
Alena sekarang sudah tiba di rumahnya. Namun saat baru memasuki pekarangan rumahnya netra Alena tak sengaja melihat mobil hitam milik ibunya terparkir di depan rumah mewah Kakeknya.
"Dia ada di rumah, pak Diman?" tanya Alena dan dibalas anggukan dari pak Diman.
"Non, mau kemana?" teriak Pak Diman saat melihat Alena langsung berlari keluar dari mobil.
'Aku sungguh malas bertemu dengan wanita itu,' batin Alena mengumpat.
Sudah dapat Alena tebak, kenapa mamanya tersebut datang ke rumah kakeknya. Itu sudah pasti akan membicarakan perihal Alena yang akan di kirim ke luar negeri lagi.
Sudah berapa kali Windi menyuruh ayahnya Rendra untuk menyekolahkan Alena di luar negeri saja, karena beralasan membuat malu keluarga namun, untung saja Alena mempunyai om dan para tentenya yang tetap berusaha untuk membuat Alena tidak jadi di kirim keluar negeri.
Sikap sang kakek yang selalu menuntunnya untuk menjadi gadis yang pintar, serta dapat dibanggakan itu membuat Alena merasa tidak bebas. Alena tentu saja merasa tersiksa akan peraturan-peraturan keras dari kakeknya tersebut.
Alena melangkah gontai menyelusuri jalanan kompleks rumahnya. Ia langsung merogoh ponselnya dan menelpon salah satu sahabatnya.
"Halo, tolong jemput gue di depan." Belum mendapat jawaban dari seberang sana Alena sudah mematikan secara sepihak acara teleponannya.
***
Kini ia sudah berada rumahnya yang kedua. Dimana lagi jika bukan tempat markas geng Ranzha.
"Princess, lo belum sampai di rumah ya? Seragam aja belum sempat ganti udah minta di jemput," tutur Ael yang memang sudah berada duluan Markas mereka.
"Biasalah, Kak." Alena menjawab sekenanya sambil berjalan menuju kamarnya.
***
Alena membaringkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Ia langsung merogoh ponselnya dan membuka sosial medianya. Setelah selesai menstalking akun sosial media yang ia cari ia langsung kembali menaruh ponselnya di atas nakas.
Tok ... tok ... tok ....
"Princess ini gue bawain makanan," ucap Rizky yang masih berdiri di balik pintu kamar Alena.
"Bawa masuk sini cepetan," teriak Alena.
"Nih makan dulu," ucap Rizky sambil menyodorkan nampan yang berisi makanan dan susu coklat kesukaan Alena.
"Anak-anak lain pada kemana?" tanya Alena yang memang tak melihat banyak anggotanya yang berkumpul.
"Raga pulang ke rumahnya, Gilang masih kuliah, dan Reno lagi nganter gebetannya pulang," jelas Rizky.
Alena mengerinyitkan dahi bingung akan perkataan terakhir dari Rizky tadi. Reno? Nganter gebetannya pulang?
"Hah? Punya gebetan jadi tu curut?" tanya Alena sambil meraih tissu di samping kasurnya.
"Iya, katanya sih baru-baru ini," jawab Rizky.
"Kok dia gak ada cerita sama gue."
"Mungkin belum aja Princess," jawab Rizky sambil beranjak keluar.
.
.
"Dari mana dulu kamu makanya baru pulang malam, Nara?!" Rendra sudah berdiri di depan pintu utama sambil menatap tajam cucunya yang baru saja datang.
Alena hanya diam, enggan untuk menjawab. Seharusnya kakeknya sendiri sudah paham jika Alena tidak akan pernah mau pulang jika masih ada mamanya di rumah itu.
__ADS_1
"Kamu pasti habis kumpul dengan teman-teman kamu yang tidak ada didikan itu bukan?! Sudah berapa kali Kakek bilang, jangan pernah lagi kamu bergaul dengan mereka!"
