Alaira

Alaira
7-Warung Abah


__ADS_3

Setelah fitting baju dan membeli cincin pernikahan, Aira menghempaskan tubuhnya di king size bed miliknya. Ia mendengus, mencari posisi yang nyaman.


Lelah.


Bagaimana tidak? Tadi ia sudah mencoba gaun pengantin sebanyak lima kali. Sepertinya cowok itu mempunyai dendam kepada dirinya, bayangkan saja, ia sudah berganti gaun seribet itu berkali-kali.


"Nggak cocok, ganti."


"Ganti, badan lo keliatan kek papan."


"Terlalu mencolok."


"Gak cocok."


"Terlalu ribet."


Seperti itulah kira-kira ucapan Alan yang membuat Aira ingin meledak di sana. Yang ini lah itu lah, Alan benar-benar menjengkelkan.


Dan pada akhirnya, gaun keenam yang dipilih oleh Alan. Dia mah nurut-nurut aja, toh pernikahan ini juga terjadi karena perjodohan, bukan murni keinginan nya.


Aira berjalan menuju gorden kamarnya yang setengah terbuka. Yang ia lakukan hanya melamun, sambil menikmati caramel late, Yang masih lumayan panas.


Terkadang, hidup itu ada rumit dan enaknya, memang harus dijalani. Apapun yang terjadi, dia akan menerima.


Dia punya segalanya, namun, sesuatu yang tak ia inginkan terjadi begitu saja. Sesuatu yang tak terduga, akan terjadi besok. Ya, besok.


Aira memang bisa dibilang cukup nakal. Dia menikmati masa mudanya dengan kenakalan remaja seusianya.


Mungkin ini takdir tuhan, tak tahu apa yang terjadi nantinya. Dia sudah tak bisa mengelak lagi, entah, tulang-tulang nya seolah tak mendukung nya melakukan sesuatu yang bisa membuat pernikahannya batal.


Badannya seolah hanya ingin menurut, kini lidahnya terasa kelu untuk melawan Pram.


"Kenapa?"


"Ai! Ikut gue dong!" Teriak Audrey di seberang sana.


Aira memutar bola matanya jengah, menekan tombol speaker dan melempar ponselnya di kasur. "Apa lagi sih? Urusan gue belum kelar ya sama lo." Ujarnya dengan malas.


"Ya makanya itu! Gue mau ajak lo main, buruan ih keluar, gue Bianca sama Dara udah disini nih, di depan rumah lo."


Kini Aira melotot lebar-lebar, "Lo di depan rumah?!"


"CEPET AIRA!"


...----------------...


"WOI KAMBING! KEMANA AJA LO!"


"Setan!"


"Apa?"


"Pake nanya lagi! Lo gak ke warung Abah? Kemana lo? Tumben pulang, lagi nggak durhaka sama bokap nyokap?"


Alan melotot lebar, sudah malas menanggapi perkataan Leo. "Udah? Gue tutup."


"Jangan ege! Lo gak kesini? Buruan gak pake lama!"


Itu bukan suara Leo, melainkan suara Gavin.


Kedengarannya di warung Abah Ncan ramai, mungkin ia perlu kesana untuk menenangkan diri. Bukannya ia sakit mental, hanya saja telinga nya sakit, dari tadi Liona ngomel-ngomel terus mengenai pernikahan itu.


Entah bahas Aira lah, pernikahannya lah, itu lah, ini lah. Yang pasti, telinganya jadi tak tahan mendengar semua ocehannya.


"Hm, ganti baju."


"YEU! GAYA AMAT PAK BOS KE WARUNG AJ-"

__ADS_1


Tit! Alan buru-buru mematikan sambungan telepon itu. Ia sudah malas sekali. Tidur juga nggak bisa tidur, bingung apa yang harus ia lakukan. Padahal kalau tidur sore tanpa di suapin Liona pun ia bisa tidur.


Alan memakai jaket kulit yang biasa ia pakai, serta celana jeans panjang lalu menyambar kunci motor di atas nakas.


"Mau kemana?"


Cowok itu menghela nafas ketika Liona menghadang jalannya sambil berkacak pinggang, dahinya berkerut, tatapannya mengintimidasi, seolah-olah Alan adalah tawanannya.


