Alaira

Alaira
8-Asisten?


__ADS_3

Dengan segala kekesalannya, Aira keluar dari warung Abah dengan langkah yang begitu cepat. Beberapa orang di warung itu memperhatikan Aira, pasalnya sangat terlihat sekali jika Aira sedang marah.


"Nyari Neng Aira ya Lan?" Tanya Abah yang melihat wajah Alan kebingungan.


Alan mengangguk.


"Itu, baru aja keluar, dia kenapa? wajahnya merah gitu?" 


"Alan susul dulu." Bukannya menjawab pertanyaan Abah, kini Alan bergegas menyusul cewek itu.


Aira berdiri di pinggir jalan, ia mengotak-atik ponselnya. Walaupun ia tak membawa uang, ia nekat membeli taksi online. Toh nanti ia tinggal ambil di rumah.


Belum sempat ia memesan taksi online nya, tiba-tiba layar ponsel itu menghitam. Kedua matanya melotot, baterai nya habis?? Ucapnya dalam hati.


"AW-ADDUH!!"


Badannya terhuyung ke belakang, dan menabrak dada bidang seseorang ketika orang itu menarik rambutnya yang ia kuncir kuda.


Kedua matanya semakin melotot lebar, apalagi ketika mengetahui siapa orang itu. "Lo ngapain sih?! Apa sih mau lo? Ngikutin gue mulu?!"


"Ngikutin lo? Ngimpi kali," sahut Alan malas.


"Ayo,"


Aira tersentak, Alan tiba-tiba menarik tangannya berbalik menghampiri depan warung Abah lagi. Tepatnya di deretan sepeda motor besar yang terparkir di depan warung Abah.


"Duh..gue naik motor lo? gak banget deh, trauma gue." Aira memutar bola matanya jengah, sambil memainkan kuku-kukunya.


Alan tiba-tiba teringat ketika ia dan Aira pergi fitting baju pernikahan tadi, Alan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Bukannya apa, tapi memang karena Aira yang selalu mengoceh di sepanjang jalan.


"Bawel."


Alan mengambil salah satu helm yang terletak di atas motor, itu punya Malvin. Kemudian ia memasangkan helm tersebut di atas kepala Aira.


Aira diam saja, entah sejak kapan kedua matanya menatap wajah Alan yang berada di atasnya.


"Fyuhh..." Cewek itu reflek mengedipkan bulu matanya, karena Alan meniup wajahnya.


"Apaan sih lo kanebo kering?! Mulut lo bau jigong tau nggak?!" Kesal nya.


Alan hanya mengedikkan bahunya acuh lalu menaiki motornya, "Naik." Ia mendongak menatap langit diatasnya yang sudah mulai menghitam.


Dilihatnya warung Abah yang semakin malam malah semakin ramai. Ia tersenyum tipis melihatnya.


Kembali lagi dengan cewek itu, nampaknya dia sedang berusaha naik ke atas motor. "Duh gini amat naiknya!!"  Keluh Aira. Sebenarnya dia pegal jika harus menaiki motor Alan. Tadi adalah pertama kalinya ia menaiki motor itu.


Dan ya, ada rasa sedikit pegal di bagian bokongnya.


"Bawel banget."


Alan melajukan motornya, Aira reflek memegang kedua pundak Alan. Setelah sadar, ia menarik tangannya kembali dan memalingkan wajahnya.


Disepanjang jalan, Aira tak berpegangan pada apapun. Ia memeluk dirinya sendiri. Agak sedikit kedinginan karena hawa di malam hari, matanya jadi mengantuk seketika.


Hari sudah gelap. Sebenarnya ia tak tau harus berbuat apa, besok sudah hari pernikahannya dengan cowok di depannya saat ini.

__ADS_1


Cowok yang merubah hidupnya dengan tiba-tiba tanpa perencanaan.


Aira tak bisa berkata-kata lagi, di satu sisi dia tak ingin melawan orang tuanya, ia sudah terlalu bandel dan nakal. Tetapi di sisi lain, jika ia tak melawan kedua orang tuanya, sesuatu yang tak terduga terjadi kepada dirinya.


Aira hanya bisa pasrah, melawan pun percuma. Nambah dosa plus nggak ada tenaga lagi.


Dia tak bisa menyangkal bahwa besok ia akan menjadi seorang istri, dan suaminya adalah orang yang sangat ia benci di sekolahnya.


Dia akui, dirinya dan Alan memang sedari dulu tak pernah akur. Semua bermula dari Alan, saat dirinya mengganti pakaiannya, tiba-tiba kepala cowok itu muncul dari balik pintu toilet.


Sejak hari itu, Aira benci Alan. Apapun alasannya, jika dia sudah terlanjur benci, ia tak akan mau akur dengan cowok itu.


Dan dirinya tak menyangka jika cowok itu lah yang akan menjadi suaminya. Takdirnya seolah sedang dipermainkan.


Sedang asik melamun, ia baru sadar ketika Alan melepas helmnya. "Kok berhenti?" Gumamnya.


Kedua matanya melihat sekeliling, ada banyak motor dan mobil yang terparkir disini.


Alan tak menjawab pertanyaan Aira yang entah untuk siapa. Ia memutar kepalanya, "Ck, malah bengong." Decak Alan, melihat Aira yang hanya diam saja seperti orang linglung.


