
Sebelum memasuki gerbang sekolah, Aira menarik napasnya dalam-dalam. Bertepatan dengan itu, sekelompok motor ninja berwarna hitam telah melewatinya.
Mereka semua memakai jaket hitam yang sama, seperti sekelompok geng bermotor.
Tetapi tidak, Alan tak mempunyai geng motor. Ia dan teman-temannya memang seperti geng motor, karena dari motor mereka pun sama.
Alan berteman dengan mereka bertiga sejak masih duduk di bangku smp, waktu mereka bertemu untuk pertama kalinya.
Meskipun Alan tak begitu peduli dengan mereka, tetapi ia tak mau kehilangan seorang teman yang begitu berharga. Begitu baik, dan ada disaat ia butuh.
Mereka menjadi bahan perhatian para gadis, Aira hanya diam, memutar bola matanya malas, seperti biasa ia tak tertarik dengan hal-hal semacam itu.
"Ai!!!"
"Aira! Aii!!!!"
Aira menoleh dari arah belakang, disana ada Audrey yang berlari menghampirinya, tas ransel yang ia pakai jadi bergoyang-goyang mengikuti gerak badannya.
Aira sudah menduganya, dari suara cempreng gadis itu saja ia sudah bisa menebak bahwa dia adalah Audrey.
Hari ini Audrey nampak beda, rambutnya dikepang dua, seperti waktu pertama mos hari itu. Wajahnya terlihat berseri, riasan yang Audrey pakai nampak cocok di wajah gadis berkulit sawo matang itu.
"Ai.. hosh...hosh...ikut gue, yuk Ai!" Ajak Audrey kepada Aira, dengan deru nafas yang memburu.
Aira mengerutkan keningnya, "Kemana? Nggak mau ah."
"Udah, ikut aja!" Audrey menyeret tangan Aira, memaksa agar sahabatnya itu ikut bersamanya.
Dahi Aira berkerut, kedua matanya melotot saat Audrey mengajaknya ke...
"Drey! Nggak mau ah, lo kesana sendiri aja!" Aira melepaskan tangan Audrey. Audrey langsung memajukan bibirnya kesal.
"Kali iniiii aja Ai... Biasanya juga nggak pernah.."
"Nggak! Gue mau ke kelas!"
Saat Aira berbalik badan, tiba-tiba Audrey menarik tangan kanan gadis itu. Secara tak sadar, Aira berteriak kencang. "GUE UDAH BILANG NGGAK MAU!"
Mau tak mau, Aira dan Audrey kini jadi sorotan mata di sekitarnya. Suara Aira memang sudah tak bisa diragukan lagi, kayaknya dia habis makan terompet.
Audrey masih tak menyerah, kini ia sudah berada di tempat tujuannya. Ia memamerkan deretan gigi putihnya, tersenyum Pepsodent kepada Leo
"Leo! Maafin gue dong! Masa iya gara-gara gue bilang mirip bebek aja ngambek!"
Leo melotot disana, semua teman-temannya menertawakan dirinya, kecuali Alan yang sedang berkaca di spion motor.
"Yaelah Leo.. Leo.. kayak anak cewek aja lo, maennya ngambek-ngambekan!" Gavin tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul bahu Malvin.
"Tuhkan! Bener kan? Leo mirip bebek?"
Gavin meredakan tawanya, ia mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya berkali-kali.
"Lebih mirip ke kunyuk sih menurut gue." Ujar Gavin menahan tawa, melihat ekspresi Leo yang ingin meledak.
"Nah! Temen lo aja bilang kalau lo mirip kunyuk! Masa iya sama gue ngambek?!" Audrey menatap sinis pada lelakinya itu.
"Iya.. iya... Sayang, udah ya, mendingan kita ke kelas aja."Leo menggandeng tangan Audrey, gadis itu terlihat kegirangan. Lupa bahwa dirinya telah meninggalkan Aira disana.
