Aku Terjebak Lautan Dewa Dan Iblis

Aku Terjebak Lautan Dewa Dan Iblis
Ana Kejam


__ADS_3

Qian merasa heran dengan tingkah Ana yang sangat mempedulikan Geisha hingga dirinya tidak mengkhawatirkan tubuhnya sendiri.


"Hiks Geisha aku salah," ucap Ana yang tidak bisa menahan air matanya.


"Ya, aku juga salah akibat diriku yang tidak bisa mengendalikan diri hingga kau dijauhi temanmu. Aku tidak akan berbicara apa-apa lagi," jawab Qian. Dia langsung memeluk Ana yang menangis itu.


Ana hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Hiks terima kasih kau sudah mau mengertiku." saat ini Ana tengah tenggelam dalam perasaannya.


Sang ratu yang melihat itu tersenyum sinis dengan keadaan mereka. Dia memikirkan cara agar bisa menemui mereka secara alami.


"Geisha lihat kan ya? Dia tidak akan mencurigaimu lagi," panggil Ana.


'Ini kesempatan bagiku.' batin Sang Ratu.


Dia pun menunjukkan batang hidungnya sambil memainkan peran sedang bersembunyi di batang pohon.


"Benarkah? Kalian berdua tidak akan mencurigaiku lagi?" tanya Sang Ratu yang berpura-pura polos itu.


Qian yang melihat auranya Geisha itu terasa berbeda. Dia merasakan aura itu sama dengan milik Sang Ratu. Dia yang menyadari itu pun langsung terlempar lagi ke dunia iblis.


"Yang Mulia Raja?" panggil pengawal itu.


Qian pun terbangun dari panggilan itu. Dia pun memijat pelipisnya yang terasa sakit. Dia tidak mungkin salah dalam mengenali aura yang berada di Lautan Dewa itu.


"Ada apa?" tanya Qian.


"Kami sudah mendapatkan kabar permaisuri yang tinggal berada di Kerajaan Karta. Jadi, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?" tanya pengawal itu.


"Terobos saja kerajaan itu," ucap Qian.


"Kami sudah berusaha melakukannya, tapi perlindungan kerajaannya semakin kuat," jawab pengawal itu masih menundukkan hormat.

__ADS_1


"Kalau begitu, antarkan aku menuju ke daerah kerajaan lainnya dia," titah Qian kepada para pengawal.


"Baik," jawab pengawal itu.


***


Saat ini di Kerajaan Karta, permaisuri Ana sudah terbangun dari tak sadarkan dirinya itu. Semua warga di Kerajaan itu tengah merayakan pesta atas kesembuhannya Ana sesaat yang lalu dan bersamaan dengan bangunnya Qian itu.


Saat ini mereka berdua tengah duduk di singgasananya. Semua tamu dari kerajaan lain pun menghadiri perjamuan kesembuhannya Ana itu. Termasuk kerajaannya Raden.


Adapun, kerajaan Qin tengah menyamar bersama kerajaan kecil lainnya. Mengingat, kerajaannya tidak akan diundang dalam hal perjamuan atau apapun itu.


Untungnya, Kerajaan Qin dapat menghipnotis kerajaan kecil itu hingga menuruti Qian dan satu pengawalnya itu.


Perlindungan Kerajaan Karta pun tengah terbuka lalu menghadap ke singgasana mereka berdua. Qian yang berjalan menuju tempat duduknya pun menatap Ana yang sedang berada di singgasananya itu.


"Apakah kau tahu Ana kau ada dalam Lautan Dewa itu, sekarang aku menemuimu di dunia lain yang berbeda. Akankah kau mengenaliku?" batin Qian.


Ana yang merasakan tatapan tertuju kepadanya pun menoleh, tapi Qian pun segera menundukkan kepalanya.


"Hmm...mungkin aku perlu beberapa obat yang dapat menenangkan diriku," ucap Ana sambil mengenggam tangannya Karta. Dia merasakan kejanggalan antara yang ia temui hari ini dan yang ada dalam mimpinya itu.


'Kenapa aku hanya merasakan aura yang aku tinggali saat ini berbeda dengan yang di dalam mimpi ya?' batin Ana bertanya-tanya.


"Obat apa yang kau inginkan, permaisuriku?" tanya Karta cemas kepada Ana.


