Alaira

Alaira
11-Pagi yang buruk


__ADS_3

Olahraga telah selesai, semua siswa kelas 12 mipa 1 dan 2 membubarkan diri dari lapangan setelah mendapat instruksi dari pak Hamid, selaku guru olahraga kelas mereka.


Dara mengelap keringat di dahinya, "Panas banget ya, ini pasti jemuran mama gue panasnya udah kayak api neraka."


"Emang lo pernah ke neraka?" Timpal Audrey.


"Nggak juga, sih." Dara menggeleng, mensejajarkan langkahnya dengan Audrey dan juga Bianca.


"Makanya coba dulu, biar bisa cerita sama kita." Ujar Audrey lagi. Dara terdiam, "Jadi lo nyuruh gue mati?"


"Jahat banget buset!!!!" Dara berteriak dramatis, membuat Audrey langsung panik dan terburu-buru mengambil posisi di sebelah Dara.


"Becanda Dar, baperan amat jadi orang!!"


"Gue nggak marah! Iri aja, sama orang yang masuk surga. Disana ada ketoprak nggak ya?"


Audrey menghela napasnya, dia bingung, sebenarnya Dara ini bego atau polos?


"Kalian tuh, ribut mulu, ini Aira kemana sih? Dari tadi nggak bisa dihubungi!" Kesal Bianca yang masih saja mengotak-atik ponselnya sedari tadi saat olahraga baru saja selesai.


"Nggak tau tuh, kemarin gue WhatsApp dia nggak ada respon nya." Timpal Audrey.


"Ck! Tau ah, mending kita ganti baju dulu." Kesal Bianca.


Ketiganya sempat memasuki kelas untuk mengambil barang, kini para gadis itu hendak pergi ke loker untuk mengambil seragam lalu pergi ke ruang ganti.


"Kenapa harus ada mereka, sih??" Bianca memutar bola matanya jengah, melihat Audrey yang berlari menuju segerombolan para lelaki di depan kelas mipa 1, tepatnya pada koridor.


Dara dan Bianca berhenti, ada banyak sekali lelaki di depannya. Dan sepertinya kedua gadis itu enggan untuk melewatinya.


Dua hari tanpa Aira rasanya seperti makanan yang tak ada rasanya. "Kita putar balik aja kali ya?" Bisik Bianca, namun Dara malah terbengong di tempat.


"Leooooo yuhuuuu Audrey datanggg!!!!"


"Loh, masih hidup ternyata?" Gumam Leo seraya menghimpit kepala Audrey di ketiaknya.


"BAU BANGET! PASTI NGGAK MANDI SE ABAD KAN LO?!"


Audrey melepaskan tangan Leo, dia berdiri sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah cowok itu.


"Inget Drey, belajarlah dari bulu ketek, walaupun terhimpit tapi masih tetap tumbuh." Leo tersenyum menatap Audrey.


"Iya, yang lebat kayak ketek lo!!!" Sewot gadis itu.


"Plis! Hubungan mereka freak banget nggak, sih??" Bisik Edo tepat di telinga Gavin yang sedang asyik memandangi Bianca.


"Ya emang," Balas Gavin yang sudah tahu, walaupun tadinya dia sempat tertawa bersama teman-temannya.


"Neng Biancaaa!!! Godain Aa' Gavin dong!!!"


Bianca sontak melototkan matanya, ia hendak ingin menghampiri Gavin dan memukul mulut cowok itu namun Dara menahannya.


"Aduh buset srepettt!!!" Langit mengelus telinganya, tak kuasa menahan nyeri akibat suara Gavin yang menggelegar di koridor ini.


"Banyak omong lo kribo!" Balas Gavin.


Langit, dipanggil kribo karena memang dia mempunyai rambut yang kribo.


Malvin hanya menggeleng singkat, berdecak kesal karena kegiatan membacanya terganggu. "Bisa kecilin dikit nggak?"


"Ya lagian elo baca buku disini, baca tuh di perpustakaan sono! Jangan sok merasa paling tersakiti sama masalah yang lo buat sendiri deh Mal!" Sewot Gavin tersulut emosi.


"Bangsat! Suara lo aja yang salah!" Umpat Malvin tak terima.


