
"Saya terima nikah dan kawin nya Aira Meisha Adijaya binti Pram Adijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Aira bergidik ngeri ketika mengingat suara Alan yang terdengar asing di telinganya. Ijab kabul itu adalah ijab kabul yang tak dinantikan oleh Aira.
Walaupun ia merasa ini aneh, tapi ia hanya ingin menikah hanya satu kali.
Sayangnya pernikahan ini terjadi dengan orang yang bukan ia cinta, lelaki yang bukan pilihannya sendiri. Mulai hari ini, dia resmi menjadi istri seorang Alano Galaksi William, cowok yang paling ia benci dari banyaknya lelaki di dunia ini.
Sedari tadi ia menahan untuk tidak mengeluarkan air matanya. Bukan air mata haru karena pernikahan, tetapi tentang, mengapa harus dia?
Pernikahan ini dilakukan di dalam rumah Alan, nampaknya tak banyak tamu yang di undang. Hanya tamu-tamu terpenting dan tertentu saja yang datang. Seperti rekan kerja mereka contohnya.
Semalaman ia tak bisa tidur, entah memikirkan apa. Dia tak tahu selanjutnya bagaimana. Apakah masa mudanya kini tersita untuk suaminya nanti? Memikirkan itu ia jadi geli sendiri.
Harusnya tak perlu dipikirkan, mungkin bisa saja Alan tak peduli dengannya.
Sekarang ia sedang duduk di salah satu kursi khusus untuk pengantin, ada Alan yang baru saja menduduki kursi di sebelahnya.
Tidak ada percakapan sama sekali setelah ijab kabul tadi. Dia dan Alan benar-benar seperti orang asing. Tidak semacam pengantin pada umumnya, Aira dan Alan malah berjauhan.
Pernikahan dilaksanakan pada pukul sembilan pagi, itu artinya Aira dan Alan tak sekolah. Pernikahan ini tak begitu megah, kedua pihak keluarga juga menyepakati bahwa pernikahan yang dilakukan hanya ada acara kecil.
Tepat pukul satu siang Aira dan Alan mengantarkan para orang tua di bandara untuk terbang ke negara lain, yaitu Australia.
"Ai belum siap, Ma...." Aira tak kuasa menahan tangisnya, ia memeluk Anjani dengan sangat erat, seolah-olah Anjani tak boleh pergi.
"Udah gapapa, sekarang kan ada suami kamu." Anjani tersenyum melihat Alan yang sedang berbincang dengan Liona dan Aldi.
"Mama yakin dan percaya kalau Alan itu anak baik, Mama sama Papah nggak mungkin milih orang yang salah buat anak kita. Kalau ada masalah jangan ngilang, soalnya kamu itu ngilang mulu. Harus diselesaikan dengan baik, jaga kesehatan kamu juga."
Baik apanya?!
"Ta-tapi..."
"Pesawatnya bentar lagi terbang, sebaiknya kita langsung kesana." Ujar Pram tiba-tiba menghampiri Aira dan Anjani.
Aira mengusap jejak air matanya, "Ganggu mulu."
...----------------...
Aira terbengong, melihat sebuah bangunan di depannya. Tangan kirinya memegang gagang koper miliknya yang berisi baju-bajunya, lalu tangan kanannya ia gunakan untuk menggendong mogu, kucing peliharaannya.
Dia menatap langit sore yang mendung, seakan-akan menggambarkan keadaan Aira saat ini. Wajahnya murung sejak tadi, entah, apa yang membuat hatinya resah sampai tak berbicara setelah dari bandara tadi.
Tuk!
"Ngelamun apa?"
Aira mendelik, melihat wajah Alan yang tiba-tiba berada tepat di depan wajahnya. Kini cowok itu berada di sebelahnya dengan jarak yang lumayan jauh.
Alan melipatkan kedua tangannya, menatap rumahnya.
"Sebenarnya gue males ngomong, tapi ini bener-bener dari hasil keringat gue sendiri. Emang nggak terlalu mewah, tapi cukup buat kita berdua. Kalau lo nggak bisa tinggal disini, gue persilahkan untuk tinggal di kolong jembatan." Alan menghela nafasnya berat.
Aira melotot lebar, bisa-bisanya dia mendapatkan suami sepertinya?? Aira masih terdiam, membuat Alan sedikit geram.
"Masuk."
Aira ingat, Alan sudah menjadi model sejak cowok itu masih smp. Sebuah info yang ia dapat dari Mamanya, bukan dia yang ingin tahu, tapi sang Mama yang bercerita tentang Alan terus menerus.
Dan kata Audrey, Alan itu suka balapan dan selalu menang. Tak heran jika cowok itu dapat membeli rumah yang lumayan.
