Alaira

Alaira
4-Ketemu sama calon?


__ADS_3

"Beneran, sekarang??"


"Iya, baju kamu udah Mama siapin di kamar. Mandi dulu terus nanti Mama minta mbak Rina buat dandanin kamu." Kata Anjani, menatap anak gadisnya.


Pupil mata Aira membesar,l seketika, "Mah, nanti kalau calon suami Aira om-om gimana? Ihh, kan kesel jadinya. Nggak apa-apa sih kalau om-om nya kayak om-om Korea," gadis itu menatap langit-langit ruangan sambil tersenyum, berhalusinasi.


"Ngaco!" Anjani membuyarkan lamunannya, Aira cemberut, sambil menghentakkan kakinya kesal.


"Kan sayang cantik-cantik gini dapetnya om-om tua, lagian Mama nggak mau nunjukin fotonya sih!" Sebal Aira. Ia masih enggan beranjak walau sang Mama terus menerus menyuruhnya untuk segera bersiap.


Anjani menepuk keningnya, "Nggak mungkin tua, dia seumuran sama kamu."


"Ih tetep aja, Mama nyebelin banget perasaan, Aira doain besok nggak dapat arisan!"


Anjani mengelus dadanya sabar, harus tahan emosi, lagi seneng soalnya.


...----------------...


Alan terburu-buru memasuki rumahnya setelah menaruh motornya di garasi rumah. Ia melepas jaketnya, pandangannya langsung tertuju pada Liona dan Aldi yang sedang duduk di sofa panjang.


Alan menghela napas, dia pun mendaratkan bokongnya di sofa panjang yang empuk ini.


"Eh, Alan?" Aldi mendekati anak lelakinya itu.


"Lan, ganti baju gih, yang rapih biar keliatan ganteng."


Alan hanya mengangguk, "Sekarang?"


"Tahun depan Lan," ujar Aldi dengan muka yang masam.


"Pah, beneran sekarang? Nggak terlalu cepet? Gimana dengan impian Alan, Pah?" Suara Alan mulai terdengar serius, sangat berat.


"Lan, Papa tau kamu itu lelaki sejati. Dan lelaki sejati itu nggak akan mengingkari janji yang dia ucapkan, dan, mengerti apa itu tanggung jawab."


Alan menunduk, baru kali ini ia sedikit keberatan dengan permintaan Kakek, dan kedua orangtuanya.


"Alan..."


"Kamu anak baik, Alan. Papa sama Mama juga pingin yang terbaik buat kamu. Entah ini tradisi dari keluarga kita, atau Kakekmu dan sahabatnya membuat perjanjian semacam ini. Yang harus kamu tau, dulu Papa dan Mama juga dijodohin, Lan."


Alan terhenyak, merasa ada yang aneh. Dia baru tahu bahwa dulu mereka juga dijodohin. Ia menatap Aldi dan Liona, mereka berdua terlihat. Lantas bagaimana rasanya menikah dengan orang yang tidak kita cintai?


Apakah besok ia akan seperti Papa dan Mamanya yang saat ini saling sayang dan saling cinta?


Alan tak tahu, Alan sudah kehabisan cara. Ia hanya ingin mengabulkan permintaan Kakek.


Cowok itu menghela nafasnya gusar.


"Ya udah."


Aldi mengangguk lalu tersenyum, menepuk bahu kanan Alan. "Calon kamu cantik," seringai kecil muncul di bibir Aldi.

__ADS_1


Alan sungguh malas menatapnya, lagian maupun cantik, toh dia juga nggak akan tertarik.


"Alan tidur lima menit," Saat cowok itu hendak menutup matanya, buru-buru Aldi menarik tangan Alan.


"Nggak bisa, udah, sana mandi dulu terus ganti baju yang sopan! Kita berangkat sebentar lagi." Aldi memaksa agar cowok itu berdiri dari duduknya.


"Iya-iya, bawel!" Kesal Alan.


Aldi dan Liona tersenyum melihat Alan yang berjalan di tangga menuju ke kamarnya.


"Hah... Akhirnya.." Senyum bahagia Aldi kini muncul lagi. Setelah beberapa hari ini tak bisa tidur, dan kerjaan numpuk, kabar ini membuat ia membaik.


...----------------...


Seorang gadis berambut sepunggung berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Dia menggigit jari telunjuknya untuk menghilangkan kegelisahannya. Kedua bola matanya melirik ke sebuah jam dinding unik yang menunjukkan pukul tujuh malam.


Sebuah gaun pendek berwarna merah maroon sangat cocok di tubuh indah milik Aira. Sebenarnya, dia ogah pakai ginian.


Gaun itu terlihat sederhana, tanpa ada lengan, lalu ada pita kecil di bagian pinggang nya. Tetapi sangat pas di badan Aira, sangat cocok dengan riasan wajah yang ia pakai.


Tak terlalu menor, Aira tak suka itu. Ia hanya memakai bedak, lip gloss, dan blush on tipis-tipis. Tak banyak, namun Aira sangat terlihat cantik malam ini. Rambut yang ia biarkan tergerai membuat kecantikannya makin bertambah.


"A-AIRA?!!"


Gadis yang dipanggil 'Aira' itu terjingkat kaget. Menoleh ke arah seorang pria paruh baya yang sedang berjalan kearahnya.


