Aku Tak Seburuk Itu

Aku Tak Seburuk Itu
one


__ADS_3

"Kenapa bisa kamu dikeluarkan lagi dari sekolah, Nara? Apa kau tidak ingat ini sudah yang ketiga kalinya kau dikeluarkan dari sekolah?!" Seorang pria yang sudah cukup berumur tersebut memarahi habis-habisan Alena--cucunya.


"Kau selalu saja mengecewakan Kakek. Apa kau tidak bisa menjadi anak yang baik seperti para sepupu-sepupumu yang lain?"


Lagi dan lagi Nara harus dibanding dengan para sepupunya yang memang lebih dengan mudah merebut hati Kakeknya tersebut. Alena sebenarnya sudah muak dengan kehidupannya yang sangat menyedihkan ini.


"Maaf." Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Alena. Ia tak mau berbicara banyak karena itu bisa saja nanti akan memancing emosinya hingga membuat kebencian sang kakek semakin besar padanya.


"Kakek tidak butuh maafmu Nara. Kakek hanya ingin kau berubah, jadilah gadis yang baik, berhentilah membuat Kakek malu!!"


Alena mengangkat wajahnya, ia menatap datar sang kakek. "Nara minta maaf, Kek." Setelah mengucapkan itu Alena bernajak kembali pergi dari rumah mewah tersebut.


"Mau kemana kamu Nara?" Panggilan tersebut tak indahkan sama sekali oleh Alena.


Suara motor sudah terdengar menjauh dari pekarangan rumah besar tersebut. Itu artinya Nara pergi menggunakan motor yang sering ia gunakan untuk balapan.


Selalu saja begini. Nara pasti akan langsung melenggang pergi, disaat kemarahan sang kakek belum selesai terhadapnya.


"Cepat urus sekolah barunya," ucap Rendra pada salah satu bodyguard keu lantai dua.


***


"Halo Princess?" Seorang cowok yang bersetelan serba hitam tersebut menyapa ramah seorang gadis yang kini duduk di tempat tongkrongan mereka, sebut saja ia--Reza.


"Princess, tumben jam segini lo udah kesini?" sapa cowok lainnya bernama--Raga.

__ADS_1


"Bukannya ini masih jam sekolah? Lo bolos ya?" tuding Gilang.


"Mana yang lain?" bukannya menjawab Alena malah balik tanya.


"Ael, Rizki sama Reno masih dijalan bentar lagi pasti sampe." Reza ikut menimpali, sedangkan Alena hanya ber'oh'ria.


Inilah kehidupan Alena. Ia mempunyai enam sahabat laki-laki yang juga merupakan anak geng motor sepertinya. Geng motor yang dipimpin oleh Alena tersebut sangat terkenal di kotanya, banyak yang menjadi penggemar mereka termasuk menggemari Alena yang menjabat sebagai ketua geng-nya, namun sayang tak seorang pun mengenali wajah Alena karena saat di lapangan balap jika bertanding Alena selalu menutup wajahnya dengan masker hitamnya.


"Wassap bro!!" seru tiga cowok yang tak lain adalah Ael, Rizky dan Reno yang baru datang dengan motor mereka masing-masing.


"Eh Princess ada disini ternyata!" kaget Reno sambil langsung duduk di samping Alena.


"Tumben, kesini princess? Lo gak sekolah?" kini Ael ikut bertanya.


Sosok Alena yang menjadi ketua mereka tentu sangat amat mereka sayangi, apalagi disitu hanya Alena lah yang berbeda kelamin. Mereka tentu sangat memperlakukan Alena dengan baik layaknya sebuah mutiara yang harus dijaga dengan hati-hati.


Keahlian mereka dalam bela diri tidak diragukan lagi. Terutama Alena, gadis itu bisa dibilang paling jago dibanding keenam sahabatnya dalam urusan bela diri, meskipun ia seorang gadis.


Sayangnya tidak ada yang tau bahwa Alena adalah ketua geng motor Ranzha. Sosok Alena tentu saja banyak dikagumi para muda mudi, selain karena penasaran mereka juga kagum karena kehebatan Alena yang tak pernah kalah dalam bertanding.


"Princess ... hei, kok melamun?!" Gilang melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Alena.


"Eh, iya maaf. Gue lagi pusing," jawab Alena yang sudah kembali ke alam sadarnya.


Mendengar kata 'pusing' dari mulut Alena sontak langsung membuat empat R Gilang dan Ael langsung menoleh cepat kepada Alena.

__ADS_1


"Kau sakit Princess? Apa kau belum makan?" khawatir Reza sedangkan yang lain sudah pergi mencari sesuatu barang yang bisa menolong Alena.


Katakan mereka berlebihan. Tapi itulah keenam sahabat Alena. Mereka adalah orang paling khawatir jika sudah menyangkut dengan Alena. Kasih sayang dari semua sisi dapat Alena rasakan jika sudah berada di sisi keenam sahabatnya tersebut.


"Princess ini lo makan dulu," sahut Rizki yang sudah membawa nasi kotak di tangannya.


"Minumnya lo mau apa biar gue yang beliin diluar," ucap Gilang.


"Apa disini ada minyak kayu putih?" Reza tak kalah paniknya.


"Coba kau cari di dalam laci disana," tunjuk Reno pada sebuah meja yang terdapat diruangan tersebut.


"Apa kau butuh istirahat princess?" kini Ael yang berbicara.


"Mungkin princess tidak suka dengan makanan itu, kau beli yang lain saja," perintah Raga sambil menunjuk Rizky.


"Kau mau makan apa Princess, biar Rizky yang akan beli," ucap Raga sambil menatap penuh khawatir pada Alena.


"Tidak, gue gak papa, gue cuma pusing karena gue tadi dikeluarin lagi dari sekolah," jawab Alena.


"Apa!!" pekik mereka bersamaan hingga membuat Alena terkejut.


"Kok bisa?!" tanya Raga sambil menatap Alena.


"Karena masalah yang sama?" Gilang ikut menyahuti, sedangkan Alena hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


__ADS_2