"Main, bentar. Sekalian beli red Velvet."


"Ampun Alan...Alan.. besok itu udah hari H nya, loh! masa iya masih mau main?"


"Bentar aja."


Liona mengangguk terpaksa, "Jangan lama-lama, pulang harus bawa martabak manis." Ujarnya sambil mendaratkan bokongnya pada sofa.


Alan mengangguk, mengacungkan jari jempolnya pertanda ia mengerti apa yang dikatakan oleh Liona dan berjalan keluar dari rumahnya.


...----------------...


"Bi... Bi... Lo cantik, tapi sayang.."


Gavin melirik Bianca yang masih sibuk dengan ponselnya, ia sedikit kesal. "Woi! Bi! Lo cantik! tapi sayang-"


"Apa, sih?! Terus kalau gue cantik kenapa? Lo mau gue jawab sayang kenapa? Terus ntar lo bilang nggak kenapa-napa sayang?! Dih, Najis tau nggak?!" Sewot Bianca menatap Gavin kesal.


"Mampus," gumam Malvin mendengar perkataan Bianca.


Gavin mendengus, "Gak asih mah lo Bi..."


"Apa?!" Bianca menggeser duduknya, agar jauh-jauh dari cowok itu.


"Kalau mau baperin gue, salah server lo kayaknya." Cuek gadis itu memutar bola matanya jengah ketika Gavin berusaha menggodanya sedari tadi. Tenang, dia tak akan luluh dengan cowok yang modelnya seperti Gavin itu.


Sementara itu, Aira yang sudah lama bosan pun menghela napasnya gusar. Audrey selalu saja mengorbankan dia dan teman-temannya, lihatlah gadis itu, dia sedang bermesraan dengan Leo di pojok ruangan sana.


Aira menganalisir apa yang ada di dalam ruangan ini. Dia benar-benar pertama kalinya berada disini. Yang entah mengapa membuatnya sedikit ada rasa nyaman, tak tau itu apa.


Dimulai dari sofa panjang dan empuk, pengharum ruangan, dua kipas menyala, dan meja. Aira kira warung yang terletak di depan sekolah ini biasa-biasa saja, karena dilihat dari depannya pun memang begitu.


Namun ketika ia memasuki ruangan ini, ia sedikit terhenyak.


Siapa yang membuat ruangan ini ada? Dia tau, bahkan tahu sekali jika ruangan ini dulunya tak ada. Dulu sewaktu ia masih kelas sepuluh, ia sering jajan di warung Abah.


Warung Abah di depan sangat ramai, ada beberapa orang yang mungkin nongkrong. Dan entah mengapa ia benar-benar speechless ada ruangan lagi disini.


Bangunan yang tidak terbuat dari kayu seperti warung di depan, melainkan dari batu bata.


Semenjak ada segerombolan anak lelaki, termasuk Alan, ia jadi malas kesini.


Deg, Alan?


Seorang cowok memasuki ruangan ini membuat semua heboh seketika. Tidak hanya ada Gavin, Leo dan Malvin. Ada juga tiga cowok, mungkin teman sekelas mereka.


"Nah ini nih yang ditunggu-tunggu, lama banget kayak gue nungguin dia yang nggak peka-peka!"


Alan memutar bola matanya jengah mendengar suara Gavin.


"Ngapain nyuruh gue kesini?" Entah mengapa ia bertanya seperti ini, padahal jelas-jelas ia juga ingin disini.


"Kumpul doang, disini tanpa lo itu kayak gue tanpa dia."


Bianca yang berada tak jauh dari tempat duduk Gavin seketika memutar bola matanya malas, lihatlah, cowok itu sedang menatapnya dengan genit.


Astaga, sebenarnya ia ingin teriak karena melihat ketampanan Alan dari dekat. Di sekolah, ia hanya melihat cowok itu dari kejauhan walaupun kelasnya bersebelahan dengan kelas cowok itu.


Alan tak menanggapi perkataan Gavin, ia melepas jaketnya dan mengeluarkan sebuah bungkus rokok dari dalam saku celananya.

__ADS_1


Cowok itu membakar ujung rokok dengan korek api, lalu mengapitnya diantara jari telunjuk dan jari tengah.


