
"Eungh," lenguh Ana. Dia baru sadar kalau dirinya bukan berada di aula perjamuan lagi saat ini. Dia pun menoleh kesana kemari.
Saat hendak dia pergi dari tidurnya itu, Alex pun menghampiri Ana dengan wujud manusianya.
Ana yang harusnya mengenal Alex itu pun, harusnya berdiri ketakutan, tapi dia langsung mengeluarkan senjata pedang yang tersembunyi dibalik telapak tangan yang ia sembunyikan dari siapapun termasuk Karta sendiri.
"Apa-apaan ini, mengapa klan kerajaan kalian mencoba menculikku?" Ana yang tidak mengingat Alex sebagai adik tiri maupun keluarganya itu pun hanya menatap tajam kepadanya seakan-akan ingin membunuhnya.
Alex pun menangkis pedang dari Ana. Dia menyadari sesuatu yang tidak beres dalam ingatan Ana, dia pun mencoba mendekat.
Sayangnya, Ana segera melompati tubuh Alex dengan terbang indahnya itu lalu menodongkan kembali senjata itu tepat di lehernya Alex.
"Hei, apa yang akan kau lakukan dengan adikmu sendiri, hentikan kakak!!" teriak Alex sambil berdiri tegak membelakangi Ana yang hendak membunuhnya itu.
Dia tidak boleh gentar dalam situasi itu. Mengingat, dirinya pernah melakukan hal-hal indah bersama Ana saat itu.
"Jangan membohongi atau membodohiku dengan trik semacam ini yang takkan berhasil kepadaku!" teriak Ana lagi.
"Kalau begitu aku akan membantumu mengingatnya, kakakku," ucap Alex. Dia langsung mengubah wujudnya menjadi ular lalu membelitkan tubuhnya ke tubuh Ana hingga dia mengerang. Dia pun menggodanya dengan meraba bagian sensitifnya itu hingga menjatuhkan pedang Ana sejauh mungkin.
Ana yang tak ingin kalah pun langsung mengeluarkan sinar cahaya hingga Alex tersungkur dan terbanting tepat di dinding gua yang dilapisi pelindung itu.
"Aku hanya ingin mengeluarkanmu, kenapa kau begitu kejam terhadap adikmu sendiri," ucap Alex. Dia mengusap darah yang keluar dari mulutnya itu. Dia hampir saja mati kalau dia menggunakan wujudnya sebagai ular. Untungnya, dia mempersiapkan dirinya hingga kembali menjadi manusia lagi.
"Mengeluarkan dari apa? Aku bisa keluar sendiri kok dari gua ini," ucap Ana. Dia begitu menyombongkan dirinya.
"Apakah kau yakin?" tanya Alex tak percaya kalau Ana memiliki kekuatan itu.
"Ya, aku sangatlah yakin," jawab Ana. Dia pun menggunakan jentikkan jarinya hingga membawa mereka berdua kembali ke kerajaan Karta yang jauh dari rajanya itu.
Mereka berdua pun menghilang sekejap tenaga dari gua itu, tapi tidak dengan Karta yang ditinggalkan oleh Ana.
__ADS_1
***
Saat Ana menggunakan teleportasi dari tempat yang diberikan pelindung oleh Karta itu, dia sedang terlarut dalam mimpinya, tiba-tiba dia kembali ke Lautan Dewa tanpa ingatan dari dunia manusianya itu.
Ada seseorang yang mencubit pipinya. Saat Ana membuka mata dia melihat Qian maupun Sang Ratu sedang menatapnya dengan khwatir.
"Apa yang kalian berdua khawatirkan?" ucap Ana sambil menatap keduanya dengan heran.
"Aku sangatlah mengkhawatirkanmu yang tiba-tiba tak sadarkan diri setelah mencariku. Aku merasa bersalah kepadamu," ucap Sang Ratu yang masih menyamar sebagai Geisha itu langsung memeluknya.
"Apakah begitu, Qian?" tanya Ana.
"Ya, aku yakin karena dia bukan Geishamu," ucap Qian. Dia berpegang teguh atas perkataannya itu.
Ana yang mendengarkan Qian masih menuduh Geishanya itu menatap sinis.
"Bukankah kau tidak akan menudingnya lagi?" tanya Ana sinis.
