Aku Tak Seburuk Itu

Aku Tak Seburuk Itu
ten


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁


"Ada apa tu muka, ditekuk kayak gitu, Princess?" tanya Raga saat melihat Alena yang sudah memasuki area kantin.


"Mana yang lain?"


Itulah kebiasaan Alena. Ia lebih suka balik bertanya dari pada harus menjawab pertanyaan.


"Bentar lagi kesini. Ini gue udah pesanin lo makanan," ucap Raga sambil menyodorkan semangkuk Mie ayam dengan jus melon.


Dengan gerakan cepat Alena langsung menikmati makanannya. Disaat tangan kiri itu terangkat tak sengaja terlihat balutan hansaplast itu hingga membuat sorot khawatir dari empat R.


"Ini luka bekas apa?" tanya Reza saat baru gabung di meja kantin.


"Eh iya, kok bisa pake hansaplast gini?!" Rizky ikut memperhatikan jadi manis Alena.


"Hanya luka kecil," jawab Alena sekenanya dan langsung menarik tangannya dari sorot perhatian empat R tersebut.


***


Alena berjalan penuh dengan semangat menuju perpustakaan, siapa lagi tujuannya jika bukan Farel sang pujaan hati.


Dengan langkah yang diiringi senandung kecil, serta senyum yang tak luntur dari wajah cantiknya Alena langsung menuju tempat biasa Farel duduk di perpustakaan.


Setelah ketemu orang yang ia cari Alena langsung berjalan mendekat dan langsung ikut mendudukkan bokongnya di samping Farel.


Saat sudah merasa ada kehadiran seseorang di sampingnya Farel tentu saja tau siapa orang tersebut. Tanpa merasa dan menganggap bahwa ada orang di sampingnya ia memilih mengabaikannya saja.


"Hai ... baca buku terus gak capek apa bersahabat dengan tulisan-tulisan membosankan itu," ucap Alena sambil ikut mengamati buku sains yang sedang di baca oleh Farel.


"Lo gak mau ke kantin gitu, gue lihat lo gak pernah ke kantin sama sekali," ucap Alena lagi.


Tak ada balasan dari Farel Alena langsung menyandarkan kepalanya di atas meja, perlahan ia memejamkan matanya sembari menunggu Farel.


"Lo kalo mau tidur jangan disini. Sekolah tempat belajar bukan tempat tidur." Farel berucap tanpa menoleh pada Alena.


"Gakpapa, gue mau nemenin calon pacar," jawab Alena dengan mata terpejam.


Perlahan tapi pasti kantuk benar-benar telah menguasai tubuh Alena. Menit berikutnya ia telah tertidur sambil wajah yang berposisi menatap ke arah Farel.


'Dasar cewek keras kepala,' batin Farel sambil melirik sekilas wajah damai Alena yang tertidur.


"Siapa Rel, penguntit baru Lo?" tanya Jeno sahabat dekat Farel.


Farel mengangguk kemudian beranjak dari mejanya. "Eh itu dia tidur?" tanya Jeno lagi.


"Bangunin gih, ini perpustakaan kalo ada yang liat dia tidur disini nanti pasti dia bakal kena hukuman," tutur Jeno.


"Lo seriusan ninggalin tu cewek disini, bentar lagi bell masuk berbunyi loh, Rel!"


"Yaudah salah sendiri kenapa dia tidur disitu. Biarin aja biar kapok," ucap Farel dan langsung menarik tangan sahabatnya tersebut meninggalkan Alena yang masih tertidur pulas.


***


Satu jam berlalu, Alena perlahan membuka matanya saat suara seorang perempuan mengganggu tidurnya. Ia mengerjap-kerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya.

__ADS_1


"Hei bangun, kamu kenapa tidur disini, apa kelasmu sedang jam kosong?" tanya salah satu penjaga perpustakaan tersebut.


"Eeh, Farel dimana?" tanya Alena sedangkan perempuan tersebut hanya diam sambil menatap Alena bingung.


"Sekarang sudah bell masuk ya?" tanya Alena.


"Iya bell sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu."


"Mampus gue ketinggalan pelajaran Pak Gio!!" umpat Alena dan langsung berlari menuju kelasnya.


***


Benar saja, sekarang Alena sudah berdiri di tengah lapangan dibawah terpaan sinar matahari yang sedang terik-teriknya. Pak Gio adalah guru matematika dan guru yang terkenal paling kejam.


"Gak ngira-ngira dia hukum gue berjemur disini," maki Alena sambil mulai mengangkat tangannya membentuk hormat pada tiang bendera.


"Farel juga kenapa gak bangunin gue gitu saat dia mau pergi, kalo dia bangunin gue pasti gabakal kena hukum kayak gini," dumel Alena.


***


"Lo sih Rel, tu kasian anak orang," ucap Jeno sambil memperhatikan Alena dari lantai dua.