Dia hanya bersandar pada dinding, mengepulkan asap rokok ke udara.


Aira melihat pergerakan Alan, cowok itu tiba-tiba saja duduk di sebelahnya yang membuat badannya bergeser, namun ia tak sadar jika di sebelahnya ada Dara.


Sehingga mau tak mau, tak ada jarak antara ia dan Alan.


Oh astaga, rasanya ia ingin menghilangkan diri saat ini.


Sepertinya cowok itu tak menyadari dengan adanya ia disini. Alan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Aira melirik cowok itu sekilas, dia seperti orang kelelahan saja.


"Males banget ketemu dia lagi," gumam Aira pelan.


"Gue juga."


Aira mengerutkan keningnya, kepalanya menoleh ke arah belakang. Menatap Alan yang juga menatapnya dengan tatapan yang datar. "Apaan sih lo!"


Alan menaikkan sebelah alisnya bingung, dimana letak kesalahannya?


Tidak ada yang memperhatikan Alan dan Aira, semua yang berada disini sibuk dengan urusan masing-masing. Gavin yang masih berusaha menggoda Bianca, Leo dan Audrey masih bermesraan, Malvin sibuk bermain game dengan Rian dan Adit.


Entah sejak kapan Dara terlihat akrab dengan Edo, dia memang tak kenal baik dengan kelas sebelah, yaitu mipa 1, termasuk kelas Alan.


Aira menyikut lengan Dara, nampaknya gadis itu sangat asik sekali dengan Edo. "Apasih Ai.. nyikut-nyikut mulu..."


Aira melotot, mana bicaranya kenceng lagi. Ia hanya bisa mengelus dadanya. "Ayo pulang." Bisiknya tepat di telinga Dara.


"Bentar, nanti aja, lagian dirumah gue sepi." Tolak Dara melanjutkan perbincangan nya dengan Edo yang terpotong.


Aira menghela nafasnya berat, entah sejak kapan ia mau saja dibodohi oleh Audrey. Mungkin akhir-akhir ini.


Gadis itu menyumpal kedua lubang telinganya dengan headset yang ada di dalam tas selempang nya. Mencolokkan kabel headset tersebut ke dalam lubang kecil di ponselnya.


Daripada diam saja, mungkin akan lebih baik jika ia mendengar musik.


Saat asik dan terbawa suasana oleh musik yang ia dengarkan, tiba-tiba seseorang menarik headset yang ia gunakan di telinga kanan, membuatnya terkejut.


"Apaan sih lo?! Sini balikin!!"


Aira melotot saat Alan memasang headset itu di telinga kirinya. "Diem."


Dia meneguk ludahnya kasar, sudah tidak ada jarak antara dirinya dan Alan lagi. Dengan pergerakan yang tak terduga, cowok itu menariknya untuk bersandar di sandaran sofa.


Aira menatap langit-langit ruangan ini, "Kanebo kering, lo..."


"Lagunya gak enak, basi."


Gadis itu melototkan matanya, tak terima mendengar perkataan Alan. "Ya kalau nggak enak ngapain lo masih denger?!"


"Gak ada kerjaan, bosen, ketemu lo mulu."


"Lo pikir gue enggak?!" Dengan kemarahan tingkat dewa, Aira merampas headset di telinga kiri Alan, membuat cowok itu membuka matanya.


"Manusia nggak tau diri!"


Dahi Bianca berkerut melihat Aira keluar dari sini, nampaknya cewek itu sangat terburu-buru. "Loh loh! Aira ke mana?! Dia nggak bawa mobil!"


"Taksi."


"Dia nggak bawa uang," sahut Dara.


"Bentar, gue anterin dia dulu,"


"Eittt! Kagak usah, biar Alan aja yang nganterin, dia kan nggak ngapa-ngapain, ya kan Lan?" Gavin menatap Alan, ia mencegah Bianca yang hendak berdiri.


"Males." Alan memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


"Kali ini aja loh Lan... Nggak lihat apa gue lagi meluluhkan hati ayang ebeb..." Alan ingin muntah sekali melihat wajah Gavin, segera ia berdiri dan keluar dari sini.


__ADS_2