aku memilih meninggalkannya karena suasana hatiku yang sedang kacau. Aku memilih pulang. Aku marah, aku kecewa, dan aku sedih. Aku tau, Elita juga kecewa padaku, pada setiap keputusanku. Tapi aku melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Dan aku tidak tau bagaimana cara mengatakan semua itu padanya. Alkohol dan rokok menemaniku hingga tertidur.


Keesokan harinya, setelah lebih tenang, aku kembali menemuinya. Tapi rumah itu tampak kosong, kemana dia? Berkali - kali kuhubungi juga handphonenya dimatikan. Malam hari aku kembali lagi, tetap saja kosong. Saat bertemu tetangga sebelah rumahnya, ibu itu bilang Elita sudah pindah. Sial. Jessi pasti tahu sesuatu.


Aku segera ke rumah Jessi. Dia bilang, dia tidak mengetahui kemana Elita pergi. Dia juga tidak tahu menahu rencana Elita. Tapi entah mengapa aku yakin Jessi tahu sesuatu.


Aku hancur sehancur - hancurnya. Aku menghabiskan waktu untuk mabuk dan menangis selama beberapa hari. Keluargaku cemas melihatku seperti itu.


Dua bulan lebih aku terpuruk dalam kehilangan. Hingga akhirnya aku bangkit. Aku harus menemukannya. Strategi awalku adalah Jessi. Aku kembali beraktivitas seperti biasa, namun aku dan Daniel sepakat untuk mengawasi Jessi. Kami yakin mereka diam - diam berhubungan. Setiap hari aku dan Daniel bergantian menguntit Jessi, namun zonk. Jessi benar - benar tidak ada kaitannya dengan kepergian Elita.


Aku mencari informasi dari teman - teman kuliahnya, juga sama. Mereka bahkan tidak mengetahui kemana Elita pergi. Aku sempat curiga dengan salah satu temannya dan mencoba menguntit mereka, namun sepertinya memang mereka tidak berhubungan sama sekali dengan Elita. Aku hampir gila karena putus asa dengan semua usaha pencarianku. Pada akhirnya yang dapat kulakukan hanyalah melanjutkan rencana kami.


Aku harus segera lulus kuliah agar bisa segera bekerja. Menghasilkan uang sendiri berarti aku tidak bergantung pada keluargaku, dan aku bisa memperjuangkan Elita di depan keluargaku. Entah mengapa aku sangat yakin hubungan kami akan ditentang, terutama mama. Penyebabnya apalagi kalau bukan anak kesayangannya.


Aku sibuk belajar belajar dan belajar hanya demi segera menyelesaikan kuliahku. Aku memacu diriku sendiri dengan pencarian Elita usai tamat kuliah, dan itu berhasil. Gelar cumlaude kuperoleh. Bahkan aku mendapatkan beasiswa profesi. Kedua orang tuaku sangat bangga dengan pencapaian si anak nakal ini.

__ADS_1


Mamaku beberapa kali kuketahui mempromosikanku si anak sulung ganteng, keren, pinter, calon pengacara pada teman - teman arisannya. Tapi kubiarkan saja, aku tak peduli.


Sembari melanjutkan profesi, aku juga bekerja disebuah firma hukum. Hasil kerja jadi jongos sedikit demi sedikit aku kumpulkan. Awalnya hanya sanggup menyewa apartemen kecil. Ya, aku memutuskan meninggalkan rumah. Aku sudah benar - benar muak dengan adikku. Melihatnya mengingatkanku pada semua keputusan bodohku, dan kepergian Elita.