Aira mengepalkan kedua tangannya, rasa ingin menonjok wajah Audrey. "Kurang ajar, gue ditinggal."
"Ai, mau bareng gue ke kelas, nggak!"
Aira menoleh, mengerutkan dahinya ketika melihat Gavin mengajaknya. "Muka lo nggak usah sok cool."
Gavin memelototinya, "Cantik-cantik gini galak banget buset,"
"Kenapa? Gak suka?!"
__ADS_1
Aira menarik napasnya dalam-dalam, pagi yang cerah, secerah kemarahannya. Dia sungguh muak, entah, selalu saja ada yang membuat ia marah-marah.
Ia mengalihkan perhatiannya pada seorang cowok yang berada di samping Malvin, itu Alan. Ia dan cowok itu saling membalas kontak mata. Hanya dua detik, dua detik yang akhirnya Alan memutuskan kontak mata dengan nya.
Tanpa sepatah kata pun, Aira berbalik dan meninggalkan ketiga cowok itu di area parkiran.
"Lah? Tumben dia nggak berantem sama lo, Lan?" Tanya Gavin.
Alan mengangkat bahunya acuh, "Gue juga nggak mau deket-deket terus sama dia."
"Parah sih parah, padahal Aira itu primadona sekolah kita loh! Cantik bett, kayak bidadari!!" Kata Gavin senyum-senyum sendiri sambil mendongak melihat Aira yang berjalan di koridor.
"Nggak usah diliatin, dia nggak bakal naksir lo."
Gavin menatap punggung Alan yang mendahului dia dengan Malvin, "Yeee, sok banget lo Lan, mentang-mentang muka glow up, yang kayak gue udah nggak berguna lagi kayaknya."
"Benar." Ujar Malvin tersenyum jahil.
"Diem lo kutu kupret!"
Bukannya kutu buku, tapi Gavin suka memanggilnya 'kutu kupret'
...----------------...
"Lo...Lo habis nangis, Ai?" Suara Bianca agak pelan, hampir berbisik kepada Aira yang sedang melamun.
"Hah? Lo bilang apa?"
"Lo.. habis nangis?" Tanya Bianca dengan hati-hati.
"Dih! Kata siapa? Nggak ada sejarahnya yee, seorang Aira nangis!" Sewot Aira.
"Kata wajah lo."
Jawaban Bianca mampu membuat Aira diam membisu. Iya, Aira memang menangis semalaman, dia tak bisa menghentikannya. Bahkan, ia tidur jam dua malam, ia yakin, pasti ia punya mata panda saat ini.
Pernikahannya dengan Alan sudah besok. Kata Pram, memang tak usah lamaran. Karena kedua pihak sudah setuju dan membahasnya.
Aira takut, Aira bingung, Aira sakit.
Tak tahu harus bagaimana, tidak ada yang baik-baik saja, dia hanya ingin kembali ke seperti semula. Di keadaan yang baik-baik saja.
"Ya udah, kalau nggak mau cerita, kapan-kapan juga gapapa." Kata Bianca yang membuat Aira menghela napasnya.
Ekspresi gadis itu berubah ketika ada Audrey di depannya. Aira dan Audrey saling tatap lama.
"Kalian kenapa sih? Kok aneh banget!"
Aira masih menatap Audrey dengan sinis, raut wajahnya bisa ditebak kalau Aira masih marah. Sementara Audrey, dia menikmati rasa berdosa nya sambil memakan coklat yang diberikan oleh Leo tadi.
"Ooit! Ai, lo iri kan karna nggak pernah diberi coklat kayak gue?"
Aira melotot, sedari tadi dia menahan untuk tidak mencakar wajah Audrey, dan sekarang, ia malah dibikin kesal lagi oleh cewek itu.
"Sini lo! Kertas aja gue gunting, apalagi mulut lo!"
