
Alan membuka pintu kulkas, matanya menelusuri isi dari kulkas tersebut. Nggak ada. Hanya ada bahan-bahan makanan dan buah-buahan. Lalu ia beralih pada pintu kulkas yang satunya, ia menautkan kedua alisnya saat mendapati ada banyak minuman berasa.
Nggak ada juga?
Ia menutup pintu kulkas kembali dengan sedikit keras, di letakkan nya tas sekolah di kursi meja makan.
Disini juga ada Liona—Mama Alan yang nampak serius dengan laptopnya.
"Ma, Red Velvet Alan mana?"
Liona meliriknya sekilas, kemudian mengangkat bahunya acuh.
"Belum beli?" Tanya cowok itu, sembari menuangkan air putih dari teko ke gelas.
"Ngapain juga beli." Ketus Liona.
Alan menelan minumnya, terdengar helaan nafas berat dari mulutnya. Ia mendaratkan bokongnya di kursi yang bersebelahan dengan Liona. Mamanya itu nampak acuh dengannya.
Biasanya, kalaupun dia sibuk, pasti dia akan memilih untuk berbicara dengannya, dibandingkan dengan laptop itu.
Cowok pecinta kue Red Velvet itu menghela napasnya gusar. Sehari tanpa Red Velvet saja seperti kopi hitam tanpa gula.
"Marah?"
"Nggak, kalau kamu nerima perjodohan itu."
Lagi-lagi itu. Alan berdiri di belakang Liona, dipegangnya kedua pundak Liona dan langsung memijatnya. "Alan... Nggak bisa."
Jari-jari Liona berhenti menari-nari di ketikan laptop itu, beliau mendongak menatap wajah anaknya. "Akhir-akhir ini Papa diam aja.. nggak seperti biasanya. Wajah cerianya udah hilang, sejak kamu menolak perjodohan ini."
"Lan, kamu nggak akan dapat uang dari Papa kan? Lalu, kartu-kartu kamu di blok juga? Papa memang sengaja, memberi hukuman buat kamu yang membantah perintahnya."
"Kalau udah nikah, nanti yang bakal suapin kamu sebelum tidur pasti istri kamu. Habis ini nggak ada Mamah Lan.
Alan terdiam, kedua tangannya masih memijat sang Mama.
Benar, ia tak bisa tidur jika belum makan. Dan makan pun harus di suapin, entah siapapun itu, tapi yang paling enak adalah di suapin Liona. Mungkin ini kebiasaan dari kecil, setiap sebelum tidur Liona pasti menyuapi anaknya, yaitu Alan.
Waktu ia tidur di rumah Malvin, ia makan sendiri walaupun resikonya tak bisa tidur nyenyak.
"Bukan Papa dan Mama yang nyuruh kamu menikah, ini permintaan Kakek kamu. Permintaannya sebelum nafasnya berakhir, Kakek kamu meninggal setelah sehari Pak Wardana Adijaya, sahabat Kakek kamu juga meninggal dunia. Jadi, tolong, Lan, penuhin permintaan Kakek kamu. Seandainya kalau kamu tau ucapan dari bibirnya langsung, pasti kamu nggak akan nolak, kan?"
"Waktu itu, saat Mama sama Papa di sebelah Kakek, kami juga sempat membantah. Nggak mungkin juga kita setuju, kalau kamu akan dijodohin. Ternyata setelah mengatakan itu, Kakek kamu menghembuskan nafas terakhirnya. Mama shock dan kaget banget, padahal tadi nya Kakek kamu bilangnya sambil bercanda. Ternyata, janji itu bukan sembarang janji. I hope you accept all this, Alan."
Alan terdiam mematung, tiba-tiba pijatannya berhenti. Waktu itu, Kakek meninggal pada saat dirinya berumur sekitar tiga belas tahun.
Liona menghela napasnya berat, meminum jamu tradisional yang dibuatkan oleh mbok Iyem tadi.
"Oke, Alan mau."
Brushhhh! Liona refleks menyemburkan jamu yang sudah ada di dalam mulutnya.
...đź‘€...
Alan mengendarai motor ninja hitamnya dengan kecepatan sedang. Entah ia ingin kemana, berkendara tak ada tujuan yang Alan lakukan saat ini.
__ADS_1
Dinginnya hawa di malam hari bukan masalah lagi untuk Alan, padahal cowok itu tak betah berlama-lama kedinginan. Bukan dan bintang bersinar terang di atas sana, seperti wajah Mamanya tadi ketika ia mengatakan bahwa ia menerima perjodohan itu.
Sama halnya dengan Papanya, lelaki setengah baya itu terlihat sangat senang sekali.
Alan ikut bahagia, melihat mereka seperti itu.
Cowok itu memberhentikan motornya di dekat jembatan kayu yang lumayan besar. Jembatan ini nampaknya jembatan yang terpencil di pedesaan. Tak tau mengapa ia bisa sampai disini.
Objek yang berada di jembatan itu membuat Alan menautkan alisnya, siapa?
Selepas menaruh helm, dan turun dari motor, cowok itu menghampirinya. Wajah gadis itu tak terlihat karena tertutup oleh rambutnya yang berterbangan oleh angin.
"Bunuh diri jangan disini."
Gadis itu menatap Alan, cowok yang berbaju navy dibalut dengan jaket kulit, kini tiba-tiba berdiri di sebelahnya.
"Lo?!"
"Lo ngikutin gue?!" Sentaknya.
Alan meliriknya sekilas, tak ada rasa tertarik sekalipun oleh gadis itu, Aira.