Rumahnya yang dulu telah di kontrak kan, begitupun juga rumah Alan. Sebenarnya bisa saja ia mengajak Alan untuk tinggal di rumahnya, tetapi Mama dan Papa nya kukuh untuk mengontrakkan rumah itu.
__ADS_1
Tapi percuma juga, toh ia dan Alan juga sudah pindah di rumah yang baru.
"Disuruh masuk malah jadi patung." Ketus Alan sembari mengambil sebuah barang di bagasi mobil. Ada juga Pak Adam yang membantu mereka membawa barang-barangnya.
Perlahan kaki Aira yang awalnya sangat kaku pun memasuki rumah tersebut.
Rumah ini tak bertingkat seperti rumahnya. Namun bangunannya sangat luas dan besar, halaman di depan juga begitu luas, ada banyak tanaman yang membuat menjadi lebih indah dan enak dipandang.
"Udah Pak, Pak Adam boleh balik. Katanya mau pulang kampung, makasih ya pak udah mau bantuin Alan sama Aira."
"Iya mas Alan, sama-sama kalau gitu saya pamit pulang."
Samar-samar Aira mendengar percakapan Alan dan Pak Adam yang membuat ia memutar bola matanya jengah.
"Sok baik." Gumamnya sambil mengelus-elus bulu lembut mogu di atas sofa. "Btw sofa nya empuk juga."
Dia melihat sekelilingnya yang di penuhi oleh barang-barangnya dan milik Alan. "Gedeg banget gue liatnya, ngapain nggak nyuruh orang aja!" Ketus Aira kesal kalau nantinya ia akan mengemasi barang-barang nya sendiri.
"Ai—Loh loh! Ngapain ada kucing disini?!" Tunjuk Alan pada Mogu.
Aira terjingkat, hampir saja ia melempar Mogu karena teriakan itu. "Apaan sih lo teriak-teriak!!"
"Ha... Hatchingggg!!!!"
Gadis itu tertawa terbahak melihat Alan yang bersin terus, seperti yang dialami di mobil tadi. "Ck, buang gak!"
"Apanya?!!" Aira melotot, dia berdiri tak terima. Alan reflek mundur ketika cewek itu perlahan mendekati nya. Perasaan tadi dia sudah menyuruh Pak Adam untuk membawa kucing itu kembali.
Senyum jahil terbit dari bibir Aira, ia terus mendekati Alan sampai cowok itu menabrak dinding. Alan menutup hidung dan mulutnya dengan kaosnya. "Pergi gak lo!!!"
"Bisa takut juga ternyata!" Aira tertawa, dia mencodongkan Mogu di depan wajah Alan. Tak berlangsung lama karena Alan langsung menepis kucing itu sehingga mogu terlempar.
Dengan sergap ia memegang kedua pundak Aira dan membalikkan posisinya, sehingga kini Aira terkunci oleh tubuh Alan.
Glek, Aira menelan ludahnya dengan susah payah, kedua matanya mendelik melihat wajah Alan yang berada di depannya. Sungguh jarak yang dekat, Aira tak tahu harus berbuat apa, ingin berbicara namun mulutnya seakan terkunci dengan sendirinya.
"Le-lepasin!" Berontak Aira, dia tak bisa kabur karena Alan menahannya.
"Terserah gue, kita udah halal kan?"
Cewek itu semakin melototkan matanya, senyuman yang Alan terbitkan adalah senyum yang sungguh seram.
Dia menunduk, "A-apaan sih lo! jauh-jauh lo dari gue, mulut lo masih bau jigong tau!"
Alan tertawa mengejek, ia melepaskan kedua tangan Aira. "Makanya nggak usah cari gara-gara, taruh kucing itu di luar, gue nggak mau lihat dia di dalam rumah ini."
Suara Alan terdengar begitu dingin dan tegas.
Aira yang kembali menggendong mogu pun tak terima, dia menghampiri Alan, namun Alan melarang cewek itu untuk mendekatinya. "Stop."
"Apa-apaan! Nggak! Gue nggak mau kalau mogu nggak di sini!"
"Ya udah, tidur di luar."
Kedua bola mata Aira mendelik, "Berani-beraninya lo?!"
"Berani, emang kenapa?" Alan melipatkan kedua tangannya di bawah dada, menatap cewek itu dengan tatapan tajam.
Jarak antara dia dan Aira benar-benar jauh, dia menempel pada dinding dan Aira pun sama. Keduanya terpisahkan oleh sofa yang berada di tengah-tengah ruang tamu ini.
"Sama kucing aja takut, masih sok-sokan juga!!!"
Alan terdiam, dia memakai masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Kemudian ia melangkahkan kakinya menghampiri Aira. "Kalau lo nggak mau, tidur di luar."