Dengan pergerakan tiba-tiba, Aira terjingkat ketika Alan melepas helm yang ia pakai. Gadis itu memegang kepalanya, "Ngomong bisa nggak sih? Untung aja kepala gue nggak copot!"


Kini Alan turun dari motornya, "Mau gue copot? turun."


Cewek itu perlahan mulai turun dari motor besar Alan. Dia melihat Alan yang berjalan menuju ke sebuah kafe begitu saja, meninggalkan dirinya sendiri di parkiran ini.


"Lah?" Dia menggaruk rambutnya yang tak terasa gatal.


Beneran? Ini dia ditinggal?


"Cewek sinting, ngapain lo nggak masuk?!"


Dia terjingkat, langsung berbalik ketika seorang cowok menepuk pundaknya. "Lo! lo yang ninggalin gue!" Tunjuk nya tepat di depan wajah Alan.


Alan menautkan kedua alisnya, "Harus gue gandeng?"


Cewek itu melotot. "Ogah! Najiss!!" Teriaknya.


Alan melirik wajah gadis itu yang menahan kesal, ekspresinya sangat menggambarkan bahwa dia memang benar-benar marah. Tak banyak kata, ia menyeret kaos besar Aira, menggiring cewek itu masuk ke dalam kafe.


"Alan! Lo kira gue ini apa, hah?!!" Tak peduli seberapa keras Aira berteriak, Alan tetap berjalan santai sambil memegang kaos Aira.


"Kampret! Kanebo kering!!!"


Alan dan Aira jadi bahan perhatian setelah memasuki kafe yang cukup besar itu. Aira memalingkan wajahnya kesal, harus di taruh dimana mukanya ini? Benar-benar memalukan.


"E-ehh... Alan? Jadi pesan apa? Aku pikir kamu pulang tadi." Ucap salah satu pelayan kafe setelah Alan dan Aira duduk di bangku pojok ruangan. Alan memilih duduk disini karena memang hanya bangku ini yang tersisa.


"Kayak biasanya, red velvet." Jawab Alan singkat.


Yang ada di pikiran Aira, mungkin Alan sudah kenal dekat dengan perempuan itu. Dia tak begitu tua, wajahnya masih sangat muda dan cantik. Mungkin bisa saja dia seumuran dengannya, karena jika dilihat dia masih pelajar.


Lagian jaman sekarang kan banyak pelajar yang sudah bekerja.


Pelayan itu tersenyum kepada Alan, Aira hanya terbengong. "Kalau.... Adeknya mau pesan apa??"

__ADS_1


Aira melotot lebar, adek?! Apakah ia sekecil itu sehingga dia menyebutnya adek?!


Nampaknya Alan sedang menahan tawa, "Bikinin dua Coffee latte aja."


"Siap." Lagi, pelayan wanita itu tersenyum kepada Alan. Itu bukan senyuman biasa, tetapi senyuman godaan untuk Alan.


"Satu lagi, An.."


Seketika pelayan yang dipanggil Alan dengan sebutan 'An' itu berhenti.


"Dia bukan adek gue," Alan menunjuk Aira yang sedang bermain ponsel.


"Terus?? kakak kamu? temenmu? atau..."


"Asisten."


Senyum sumringah terbit dari bibir Anna, sang pelayan wanita itu. Tidak dengan Aira, cewek itu sudah melotot menatap Alan seolah ingin menghabisi nyawa cowok itu saat ini juga.


"Ya udah, aku bikinin pesanan kamu." Ujar Anna dan berlalu dari hadapan Alan.


Alan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi menatap Aira dengan wajah tak berdosa. 


"Sinting lo kanebo kering!!! Gue gampar tuh mulut lo lama-lama!" Geram Aira tak tahan lagi. Sebetulnya ia ingin sekali teriak-teriak disini dan menghabisi Alan agar ia lega.


"Gampar gih, terima kenyataan aja nantinya kalau calon suami lo mulutnya letoy."


...----------------...


Aira mendengus kesal di sepanjang jalan, ia menekuk raut wajahnya. Bahkan sedetik pun tak berubah, saking marahnya dengan Alan. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah, menaruh badannya di atas kasurnya yang empuk dan tidur terlelap hingga esok.


Sayangnya angan-angan nya terlalu jauh, dia refleks memukul pundak Alan ketika cowok itu berhenti di depan penjual martabak. "Lo ini makan terus! Itu perut manusia apa perut raksasa sih?!" Kesalnya.


"Titipan Mama," jawab Alan setelah melepaskan helmnya dan turun dari motor kemudian berjalan menghampiri sang penjual.


Aira terdiam di atas motor, Mama Alan adalah calon mertuanya. Dia sedikit sedih, karena mengingat pernikahan yang akan dilaksanakan besok.


Tuk!


"Turun."


Aira tersadar, Alan memukul helmnya. Dia menggeleng lalu memalingkan wajahnya.


"Bandel, ntar kalau jatuh gimana?"


Aira reflek menatap Alan, cowok itu merasa sedikit aneh. "Motornya, sayang soalnya habis gue servis." Cewek itu melotot mendengar perkataan Alan, dengan kesal ia turun dari motor dan langsung menuju ke sebuah kursi untuk menunggu.


Alan menghela nafasnya gusar, perlahan dia menghampiri Aira. "Tinggal beberapa jam lagi."


Dahi Aira berkerut, "Why?"


"Ck, nggak usah sok Inggris, sok imut lo."


Aira melotot, "Setan!!"


"Besok...."

__ADS_1


__ADS_2