Alaira

Alaira
12-Belanja


__ADS_3

"Cih!!"


Alan hanya melirik gadis itu, dia membuka map yang ia bawa dan memberikan beberapa lembar kertas kepada Aira. Gadis itu menerimanya dengan bingung


"Apaan nih?" Tanya Aira penasaran.


"Ck! Baca lah!" Ketus Alan kesal.


Tanpa basa-basi lagi Aira langsung saja membacanya, dengan sangat teliti, bibirnya ikut bergumam kecil ketukan membaca sebuah tulisan yang membuat dirinya terbakar api kemarahan.


Kira-kira beginilah isinya...


Perjanjian pernikahan


Pihak 1 adalah Alan, pihak 2 adalah Aira.


Jika salah satu dari pihak 1 maupun 2 melanggar aturan, maka wajib menerima hukuman yang ditentukan oleh pihak 1 atau 2.


...1. Pihak 2 tidak boleh membantah pihak 1...


...2. Pihak 2 tidak boleh bertemu lelaki lain tanpa sepengetahuan pihak 1...


...3. Pihak 2 harus selalu ada jika pihak 1 membutuhkannya...


...4. Pihak 2 tidak boleh melarang apapun yang dilakukan oleh pihak 1...


...5. Pihak 1 dan 2 membersihkan rumah sesuai jadwal yang telah ditentukan...


...6. Merahasiakan pernikahan dari teman sekolah maupun orang-orang di sekitarnya. ...


...7. Tidak boleh saling jatuh cinta....


"Kalau gini isinya, jelas-jelas buat gue semua aturannya!!" Marah Aira melempar barang itu.


Bisa-bisanya cowok itu membuat aturan seperti ini? Dia pikir dia siapa?


"Nggak usah protes."


"Gila lo kanebo kering!!!" Membayangkan saja Aira merasa tidak sanggup. "Nomor tujuh apaan sih! Lo kira gue bakal suka sama lo? Najis!!!" Teriak Aira berdiri di hadapan Alan.


"Sama, gua juga najis."


Aira melotot, "Gue nggak setuju!"


"Wajib setuju."


Gadis itu memajukan langkahnya, kini jaraknya dengan Alan hanya tinggal beberapa sentimeter. Entahlah, disaat dia yang maju, mengapa nyalinya berani?


"Atas dasar apa?"


Alan berdecih sinis, "Atas dasar gue suami lo,"


"Gue nggak mau." Aira menggeleng, tatapannya mendadak datar, tidak ada ekspresi wajah yang menyenangkan disana.


Cowok itu tersenyum smirk, menarik pinggang ramping Aira sehingga berdekatan dengannya, mendekatkan mulutnya di telinga Aira. "Dan gue nggak peduli, sebagai seorang istri, lo wajib nurutin apa kata gue, paham?"


"Gue.nggak.mau." ucapnya penuh tekanan.


Hal itu benar-benar membuat Alah melotot, dia mendudukkan tubuh Aira di atas sofa, lalu ia berjongkok, kedua tangannya berada di samping kepala Aira. Mengunci tubuh gadis itu dan hampir saja ia menindihnya.

__ADS_1


"Gi-gila..."


Aira tak tahu harus apa, entah sadar atau tidak ia menganggukkan kepalanya. Mungkin karena suasana yang canggung, bulu kuduknya berdiri ketika Alan membisikkan sesuatu di telinganya. ..


Ia benci, benci dengan dirinya sendiri karena harus menurut Alan.


"Gue yakin kalau lo bakalan suka sama gue, makanya gue buat peraturan kayak gitu, tepatnya di nomor tujuh."


Merinding, Aira benar-benar merinding mendengarnya.


"Lo—"


"Keluar."


...----------------...


"Gila kali ya tuh cowok, bisa-bisanya kepedean kalau gue bakalan suka sama dia. Awas aja lo, kanebo kering! Gue akan buktiin kalau gue nggak bakalan suka sama lo!"


"Eh—PANAS!!!"


Akibat mengoceh dengan rasa marah, Aira tak sadar jika kopi yang ia minum masih panas. Saat ia menaruh cangkir, tiba-tiba mogu muncul dan langsung melompat ke atas paha Aira. "Eitss!!"


Dia tertawa, sekaligus geli karena mogu memeluk lehernya. Bisa dibayangkan bukan? Seekor kucing yang sedang memeluk leher Aira? Sangat terlihat lucu


"Ke dalam yuk, ntar kalau kanebo kering tau, pasti ngamuk."


Saat Aira masuk ke dalam, langkahnya terhenti melihat Alan yang nampaknya sangat sibuk. Bahkan cowok itu tak menyadari jika ia sudah berada di dekatnya.


"Ikan siapa nih? Cocok banget buat makanan mogu."


Alan menoleh, "Makanan mogu head father you!!!" Dia melotot ke arah Aira.