Gavin melotot, tak menghiraukan Malvin lalu berdiri dan menghalangi jalan Bianca dan Dara.


"Dar, lo di panggil Edo, tuh."


"Eh??" Dara terbengong, "Iya Vin???" Tanya nya yang diangguki oleh Gavin, melirik Edo yang melambaikan tangannya.


Bianca memutar bola matanya jengah, kenapa harus wajah dia yang ia tatap pagi-pagi ini?


"Pagi gue jelek banget,"


"Eitss! Mau ke mana sayang? Ikut dong!"


Bianca melotot, "Sayang pala lo babi! Minggir nggak?!"

__ADS_1


"Gak mau Bi, lo kenapa jahat banget sih sama gue? Pasti karena gue ganteng ya?" Gavin tersenyum lebar sembari menyugar rambutnya ke belakang.


"Huwekkk!" Bianca berlagak seperti orang yang sedang muntah. Apalagi teman-teman Gavin, mereka sudah tertawa ngakak melihatnya.


"Diem lo kribo! Kalian kenapa sih? Kan emang muka gue gantengnya di atas rata-rata, ya nggak, Bi....?"


"WOI AYANG BIANCA KEMANA?!" Teriak Gavin melihat ketiga gadis yang tadinya disini kini sudah tidak ada.


"Ah elah, gagal mulu... Pusing gue!" Gavin mengacak-acak rambutnya, frustasi.


"Sabar Vin, perjalanan cinta lo kan emang selalu gagal."


Gavin melotot lebar ketika mendengar perkataan Leo, ia menoyor kepala cowok itu. "Kata-kata lo ngebuat gue pengen golok leher lo itu!"


Leo nyengir kuda, "Peace!"


"Jadi ini Alan kemana?" Tanya Langit tiba-tiba.


"Nggak tau tuh, kemarin gue ke rumahnya, dianya nggak ada. Ponselnya juga nggak aktif." Ujar Gavin yang sepertinya lelah mencari keadaan Alan.


Kata gurunya, Alan ijin karena ada urusan keluarga. Ia merasa sedikit aneh saja, pasalnya cowok itu jarang sekali ikut dalam urusan keluarganya. Ada arisan keluarga saja, Alan menyuruhnya ikut padahal dia ini hanya seorang 'teman'.


...----------------...


"Assalamualaikum.. Mas Al—EHH MAAF SAYA NGGAK LIHAT?!"


Aira mengerjapkan bulu matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam celah-celah jendela. Dia terbangun karena mendengar teriakkan seseorang.


Setelah matanya terbuka lebar, ia tersadar jika dirinya masih berada di sofa ruang tamu.


"Enghh...." Gadis itu menggeliat, namun sudah rasanya untuk bergerak.


"Kok... Berat??" Gumamnya dengan perasaan yang tak enak. Kedua matanya melotot lebar, dia melihat tubuh Alan yang berada di atasnya dengan posisi tengkurap. Yang lebih parahnya lagi, Alan merangkulnya cuy!


Lalu kepala cowok itu berada di ceruk lehernya, gila! Alan benar-benar gila! Bisa-bisanya dia melakukan ini kepadanya?!


Gila! Bukannya senang, Aira malah geli.


Paginya buruk banget!


Pantas saja, ia merasa sesak dan sangat berat. Ternyata setan satu itu yang membuat ia seperti ini.


"SIALAN! BANGUN NGGAK?! KEBO AMAT JADI ORANG!"


BUK!


Aira sudah tak bisa bersabar, dia menendang tubuh Alan sehingga cowok itu kini berada di lantai.


Alan masih belum membuka matanya walaupun sudah dipastikan jika tubuh cowok itu sakit, dia hanya menggeliat pelan.


"Eh ehmm... anu mas Alan..."


Alan dan Aira menoleh, keduanya sama-sama terkejut mendapati pak Adam di ambang pintu.


"Ini barangnya mas Alan yang ketinggalan, saya taruh disini ya."


"Pak, jangan salah paham dulu ya, kemarin itu saya ketiduran disini, jadi kita nggak ngapa—"


"Nggak apa-apa atuh neng, kan, udah nikah." Ujar pak Adam menahan senyumnya. Aira melotot lebar, dia melirik Alan yang hanya mendengarkan obrolannya dengan Pak Adam.