Audrey merasa takut, ekspresi Aira benar-benar ingin memangsanya. Sebuah gunting di tangan Aira membuat Audrey menyatukan kedua tangannya, meminta permohonan maaf kepada Aira.
"Maaf deh, Ai, maaf, sorry, aduh. Tadi emang gue lupa banget kalau ngajak elo, kayaknya efek samping makan berutu ayam deh. Konon kata nenek gue, berutu ayam itu membuat kita sering lupa. Bahkan sampai lupa nama sendiri." Ujar Audrey, yang mulai mencoba untuk mengelabuhi Aira.
"Bohong tuh, mana ada abis makan berutu ayam jadi lupa nama, kepala lo abis kebentur masa lalu kalik!" Imbuh Bianca.
Aira masih menatap Audrey, "Kita masih belum selesai, Audrey Anindita." Bisik Aira tepat di telinga Audrey yang membuat sang empunya bergidik ngeri.
"Bener, Alan bener, Aira mirip Mak lampir."
Audrey kembali ke tempat duduknya semula, disampingnya ada Dara yang setia membaca buku.
__ADS_1
"Nggak bosen, Dar?"
Dara hanya menggeleng, "Yang gue bosenin itu dengerin cerita lo tentang Leo mulu."
...----------------...
Aira melirik jam arloji nya, sudah sekitar lima menitan ia menunggu sopir pribadi nya menjemputnya.
"Pak Adam kemana, sih? Ini jadi fitting baju atau enggak?!" Gerutu gadis itu sambil mengotak-atik ponselnya.
Kemarin ia bilang kepada Pak Adam, bahwa harus menjemputnya, dan langsung menuju ke tepat fitting baju dan membeli cincin.
Ia tak mau berangkat dengan Alan, mampus saja jika ada yang melihatnya.
Ting! Sedang asik scroll Instagram, ia mendapat notifikasi. Siapa nih? Nomor nggak dikenal?
62++++++++:
gw tnggu di blkng sklh
Alan.
^^^Nggak! Kalau ada yang lihat gimana?!^^^
bnyk omong, cpt ksini! nnti tko nya ttp
^^^Bodo, gue nggak mau, jangan dipaksa!^^^
keras kepala!
^^^Mau-mau gue lah^^^
cpt ksini
^^^NGGAK MAU KANEBO KERING!^^^
kta tante Anjani, klau lo g brng gw, uang jajan lo diptng
^^^Y^^^
"Maennya ngancem." Aira memutar bola matanya jengah, ingin menendang Alan saat ini.
"Btw dia ngetik apaan sih? Disingkat mulu." Gumam Aira tak mengerti.
Aira melihat ke kanan, ke kiri, depan, dan belakangnya, memastikan bahwa di area sekolah sudah sepi atau tidak.
Ya, hanya tertinggal satu sampai tiga anak disini.
Sebelum kesana, Aira memakai masker yang membuat mulut dan hidungnya tertutup. Tak lupa dengan kacamata hitam yang sudah bertengger manis di hidung mancungnya.
Sesampainya di belakang sekolah, dengan kepala yang masih menoleh kesana kemari, Aira bernafas lega karena tak ada siapapun disini.
Ia melihat seorang cowok yang duduk di atas motor, itu Alan.
"Ayo."
Alan terlihat terkejut, ketika tiba-tiba saja Aira muncul di hadapannya. "Malah bengong!" Kesal Aira.
Alan hanya mengangguk, tetap dengan wajah datarnya. Ia memberikan sebuah helm yang sama dengannya.
Modelnya, warnanya, sama dengan helm milik Alan.
"Helm siapa? Kok sama, sama yang lo pakai itu?"
"Banyak tanya."
Aira menatap Alan dengan rasa kebenciannya, sebelum memakai helm itu, ia mengerutkan dahinya ketika melihat sebuah nama yang tertera di bagian belakang helm Alan. Thalia?
__ADS_1