Cewek itu hanya mengenakan hoodie hitam, dengan celana kain pendek di atas dengkul. Tanpa tas dan ponsel, melainkan hanya sebuah pulpen bergambar animasi yang ada di genggaman nya.
Dia tak tau mengapa gadis itu membawa sebuah pulpen padahal dia tidak di sekolah.
Tapi untuk apa ia memikirkan hal yang tak penting?"
"Ora sudi."
Seperti ketika mereka tersenyum kepadanya.
Aira melihat mereka dengan senyuman tipis, sungai itu nampak bersih, tak ada sampah-sampah yang mengotorinya.
Ia menghela nafasnya, lalu bertanya kepada Alan. "Kanebo kering, seandainya kalau.... lo dijodohin sama orang tua lo, lo bakalan nerima, apa enggak?"
Deg, entah mengapa jantung Alan sedikit berdetak lebih cepat saat Aira menanyakan hal itu.
"Lo dijodohin?" Satu Alis Alan terangkat, menyangga tubuhnya dengan meletakkan tangannya di atas pembatas jembatan kayu.
"Masih zaman?"
Aira menggeleng berkali-kali, "Aihh, gue cuman nanya." Gadis itu merasa sedikit deja vu, padahal ia bertanya untuk dirinya sendiri.
Cowok itu menatap burung-burung yang berterbangan di langit mendung, angin berhembus kencang menerpa wajahnya. "Oh."
Kedua mata Aira menyipit, wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang kesal, kepala gadis itu mendongak untuk menatap Alan yang lebih tinggi darinya.
"Kanebo kering! gue tuh nanya, jawab itu kek pengacara dong,"
"Harusnya Mak lampir pacarannya sama pocong, kan?"
Aira melotot, "Sialan! Diem lo mulut busuk!"
Cowok itu mengangguk singkat tanpa ekspresi. Pertanda ia ingin diam. Suara anak-anak di bawah sana sangat mengganggunya, mengapa ia bisa ada disini?
__ADS_1
"Dih, sok dingin." Gumam Aira melihat tingkah Alan.
Alan dan Aira bisa dibilang cukup akrab, maksudnya akrab bertengkar. Aira tak tau, mengapa ia terus dipertemukan oleh cowok yang ia benci.
Maupun di sekolah dan di luar sekolah, dia sangat malas jika tak sengaja bertemu dengan Alan.
"Fyuhh, repot ya, nurutin kemauan yang bukan kita mau." Mata Aira menyipit, melihat langit di atas.
Pikirannya masih terbayang tentang perjodohan itu, sungguh, dia tak mengerti. Ia memang mau dan ingin memenuhi permintaan Kakeknya, tetapi mengapa harus dengan perjodohan?
Padahal, dia masih ingin menikmati masa-masa mudanya dengan indah. Membuat kenangan-kenangan yang tak akan terlupakan.
Alan meliriknya sekilas, "Salah, kalau lo nggak mau, ngapain harus nurutin?"
"Sotoy!" Aira tertawa garing dan memukul lengan Alan. Sebenarnya tak mau bercanda, hanya saja tak bisa menjawab pertanyaan Alan.
"Nggak jadi bunuh diri?"
Aira menoleh, lalu menggeleng. Dia memasukkan pulpen nya ke dalam saku yang tak terlalu dalam. "Gue nggak bunuh diri, cuman cari angin aja. Nggak enak tau di rumah terus, hidup juga harus dinikmatin."
Cowok itu manggut-manggut kepala, "Jadi, hidup nggak ada cobaannya? Harus dinikmatin terus?"
Aira mengerutkan dahinya, dia kesal, mengapa cowok itu pandai sekali bertanya kepadanya yang dia tak tau jawabannya?
"Maksudnya, kita itu butuh self healing. Seenggaknya, kita bisa lupa masalah kita walaupun hanya sesaat."
Alan tertawa kecil, menarik beberapa helai rambut Aira dengan pelan. "Sok bijak."
Aira kesal, ia menautkan alisnya, dia ketawa?
Bunyi dari ponsel Aira membuat gadis itu berhenti menatap Alan dan langsung merogoh sakunya, tertera nama 'Mama' di layar ponsel itu membuat ia menghela napasnya gusar.
Disaat bersamaan dengan itu, Alan ternyata menerima telepon juga. Ia baru menyadari nya yang sedari tadi bergetar di dalam sakunya.
"Halo kenap—"
"Kamu dimana? Sama siapa?"
Aira reflek menatap Alan, sepertinya cowok itu juga menerima telepon. Detik berikutnya ia berpaling, karena Alan juga menatapnya. "Lagi..."
"Pulang! Kita mau ketemu sama calon suami kamu malam ini, cepet, Ai! Mama udah nggak sabar nih!"
Aira melotot lebar, "Sekarang?!"
"Sekarang?"
Aira dan Alan saling tatap, jarak keduanya sudah tak berjauhan lagi. Entah, baik Aira maupun Alan, tak ada yang menyadarinya bahwa mereka semakin dekat.
Keduanya sama-sama mengakhiri sambungan telepon.
"Dih, ngikut-ngikut gue aja lo," Aira memutar bola matanya malas, sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Alan mengangkat sebelah alisnya, "Ngapain lo?"
"Gue mau ke... e-ekhem, gue.. pulang lah! Gak guna banget lo nanya-nanya."
__ADS_1
Cowok itu melihat punggung Aira dengan tatapan mata yang tajam. "Mak lampir idiot."