Aku lulus kembali dengan gelar cumlaude. Awalnya dari dosenku, aku direkrut untuk bekerja menjadi salah satu pengacara di firma hukumnya. Jelas aku menerima kesempatan itu. Siapa yang gak mau naik kasta dari jongos, lalu menjadi pengacara sungguhan? Yah meskipun masih bau kencur. Namun karena banyak kasus yang kumenangkan, lambat laun pendapatanku meningkat drastis. Aku mulai bisa membeli apartment impianku. Bukan sih. Aku mana ada hunian idaman. Semua konsep yang kuterapkan dalam membeli property, seperti ada campur tangan Elita. Ya, meskipun dimulut aku selalu bilang lelah mencarinya, menyerah, tapi diam - diam tanpa sadar aku masih mengenangnya. Sehingga aku membeli hunian sesuai keinginannya dulu.


Aku menyerah? Ya. Beberapa bulan setelah lulus, saat aku masih jadi jongos, aku mulai berpacaran lagi dengan salah seorang teman pendidikan profesiku. Namanya Mega. Nggak cantik - cantik amat sih. Anaknya agresif. Kupikir karena aku butuh hiburan, yasudah kulayani saja keagresifannya. Hampir setahun kami jadi teman tidur. Mega anak perantauan. Awalnya dia kost, tapi kupikir - pikir lebih baik dia tinggal di apartmentku saja. Toh dengan begitu aku jadi tidak terlalu kesepian dan sedih memikirkan Elita.


Setelah Mega ada Silvi, Renata, dan Selly.


Apakah kami pacaran? Entahlah. Aku tidak pernah mengajak mereka berpacaran. Tau - tau langsung hubungan badan dan tinggal serumah saja. Saat berpisah, juga kami berpisah baik - baik. Biasanya karena mereka lelah menghadapiku. Aku mana tega ngusir perempuan yang sudah cukup berjasa menghangatkan ranjangku.


Suatu hari, Selly mengajakku berlibur ke Singapore. Tidak sepenuhnya liburan. Dia ada urusan kerja juga. Sambil menyelam, minum air. Yasudahlah, aku ikut juga. Toh perempuan itu sampai rela merogoh dompet untuk perjalanan ini. Bagai tertimpa durian runtuh, tidak hanya dibayari liburan, aku menemukan orang yang telah hilang selama beberapa tahun. Elita.


Awalnya aku tak yakin saat sekilas melihat perempuan itu. Kuputuskan untuk mengikutinya ke toilet. Benar - benar suatu hadiah yang tak ternilai saat aku benar - benar yakin perempuan itu adalah Elitaku. Ya, Elitaku.


"Lita?" antara yakin tak yakin, meskipun aku sudah yakinpun aku seperti tak percaya melihatnya lagi saat ini, di hadapanku.


Perempuan itu berlalu begitu saja. Ia seperti sedang menghindariku. Oh, maaf, aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Segera kutahan lengannya agar lepas dari jangkauanku.

__ADS_1


"Kamu kemana aja? Aku cari - cari kamu," tanyaku.


"Bukan urusan kamu. Kita udah putus jadi anggap aja kita orang asing," jawaban ketusnya itu membuatku meradang. Enak saja dia bilang sudah putus. Kapan? Aku tak pernah mengiyakan.


"Nggak! Inget ya waktu itu aku bilang nggak," jawabku.


"Sorry ya aku buru - buru, udah mau terbang," kelitnya membuatku sadar, ya, sekarang kami memiliki penerbangan yang tidak bisa seenaknya saja dicancel seperti naik angkot.


"Kamu tinggal dimana sekarang?" tanyaku.


"Pesawatku udah nunggu. Lepasin gak?!" sahut perempuan itu. Tingkahnya justru tampak menggemaskan bagiku.


"Jawab dulu dimana kamu tinggal," desakku.


"Tangerang," jawab. Kamu pikir aku bodoh sayang?


"Alamat lengkap," lanjutku.


Elita menyebutkan sebuah alamat yang kucatat di ponselku. Aku segera meminta Ferry menyelidiki alamat itu.

__ADS_1


"Awas kamu berani bohongi aku," ancamku akhirnya melepas kepergiannya.


__ADS_2