Alaira

Alaira
1-Sama kanebo kering


__ADS_3

Teriakan di koridor sangat menggema keras, terutama jeritan para gadis melihat makhluk tampan di pagi-pagi buta. Beberapa dari mereka hampir gila, walau sudah biasa, tetapi mengapa cowok itu terlihat tampan sekali hari ini?


Apalagi model rambutnya yang baru, membuat ketampanannya semakin menarik perhatian para gadis.


Penampilannya seperti seorang preman sekolah. Seragam yang selalu dikeluarkan, lalu sebuah dasi yang disampirkan pada pundaknya. Kancing atas ia buka, sehingga memperlihatkan kaos putih di dalamnya.


Tubuh atletis itu sangat menggoda para gadis.


Alano Galaksi William, dia benar-benar sempurna.


"Alan Alan Alan!!"


Langkah Alan berhenti, ia memutar badannya ketika seseorang memanggil namanya. Itu Gevan, teman dekatnya sekaligus teman sebangkunya. Cowok itu berlari sambil mengikat dasinya di kepala pada bagian dahinya.


Alan mendengus, cowok itu benar-benar gila.


Di samping Gavin, ada Leo, dia teman dekatnya juga. Humornya Leo sebelas dua belas dengan Gavin, Si Leo yang selalu mengandalkan gratisan walau keluarganya sangat kaya dan tak bisa diragukan lagi.


Lalu dibelakangnya ada Malvin, cowok pecinta buku novel. Sebenarnya Alan sedikit heran, mengapa seorang cowok sebegitu sukanya dengan buku? Bukankah itu hal langkah? Wajah Malvin sudah tak bisa diragukan lagi, begitu banyak cewek-cewek yang mengejarnya.


Sayangnya dia ingin cewek karakter fiksi yang selalu ia baca.


Alan menaikkan sebelah alisnya melihat ketiganya, dia berjalan mendahului nya. Kemudian dengan cepat Gavin menyamakan langkahnya dengan Alan.


"Si onoh! Malu-maluin gue aja, masa iya kemarin gue diajak ke toko pakaian dalam milik cewek!" Gevan nampak kesal dengan Leo. Leo hanya mampu nyengir lebar.


"Lo tau nggak Lan? Kata dia nih," Gevan menjeda ucapannya sambil melirik Leo sebal. "Nyari BH yang ukurannya gede banget buat Audrey, udah gila kalik ya? Padahal punya Audrey kecil!"


Leo melotot, "Gue tendang lo lama-lama!"


Alan menggelengkan kepalanya, ia hanya tertawa kecil. Beda dengan Malvin yang sudah ngakak. Beberapa menit yang lalu ia memasukkan buku nya ke dalam tas.


Malvin merangkul pundak Leo, "Selamat, lo terverifikasi tolol."


Tawa Gavin pecah seketika sehingga memenuhi koridor sekolah. Cowok itu memukul kepala Leo, "Makanya, makan telur gulung dulu, biar nggak encer otak lo." Ujarnya sambil meredakan tawanya.


"Serah deh serah!" Kesal Leo, marah. "Oit, Lan, Dare lo belum lo penuhi loh," Tiba-tiba Leo tersenyum menggoda menatap Alan.


Alan mengangguk, ternyata ingatan bocah itu masih ada.


Gavin yang sedari tadi mencoba ingat, akhirnya ia ingat juga. Cowok itu tersenyum jahil, begitu mereka berempat hendak sampai di kantin, Gavin berteriak keras yang membuat Alan melotot lebar.


"WOI! MAKAN AJA SEPUASNYA NTAR DI BAYAR SAMA ALAN!!!"


Karena teriakan Gavin, semua yang berada di sini pun berbondong-bondong untuk memesan makanan sepuasnya.


Leo dan Gavin berlari terbirit-birit menuju ke kantin dan langsung memesan makanan tanpa harus antri. Kelihatannya kedua cowok itu menyuruh mereka untuk mundur.


Malvin menggeleng, "Ckckck, Yaudah lah Lan, mau gimana lagi. The power of pasrah."


Alan menatap punggung Malvin dengan sangat malas, sekelilingnya mulai ramai. Kantin menjadi penuh. Alan sangat malas dengan keramaian ini. Dia jarang ke kantin, biasanya ia titip dengan Leo.


Alan duduk di kursi panjang yang jauh dari kantin, yang lebih tepatnya ia sekarang sudah berbaring dan menutup wajahnya dengan tas.