"Mereka tidak seburuk itu, Kek," jawab Alena.
"Dan Alena tidak akan pernah berhenti berteman dengan mereka, karena mereka semua adalah keluarga bagi, Nara," lanjutnya.
Rendra hanya menatap datar cucunya sebelum tamparan keras itu lagi-lagi mendarat di pipi Alena. Tapi, apa peduli Alena mengenai tamparan keras tersebut, itu tidak akan berpengaruh apa-apa bagi Alena. Rasa sakit itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Alena.
"Anak kurang ajar!! Sudah berani kamu sekarang membantah saya!" geram Rendra.
Alena tetap diam. Punggung tangannya terangkat mengusap bercak darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Kakek sudah lelah denganmu Nara, tidak ada yang bisa Kakek banggakan mempunyai cucu seperti dirimu!!" Setelah mengucapkan itu Rendra langsung melenggang menuju lantai dua.
"Kakek hanya tidak pernah melihat sisi baik Alena, Kek," gumam Alena pelan sambil mengusap kasar air matanya yang sempat terjatuh.
***
Pagi sudah kembali datang. Sama seperti hari-hari sebelumnya Alena sudah siap dengan seramnya untuk menuju ke sekolah.
Dari ajaran internet yang ia sempat baca semalam membuat Alena bangun lebih pagi hari ini. Ia langsung menuju dapur dan membuat sebuah kue coklat yang sudah sempat ia pelajari dari YouTube.
"Yap, rasanya sangat enak. Makanan yang dibuat dengan penuh cinta memang akan selalu enak," ucap Alena saat melihat kue coklat yang ia buat sudah jadi.
***
Dengan semangat 45 Alena menuruni tangga dan menuju meja untuk sarapan. Mungkin hari-hari Alena di sekolah mulai saat ini akan lebih semangat karena sekarang ia sudah memiliki penyemangat, siapa lagi jika bukan Farel.
"Kakek tidak mau lagi jika nanti kamu pulang malam, Nara." Suara tegas milik sang Kakek dari tangga menghentikan langkah Alena yang sudah hendak berangkat.
"Jika tidak ada wanita itu, Nara pasti akan pulang tepat waktu, Kek," jawab Alena dan kembali melanjutkan langkahnya.
***
"Wei mana Reno!! Dimana curut itu!!" teriak Alena.
"Ada apa Princess?" tanya Raga yang bingung melihat tingkah Alena yang sudah seperti ibu yang habis kehilangan uang dan yang tersangka adalah Reno.
Berbeda dengan Rizky yang memang paham akan tindakan Alena. Ia hanya memilih diam dan seolah tidak tau apa-apa.
"Reno sini loo!!" teriak Alena saat melihat Reno yang berjalan mendekati mereka.
"Ada apa?" tanya Reno dengan wajah polosnya.
"Caelah sok-sok an polos nih curut ya," ucap Alena.
"Jadi gimana? Udah jadian belum? Gebetan lo dari sekolah mana? Kelas mana? Kok gak ngomong-ngomong sama gue?!" cecar Alena sambil menatap Reno dengan alis yang dinaik turunkan.
"Tau dari mana sih Princess. Belum jadian kok, ini masih proses," jawab Reno sambil tersenyum malu-malu.
"Ciee yang katanya gak mau pacaran sekarang udah punya gebetan," goda Alena sambil diiringi kekehan dari lainnya.
"Udah ah, gue mau nyari Farel dulu," ucap Alena dan langsung melengos meninggalkan empat R tersebut.
"Fighting Princess," teriak Reza menyemangati Alena.
Mereka memang memilih tidak mau ikut campur dalam tindakan Alena kali ini. Walaupun sebenarnya semua yang Alena lakukan masih mereka awasi secara diam-diam.
***
__ADS_1
Alena berjalan menyelusuri koridor sekolah dengan senyum yang tak luntur dari wajah cantiknya. Tujuannya yang pertama adalah kelas Ipa¹.