__ADS_1
Aira masih memeluk mogu, "Enak aja! Kenapa nggak lo aja, biar gue disini sama mogu dan lo terbebas dari mogu." Ujar Aira enteng sambil mengelus kepala kucing itu.
Heran sekali dia, padahal Mogu sangat lucu, tapi mengapa Alan malah tak suka??
"Keluar."
Alan menyeret kaos Aira, membawa gadis itu ke luar rumah.
"KANEBO KERING!!!!!"
"LAN LEPASIN!"
Alan melepaskan tangan Aira yang memerah, dia melipat kedua tangannya di bawah dada sambil menatap cewek itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aira melepaskan mogu, dia mengelus tangannya yang terasa sedikit sakit. Perlahan ia mengangkat kepalanya, sehingga terlihat jelas wajah sembab gadis itu. "Kenapa gue harus nikah sama lo?"
"Kenapa disaat gue masih muda harus jadi istri orang? kenapa lo mau aja? kenapa lo nggak nolak? kenapa—"
"Lo pikir gue mau?!" Teriak Alan tepat di depan wajah Aira. "Jangan merasa sok paling tersakiti deh, kalau gue nggak dipaksa, gue juga nggak bakalan mau sama lo. Lo bukan tipe gue, lo itu manja, keras kepala, selalu pengen dimengerti tapi nggak pernah ngertiin orang lain. Lo selalu egois. Setelah menikah, tanggung jawab gue semakin besar. Jadi stop untuk merasa yang paling tersakiti disini."
Brak!!
Tanpa sepatah kata lagi, Alan menutup pintu rumah dan langsung menguncinya.
Aira tak habis pikir, mengapa ada cowok setega dia??? Sekarang dia sedang duduk di kursi teras rumah sambil memangku mogu.
Termenung memikirkan ucapan Alan tadi. Baru kali ini cowok itu berkata serius tentang pernikahan. Dia jadi tak enak hati, tapi kembali lagi dengan ego nya.
Aira tak peduli, karena dia juga tidak akan menaruh hati pada Alan walaupun dia sudah menjadi suaminya.
...----------------...
Aira bolak-balik mengintip dari balik jendela luar, ini sudah jam sembilan malam tetapi Alan belum juga membuka pintu rumah.
"Alan?"
"Kanebo kering! Bukain dong pintunya!!!" Teriak Aira sambil mendobrak pintu rumah.
Ceklek! "Masuk."
Aira melihat Alan yang sudah berganti pakaian, dia menatap Alan dengan sinis.
"Bawa masuk." Cegah Alan saat Aira hendak masuk ke dalam rumah. "Hah?" Tanya Aira tak paham.
"Mogu."
"Beneran?!" Kedua mata Aira berbinar cerah.
Alan mengangguk singkat, "Kamar lo sebelah kanan, taruh dia di kamar lo, pastiin jangan sampe keluar." Setelah mengatakan itu, Alan pergi dari hadapan Aira.
Cewek itu menghela nafasnya berat, dia menggendong Mogu dan langsung memasuki rumah itu. Aroma pengharum ruangan langsung memasuki hidung Aira tanpa ijin, dia memejamkan matanya sejenak menikmati aroma ini yang sangat sejuk dan segar.
Dia mengedarkan pandangannya di semua sudut ruangan. Barang-barang yang tadinya tak ada kini tiba-tiba ada dan tertata rapi, sepertinya tadi Alan sedang bersih-bersih.
Ia berjalan melihat dapur, sudah ada alat masak yang juga tertata dengan rapih. Meja makan berdekatan dengan kulkas dua pintu. Dapur ini tak begitu luas seperti rumahnya, tapi terlihat minimalis dan nyaman.
Di depan sofa ada televisi, ada juga vas bunga mawar yang terletak di atas nakas dekat televisi tersebut.
Setelah membuka pintu kamarnya, Aira merasa deja vu, aroma kamar ini sama persis dengan aroma di kamarnya dahulu.
Bulu kuduknya berdiri seketika. Sangat rapih dibanding kamarnya dulu. Di sebelah bed cover ada sebuah nakas dan lampu tidur. Gorden hitam yang menutupi jendela, kemudian sofa kecil yang terletak di pojok ruangan. Tak lupa dengan meja rias dan meja belajar.
Bertepatan dengan itu, Mogu meloncat darinya dan langsung menempati tempat tidurnya.
__ADS_1
"Lumayan rapi." Gumam cewek itu lalu memasuki kamarnya. Ada sebuah koper berisi baju-bajunya yang ia bawa dari rumah tadi.
Ia mengelus dadanya lega, untung saja Alan tak membuka kopernya.