"Ini kenapa sih? Kok pada rame banget," gerutu seorang gadis di meja pojok kantin.


"Ini loh, katanya ada yang traktir, nggak tau siapa." Sahut temannya, Dara. Dara Pramudya, gadis anti buaya darat dan kang ghosting. Sayangnya sedikit lemot. Dikit aja kok. Otaknya lumayan pinter karena sering dibersihin.


"Iya-iya!! Tuh ada geng nya Alan, waduh! Bikin mleyot!"


Itu suara Bianca, si paling heboh. Pecinta cowok cogan, apalagi om-om Korea. Hidupnya lihat drakor melulu. Berak aja sambil nge-drakor. Cantik sih, tapi sayang belum ada yang nembak.


Aira memutar bola matanya malas, "Sok cool." Ujarnya malas.

__ADS_1


Bianca yang berada di sebelahnya hanya mendengus, mengapa Aira tak suka dengan Alan? Padahal cowok itu ganteng banget. "Kenapa sih Ai? Lo nggak pernah akur sama Alan, heran deh." Bianca melahap nasi goreng nya.


"Mungkin Alan itu beban buat Aira," celetuk Dara, langsung diacungi jempol oleh Aira.


"Mereka ganteng loh, apalagi Alan...."


Bianca menopang dagunya sambil menatap mereka yang jarak mejanya lumayan jauh. Terlihat Alan baru saja menduduki kursi.


"He'em, pacar gue ganteng banget.... Kayak pucuknya sendal." Semua menoleh pada Audrey. Audrey nih, pacarnya Leo. Sedikit kepo karena kang lawak kalau dipersatukan, kayak gimana pacarannya??


"Ai! Moga-moga kita nggak ikutan gila, yakan?" Bisik Bianca tepat pada telinga Aira.


Aira hanya mengangguk-angguk saja berpura-pura mengerti biar Bianca senang.


"Aira, sebelumnya kita kan mau lo traktir, tapi katanya yang makan disini semua Alan yang bayarin. Udah yuk, kita ke kelas." Ajak Dara.


Bianca dan Audrey mengangguk, "Bener, gue juga udah selesai makan nya."


"Duluan aja."


Ketiganya yang sudah berdiri seketika menoleh kepada Aira. "Ngapain disini?" Tanya Dara.


Aira tersenyum gila, "Membasmi para jomblo."


Dara mengangguk, Bianca menepuk keningnya. Sedangkan Audrey tiba-tiba menggandeng tangan keduanya sehingga mereka pun akhirnya meninggalkan kantin ini.


Beberapa menit berlalu, bel masuk sudah berbunyi nyaring. Membuat mereka yang berada di kantin akhirnya berbondong-bondong keluar tanpa membayar biaya makan. Ya tentu saja, kan Alan yang akan membayarnya.


Kini suasana kantin terlihat sepi. Aira berdiri, bertepatan dengan itu, Alan juga berdiri dari duduknya.


Alan menatapnya sekilas, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Lagi-lagi Aira ingin muntah darah. "Sok cool banget,"


Dengan cepat ia membayar biaya makanan yang ia beli tadi bersama para sahabatnya. Aira dan Alan berdampingan, ia hanya meliriknya sekilas.


"Punya saya."


Potong Alan memberikan sebuah kartu debit kepada Bu Ningsih. Sekolah ini sangat modern bukan? Bayar di kantin aja bisa pakai kartu debit ataupun kartu ATM, kredit dan lainnya. Fasilitas di sekolah sma permata ini memang bisa dibilang tinggi. Namun biaya spp juga mahal.


Di kantin hanya ada satu stand makanan, yaitu milik Bu Ningsih. Tetapi ada banyak sekali berbagai macam jenis makanan dan minuman. Tempatnya juga besar dan luas. Pantas saja jika hanya ada satu kantin.


Aira melipatkan kedua tangannya di depan dada, menatap Alan. "Maaf-maaf aja nih, gue anti traktiran. Apalagi yang nraktir orang kayak lo."


Alan hanya menanggapi dengan deheman pelan, bisa saja tak didengar oleh Aira. Aira memberikan kartu debit miliknya kepada Ningsih, "Aira bayar sendiri aja Bu Ning,"


Tetapi Alan mencegah nya, Aira sangat kesal.


"Saya aja,"


"Nggak! Gue bayar sendiri aja, lo kira gue kismin?!" (miskin)


"Saya aja,"


Aira melotot, dia mendekati Alan dengan tatapan mautnya. "Lo!—"


"Jadi yang mana?!"