"Ngapain sih, manggil aja udah kayak mau siaran sekampung."


Pram dan Aira sudah berbaikan. Memang, tadi Pram sangat berbahagia mendengar kabar kalau anaknya itu menerima perjodohan nya.


Bapak dan anak itu sebenarnya tak tahan jika marahan terus.


"Ngarep banget, muka udah keriputan aja masih—"


"Udah cukup, nggak mau denger." Potong Pram dengan kesal. Daripada harus mendengar omongan pedas ala Aira.


Seorang wanita paruh baya berjalan menuruni tangga membuat Aira dan Pram mengalihkan perhatiannya pada wanita itu. "Wah wah, emak gue paling best banget!" Seru Aira.


Anjani tersenyum, menyelipkan anak rambut di belakang telinga, kemudian menunjukkan raut wajah galak nya. "Jangan basa-basi, mereka udah nunggu loh."


Senyum Aira luntur seketika.


...----------------...


Di mobil, Aira tak membuka suaranya sekalipun. Jika ditanya oleh Pram dan Anjani, ia hanya menjawabnya dengan anggukan ataupun gelengan kepala.


Ia terus memperhatikan ke arah jendela mobil, haruskah ia pasrah dengan semua ini? Mengapa harus dia?


Hari ini, ia akan bertemu dengan calon suaminya nanti. Aneh bukan? Padahal ia masih tak mau menikah di usia muda. Tak tau bagaimana wajah calonnya itu. Aira hanya ingin melaksanakan pernikahan satu kali dalam hidupnya.


Bagaimana jika kalian berada di posisi Aira? Sangat sulit bukan? Di satu sisi ia tak mau membuat kedua orang tuanya kecewa dengan nya.

__ADS_1


Namun... Menikah tanpa cinta adalah hal yang sangat buruk.


Aira hanya ingin menikah dengan orang yang ia cintai, dengan orang yang mencintainya. Bukan seperti ini.


Satu yang ingin Aira lakukan, tetapi tak bisa, yaitu kabur.


Disatu sisi ia ingin memenuhi permintaan Kakeknya, tetapi di sisi lain, ia tak ingin menikah.


Pram dan Anjani saling bercanda gurau. Entahlah, mood Aira sangat buruk sekali. Mobil berhenti di depan sebuah restoran ternama.


Pak Adam—selaku sopir pribadi membukakan pintu untuknya. Perlahan Aira turun dan keluar dari mobil, saat itu juga ia merasakan angin yang berhembus kencang sehingga membuat rambut yang ia gerai rapi kini sedikit berantakan.


"Ra, Mama cuman pengen yang terbaik buat kamu." Tiba-tiba Anjani datang menghampiri Aira dan menggandeng tangan Aira. Melihat Aira yang sedari tadi diam di mobil, membuat beliau khawatir.


Aira melepaskannya, kemudian membuang mukanya.


Anjani menghela napas, elusan lembut di bahunya membuat ia tersenyum kepada Pram.


"Yuk, masuk, pasti kamu nggak sabar."


Dengan langtah yang sangat terpaksa, Aira berjalan mengikuti Pram dan Anjani. Sempat ia berpikir untuk kabur, namun kedua mata Anjani selalu mengawasinya dan membuat nyalinya menciut. Belum lagi kedua pengawal pribadi yang berjalan di belakangnya.


Tak tau mengapa Papanya sampai melakukan hal semacam ini. Dikira ia kabur kalik? Padahal sih iya.


Mereka bertiga menuju ke tempat yang sudah dijanjikan, yaitu di rooftop.


"Hai, Aldi!" Belum saja sampai di meja, Pram sudah melambaikan tangannya kepada seseorang yang seumuran dengan beliau.


Itu benar-benar membuat Aira sedikit malu karena beberapa orang tertuju padanya.


Terlihat Pram dan Anjani berbasa-basi dengan kedua orang itu. Mereka terlihat sangat akrab sekali. Aira sangat gugup, ia meremas ujung rok yang ia kenakan serta menggigit bibir bawahnya.


"Ini Aira? Cantik banget ya? Kayak Mama nya." Ujar wanita yang duduk di sebelah Anjani. "Bisa aja kamu Li," jawab Anjani.


Aira tersenyum kikuk, ia hanya menunduk menatap berbagai macam makanan yang tersaji di meja besar ini.


"Anak lo ke mana, Di?" Tanya Pram dengan memakai logat lo-gue dan membuat Aira menggerutu ingin sekali menendang meja di depannya itu.


"Lagi ngambil ponselnya di mobil, bentar lagi pasti kesini." Kata Aldi.


Aira menghela nafasnya gusar, tak ada yang menarik disini. Mereka berempat sedang asik berbincang sampai lupa ada dia disini. Tetapi tak apa-apa, ia juga males.


Gadis itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang yang ia bawa, dan memainkan walaupun tak ada yang menarik juga.


"Permisi."


Suara bariton itu membuat kelimanya menoleh, dan mengalihkan objeknya.  Semua tersenyum melihat siapa yang datang, kecuali.... Aira.


Dia melotot lebar, dan tak sadar jika ia menggebrak meja sontak reflek berdiri dari duduknya.


"A..A-ALAN?!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2