
"KENAPA BISA KALIAN MENERIMA ORANG INI BEKERJA DI KAFE SAYA!!" semua karyawan kafe tersebut menundukkan takut saat Nona muda mereka marah besar karena melihat ada pegawai wanita yang sedang hamil besar berkerja di kafenya.
"Maaf Nona tapi kami terpaksa menerima dia. Dia sedang hamil tua dan ditinggal suaminya jad---"
"SAYA TIDAK MENGIJINKAN KAMU BERBICARA!!"
"Maaf Nona."
"Menejer Tio anda ikut saya keruangan, dan bawa karyawan baru itu!!" Alena melangkah menuju ruangannya diikuti Tio dan seorang wanita yang telah menjadi pembahasan mereka dari belakangnya.
"Gina, kamu layanin dengan baik teman saya." Alena menunjuk Ael yang dengan tenangnya duduk bersila panggung di salah satu kursi kafe.
"Baik Nona," jawab salah satu karyawan bernama Gina tersebut.
"Tuan anda mau minum apa?" tanya Gina pada Ael yang sedang memainkan ponsel dengan tenangnya.
Sesekali Gina melirik ke arah ruangan Alena yang sedang terdengar memarahi habis-habisan Tio selaku pengurus kafe dan juga yang telah menginjinkan wanita hamil itu bekerja.
"Tenanglah boss kalian tidak akan memecat kalian," ucap Ael yang menyadari keresahan pelayan tersebut.
"Eh, iya Tuan," jawabnya.
***
"Jelaskan padaku kenapa kamu menerima wanita ini bekerja disini?!" tanya Alena pada Tio selaku menager kafenya.
"Maaf, Nona saya hanya kasian kepadanya, dia wanita yang malang, disaat sudah hamil besar suaminya malah pergi meninggalkan dia," jelas Tio.
"Kenapa suamimu meninggalkanmu?" Alena beralih menatap wanita yang menunduk takut di samping Tio.
"Jawab aku!!"
"Dia pergi bersama wanita lain Nona," jawab wanita tersebut sambil menundukkan wajahnya.
"Tio, kamu seharusnya bisa berpikir. Dalam keadaan dia yang sedang hamil tua seperti ini, itu bisa membuat kinerjanya akan buruk!!" tegas Alena.
"Maaf Nona."
"Kamu dipecat! Saya tidak bisa menerima karyawan yang sedang dalam keadaan hamil besar sepertimu!"
"Nona saya mohon jangan pecat saya ... saya masih bisa bekerja dengan baik Nona, tolong ijinkan saya bekerja di kafe Nona, kasihanilah saya Nona." Wanita tersebut terus memohon pada Alena.
__ADS_1
"Keluar!!"
"Nona--"
"Saya bilang keluar!!"
Dengan keadaan menangis wanita tersebut akhirnya berjalan keluar dari ruangan Alena. Tentu saja itu membuat para karyawan lainnya ikut merasa kasian pada wanita itu. Sungguh malang nasibnya.
Plak!!
Selepas keluarnya wanita itu tamparan keras mendarat di wajah Tio. Tatapan tajam bak silet dari mata Alena membuat Tio menunduk takut tak berani menatap wajah murka Alena.
"Apa kau tidak bisa menghubungiku dulu sebelum kau melakukan sesuatu Tio?! Kau pikir kau siapa asal menerima orang bekerja di kafe ku ini huh?!"
"Maaf Nona, saya tidak akan mengulanginya."
"Mulai hari ini ...." Alena menggantungkannya ucapannya hingga membuat wajah Tio pucat pasi.
"Gajih kalian semua saya naikkan." Tio refleks mengangkat wajahnya dan menatap bingung Alena.
"Maksudnya Nona?"
Alena menghembuskan nafas kasar. "Apa telingamu bermasalah?!"
"Hei! Jangan tersenyum seperti itu!! Kau tetap mempunyai kesalahan padaku." Senyum Tio langsung pudar dan wajahnya kembali was-was, sifat boss-nya ini sungguh tidak dapat di tebak.
"Urus wanita itu, penuhi semua kebutuhannya, pastikan selama ia dalam proses mengandung sampai melahirkan nanti keadaannya harus aman dan calon anaknya harus sehat. Kau mengerti!!"
"Mengerti Nona."
"Pastikan dia tinggal di rumah yang aman, setiap Minggu pastikan dia juga melakukan periksa kandungannya di dokter dan transfer dia uang setiap Minggu!!"
