Aku Terjebak Lautan Dewa Dan Iblis

Aku Terjebak Lautan Dewa Dan Iblis
Menyiksa Pria Tampan


__ADS_3

"Tentu saja, Yang Mulia Rajalah yang melakukannya. Tidak ada orang lain lagi di kamar ini selain Yang Mulia Raja dan Ratu," jawab pengawal itu.


Qian sempat berpikir sejenak akan perkatan pengawal pribadinya itu.


"Hmm sekarang kau merasakan sesuatu darikukah?" ucap Qian tanpa menggunakan bahasa formal.


"Ya aku merasakan energi yang tidak biasa dari Yang Mulia Raja, mungkinkah kekuatan Yang Mulia Raja telah melebihi tingkatan kultivasi?"


Qian yang sadar dari jawaban pengawal itu langsung menyembunyikan kejadian yang ia alaminya. Dia tidak boleh membicarakan hal-hal itu selama dibuktikkan terlebih dahulu.


Qian tidak menjawab pertanyaan dari pengawal itu.


"Baiklah jika seperti itu, maka kau boleh pergi dari ruanganku saat ini, dan aku akan menemui Yang Mulia Ratu di penjara bawah tanah," ucap Qian itu.


Pengawal itu pun memberikan hormat kalau dirinya akan pergi ke luar.


Penjara Bawah Tanah


Saat ini Qian tengah berada di penjara bawah tanah tanpa pengawal di sisinya. Sang Ratu yang sudah diikat dan disiksa itu pun menatap matanya begitu tajam kepada Qian.


"Hari ini akan kupastikan kau akan membayar semua perbuatanmu kepadaku," ucapnya dengan sorot mata tajam dan sebuah senyum licik yang terukir di wajahnya itu.


Qian yang merasakan tatapan tidak biasa dari Sang Ratunya pun hanya bisa menerka-nerka tentang identitas yang sesungguhnya.


"Apakah kau adalah bagian dari lautan dewa?" tanya Qian memastikan.


"Haha, haruskah aku memberitahukanmu?" tawa Sang Ratu. Dia tidak menjawab pertanyaan Qian melainkan dengan cahaya yang membuat Qian mengalihkan pandangannya hingga Sang Ratu pun kabur tepat di hadapannya sendiri.


Qian yang menyadari itu pun langsung memerintahkan kepada para pengawal untuk mencari Sang Ratu.


"Dia tidak boleh pergi begitu saja."


***


Saat ini Ana pun terbangun dari tidurnya yang begitu lama semenjak aroma yang dibiarkan menghinggap ke tubuhnya itu. Dia pun membuka matanya lalu melihat ke sekelilingnya yang berbeda dengan apa yang ia jalani selama di lautan dewa itu. Dia merasakan energi yang kuat dari tubuhnya, tapi tak biasa.


Sedangkan Karta yang tertidur di sampingnya itu pun terbangun lalu segera memeluk Ana.


"Permaisuriku, akhirnya kau sadar," ucap Karta. Dia merasakan kesenangan yang tidak biasa seusai Ana bangun dari pingsannya itu.

__ADS_1


"Berapa lama aku terbaring?" tanya Ana. Dia tidak membalas pelukannya Karta. Dia merasakan ada sesuatu yang hilang dari sisinya, tapi dia tidak mengerti itu.


"Seminggu lamanya kau terbaring, aku sangatlah mengkhawatirkanmu," jawab Karta. Dia berulang kali memeluk Ana lalu mengecup wajahnya pun sesering mungkin.


"Sepertinya ada yang kurang dariku," ucap Ana.


"Mungkin kau membutuhkan energi lelaki tampan lagi," jawab Karta. Dia pun memberikan kode kepada pra pelayan maupun pengawalnya untuk menyeret lelaki tampan di kota-kota itu ke hadapan mereka berdua.


Ana yang melihat semua lelaki tampan itu merasakan dirinya tidak dapat mengontrol emosi yang seringkali bergejolak di tubuhnya lalu dia pun mencambuk para lelaki tampan itu.


"Aaarghh," teriak para lelaki tampan itu.


Cambukan yang diberikan Ana itu berasal dari energi campurannya hingga menimbulkan kesakitan tiada tara. Satu cambukan bagaikan 1000 tombak yang memukulnya.


Cambukan demi cambukan itu pun Ana keluarkan, tapi ingatan di Lautan Dewa itu membuatnya bingung. Dia pun tidak bisa melihat yang menemuinya itu.