"Bawakan saja aku bunga Lily of the Valley, Foxglove, Wisteria, Lily, Daffodil, Hydrangea, Oleander, Rhododendron dan azalea. Apakah ada Karta?" tanya Ana.


"Kau yakin dengan bunga beracun itu bisa menenangkan dirimu?" tanya Karta memastikan. Dia khawatir kalau Ana mati begitu saja. Padahal, dia belum berkultivasi ganda dengannya semenjak dirinya ditipu oleh pelayan itu hingga dirinya menyisakan racun dalam tubuhnya. Namun, dia yang berada di dekat Ana dapat menekan racun itu sehingga dia tidak bisa berpisah dari Ana apapun alasannya itu.


"Tentu saja, aku yang akan mengolahnya sendiri," jawab Ana.


Karta pun meminta kepada para pelayan agar membawakan bunga-bunga yang disebutkan permaisurinya itu.

__ADS_1


"Tunggu sebentar kami akan segera menyiapkan apa yang dibutuhkan permaisuri," ucap para pelayan itu serempak kemudian pergi masuk ke dalam ruangan yang berbeda. Tak berselang lama para pelayan itu keluar sambil membawa bahan-bahan yang Ana minta.


"Ini permaisuri," ucap para pelayan itu sambil memberikan bahan tersebut kepada Ana. Lalu semua orang yang hadir disana pun dapat mencium aroma bunga mematikan itu. Mereka terlihat takut kalau permaisurinya Karta akan meminta mereka minum-minum dengan bunga beracun itu.


Qian yang mengetahui karakternya Ana sedikit berbeda pun merasa curiga kalau Ana dalam pengaruh penghancur ingatan yang sering dibuat-buat oleh Karta itu.


Takutnya, kalau semakin dibiarkan, dia akan melupakan jati dirinya sendiri sebagai Ana mesum yang melintasi waktu. Qian tidak ingin membiarkan rencana Karta itu berhasil, dia harus merebut kembali Ana.


Ana tak tinggal diam setelah dia mendapati bunga-bunga beracun itu, dia pun mengolah bunga-bunga itu di hadapan semua orang yang hadir dalam tungku keabadian. Cahaya keemasan bercampur aroma gelap mematikan itu terpancar di aula perjamuan itu.


Dia benar-benar meracik bunga-bunga itu hingga menjadi ramuan cairan lalu dimasukkan ke dalam botor.


Usai itu, dia pun melemparkan semua ramuan cairan itu ke dalam makanan dan minuman para tamu. Termasuk dirinya sendiri dan Karta.


"Itu hadiah untuk kalian semua yang hadir dalam perjamuan kesembuhanku," ucap Ana. Kedua matanya tidak terlihat sebagai dirinya memiliki kehidupan maupun perasaan. Seakan-akan perasaan nuraninya telah diambil.


Karta yang melihat itu sedikit takjub dengan aura dominan dari Ana. Namun, dia menatap ke arah makanan maupun minumannya juga sudah tercampur oleh cairan beracun yang diberikan permaisurinya sendiri.


"Apakah permaisuriku yakin dengan cairan beracunmu itu di makanan dan minumanku?" tanya Karta.


"Aku yakin bila itu dirimu," jawab Ana.


Karta yang mendengarkan itu pun meneguk ludahnya dengan susah payah lalu Ana yang meihat wajah ketakutan dari Karta pun tersenyum.


Ana pun minum dengan ramuan cairan beracun itu lalu dia segera mencium Karta di hadapan semua orang. Lebih tepatnya, dia sedang berbagi minuman itu kepada Karta melalui bibirnya sendiri.


Karta yang mendapatkan aksi tidak terduganya Ana pun kaget lalu dia segera menarik Ana dalam pangkuannya.


Dengan segera para tamu pun berdiri. Karta yang melihat itu pun menghentikkan aktivitasnya bersama Ana lalu mendorong aura dari tubuhnya agar menjatuhkan para tamu yang tidak menghormati mereka berdua.


Para tamu pun melayangkan protesnya akibat kelakuan mereka berdua tidak pantas dipertunjukkan di aula perjamuan.


"Apakah kalian berdua menganggap kami butiran debu, hah!" ucap Laksmana.

__ADS_1


Protes yang dilayangkan Laksmana pun langsung diserbu dengan pedang dari para pengawal kerajaannya Karta.


"Beraninya tidak sopan kepada Raja dan permaisuri." Pengawal itu pun menendang kaki Laksmana hingga berlutut.


__ADS_2