Aku Tak Seburuk Itu

Aku Tak Seburuk Itu
Three


__ADS_3

Plakk!!


Tamparan keras mendarat di pipi mulus Alena. Ia baru saja sampai di rumah kakeknya, tapi sudah mendapat tamparan seperti ini.


Rendra tentu sangat marah karena lagi-lagi Cucunya tersebut tak pernah mau berubah. Tidak pulangnya Alena semalam membuat amarah Rendra memuncak.


"Dari mana kau semalam tidak pulang, Nara?!" tanya Rendra tegas, namun yang ditanya hanya diam dengan ekspresi datarnya.


"Apa kau balapan lagi?!


"Sudah berapa kali Kakek bilang Nara, apa kamu tidak bisa mendengarkan nasehat Kakek huh?!"


"Maaf." Setelah mengucapkan itu Alena langsung beranjak menuju lantai tiga, dimana disana terletak kamarnya.


"Malam nanti keluarga besar kita akan mengadakan makan malam disini, Kakek harap kamu mengikuti acara tersebut." Alena menghentikan sejenak langkahnya untuk mendengarkan ucapan sang Kakek.


"Tolong hargai Kakek kali ini Nara," ucap Rendra.


"Baik, Kek." Seteleh mengucapkan itu Alena kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Ceklek!


Bertepatan tertutupnya pintu kamar Nara, air mata itu juga ikut tumpah membasahi pipi Alena. Ia memegang dadanya yang terasa sesak, lagi dan lagi rasa sakit hati yang ia rasakan akibat tamparan yang diberikan oleh sang kakek tadi.


"Alena gak bakal bisa hidup jika tidak seperti ini, Kek," gumam Alena yang entah berbicara pada siapa.


***


Tok ... tok ... tok ....


Ceklek!


"Non Nara, tuan memerintahkan anda untuk segera turun." Salah satu maid perempuan tersebut berucap lembut pada Alena.


"Baiklah terimakasih." Alena kembali menutup pintunya kamarnya.


Suara ramai klakson mobil sudah terdengar dari lantai bawah, itu tandanya semua anggota keluarga besar Rendra sudah datang.

__ADS_1


Rendra mempunyai tiga anak, dua laki-laki dan satu perempuan semuanya sudah berkeluarga, dan Alena merupakan anak dari Windi satu-satunya anak perempuan Rendra.


"Ayah, apa kabar Ayah!!" seru seoarang pria paruh baya bernama Toriq, ia adalah anak pertama Rendra. Thoriq sudah berkeluarga, dengan istrinya yang bernama Lita dan anaknya perempuan bernama Lira yang satu tahun lebih muda dari umur Alena.


"Baik kalian bagaimana? Sudah lama kalian tidak mengunjungi Ayah," gurau Rendra.


Bergantian dengan Bagas, ia adalah anak kedua Rendra. Istrinya yang bernama Sita dan satu anaknya laki-laki bernama Barra. Ingat Barra bukan, ia adalah ketua geng motor Traylo yang semalam sempat kalah balap dengan Alena.


Yang terakhir Windi, anak perempuan satu-satunya Rendra. Windi memang telah bercerai dengan suami pertamanya yang berupa ayah dari Alena. Sekarang Windi sudah mempunyai keluarga baru dengan seorang duda yang juga sudah beranak satu. Ditambah lagi satu seoarang anak perempuan yang baru berumur tiga tahun anak hasil pernikahan Windi dan suaminya.


Sama halnya dengan ayah Alena yang bernama Darwin. Ayah Alena juga sudah mempunyai keluarga baru dengan istrinya bernama Lina, tak berbeda jauh Lina juga seoarang janda yang sudah mempunyai satu Putri yang sebaya dengan Alena bernama Erisa, di tambah lagi anak laki-laki berumur 2 tahun, anak hasil pernikahan Lina dan juga Darwin.


"Windi, dimana putramu?" tanya Rendra.


"Dia katanya lagi ada urusan Ayah, tapi nanti dia bakal nyusul kok kesini," jawab Windi.


***


Acara makan malam sudah dimulai namun Alena belum turun hingga membuat Rendra semakin geram. Tak lama datanglah Alena dengan penampilan tomboynya menuruni tangga. Ia dengan gaya santainya berjalan menuju meja makan.


"Selamat malam," sapa Alena sambil membungkukkan kepalanya tanda hormat.


