
"Maimunah!! Kerjain tugas matematika gue dong." Seorang cowok bername tag Riki Aldiratja melempar bukunya kepada Meila taman sebangku Alena.
Alena yang hendak keluar menuju kantin harus menghentikannya langkahnya sejenak karena melihat kejadian tersebut. Sepertinya lagi-lagi hal yang sama akan terulang lagi.
Alena membalikkan badannya dan mendekati siswa tersebut. Ia mensejajarkan tubuh tingginya dengan Riki yang telah duduk di bangku Alena.
"Hei bro ... gue mau tanya sama lo. Nama gue Alena, seorang mahasiswi yang sudah tiga kali dikeluarkan dari sekolah, dan apa lo tau penyebabnya gue dikeluarin dari sekolah gara-gara apa?!"
"Untuk apa gue tau," jawab Riki acuh tak acuh.
"Yes!! Kau perlu mengetahuinya biar kau tidak akan menjadi korban selanjutnya dari tangan mulusku," ucap Alena sambil tersenyum miring.
Alena melangkah lebih maju hingga menepis jarak wajahnya dan juga wajah Riki. Dengan gerakan cepat Alena mencengkram kasar kerah seragam Riki.
"Hei, apa yang Lo lakuin?!! Lepasin gue!!" bentak Riki.
"Gue Alena!! Gue gak suka liat penindasan terhadap kaum lemah!!" Alena semakin memperkuat cengkramannya hingga membuat sang empu sulit bernafas.
"Princess lepasin dia, jangan buat ulah lagi." Suara bass dari samping Alena membuat Alena menoleh cepat pada pemilik suara.
"Biar gue yang tuntasin, Lo jangan membuat nama lo kotor lagi hanya karena masalah kecil kayak gini." Reza mengambil alih cengkraman seragam Riki.
Bugh!!"
Pukulan yang tidak terlalu keras namun sudah meninggalkan jejak warna ungu gelap tersebut mendarat tepat di wajah mulus Riki.
"Sudah selesai. Ayo ke kantin yang lain udah nungguin," ucap Reza sambil merangkul bahu Alena.
"Oh iya bro, itu tidak seberapa jika dibanding ketua gue yang mukul Lo," peringat Reza pada Riki.
***
"Lama amat, dari mana?" tanya Raga saat Reza dan Alena yang sudah duduk di meja kantin.
"Biasa," jawab Reza sambil meraih minumannya.
__ADS_1
"Princess, di sekolah ini ada cowok ganteng loh dia pinter, tapi dingin banget," tutur Rizky.
"Siapa?" tanya Alena yang mendadak merasa tertarik pada topik tersebut.
"Tuh 'kan kalo soal cowok Princess langsung fast respon," ucap Reno.
"Ya mungkin aja bisa gue Pepet," jawab Alena sambil tertawa kecil.
"Siapa namanya?" tanya Alena.
"Farel Giorgio Dalken. Cowok terdingin di SMA Atvari Kencana," jawab Reza.
"Gue harap namanya sebagus mukanya," kata Alena sambil tersenyum kecil.
"Beuh!! Iya dong," jawab Raga.
"Tapi dia itu udah kayak kulkas Princess. Dingin benget," ucap Reno dan diangguki benar oleh lainnya.
"Yakin gak bakal kepincut sama gue," canda Alena.
"Siapa juga yang gak tertarik sama Princess ratu kota," timpal Raga dan diiringi tawa oleh oleh lainnya.
"Mana sih orangnya, ada disini gak?" tanya Alena.
"Sekarang tu kutu buku pasti berada di kelasnya," jawab Reno.
"Berasal dari kelas mana," tanya Alena lagi.
"Golongan anak pintar mah, kelas Ipa satu," jawab Reno dan diangguki paham oleh Alena.
"Istirahat kedua nanti gue mau deketin dia. Gue mau ajak dia pacaran," ucap Alena penuh keyakinan.
"Yakin Lo?! Tapi kayaknya gak mudah dapetin dia Princess dia itu udah kayak cowok yang gak tertarik pada perempuan," ujar Rizky.
"Kayak kalian dong, yang sampe sekarang gak punya pacar," ledek Alena sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Kami 'kan mau jagain lo dulu, kalo sekiranya Lo udah bahagia dan berkeluarga nanti kami baru nyusul," ucap Reza sambil mencubit gemas pipi Alena.
"Ck! Berlebihan, padahal jika tawuran yang ada malah gue yang lindungin kalian," ucap Alena hingga membuat empat R tersebut cengengesan.
"Gakpapa, tadi mah cuma basa basi kehidupan aja," jawab Reno.
***
"Hai guys!! Yang namanya Farel mana ya?" teriak Alena saat sudah berada di kelas Ipa¹.
"Ada apa nanyain Farel." Seorang cewek yang berpakaian lumayan ketat mendekati Alena yang masih berdiri di ambang pintu.
"A di n da Ke y sha," eja Alena membaca name tag yang terjahit di seragam sekolah gadis tersebut.
"Oke, Adinda Keysha gue kesini nyari Farel si kulkas berjalan bukan nyari lo," ucap Alena sambil tersenyum manis pada Adinda.
"Ini kelas gue dan gue berhak tau ada urusan apa lo nyari Farel!!" tegas Adinda marah.
"Eeh santai dong anak kurma, gue kesini datang baik-baik kok lo nyolot sih, kita bahkan belum kenalan bukan?" Alena menyodorkan tangannya untuk mengajak Adinda kenalan, namun tangannya ditepis kasar oleh Dinda.
"Oke lo gak mau kenalan sama gue gakpapa, gue yakin bentar lagi pasti juga lo akan kenal gue dengan sendirinya," ucap Alena sambil menyingkirkan tubuh Dinda dari hadapan.
"Siapa sih lo!! Kurang ajar banget!!" bentak Dinda.
"Hai semuanya, ada yang kenal gue bukan?! Sekarang gue nanya sama kalian, siswa dengan sebutan kulkas berjalan atau yang bernama Farel yang mana ya?" tanya Alena setengah berteriak.
"Diam!! Jangan ada yang ngasih tau cewek itu," bentak Dinda yang semakin tersulut emosi karena merasa direndahkan.
"Dia gak ada disini, Farel sedang berada di perpustakaan," jawab salah satu siswa.
"Oh oke, terima kasih." Setelah mengucapkan itu Alena berlalu keluar. Dinda hendak menahan Alena namun salah satu temannya menahannya.
"Biarin aja."
"Kok biarin aja sih!! Harusnya dia gue bejek-bejek karena udah berani nanyain Farel," kesal Dinda.
__ADS_1