Tanpa mengucapkan permisi ia langsung memasuki kelas tersebut. Netranya terus saja mencari sosok Farel Giorgio.
"Masih punya nyali juga lo datang kesini lagi!!" Dinda yang tadi sedang duduk di samping Farel langsung berdiri dan mendekati Alena yang sudah memasuki kelasnya.
"Hai Dinda," sapa Alena sambil menampilkan senyum manisnya.
"Ada perlu apa lo datang kesini lagi, huh?!" bentak Dinda.
"Din ...." lirih sahabat Dinda mencoba menahan sahabatnya tersebut untuk tak bertindak macam-macam pada Alena.
Jena-- sahabat Dinda yang memang sudah mengetahui siapa Alena, ia tidak mau membuat sahabatnya terkena masalah karena sudah berurusan dengan Alena.
Jelas saja Jena tidak mungkin akan membiarkan sahabatnya sampai jadi sasaran dan alasan Alena dikeluarkan dari sekolah bukan.
Dinda menepis kasar tangan Jena. "Eneg gue liat muka lo cepat pergi sana," ucap Dinda mendorong kasar tubuh Alena.
"Ck! Anak kurma ini selalu saja mau cari masalah sama gue, jika bukan karena disini ada calon pacar gue, pasti tangan mulus gue ini udah bertemu dengan sasarannya," jawab Alena sambil tetap mengunyah permen karetnya.
Tanpa menghiraukan Dinda yang masih saja mencaci maki dirinya Alena langsung berjalan menuju meja Farel. Ia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan kotak makan yang sudah berisi kue coklat yang tadi pagi sempat ia buatkan khusus untuk Farel.
"Hai calon pacar ... nih gue bawain lo sarapan," ucap Alena sambil menyodorkan kotak kue tersebut.
"Ini kue yang pertama kalinya gue buat, gue jamin rasanya enak karena gue buatnya penuh dengan cinta," sambung Alena sambil tersenyum manis.
"Gue udah sarapan," jawab Farel singkat.
"Ck! Yaudah sarapan lagi, ini gue buat jam 4 subuh lo Rel, dan ini pertama kalinya seorang Alena mau bangun pagi-pagi hanya untuk baatin lo kue," ucap Alena.
Farel diam, ia tak berminat lagi untuk membalas ucapan Alena. Ia hanya tetap fokus pada buku paket fisika di tangannya.
"Ck!! Calon pacar kok gitu sih!!" kesal Alena.
"Terima aja nih, ini enak kok rasanya," ucap Alena sambil kembali menyodorkan kotak berisi kue coklat tersebut.
"Farel terima dong!!"
"Gue gak mau," jawab Farel ketus.
"Terima dong calon pacar!!"
"Ayo terima!!"
"Nih pegang ya!!"
"Ayo pegang!!"
Prang!!
Farel yang sudah merasa emosi membanting kotak berisi kue tersebut hingga pecah dan isinya langsung berceceran di lantai.
Alena hanya menatap nanar kue yang sudah ia buat dengan susah payah tersebut dibuang begitu saja oleh Farel, namun Alena tetaplah Alena ini baru perjuangan awal untuknya jadi ia tak boleh langsung menyerah.
Alena mengelus jari manis kirinya yang berbalut hansaplast. Itu memang sebuah luka bakar yang ia dapat karena membuat kue coklat tadi pagi namun dengan mudahnya Farel membuang kue tersebut tanpa memikirkan betapa susahnya Alena membuatnya.
"Kok dibuang sih," ucap Alena sambil kembali memunguti kue yang sudah berceceran tersebut.
"Eh, eh. Farel mau kemana?!" teriak Alena saat melihat Farrel yang sudah keluar kelas.
__ADS_1
Dinda tertawa sinis melihat Alena. "Kasian deh ya, cewek kayak lo gakabal bisa deketin Farel," ejek Dinda.
"Diam lo anak kurma!!" cetus Alena.