Head father you? Pikir Aira dalam hati.


"Emang punya siapa sih? Kalau dilihat-lihat emang enak  kalau di goreng, mana gue laper banget." Ujar Aira melihat sebuah ikan mas di dalam akuarium yang terlihat indah.


"Minggir! Jangan deket-deket sama Meli!"


"Meli?" Dahi Aira berkerut, dia mundur perlahan karena wajah garang Alan sangat berpengaruh terhadap dirinya saat ini.


"Duduk." Alan menunjuk kursi sofa di ruang tamu itu, Aira menggeleng. Kedua kalinya, Alan menatap Aira dengan tatapan yang sangat menyeramkan.


Apalagi ia mengingat kejadian tadi


Aira melotot, seperti sedang terhipnotis oleh Alan, dia berjalan menuju sofa dan mendaratkan bokongnya di atas sofa tersebut.


Gue bodoh banget, ngapain gue disini? Ngapain harus nurut kanebo kering?


Aira menggaruk rambutnya, bunyi aneh di perutnya membuat ia mengelus perut ratanya itu.


"Selesai." Alan membereskan barang-barang yang berserakan.


Cowok itu berbalik, menatap seorang gadis di sofa itu.


"Ganti baju, kita keluar."


Aira mendongak, belum sempat ia protes, Alan sudah tidak ada. Nampaknya cowok itu masuk ke dalam kamarnya.


Beberapa menit kemudian, Aira mendapati Alan yang kini sudah mengganti bajunya. Cowok itu hanya menggunakan celana jeans selutut dan kaos hitam yang berbalut jaket kulit.

__ADS_1


Kedua mata Alan melotot, dia melayangkan sebuah remote televisi ke arah Aira. "Setan! Udah dibilangin ganti baju malah enak-enakan disini!!!"


"Lo nyuruh gue? Gue kira lo nyuruh meli." Gumam Aira yang masih di dengar oleh Alan.


"Sialan!!! Lo kira gue mau keluar sama ikan?!"


Aira terjingkat, sesekali tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Alan. Dia langsung bangkit dari duduknya ketika Alan melayangkan remote televisi itu.


"Meli itu, ikan toh!" Teriak Aira di dalam kamar sembari tertawa keras.


...----------------...


"Totalnya seratus ribu mas."


Setelah Alan membayar apa yang ia beli di supermarket ini, dia pun menerima sekantong kresek putih.


Namun ia tak kunjung pergi karena masih melihat Aira yang sedang sibuk berbicara dengan seseorang disana. Jika dilihat-lihat, orang itu adalah petugas di supermarket ini.


Tak lama kemudian ia menghampiri mereka berdua.


"Ayo."


Perbincangannya dengan cowok di depannya seketika terpotong, "Eh, pulang duluan aja, gue mau disini."


Alan mengerutkan dahinya, "Ngapain?"


Aira menatapnya tak suka, "Suka-suka gue lah."


Cowok di depannya itu nampak kebingungan. "Eh, Don, kalau ada waktu kita nongkrong aja."


"Iya Ai—"


"Maaf, pembantu gue banyak kerjaan."


Aira melotot ketika tiba-tiba Alan menyeretnya keluar dari supermarket itu. Setibanya di luar, Aira menatap marah kepada Alan. "Sinting lo! Berani-beraninya ngatain gue pembantu!"


"Banyak omong." Cibir Alan.


Di dalam mobil, tak ada yang memulai percakapan. Alan fokus menyetir mobil dan Aira pun hanya menatap ke arah jendela. Toh mungkin lebih baik seharusnya mereka berdua diam dan tidak bertengkar lagi.


"Temen lo?"


"Hah?" Aira menoleh tak mengerti, menatap Alan penuh tanya. "Lo kalau ngomong yang jelas dong!"


"Mas-mas tadi, temen lo?"


Mendengar itu Aira mengangguk, "Oh.. Doni toh.."


"Enggak sih, kebetulan gue sering banget belanja kesana dari dulu.. nah si Doni itu orangnya enakan banget, makanya gue gampang akrab sama dia.


Alan memutar bola matanya jengah, "Centil banget lo."


Mendengar nya Aira sungguh tak terima, "Kalah itu bilang dong!!"


"Nggak banget." Cuek Alan.


Beberapa menit kemudian, tak ada obrolan lagi. Setelah sampai di rumah mereka, Alan dan Aira membawa barang bawaan masuk ke dalam.


Hari sudah petang, Alan segera menutup pintu rumahnya. Sementara itu, Aira sedang membersihkan diri. Lalu Alan yang kini tengah merapikan barang-barang yang tadi ia beli di dapur.

__ADS_1


Sebenarnya bisa saja disebut dunia terbalik antara rumah tangga Alan dan Aira.


__ADS_2