
"BRENGSHAKEEEE!"
Aira memasuki kelas sambil menendang meja, semua terdiam. Lalu melanjutkan kesibukannya masing-masing, tak kaget dengan Aira. Pasti dia sedang mode marah.
"Kenapa sih Ai?" Tanya Bianca sambil berkaca pada cermin kecil yang selalu ia bawa.
"Sialan tuh cowok! Bikin gue uring-uringan aja! Moga aja gue nggak dapat suami kayak dia, gedeg banget bawaannya."
"Si..siapa? Siapa?" Desak Dara. Audrey ikut nimbrung di meja Aira dan Bianca. Dia menyeret kursinya sendiri untuk tidak berdesakan. Beda dengan Dara yang memaksa Bianca untuk menggeser bokongnya.
"Kanebo kering."
"Oh... Emang kenapa?"
Aira memandang Dara dengan tatapan tajamnya, Dara hanya menatapnya heran. "Diem lo!!"
"Sabar... Tenang... Tenangin diri lo Ai, bismillah setannya ilang!" Audrey berlagak seperti seorang dukun.
Bianca melotot, "Sana lo! Lo yang ada setan' nya!" Usir gadis itu galak.
Yang di usir Audrey, yang kembali ke tempat duduknya malah Dara. Nyali Dara emang ciut banget ya?
"Sumpah!! Gue kesel banget!"
Nampaknya Aira masih dalam mode marah, cewek itu menatap lurus ke depan dengan tatapan mata yang sangat tajam. Wajahnya memerah, mungkin bisa saja tanduknya akan keluar.
"Nanti lo masih nginep ke rumah gue nggak?"
Aira meredakan emosi nya, ia menatap Bianca. Kemudian menggeleng pelan.
Selama lima hari sebelumnya, ia memang menginap ke rumah Bianca. Dia lagi kabur dari rumah karena tak mau di jodohkan. Bayangkan saja? Bagaimana bisa ia akan menikah di usia belasan?
Yang lebih parahnya lagi, Papa dan Mama nya tak mencari dirinya seolah ia adalah anak yang terbuang.
Padahal berharapnya mereka mencarinya, dan langsung membatalkan perjodohan konyol itu.
Aira kembali termenung. Dia memang bahagia karena punya segalanya, tetapi mengapa hal semacam ini harus ada di dalam hidupnya?
Bahkan untuk berpacaran saja ia tak ingin, lalu mengapa kedua orang tuanya tiba-tiba menjodohkannya dengan orang yang tak ia kenal? Tentu saja Aira marah, dan akhirnya ia kabur dari rumah menginap di rumah Bianca.
Walaupun ia akrab dengan Bianca, ia juga ada rasa tak enak, apalagi dengan kedua orang tua perempuan itu.
Sebelumnya kartu miliknya bisa digunakan, entah mengapa hari ini tak bisa. Yeah, mungkin saja Papanya mem-block semua kartu atm, debit, dan lainnya.
"Gue mau pulang aja,"
"Seriously?"
Aira mengangguk, semua sahabatnya tak tau mengenai hal ini.
...----------------...
__ADS_1
"Lan, dari mana aja?"
Itu suara Gevan, ketika melihat Alan yang baru saja memasuki kelas dan langsung duduk di sebelahnya.
"Menurut lo?"
Seperti biasa, Alan meletakkan kepalanya di atas meja, di dalam kedua lipatan tangannya.
"Menurut otak gue yang ada di dalam kepala, gue harus mengatakan kalau gue nggak tau."
"Alay!" Leo memukul kepala Gevan dengan sebuah buku paket tebal.
Gevan kesal dan reflek membalas Leo dengan apa yang dilakukan oleh cowok itu, kedua matanya melotot lebar seolah bola matanya ingin keluar dari tempatnya.
Gevan menghadap ke belakang, pada bangku Malvin dan Leo. "Lo yang Alay! Ke warteg aja pake kemeja, pake tank top dong biar pro!"
Leo hanya memutar bola matanya, Gevan selalu saja membahas hal yang dulu. Padahal itu kejadian seminggu yang lalu, waktu ia bertemu Audrey di warteg depan gang.
Lalu tak sengaja melihat Gevan yang ada di sana juga, ia kesal abis, Gevan mencaci maki dia di warteg pada saat ada banyak orang.
"Lan, nanti masih nginep di rumah gue nggak?" Malvin melepaskan kacamata. Mata cowok itu agak minus dikit. Jadi jika membaca buku atau saat pelajaran di kelas, ia akan menggunakannya.
Bukan seperti Ehsan dan Mei-Mei yang memakainya setiap saat. Nanti dikira ia wibu.
Alan menggeleng, ia tak sepenuhnya tidur.
Hanya saja sedikit pegal. Selesai cuci piring tadi, Ningsih menyuruhnya untuk membeli es batu di depan sekolah dengan Aira.
Tapi cewek gila itu malah kabur tanpa pengawasan nya.
Menikah tanpa cinta, benar-benar bukan hal yang ia inginkan dari dulu.
"Lah? Lo nginep ke rumahnya si Malpin? Nggak ajak-ajak lo parah sih, kan bisa numpang makan."