"Lakukan semuanya secara teliti dan diam-diam, jangan sampai dia tau bahwa kau melakukan itu semua atas perintah dari saya, karena saya tidak mau membuat dia nanti akan merasa berhutang budi padaku."
"Baik Nona saya mengerti." Tio menunduk hormat.
"Cepat pergi!!" titah Alena.
"Baik Nona saya permisi," ucap Tio dan langsung melenggang keluar dengan wajah yang tersenyum bahagia, itu tentu sontak membuat para karyawan lainnya terheran-heran, pasalnya yang pertama mereka mendengar Alena marah-marah, kemudian wanita hamil tersebut keluar dari dalam ruangan Alena dalam keadaan menangis, dan yang terakhir malah menager Tio yang keluar dalam keadaan tersenyum bahagia.
"Apa yang telah terjadi?"
__ADS_1
"Wanita itu dipencet oleh Nona."
"Benarkan? Sungguh boss kita sangat kejam!"
"Sudahlah yang penting kita tidak ikut dipecat."
"Ada apa kalian bisik-bisik disitu, cepat bekerja!!" bentak Alena yang sudah keluar dari ruangannya.
Alena langsung melangkah mendekati Ael kemudian ikut mendudukkan tubuhnya di kursi samping Ael.
"Kau selalu saja memilih melakukan kebaikan secara diam-diam daripada menunjukkan secara langsung Princess," ucap Ael.
Anak-anak Ranzha memang telah sangat paham dengan sifat Alena yang tidak pernah mau menunjukkan sifat baiknya pada orang lain. Alasannya cukup simple Alena tidak mau membuat orang yang ia bantu merasa berhutang budi padanya atau ia tidak mau disukai dan dikagumi banyak orang hanya karena melihat kebaikannya
"Aku hanya tidak mau membuat wanita itu nanti akan merasa berhutang budi padaku Kak," jawab Alena.
"Tugas disini sudah selesai, ayo balik." Alena beranjak dari kursi dan langsung diikuti Ael dari belakangan-nya.
***
Pukul sepuluh malam. Itu bukanlah waktu yang terlalu larut untuk Alena pulang, namun apalah daya ketika sang kakek sudah marah ia hanya bisa pasrah dan memilih bungkam tanpa harus berbicara panjang lebar menjelaskan alasannya.
"Dari mana kamu, Nara?!" Rendra yang memang telah menunggu kepulangan Alena sudah sangat marah karena lagi-lagi Cucunya tersebut tidak pernah mau berubah.
"Apa kamu tidak bisa sekali saja nurut kepada Kakek?! Kenapa selalu saja kau membangkang Nara?" Rendra sudah sangat muak pada kelakuan sang cucu, ia langsung menarik kasar tubuh Alena dan membawanya ke gudang.
Pasrah. Itulah Alena ia bisa saja memberontak saat diperlakukan tidak baik oleh kakeknya sendiri, namun ia hanya memilih pasrah saat tubuhnya lagi-lagi harus terkena segala pukulan kasar dari sang Kakek.
"Kamu tidak akan bisa berubah, jika Kakek tidak menghukum kamu!!"
Alena di dorong secara kasar ke dalam gudang, tubuhnya terkena lemari, belum sampai di situ Rendra langsung mengeluarkan rotan yang sering ia gunakan untuk memukuli Alena.
Alena hanya diam dengan tatapan datarnya. Ia sudah cukup kebal dengan perlakuan sang kakek yang selalu semena-mena padanya. Rasa sakit yang diberikan secara fisik oleh Kakeknya sudah menjadi kebiasaan bagi Alena.
Trass!!
Trass!!
Prak!!
Pukulan demi pukul terus saja Rendra berikan pada Alena, bagian punggung gadis itu sudah lebam bahkan kemeja hitam yang melekat ditubuhnya sudah ikut robek saking kuatnya gesekan rotan tersebut mengenai tubuhnya, namun apa peduli Alena akan rasa sakit di tubuhnya, rasa sakit tubuhnya tersebut tidak akan pernah sebanding dengan rasa sakit hatinya yang selalu terluka akan perlakuan keluarganya.
__ADS_1
Alena memejamkan matanya menikmati rasa sakit yang sudah menjalar di seluruh tubuhnya, darah sudah memenuhi tubuhnya, namun apa peduli Kakeknya ia bahkan tidak segan-segan untuk membunuh Alena.
Trass!