Aku Tak Seburuk Itu

Aku Tak Seburuk Itu
Twelve bagian 2


__ADS_3

Rotan tersebut mengenai wajah Alena hingga bagian pinggir mata dan hidung Alena ikut berdarah. Mata tajam itu langsung terbuka dan dengan gerakan cepat Alena menahan rotan yang hendak Rendra pukulan lagi kepadanya.


"Jangan di wajah Alena, Kek!"


Tras!!


Rendra malah semakin memperkuat pukulan tersebut di tubuh Alena. Setelah dirasa puas Rendra langsung mencengkram rambut Alena kasar hingga membuat kepala Alena terdongak ke atas.


"Dasar cucu tidak berguna!! Kamu selalu saja membuat Kakek malu. Seharusnya kamu berterima kasih pada saya karena telah sudi mengasuh dan menampung kamu disini!!" Rendra menghempaskan kasar tubuh Alena di lantai.


"Seharusnya kamu itu ikut ayahmu bukan malah menumpang di rumah saya!!" Setelah mengucapkan itu Rendra beranjak pergi meninggalkan Alena yang sudah dipenuhi luka disekujur tubuhnya.


"Alena punya alasan kenapa Alena tetap tinggal disini, Kek." Alena berucap sambil menatap sendu Kakeknya yang sudah menaiki tangga.


Dengan jalan yang tertatih-tatih Alena menaiki tangga dan berusaha untuk segera sampai di kamarnya, lukanya harus segera ia obati dan ia berharap semoga luka di wajahnya tidak terlalu terlihat, bagaimanapun Alena tidak pernah mau Kakeknya dipandang kejam oleh orang-orang karena sering memukuli Alena yang notabene sebagai cucunya sendiri.


"****! Kenapa harus sampai lebam begini," maki Alena saat melihat hidung dan bawah matanya yang berdarah serta membengkak hingga menimbulkan warna keunguan.


"Semoga besok lebamnya hilang," gumam Alena sambil mulai merebahkan tubuhnya diatas kasur.


***


Pagi kembali datang, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh siang, ya Alena sudah terlambat ke sekolah namun apa boleh buat keadaan tubuhnya yang terasa remuk membuat Alena belum terbangun dari tidurnya.


Rendra yang mendapat kabar dari salah satu pelayannya bahwa Alena belum berangkat sekolah menjadi marah, tentu saja ia tidak akan pernah mengijinkan Alena tidak masuk sekolah, ia tidak mau uang yang ia gunakan untuk menyekolahkan Alena terbuang sia-sia.


"Cepat bangunkan anak itu! Tidak ada alasan untuknya tidak masuk sekolah hari ini!" Perintah Rendra pada salah satu maid perempuan.


"Baik Tuan."


***


Tok ... tok ... tok ....


"Non Nara," panggil maid tersebut.


"Iya Bik, Alena sudah mau berangkat," sahut Alena yang memang telah bersiap-siap.


"Baik Non bibi permisi."

__ADS_1


Setelah selesai mengobati serta menutupi luka-lukanya Alena berjalan keluar untuk menuju meja makan yang sudah terdapat Kakeknya sedang sarapan.


"Siswa macam apa kamu yang sekolah datang terlambat seperti ini," ucap Rendra menatap Alena sinis.


Alena hanya diam sambil meminum segelas jus mangga yang terletak di meja. Setelah selesai ia langsung kembali beranjak dari duduknya dan melenggang keluar tanpa pamit sama sekali.


"Anak yang tidak punya sopan santun," maki Rendra.


****


"Nona kamu telat," ucap Pak Diman saat melihat gerbang Sma Atvari Kencana sudah tertutup rapat. Jelas saja gerbangnya sudah ditutup sekarang sudah pukul delapan pagi.


"Gak papa Pak, Alena akan masuk manjat tembok saja di belakang," jawab Alena sambil keluar dari mobil.


"Baiklah Non bapak pulang dulu," ucap Pak Diman dan diangguki oleh Alena.


***


"Arghhh!!"


"Bangsat!! Kenapa harus kebentur sih?!" maki Alena saat punggungnya tak sengaja bergesekan dengan tembok.


"Semoga tidak berdarah," gumam Alena.


"Zaa, lo kenapa disitu?" tanya Alena saat melihat Reza sedang bersandar di batang pohon.


"Ya nungguin lo lah!!"


"Lo tau gue telat?"


"Udah ketebak? Ikut gue." Reza langsung menarik tubuh Alena menuju ruangannya guru piket.


"Kenapa kesini sih, Zaa lo mau laporin gue telat?! Gue udah susah payah manjat tembok kok Lo mau laporin gue sih? Awas lo ya kalo udah sampai markas lo gue mutilasi." ancam Alena.


Sifat Reza yang mendadak dingin membuat Alena keheranannya sendiri. Terlihat raut wajah cowok tersebut sedang menahan amarah.


"Permisi Buk," sapa Reza saat sudah memasuki ruang guru piket.


"Iya ada apa?"

__ADS_1


Saat melihat guru piket giliran Bu Naima Reza langsung bertindak tanpa harus berbicara panjang lebar, karena mendapat izin dari abu Naima sangat sulit.


Sreeekkk!!


"Heh, apa yang kau lakukan?!" teriak Alena saat Reza merobek seragam bagian lengan kiri Alena.


"Teman saya lagi sakit Buu, saya mau minta izin mau bawa dia berobat dulu." Bu Naima menjadi ngeri sendiri melihat luka lengan Alena yang parah.


"Baiklah silahkan, cepat bawa temanmu ke rumah sakit lukanya itu sangat parah," titah Bu Naima.


"Terimakasih Buu, kami permisi. Ayo Princess!"


"Tunggu gue diparkiran. Gue mau ngambil kunci mobil dulu di Rizky," ucap Reza.


"Zaa lo gila, seragam gue lo main sobek-sobek aja?! Gue gak papa gak usah ke rumah sakit, gue takut jarum suntik!!"


"Zaa!!"


"Rezaa!! ****** lah kau Zaa." Alena mendengus sebal saat Reza sama sekali tidak menghiraukannya.


"Gue yang ketua, gue yang di atur-atur," gumam Alena.


***


"Rel, gue tadi liat cewek penguntit lo itu pergi sama Reza," tutur Jeno, kelas mereka saat ini memang sedang tidak ada guru.


"Terus apa peduli gue," jawab Farel acuh tak acuh.


"Ck! Yang bikin gue penasaran tadi seragamnya bagian lengan kirinya sobek, terus gue lihat banyak luka-luka lebam gitu, bagian bawah mata serta hidungnya juga luka," jelas Jeno.


"Biarin aja gue gak peduli," jawab Farel.


"Gue jadi penasaran, dia luka gara-gara apa ya?"


"Gadis itu bukan anak yang baik, pasti dia habis tawuran. Udahlah gak usah bahas dia," kesal Farel dan langsung melenggang keluar.


Jeno langsung menyusul Farel yang sudah berjalan menuju perpustakaan, cowok itu benar-benar tidak pernah mau menyia-nyiakan waktu kosong dalam perjalanan.


"Gue juga tau Rel, Alena memang gadis yang nakal, dia balapan, suka berantem, dan siswi berandalan tapi Lo gak boleh nilai dia hanya dari sisi luar aja dong Rel. Gue yakin dibalik sifat dia yang bad gitu dia punya sisi yang baik," tutur Jeno yang mendadak bijak.

__ADS_1


"Dia bukan gadis yang baik!!" jawab Farel.


"Terserah lo deh."


__ADS_2