"Gakpapa biarin aja," jawab Farel.


-


"Princess dihukum," bisik Reza pada teman-temannya.


"Kok bisa?" tanya Raga.


"Dari kabar yang gue denger dia ketiduran di perpustakaan," jawab Reza yang memang tak sengaja mendapat kabar dari teman sekelas Alena yang tadi sempat satu toilet bersamanya.


"Pasti ini ada sangkut pautnya dengan Kulkas Gatau diri itu," maki Reno.


"Yaudah gada cara lain," ucap Raga dan diangguki lainnya.


"Eeh Zaa balikin dong!!" teriak Rizky yang spontan langsung membuat pak Surya selaku guru pelajaran yang sedang mengajar di kelas mereka langsung menoleh pada empat R tersebut.


"Gue gada ngambil, kok Lo nuduh gue sihh!!" Reza tak kalah berteriak.


"Itu tadi diambil Raga," ucap Reza.


"Bukan gue goblok, lihat aja tu di laci Reno," jawab Raga sambil menunjuk Reno.


"Apa yang kalian perdebatan 'kan?!!" teriak Pak Surya marah.


"Ini pak, Reza ngumpetin buku saya," ucap Rizky.


"Bukan saya pak, ini kerjaan si Raga," jawab Reza sambil menunjuk Raga.


"Kok gue sih!! Gue gak ngumpetin mungkin aja tu Si Reno yang ngambil," jawab Raga.


"Bukan gue!!" bentak Reno.


"Sudah kalian berempat keluar dari kelas saya, berdiri di lapangan sampai bell istirahat berbunyi!!" tegas Pak Surya.

__ADS_1


Ya, tepat sasaran, itulah hukuman yang memang mereka inginkan. Dengan terburu-buru mereka berempat langsung berlari keluar kelas dan menghampiri Alena.


"Hai Princess!" seru empat R tersebut bersamaan.


"Nih minum dulu, berbalik sini biar guru gak ada yang liat," ucap Reza sambil menyodorkan sebuah air mineral dingin.


"Kok kalian bisa ada disini? Lagi jamkos ya?" tanya Alena sambil meraih sebotol air mineral yang sudah dibuka oleh Reza.


"Iya jamkosong," alibi Reno dan diangguki benar oleh lainnya.


Reno dan Reza langsung berdiri di sebelah kanan Alena dengan tangan mereka yang berasa diatas kepala Alena, sedangkan Raga dan Rizky sudah berdiri di depan Alena dengan tubuh tinggi mereka hingga membuat tempat Alena tidak terkena panas.


"Kalian ngapain?! Gue lagi menjalani hukuman kalian gak usah ikutan," sergah Alena.


"Makanya berjuang itu harus dengan batas yang normal dong," cetus Raga.


"Apaansi?"


"Lo ketiduran di perpustakaan karena pasti nguntit si kulkas itu 'kan?" tuding Raga.


"Lu sih Kii, jika bukan gara-gara lo yang ngenalin tu cowok Princess gak bakal sampe kayak gini," kesal Reza.


"Kok gue sih. Kalian 'kan kemarin juga ikut nimbrung," kilah Rizky yang tak terima dipojokkan.


"Sekali lagi kalian berdebat, Ranzha bubar!!" ancam Alena yang memang sangat membenci perdebatan.


"Eh, iya Princess maaf," lirih Rizky dan diiringi cengiran oleh lainnya.


"Gue suka sama Farel itu bukan karena kalian, anggap aja gue jatuh cinta pandangan pertama," ucap Alena.


"Kapan terjadinya Princess?" tanya Reno.


"Sudah lama, tapi gue hanya tau namanya dulu," ungkap Alena hingga membuat empat R tersebut membeo ditempat.


#Flashback_onn


Alena sedang berada di depan sebuah minimarket dan tak sengaja netranya menyorot seorang nenek yang berjalan menggunakan sebuah bantuan dari tongkat kayu hendak menyeberang jalan.


Belum sempat Alena membantu nenek tersebut, seorang cowok berpakaian seragam Sma sudah terlebih dahulu membantu nenek itu untuk menyebrang, wajah gantengnya membuat Alena langsung jatuh hati seketika, apalagi jiwa penolongnya membuat Alena rasanya ingin sekali membungkus cowok tersebut dan ia bawa pulang.


"Nenek mau kemana?"


"Nenek, mau ke minimarket itu Nak, makasih sudah bantuin Nenek ya."


"Sama-sama, Nek."


"Kamu anak yang baik, boleh Nenek tau siapa nama kamu?"


"Oh iya, saya Farel, Nek."


"Baiklah sekali lagi terima kasih banyak ya, Nak Farel."


Alena yang berdiri tak jauh dari nenek dan cowok tersebut hanya dapat bisa tersenyum dari balik masker hitamnya.


'Farel,' batin Alena.

__ADS_1


#Flashback_off


__ADS_2