"Apa kabarmu Nara?" tanya Thoriq.


"Baik, Om," jawab Alena.


Windia hanya diam acuh tak acuh dengan anaknya tersebut. Ia sudah tak memperdulikan lagi anaknya tersebut sekarang ia hanya fokus mengurus anak-anaknya barunya dengan suaminya Gio.


Acara makan malam sudah dimulai, canda tawa memenuhi meja panjang tersebut, hanya Alena yang tetap diam dengan ekspresi datarnya yang tak menunjukkan reaksi apapun sekalipun dia juga diajak bercanda.


"Nara, kok makannya dikit." Alena menoleh pada seorang wanita paruh baya bernama Sita ia menyayangi Alena karena ia juga sangat ingin mempunyai anak perempuan tapi apalah daya ternyata ia hanya bisa memiliki anak laki-laki yaitu Barra Ardimandipta.


"Gakpapa Tente," jawab Alena sambil tersenyum kecil.


"Makan yang banyak dong sayang, biar sehat," sahut Lita sambil tersenyum hangat pada Alena.


Alena tentu sangat bersyukur keluarga Om dan tante-tantenya sangat menyayanginya walaupun tidak dengan anak mereka yang sepertinya tak menyukainya.

__ADS_1


***


"Barra, Lira dan Rora kalian disini dulu ya, kami semua dipanggil Kakek katanya mau bicara penting. Barra ajak ngobrol para sepupumu," nasehat Bagas dan diangguki patuh oleh Barra.


"Nara, lo gak mau gabung sama kita," seru Barra memanggil Alena yang sedang duduk menyendiri di taman belakang.


"Kita kesana aja Kak Barra," ajak Lira.


Mereka bertiga berjalan mendekati Alena. Tentu aja Lira dan Barra sangat bersemangat apalagi untuk memojokkan Alena dengan statusnya yang mempunyai keluarga tak utuh lagi.


"Sedih pasti 'kan Lo, karena disini hanya Lo yang gak punya keluarga utuh," sembur Lira sinis.


"Nara, Nara ... gue sebenarnya kasian sama lo, bisa-bisanya Lo kuat tetap hidup dengan keluarga yang tak pernah mengharapkan lo sama sekali." Barra ikut serta untuk memojokkan Alena.


"Kasian deh lo ya, punya ibu yang gak nganggap Lo sama sekali punya ayah juga sama halnya, tidak pernah peduli terhadap Lo," sinis Lira.


"Ingatlah ada anak kecil di samping kalian," jawab Alena sambil melirik Rora sekilas.


Alena memang tak pernah membenci anak dari keluarga baru orangtuanya baik itu anak ayahnya atau anak dari ibundanya.


"Gua gak butuh kalian kasihani." Setelah mengucapkan itu Alena beranjak pergi.


***


"Tidak Ayah, Nara tidak boleh dikirim ke Amerika biarkan saja dia tinggal disini," suara tegas milik Thoriq terdengar jelas di telinga Alena.


"Saya juga tidak setuju Ayah, Nara harus tetap berada disini, jika Ayah tak mau mengurusnya biar saya dan istri saya yang akan mengurus Nara," ucap Bagas ikut tak setuju dengan saran Rendra.


"Ayah sudah lelah dengan anak itu, dia tidak pernah mau mendengarkan nasehat Ayah. Dia tetap saja sering balapan dan ini juga sudah ketiga kalinya ia dikeluarkan dari pihak sekolah," ucap Rendra menjelaskan.


"Tapi saya setuju dengan saran Ayah, sebaiknya anak itu dikirim saja ke Amerika, agar di juga bisa berhenti membuat malu keluarga," ucap Windi.


Alena memejamkan matanya menahan rasa sesak di dadanya. Bahkan ibunya sendiri tak menginginkannya. Ia langsung menuju kamarnya tak tahan lagi mendengar perdebatan tersebut.


"Tidak Windi, dia anak kamu, kamu kenapa bisa setega itu," jawab Lita yang tak habis pikir dengan jalan pemikiran Windi.


"Ayah ... Nara itu bisa berubah jika Ayah juga tidak terlalu keras terhadapnya," nasehat Bagas.

__ADS_1


"Pokoknya Nara harus tetap berada disini! Tidak akan ada yang mengirimnya ke Amerika ataupun kemana," tegas Thoriq.


__ADS_2