"Pak Adam kok bisa masuk? Kan pintunya udah Aira kunci." Aira sebenarnya sangat malu.


"Oh.. itu neng, saya di kasih mas Alan kunci cadangan, kemarin katanya kalau pintunya nggak di buka-buka masuk aja nggak apa-apa. Lagian kalau ada apa-apa saya jadi siap siaga." Jelas Pak Adam.


Aira manggut-manggut kepalanya mengerti, lalu Pak Adam pamit pulang.


Sementara itu, Aira buru-buru mengecek keadaannya. Dia bernafas lega, bajunya masih utuh dan tak ada yang terbuka. Setidaknya ia memastikan bahwa Alan tidak macam-macam terhadap dirinya.


"Mikir apa lo."


Suara itu membuat Aira mendongak, sedikit terkejut melihat Alan yang sudah berdiri di depannya.


"Kemarin lo nggak macam-macam sama gue kan?!" Tuding Aira.


Alan menaikkan sebelah alisnya, "Apa salahnya?" Ujar cowok itu sembari mengacak-acak rambutnya.


Aira melotot lebar, reflek ia memukul kepala Alan dengan bantal sofa berkali-kali. "Lo tuh! Cowok mesum!"

__ADS_1


"Apaan sih." Ujar Alan berdiri dan kembali ke kamarnya, dengan suara yang terdengar datar, serta raut wajah tanpa ekspresi.


Terkadang Aira berpikir, mungkinkah ia betah hidup bersama cowok sok dingin itu? Bukannya malah senang, yang ada hari-hari nya akan terasa hambar.


Kini Aira berada di dalam kamarnya. Ia merasa bosan, yang akhirnya pun membuka handphone yang dari kemarin tak ia gunakan. Ya, entahlah, mungkin tidak ada yang penting?


Setelah ia menghidupkan data, notifikasi pun terus berbunyi yang membuat ia kesal sendiri.


...Calon konglomerat...


darah:


halo ges!


how are youuu???


hai!


assalamualaikum


biankak:


Sksd bgt lo babik


darah:


contoh orang yg kurang kasih sayang


biankak:


SINI LO BEWAN SAMA GUE!


darah:


kalem dong


biankak:


Bicit, btw Aira kmn? pake gak masuk segala, gaya banget lu!


darah:


tau tuh, dari kemarin nggak masuk sekolah, samperin di rumahnya juga sepi... jangan-jangan diculik om-om nih anak


biankak:


Diculik bapak lo kalik dar


darah:


kabur dong anjir Aira, orang bapak gue lagi enak tidur di kuburan.


biankak:


HEH


LUPA ANJ*R😭😭😭


LAMPU MANA LAMPU😭😭


Hanya itu saja yang Aira baca, sangat malas untuk membalas chat sebelumnya. Jarang sekali Aira men-scroll grup itu karena biasanya dia selalu ikut nimbrung.


Mungkin saja karena mood nya memburuk?


Tok tok tok!


Gadis itu terjingkat karena ketukan pintu dari luar, dia berdecak kesal, kenapa sih? Cowok itu selalu saja mengganggu waktu bersantai nya.


Beranjak dari kasur, Aira berjalan dan memegang kenop pintu. "Apa???"


Dahinya berkerut, melihat Alan memberikan sebuah map coklat kepadanya. "Apaan nih?" Tanya nya sembari membuka map tersebut, namun urung karena Alan mencegahnya.


"Ke sofa." Dia menarik tangan Aira, sehingga kini gadis itu berada di depan pintu kamarnya. "Ck! Nggak usah narik-narik segala dong!"


Alan hanya meliriknya saja, dia berjalan menuju sofa yang diikuti oleh gadis itu di belakangnya.


"Wuishh... Rapi bener nih rumah!" Puji Aira ketika melihat sekelilingnya yang kini sangat bersih. Barang-barang pun tertata sangat rapih.

__ADS_1


"Nggak usah banyak omong, gue benci membuang waktu." Ujar Alan sangat dingin.


"Cih!"


__ADS_2