"Aku mengira bila aku kembali ke Lautan Dewa, aku bisa akur lagi dengan Ana, jadi aku memutuskan terluka di dunia manusia demi melihatnya di sini. Nyatanya, dia masih membenciku disini," gumam Qian.
Dia berjalan menuju hutan yang memasuki dunia para pintu. Itu adalah tempat awal dia berbicara dengan seseorang yang tidak diketahui wujudnya itu.
"Apakah kau tidak bersemangat di Lautan Dewa ini?" tanya seseorang itu.
"Mungkin saja, aku hanya bisa melihatnya dari sini, tapi tidak bisa menjangkaunya," ucap Qian kemudian memanyunkan bibirnya.
Secara tak sadar tingkahnya membuat orang yang menanyakan itu kepada Qian pun tertawa.
"Haha, itu masalah kecil," gelak tawanya itu.
'Masalah kecil apanya? Itu termasuk masalah besar yang mampu membuatku bersemangat setiap harinya." batin kecil Qian. Dia tidak berani langsung menjawab perkataan orang yang tidak diketahui wujudnya. Soalnya, dia tidak dapat mengidentifikasi seberapa besar kekuatannya itu atau menyinggung orang yang berada di Lautan Dewa akan sangatlah berbahaya baginya. Dia adalah raja iblis yang merupakan musuh terbesar dari Lautan Dewa sehingga dirinya tidak dapat memastikan, apakah dia bisa hidup atau mati?
__ADS_1
Mengingat, di dunia manusia, tubuhnya sudah terkunci oleh jurang yang mengikat kekuatan para dewa.
Tunggu! Qian sempat berpikir kalau jurang itu hanya mengikat kekuatan dari para dewa, yang artinya dia bisa menggunakan kekuatan iblisnya bila dia kembali ke dunia manusia.
'Akhirnya, aku mendapatkan pencerahan untuk keluar dari segel kekuatan dewa di dunia manusia itu, tapi bagaimana bisa aku kembali lagi setelah ini? Bukankah aku selalu datang dan keluar secara tiba-tiba yang artinya bila ada suatu kejadian di sini, aku bisa kembali ke sana.' batin Qian terus berpikir.
Tak berselang lama seseorang yang menertawakannya itu berkata lagi.
"Sepertinya kau terlalu banyak berpikir di usia mudamu ini," ucap seseorang itu.
"Apakah terlihat jelas?" tanya Qian. Dia merasakan kalau seseorang yang bertanya itu bisa mengetahui isi hatinya dalam sekejap. Dia harus berhati-hati saat ini.
"Tidak ada yang tidak jelas, selama berada dalam jangkauanku. Sekalipun kau jauh, aku tetap bisa mendengarkan semuanya."
"Kalau begitu, aku tidak akan sungkan meminta pertolonganmu hari ini," ucap Qian.
"Kau ingin aku melakukan apa?" tanya seseorang itu.
"Kau pasti tahu, apa yang aku inginkan darimu, bukan?" ucap Qian.
"Haha, aku memang sudah tahu. Hanya saja, aku ingin kau langsung mengutarakannya itu padaku, bukan dari hatimu, anak muda," ucap seseorang itu. Dia malah tertawa.
"Baiklah, bisakah kau mengembalikan aku ke dunia manusia?" pinta Qian.
"Bisa saja, selama kau memberikan situasi yang menggemparkan di Lautan Dewa ini," ucap seseorang itu.
Qian tak menyangka kalau seseorang itu benar-benar mengajukan persyaratan yang tak ia duga selama ini. Bukankah syarat itu akan benar-benar menyulitkannya? Butuh waktu yang lama bila menginginkan hal hebat terjadi sedangkan saat dia pergi ke manusia secara tiba-tiba, dia hanya membutuhkan beberapa menit saja.
Apakah dia sedang mengujiku? Ataukah dia sengaja ingin membongkar identitasku? Ataukah ada maksud lain yang tidak aku ketahui sebelumnya? Itulah pikiran Qian yang masih belum menjawab ucapan itu.
"Mengapa kau tidak langsung bertindak dibandingkan memikirkan hal-hal yang pasti dan belum kau ketahui, anak muda?" ucap seseorang itu mampu membuat Qian yang sedang berpikir pun tersadar dari pikiran seriusnya itu.
__ADS_1