Alaira

Alaira
PROLOG


__ADS_3

Seorang gadis berambut sepunggung berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Dia menggigit jari telunjuknya untuk menghilangkan kegelisahannya. Kedua bola matanya melirik ke sebuah jam dinding unik yang menunjukkan pukul tujuh malam.


Sebuah gaun pendek berwarna merah maroon sangat cocok di tubuh indah milik Aira. Sebenarnya, dia ogah pakai ginian.


"A-AIRA?!!"


Gadis yang dipanggil 'Aira' itu terjingkat kaget. Menoleh ke arah seorang pria paruh baya yang sedang berjalan kearahnya.


"Ngapain sih, manggil aja udah kayak mau siaran sekampung."


"Hei!" Sentak Pram—Papa Aira. Beliau membenarkan setelan jas yang ia pakai dengan PD. "Gimana, udah kayak anak muda lagi, nggak??"


"Ngarep banget, muka udah keriputan aja masih—"


"Udah cukup, nggak mau denger." Potong Pram dengan kesal.


Seorang wanita paruh baya berjalan menuruni tangga membuat Aira dan Pram mengalihkan perhatiannya pada wanita itu. "Wah wah, emak gue paling best banget!" Seru Aira.


Anjani, Mama Aira tersenyum kemudian menunjukkan raut wajah galak nya. "Jangan basa-basi, mereka udah nunggu loh."


Senyum Aira luntur seketika.


...----------------...


Di mobil, Aira tak membuka suaranya sekalipun. Jika ditanya oleh Pram dan Anjani, ia hanya menjawabnya dengan anggukan ataupun gelengan kepala.

__ADS_1


Ia terus memperhatikan ke arah jendela mobil, haruskah ia pasrah dengan semua ini? Mengapa harus dia?


Hari ini, ia akan bertemu dengan calon suaminya nanti. Aneh bukan? Padahal ia masih tak mau menikah di usia muda. Tak tau bagaimana wajah calonnya itu. Aira hanya ingin melaksanakan pernikahan satu kali dalam hidupnya.


Bagaimana jika kalian berada di posisi Aira? Sangat sulit bukan? Di satu sisi ia tak mau membuat kedua orang tuanya kecewa dengan nya.


Namun... Menikah tanpa cinta adalah hal yang sangat buruk.


Aira hanya ingin menikah dengan orang yang ia cintai, dengan orang yang mencintainya. Bukan seperti ini.


Pram dan Anjani saling bercanda gurau. Entahlah, mood Aira sangat buruk sekali. Mobil berhenti di depan sebuah restoran ternama.


Pak Adam—selaku sopir pribadi membukakan pintu untuknya. Perlahan Aira turun dan keluar dari mobil, saat itu juga ia merasakan angin yang berhembus kencang sehingga membuat rambut yang ia gerai rapi kini sedikit berantakan.


Aira melepaskannya, kemudian membuang mukanya.


Anjani menghela napas, elusan lembut di bahunya membuat ia tersenyum kepada Pram.


"Yuk, masuk, pasti kamu nggak sabar."


Dengan langah yang sangat terpaksa, Aira berjalan mengikuti Pram dan Anjani. Sempat ia berpikir untuk kabur, namun kedua mata Anjani selalu mengawasinya dan membuat nyalinya menciut. Belum lagi kedua pengawal pribadi yang berjalan di belakangnya.


Tak tau mengapa Papanya sampai melakukan hal semacam ini. Dikira ia kabur kalik? Padahal sih iya.


Mereka bertiga menuju ke tempat yang sudah dijanjikan, yaitu di rooftop.

__ADS_1


"Hai, Aldi!" Belum saja sampai di meja, Pram sudah melambaikan tangannya kepada seseorang yang seumuran dengan beliau.


Itu benar-benar membuat Aira sedikit malu karena beberapa orang tertuju padanya.


Terlihat Pram dan Anjani berbasa-basi dengan kedua orang itu. Mereka terlihat sangat akrab sekali. Aira sangat gugup, ia meremas ujung rok yang ia kenakan serta menggigit bibir bawahnya.


"Ini Aira? Cantik banget ya? Kayak Mama nya." Ujar wanita yang duduk di sebelah Anjani. "Bisa aja kamu Li," jawab Anjani.


Aira tersenyum kikuk, ia hanya menunduk menatap berbagai macam makanan yang tersaji di meja besar ini.


"Anak lo ke mana, Di?" Tanya Pram dengan memakai logat lo-gue dan membuat Aira menggerutu ingin sekali menendang meja di depannya itu.


"Lagi ngambil ponselnya di mobil, bentar lagi pasti kesini." Kata Aldi.


Aira menghela nafasnya gusar, tak ada yang menarik disini. Mereka berempat sedang asik berbincang sampai lupa ada dia disini. Tetapi tak apa-apa, ia juga males.


Gadis itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang yang ia bawa, dan memainkan walaupun tak ada yang menarik juga.


"Permisi."


Suara bariton itu membuat kelimanya menoleh, dan mengalihkan objeknya.  Semua tersenyum melihat siapa yang datang, kecuali.... Aira.


Dia melotot lebar, dan tak sadar jika ia menggebrak meja sontak reflek berdiri dari duduknya.


"A..A-ALAN?!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2