
"A..A-ALAN?!!!!!"
Aira terkejut, pupil matanya melebar menatap wajah yang akan menjadi suaminya itu. What??! Really? Alan? Si kanebo kering?! Dia? KENAPA DIA?! Teriak Aira dalam hati.
Dia tak mampu berbicara, sama halnya dengan Alan. Cowok itu hanya berdiri mematung, seperti sedang membeku karena salju. Raut wajahnya memang terlihat datar, tapi ketahuilah, hatinya sangat resah.
Benarkah cewek itu? Cewek pecicilan itu yang akan menjadi istrinya nanti? Mak lampir! Batin Alan dengan segala kekesalan.
Tangannya terkepal erat, tatapan matanya menatap tajam pada gadis itu, dia juga menatapnya dengan tatapan yang tak kalah sengit darinya.
Mereka seolah ingin bertengkar dan saling mengolok-olok seperti yang biasa mereka berdua lakukan.
"Wah, jadi udah saling kenal?" Tanya Aldi tiba-tiba tersenyum. "Duduk dulu," lanjut beliau melihat keduanya yang masih berdiri.
Aira yang dalam mode shock nya, ia terpaksa kembali ke tempat duduknya.
Alan, dia menatap ke arah lain. Ia terkejut setengah hidup.
"Bagus lah ya, jadi lebih akrab lagi." Imbuh Pram tersenyum menatap anak gadisnya. Sebenarnya ia sedikit kesal, bisa-bisanya dia teriak meneriaki nama Alan di depan Aldi dan Liona.
"Ya.. ya.." Aldi manggut-manggut kepala, menyeruput kopi yang telah beliau pesan, "Aira, kenalin, saya Mahaldi Williams, Papanya Alan. Ini Liona, istri saya, Mama nya Alan."
Aira mencoba untuk mengembangkan senyumnya, menyapa kedua pasutri itu. "Hai om Pram, tante Liona."
Liona dan Aldi membalasnya dengan senyuman hangat, tidak dengan Alan yang selalu memasang ekspresi datarnya.
"Kamu kalau senyum tambah cantik deh, Ai." Puji Liona. Aira tersenyum kikuk, "Makasih Tante, hehe..."
"Lan, itu namanya Pram, sahabat Papa dari smp, Itu Tante Anjani. Mereka berdua orang tua Aira, calon mertua kamu." Aldi tersenyum penuh arti kepada Alan.
Alan tetap dengan wajah flat nya, tetapi menyapa Pram dan Anjani dengan sopan sehingga membuat mereka berdua juga tersenyum, walau Alan hanya tersenyum tipis.
Aldi menarik napasnya, Oke.. mungkin Alan dan Aira sudah tau, kenapa kalian berdua ada disini. Ya, kalian akan dijodohkan. Memang sebelumnya kami tak akan menikah kan kalian kalau kalian berdua tak setuju. Hari ini, adalah perjanjian ini akan terlaksana. Mungkin Aira juga sudah tau, kalau ini permintaan Kakek kalian masing-masing. Keluarga Adijaya dan Williams, akan menjalin hubungan dengan menikahkan Alan dan Aira.
Bukan hanya sebuah perjanjian dari Kakek, tetapi ini juga untung buat perusahaan yang sudah kita bangun. Jika bekerja sama, perusahaan akan berkembang pesat." Jelas Aldi panjang lebar.
Aira hanya diam, sesekali ia menatap kecewa pada Alan. Yah, memangnya tak ada laki-laki lain selain kanebo kering itu? Kalau gini sih lebih sereman om-om.
Aroma spaghetti carbonara sangat menggangu hidungnya, ingin sekali ia melahapnya, namun ia sangat malas sekali untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Sebenarnya kami para orang tua agak keberatan, ini akan sedikit mengganggu masa muda kalian. Tapi menyangkut perjanjian dan pesan dan permintaan Kakek kalian, kami harus melakukannya demi kebaikan bersama. Lagipula kami juga harus pergi ke Australia minggu depan."
Pram mengangguk, setuju dengan perkataan yang diucapkan Aldi. "Gimana kalau pernikahannya lusa, jadi sebelum pergi, Alan dan Aira sudah menikah. Dan saya dan istri saya jadi nggak kepikiran Aira, kebetulan art rumah kami mau pulang kampung, saudara kita juga jauh semua."
Maupun Alan dan Aira, sama-sama melotot. Tak bisa di deskripsikan raut wajah terkejutnya masing-masing.
Aira yang menggeleng berkali-kali, menolak usulan Pram. Alan yang sudah tak tahan ingin sekali pergi dari sini, ingin sekali mengubah kenyataan ini.
"Ta-tapi.. kita masih sekolah..." Cicit Aira.
"Bagus itu, jadi, Alan bisa jagain kamu di sekolah. Kita nggak perlu undang banyak orang, hanya orang terpenting saja. Nanti Papa sama Om Aldi akan urus ke kepala sekolah kalian berdua."
__ADS_1
Liona mengangguk setuju, "Nah, lagipula, kalau kalian lusa menikah, besoknya kita berangkat ke Australia, kan?"
"Iya, aku juga setuju, gimana kalau pulang sekolah besok Alan dan Aira fitting baju pengantin? Untuk semuanya biar kami yang urus. Kalian berdua tinggal fitting baju sama beli cincin."
"Jadi udah fiks lusa?" Tanya Aldi.
Semua mengangguk cepat, kecuali Alan dan Aira.
Aldi membenarkan duduknya menjadi tegak, kemudian menatap Alan dan Aira secara bergantian. "Alan, Aira, sudah siap?"