Karta yang melihat raut wajah Ana tidak biasa pun segera menghampirinya. Dia pun memeluk Ana hingga dia menghentikkan cambukannya.


"Kau kenapa?" tanya Karta.


"Bantu aku," pinta Ana terlihat memanas dari segi tubuhnya.


"Bantu aku menyiksa mereka semua hingga tubuhku mendingin," jawab Ana.


"Baiklah, biarkan para pengawalku yang menyiksanya. Kau perlu istirahat di sini," ucap Karta.


Para pengawal pun menuruti perintah Karta maupun Ana untuk menyiksa lelaki tampan itu, mereka sadar kalau majikannya memang tidak mengenal belas kasihan saat ingin menyiksa seseorang.


Para korban lelaki tampan itu mati mengenaskan hingga energinya diambil oleh Karta lalu dia berikan kepada Ana saat dia tengah beristirahat di tempat tidurnya.


"Lemparkan mayat itu ke jurang kematian seribu pembakar jiwa," titah Karta.


"Baik, Tuanku," jawab para pengawal serempak.


Kemudian, mereka pun melemparkan mayat-mayat itu ke tempat yang diperintahkan oleh Karta.


Tak berselang lama, para pengawal yang sudah melemparkan mayat-mayat itu pun diikuti oleh Alex.


"Aku mencium aroma kakakku di antara para pengawal itu," gumam Alex.

__ADS_1


Saat ini Alex tengah bersembunyi tanpa ketahuan dari para pengawalnya Karta itu. Dia mendengar beberapa orang tengah berbisik membicarakan hak-hal yang kejam.


"Mengapa tuan kita selalu menginginkan orang-orang tampan?"


"Itu sebagai penambahan energi kepada kehidupan seseorang yang menempati kita ini."


"Maksudmu, orang yang menginginkan orang-orang tampan itu bukanlah asli dari warga kita?"


"Ya, itu benar. Jadi, orang asing yang tinggal di tempat kita benar-benar membutuhkan energinya orang-orang tampan."


"Dengan cara apa?"


"Tentu saja, cara yang paling kejam atau yang paling diinginkan oleh orang yang membutuhkan energi itu."


"Apakah ada cara lain selain melakukan hal-hal yang kejam itu?"


"Tentu saja ada, tapi itu begitu tabu dan hanya diketahui oleh pemilik klan."


Alex yang mendapatkan informasi itu pun hanya bisa mendengarkan saja tanpa harus berunding dengan mereka. Dia pun meneguk air alkoholnya itu dengan berpura-pura menjadi warga setempat di kerajaan itu.


Alex melihat sekeliling untuk mencari tempat yang bisa ia jangkau dalam melihat tuan yang mereka bicarakan saat ini namun hasilnya terlampau jauh dari sumber informasi.


Dia pun memesan lantai atas lalu duduk di sisi kamarnya itu. Dia dapat melihat secara seksama kota-kota itu. Ada aliran aneh saat dia berada di atas sana.


Matanya menatap tajam itu bagaikan ular yang mencari mangsanya. Dia menemukan suatu tempat yang dilapisi kubah perlindungan.


Alex mencoba menerobos tempat itu dengan kultivasinya hingga dia bisa menerawang seseorang yang tengah berbaring itu memiliki energi-energi yang dikatakan oleh warga setempat itu.


"Kenapa aku tidak bisa melihat wajahnya?" gumam Alex. Dia berusaha semaksimal mungkin untuk mengetahui orang yang ada di dalam kamar perlindungan itu.


Hanya saja, dirinya langsung dihempaskan sebuah kekuatan yang mampu melukainya. Alex pun terdorong dari tempat duduknya hingga merobohkan tempat-tempat penginapan di bagian kamarnya itu.


Hantaman keras itu mampu membuat dirinya tidak bisa berdiri dalam waktu yang lama hingga dia mengubah wujudnya sebagai ular. Kemudian, dia bersembunyi di bawah ranjang itu.


Perihal, hantamannya itu sudah membuat warga disana kaget hingga mereka menerobos masuk ke kamarnya Alex.


"Kemana perginya penghuni yang memesan kamar ini?"


"Saya tidak tahu."

__ADS_1


"Jangan biarkan penghuni kamar ini lolos akibat dia sudah menganggu pemimpin kita."


__ADS_2