
"Hai, calon pacar?" Alena berjalan mendekati Farel yang sedang duduk di taman belakang sekolah.
"Lagi ngapain?" tanya Alena namun tak dihiraukan sama sekali oleh Farel.
Terlihat cowok tersebut sedang menyatat beberapa rumus dibuku tulisnya. Alena hanya diam dan memperhatikan dengan cermat kegiatan Farel.
"Farel."
"Rel!"
"Calon pacar ...."
"Rel!"
"Ish! Sekali-kali jawab kek kalo gue manggil." Alena mendengus kesal.
"Gue nyari lo susah payah dan saat udah ketemu gue lagi-lagi malah lo cuekin," ucap Alena.
"Nih gue bawain lo makanan, gue buat sendiri tadi pagi." Alena menyodorkan kotak hitam yang sudah berisi sebuah nasi goreng yang ia buat tadi pagi.
"Gue udah makan."
"Ck! Berasa Dejavu deh, Rel, kemaren Lo juga bilang udah makan saat gue udah bawain lo kue," decak Alena.
"Nih terima aja. Liat deh gue udah buatin lo dengan susah payah, coba liat dulu telornya gue bentuk hati serta nasinya yang sudah dilengkapi hiasan sayur-sayuran segar," ucap Alena sambil membuka tutup kotak makan tersebut.
__ADS_1
"Ayo dong, masak lo tolak lagi sih?!"
"Atau Lo mau gue suapin ya. Mau ya cobain masakan gue. Hanya untuk Farel doang tau Alena mau belajar masak kayak gini."
"Gue bilang nggak, nggak Alena!!"
Lagi-lagi kotak makan tersebut Farel lempar hingga jatuh ke tanah dan isinya harus terbuang sia-sia lagi.
Alena kembali terdiam dan menatap Farel datar.
Marah serta kesal. Itulah perasaan Farel saat ini, entah kenapa Alena selalu saja mengganggunya.
"Jangan pernah ganggu gue lagi!!"
"Tapi gue suka sama lo," jawab Alena.
"Iya gue tau, makanya gue sekarang berjuang untuk buat lo juga suka sama gue," ucap Alena.
Tak tahan lagi menghadapi Alena, Farel langsung mengemasi barang-barangnya dan langsung beranjak pergi.
Alena terus saja mengikuti Farel, gadis itu tidak ada lelahnya mengganggu hidup Farel. Setelah Dinda sekarang berganti Alena yang menjadi penguntitnya, sungguh Farel sangat terganggu, entah kapan ia bisa hidup tenang tanpa ada yang mengganggunya.
"Berhentilah mengikuti gue Alena!!" bentak Farel sambil terus berjalan menuju kelasnya.
"Gue 'kan cuma mastiin calon pacar gue gak ada yang godain," jawab Alena sambil mulai memakan permen karet dari sakunya.
__ADS_1
"Berhenti ngikutin gue!!" teriak Farel murka.
Alena berhenti, sedangkan Farel tetap berjalan dengan langkah besarnya.
Farel yang merasa tiba-tiba aneh dengan sosok Alena yang tiba-tiba menghilang dari belakangnya langsung refleks menoleh sekilas ke belakang. Jauh dari tempatnya Alena benar-benar telah berhenti namun masih terus menatapnya sambil melambai-lambaikan tangan.
Tidak mau diganggu lagi Farel langsung kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas dan langsung duduk di bangkunya.
"Dari mana lo?" tanya Jeno. Jeno memang teman sebangku Farel.
"Coklat?" tanya Farel saat tak sengaja melihat coklat berbungkus hitam pekat berada di laci mejanya.
"Iya, dari cewek penguntit lo itu," jawab Jeno.
Tadi pagi sebelum Alena menemukan Farel di taman belakang sekolah, gadis itu memang sempat mencari ke kelasnya dahulu untuk menaruh coklat tersebut di dalam laci meja Farel.
Dengan gerakan cepat Farel melempar coklat tersebut ke dalam kotak sampah, Jeno yang melihat itu tentu saja hanya bisa membeo di tempat.
"Rel, kalo lo gak mau bisa lo kasih gue aja gitu, jangan main buang-buang aja dong," ucap Jeno.
"Biar tu cewek murahan tau kalo gue gak akan nerima apapun dari dia," ucap Farel kejam.
"Ck! Awas aja lu nanti jatuh hati sama tu cewek," tutur Jeno sambil beranjak dari kursinya.
"Gak bakal, dan gak akan pernah," jawab Farel tegas.
__ADS_1
"Baiklah gue pegang omongan Lo," ucap Jeno.
***