Aira ingin menangis dan berteriak saat ini, sesuatu yang akan melegakan hatinya. Ia ingin berteriak sekencang kencangnya bahwa ia tak mau menikah. Ia menatap Alan ragu, cowok itu hanya memasang ekspresi datarnya, tak ada yang berubah sama sekali. Aira jadi bertambah kesal.
"Ta..tapi,—"
"Kita siap."
...----------------...
Aira menendang apapun yang ada di sekitarnya.
Wajahnya ditekuk kesal, kedua tangannya terkepal erat. Bibirnya komat-kamit mengatai Alan.
"Kenapa lo nerima perjodohan ini?! Kenapa nggak nolak aja, sih?!"
"Kenapa tadi lo bilang kalau kita siap?!"
Di belakangnya, Alan menghela nafasnya berat sekali mendengar gadis itu selalu mengoceh setiap saat. Kupingnya panas, hatinya berkecamuk, bagaimana bisa? Ia menikah dengan cewek itu lusa nanti? Bayangkan saja! Lusa loh!
Aira hanya diam, selalu menepis air matanya yang baru saja keluar agar Alan tak melihatnya. Tanpa Aira sadari, Alan pun tahu jika cewek itu sedang menangis.
"Kalau seandainya lo nggak setuju, mungkin kita nggak akan ada di sana." Alan menunjuk bangunan restoran yang tadi mereka disana.
Aira terdiam, benar saja.
Gadis itu terduduk di salah satu kursi panjang, pada pinggir jalan raya. Alan juga melakukan hal yang sama. Tadi, saling tak kuat menahan amarahnya, Aira berpura-pura mengajak Alan jalan-jalan di sekitar sini.
Keduanya terdiam, sama-sama memandang objek di depannya. Keramaian itu tak akan meramaikan hati yang sunyi ini. Kosong, pikiran Aira pun juga kosong.
Entah, tak tau apa yang ia pikirkan. Tak tau bagaimana kedepannya nanti, bagaimana ia bisa melakukannya?
"Nangis aja, gapapa."
Suara berat itu membuat kepalanya yang tadinya menunduk kini terangkat, tak ada binaran mata di mata indah milik Aira. Hanya ada guratan-guratan kesedihan yang ada di bola matanya.
"Ogah, ngapain gue nangis."
Alan tertawa kecil, mendengar ucapannya. Padahal jelas-jelas ia tahu jika Aira sedang menangis.
Hanya saja cewek itu memandang ke arah lain, sehingga Alan tak bisa melihatnya jelas, apalagi kini rambutnya yang menutupi wajah gadis itu karena angin yang lalu.
"Gengsian." Cibir Alan.
__ADS_1
Dia juga ingin marah, emosi, ingin sekali menghancurkan semua apa yang ada di dekatnya. Tetapi ia sadar, itu hanya sikap kekanakan. Ia sadar, jika semua ini sudah terjadi. Semua sudah terlanjur, terlambat, lagian, ia juga mau melakukannya karena Kakek.
Dia mencoba untuk bersikap dewasa, melakukan apa yang harus ia lakukan.
Bukan cuma Aira saja yang ingin menangis, Alan juga. Hahaha, aneh bukan? Saking nyerahnya, seorang Alan yang dikenal sebagai lelaki dingin dan emosian kini ingin menangis karena masalah perjodohan.
"Hiks... Hiks... gu-gue nangis, gu-gue nggak mau nikah.. Lan. Gue harus gimana?!"
Cowok itu menyeringai kecil, "Akhirnya nangis juga."
Sementara itu, Aira masih meraung, mengutarakan isi hatinya, melakukan apa yang ingin ia lakukan sejak tadi.
"Gu..gue nyerah,"
Alan melirik Aira dengan ujung matanya, menatap gadis itu yang masih menangis sesenggukan.
"Baju gue terlalu berharga buat air mata lo."
Aira melotot lebar kepada Alan, "Bisa-bisanya lo?!" Sentak gadis itu. Alan mengangkat bahunya acuh, ia berdiri dari duduknya.
"Balik."
"Ben...tar." Ujar Aira yang masih terbata, isakan tangisnya masih terdengar membuat Alan menghela nafasnya.
"Ngapain duduk lagi?!" Sewot Aira melihat Alan mendaratkan bokongnya di sebelahnya lagi.
"Tunggu sampe lo selesai nangis."
"Dibilang gue nggak nangis juga masih ngeyel aja!!
Alan mengerutkan dahinya, cewek itu seremnya melebihi setan. Padahal dari tadi dia nangis terus, masih nggak mau mengaku juga?
"Sehebat apapun lo nangis, nggak akan ngebalikin semuanya. Lo udah terima, dan lo udah siap nanggung resiko nya."
Aira terdiam, ia terus menggosok daun telinganya.
"Tapi gue nggak mau nikah nama lo!"
"Terserah."
Akhirnya jurus Alan keluar. 'terserah'
Aira dan Alan lama terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing. Aira menunduk, wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang di bawah bahu. Kedua kakinya ia goyangkan, kursi ini lumayan tinggi, atau memang dia yang terlalu pendek? Entahlah.
"Jangan bilang temen-temen ya, Lan, kalau kita dijodohin."
Alan meliriknya sekilas, "Gue masih punya otak."
Aira menghela napasnya, menatap Alan dengan malas. Agaknya tangisannya sudah mereda, dia tak lagi sesenggukan. Tetapi wajahnya masih memerah dan terlihat sembab.
"Nggak tanya, semua orang juga punya."
__ADS_1