"Nah, ajakin tuh si Gevan, dia kan beban keluarga. Sukanya habisin beras mulu." Imbuh Leo menahan tawanya yang akan meledak, melihat wajah Gevan yang begitu memuaskan baginya.
Anggap saja ini setimpal dengan apa yang dikatakan Gevan tadi.
...----------------...
Aira turun dari motor ojol, untungnya ia masih menyimpan sedikit uang yang tersisa. Yeah, sedikit, cuman dua puluh ribu saja.
Ia menatap bangunan yang besar di hadapannya saat ini, geleng-geleng kepala. "Ckck, rumah sebesar ini gue naik ojek. Mana helmnya bau basin lagi,"
Dia melangkah, setelah menyuruh Nanang untuk membuka kan pagar rumah nya, ia pun segera masuk setelah bercakap-cakap sedikit dengan Nanang—satpam sekaligus penjaga gerbang di rumahnya.
Di halaman rumahnya, tepat di taman ada Bi Asri yang sedang menanam bunga.
Sebelum menekan bel rumah, ia menarik nafasnya dahulu. Hanya beberapa hari tidak pulang, mengapa dia sangat deg-degan untuk memasuki rumah itu lagi?
Nggak mungkin kan kalau ketemu sama setan.
__ADS_1
Bel sudah ia tekan, kini pintu besar itu terbuka, menampilkan wanita yang sudah lumayan tua memakai setelan seragam untuk para asisten rumah.
"Loh loh? Mbak Aida?!"
"Aira, bik." Bingung sama mbok Iyem, efek tua apa gimana ya? Selalu lupa namanya padahal sudah bertahun-tahun kerja disini.
"Iya iya, mbak Aira, silahkan masuk."
Aira memasuki rumah itu, disana, di sofa yang nampak mewah itu ada Pram—Papahnya, lalu Anjani—Mamahnya. Aira mendekati nya, "Pah! Kenapa kartu Aira nggak bisa digunain?!"
Gadis itu menaruh tasnya dan terduduk di sofa.
"Siapa yang nyuruh kamu duduk?" Suara dingin dan tegas Pram, membuat Aira meremas ujung roknya, dan perlahan mulai berdiri dari duduknya.
"Mah...." Rengeknya, berharap Anjani menolongnya. Anjani menggeleng, pertanda bahwa beliau tak bisa memenuhi permintaan anaknya.
"Jadi gimana? kamu udah balik ke rumah. Berarti siap untuk menerima perjodohan itu?"
"Yaelah, Pah, Aira kesini cuman minta uang aja kalik." Gadis itu mencoba untuk tertawa, tetapi reaksi Pram membuat ia terdiam.
"Ai, nggak semua hal bisa di bercandain."
Aira terdiam, berdiri tegak namun badannya sedikit gemetar. "Kenapa harus Ai? Kenapa nggak bang Arga? Ai belum cukup umur Pah..." Diakhir kata, suaranya mendadak lemah.
Pram mengangguk. "Kamu pikir pihak sana punya anak gadis? Kamu mau Bang Arga menikah sama laki-laki?"
"Papa benar-benar nggak ada pilihan lain, Ai."
Aira memalingkan wajahnya, dengan gerakan cepat ia mengambil tasnya dan berlari menaiki tangga.
Setelah sampai di kamarnya ia melempar tas itu ke sembarang arah, sehingga mengenai vas bunga dan akhirnya vas itu pecah.
Aira langsung berada di atas king size bed nya dengan posisi tengkurap. Menangis adalah hal yang ingin ia lakukan sejak tadi, sejak menatap Pram.
Menangis tanpa suara itu sangat sakit, membuat dadanya semakin sesak.
Ia menutup kepalanya dengan selimut, ketika seseorang datang dan membuka pintunya. Ia yakin itu Anjani.
"Aira..." Panggilnya dengan suara yang sangat lembut, beliau duduk di pinggiran kasur.
"Mama tau ini sulit buat kamu. Tapi perjodohan ini nggak bisa kita batalin, Ai. Bukannya kita memaksa kamu, tapi emang ini harus terlaksana. Perjanjian dari kakek kamu dan sahabatnya harus ditepati. Kamu tau kalau sebuah janji nggak ditepati? Kita yang akan kena dampaknya, Ai."
Aira terisak, "Kakek udah nggak ada, Mah!"
"Tapi janji itu masih ada, Ai. Kamu tau? Itu adalah pesan terakhir dari Kakek. Kalau kamu sayang kakek, pasti kamu akan menerima semua dengan senang hati."
Gadis itu tetap tak mau menunjukkan wajahnya, dia masih dalam keadaan menangis.
Benar sekali, dulu waktu kecil ia berjanji kepada sang kakek untuk selalu memenuhi permintaan Kakeknya. Ia sangat sayang dengan mendiang kakeknya. Saat beliau meninggal, hari-harinya mendadak jadi sepi karenanya.
"Ai... Mama tau ini berat, kali iniii aja kamu turuti permintaan kita sebelum Papah dan Mama pergi ke Australia."
__ADS_1
"Ai..." Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya, terpampang jelas wajah sembabnya.
"Ai terima...."