Keduanya menoleh, melihat Bu Ningsih yang mungkin sudah kehabisan kesabaran. Wanita paruh baya itu ditenangkan oleh kedua asisten nya. "Sabar Bu, sabar..."


"Suami saya lagi kerja!" Sewot Ningsih, mendengar Minah mengatakan 'Sabar'


"Punya saya, uang dia gak cukup." Alan melirik Aira sekilas.


Gadis itu memutar bola matanya jengah, ia memasukkan lagi kartu miliknya ke dalam saku seragamnya.

__ADS_1


"Kartunya nggak bisa, mas Alan." Kata Ningsih memberikan benda kecil itu kepada Alan. Alan terkejut, ia sedikit melongo.


"Yakin?"


Ningsih mengangguk mantap.


"Pffftttt!!! Makanya, jadi orang jangan belagu! Dasar kanebo kering!" Aira tertawa terbahak-bahak sembari memberikan kartu nya kepada Ningsih.


Alan sedikit panik, pasalnya ia tak membawa uang cash. Tetapi aneh saja, karena ia tak menghabiskan uang di kartu itu. Ia masih berpikir sambil menggaruk rambutnya.


"Ini juga nggak bisa, mbak Aira."


"HAHAHAHA ha...ha..ha... Masa sih Buk?" Tanya Aira tak percaya. Ia melirik Alan yang sedang meliriknya juga.


"Apa lo liat-liat?!" Sentaknya, detik kemudian ia memalingkan wajahnya malu.


"Jadi, siapa yang bayar? Totalnya sembilan ratus lima, waduh, kalau nggak dibayar, saya bisa rugi besar dong..." Ujar Ningsih bersedih.


"E-eeh, Bu Ning, di bayar kok, tenang aja. Hehehe..." Aira berusaha untuk tidak membuat Ningsih menangis.


"Kanebo kering, bayar dong, katanya lo yang bayar." Bisiknya sambil menyikut lengan Alan. Alan sedikit menjauh dari gadis itu, Aira semakin frustasi.


"Lo aja."


"Lo aja lah, kan punya gue nggak bisa."


"Sama." Jawabnya enteng. Aira melotot. Sementara itu, Ningsih masih menunggu keduanya.


Bukannya Aira menuduh yang tidak-tidak, tetapi semua ini pasti perbuatan Papahnya. Pasti gegara ia tak menyetujui permintaannya, semua kartu miliknya kena blokir. Mana tadi tak dikasih uang.


"Terus gimana, aduh..." Aira menggigit jari telunjuknya panik, ia melihat Alan yang masih tenang-tenang saja.


"Oh iya! Tadi kan, katanya lo traktir semua yang makan disini... Jadi gue nggak perlu bayar, kan?" Aira menampilkan deretan gigi putihnya kepada Alan. Nyengir kuda.


Saat ia berbalik untuk melarikan diri, Alan mencekal pergelangan tangannya. "Nggak alergi traktiran?"


Poor Aira!


"Terus gimana? Lo juga nggak bawa uang kan? Gue juga kanebo kering! Ah kesel gue lama-kelamaan!" Nafas Aira menggebu. Keringat dingin mulai muncul di dahinya.


Lantas mengapa Alan bisa se santai itu?


"Kanebo kering! Cepetan!" Desak Aira.


"Lagi mikir."


Jawaban singkat itu membuat Aira ingin sekali menangis.


"Ada cara lain nggak, Bu?" Tanya Alan mendekat lagi pada tempat kasir. Ningsih nampak berpikir, lalu kemudian wanita itu menjentikkan jarinya.


"Gimana kalau mas Alan sama mbak Aira cuci piring, biar pegawai saya nggak pegel."


Alan menatap Aira bertanya, gimana?


Aira mengangguk terpaksa.


Ningsih tersenyum, "Yaudah ayo, masuk ke tempat cuci piring."


Setelah sampai disana, Aira melotot lebar ketika melihat ada banyak sekali tumpukan piring atau gelas yang kotor. "Nggak bisa nggak bisa, lo aja deh!!"


Alan menaikkan sebelah alisnya, "Emang lo mau bayar?"


Cewek itu menghentakkan kakinya berkali-kali. Dengan segala keterpaksaan, Aira mulai menyusul Alan yang sudah mencuci piring kotor.

__ADS_1


Akhirnya kedua remaja itu melakukan pekerjaannya dengan sangat terpaksa. Aira yang tak berhenti mengomel, Alan yang diam saja seperti batu.


__ADS_2