Alaira

Alaira
10-Malam pertama?


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Alan masih belum bisa tidur. Saat ini dia berada di ruang tamu, tepatnya duduk di atas sofa sambil menatap sepiring nasi goreng yang terhidang di atas meja.


Matanya tak pernah berhenti menatap makanan yang sudah dingin itu.


Lelaki itu menghela nafasnya berat, sehari tanpa Liona saja ia sangat sengsara. Tidak ada yang menyuapinya ketika malah hari.


Lihat saja dampaknya, sekarang ia tak bisa tidur walaupun sudah memakan dua bungkus nasi goreng yang ia beli di depan rumahnya tadi. Bayangkan saja? Jika nasi goreng terakhir tak bisa membuatnya tidur, ia tak tau harus bagaimana setelahnya.


Hanya tertinggal satu bungkus nasi goreng yang sudah ia hidangan di piring.


Kepalanya memutar ke belakang, menatap sebuah pintu berwarna putih yang tertutup. Terdiam sejenak, apakah ia harus meminta bantuan cewek itu??


Alan menggelengkan kepalanya berkali-kali, yang benar saja?!


Reputasinya pasti akan rusak ketika cewek gila itu mengetahui fakta tentangnya, bisa saja dia membicarakan hal ini kepada teman-temannya di sekolah.


Alan berdiri, dia mematikan semua lampu di sini. Tepatnya di bagian dapur, ruang tamu, kamar jalan, serta teras rumah. Siapa tahu ia bisa tidur, maybe??


Ia kembali duduk di atas sofa sambil menyalakan televisi. Matanya sudah sangat berat, tapi ia tak bisa tidur.


"Minta bantuan dia??" Gumamnya.


Namun tetap saja, gengsi seorang Alan terlalu besar.


Mungkin jika Aira tahu, cewek itu akan menertawakan dirinya sampai besok. Tapi dia harus bagaimana? Apakah ia harus memanggil Bi Ina kesini? Tak mungkin saja. Ini sudah malam, dan mungkin para asisten rumah tangga di rumahnya sudah tidur.


Memang Papa nya tak mengosongkan rumah itu yang sekarang ditempati oleh mereka. Sebenarnya sang Papa menyuruhnya untuk tetap tinggal disana bersama Aira.


Namun Alan menolaknya, karena uangnya sudah cukup untuk membeli rumah ini.


Gimana nih? Gue nggak bisa tidur, sialan!


Lelaki berkaos hitam itu mengacak-acak rambutnya frustasi.


Alan terus duduk sambil menonton televisi di hadapannya. Padahal matanya terasa sangat berat, ingin sekali tidur dengan nyenyak.


Sedari tadi ia sudah makan berkali-kali, namun ia tak bisa tidur walaupun memejamkan matanya terus-menerus.


Dia udah tidur nggak ya?


Aira terbangun dari tidurnya saat tenggorokannya terasa sangat kering. Dia lupa dari tadi memang belum minum air putih sama sekali.


Dilihatnya layar ponsel nya yang menunjukkan pukul 00.00. Dia terduduk di tepian kasur, menggaruk rambutnya yang berantakan kemudian termenung sejenak.


Ini adalah malam pertama untuk pengantin, satu-satunya hari yang ia tunggu-tunggu sebelumnya. Tetapi sekarang ia tak menginginkan lagi karena suaminya adalah... Alan.


Mau gimana lagi? Toh juga udah selesai.


Aira memakai sendal bulu berwarna merah marun, dia memutar kenop pintu kamar dan membukanya.


Matanya menyipit saat semua ruangan gelap, tak ada satupun lampu yang menyala. Namun sesampainya di ruang tamu, dia begitu terkejut melihat tubuh seseorang yang membelakanginya dengan posisi duduk di sofa.


Ternyata cahaya remang-remang itu berasal dari televisi yang menyala.

__ADS_1


"Ehhh!" Dia mengelus dadanya.


Perlahan Alan kepala menoleh, lalu anehnya Aira reflek berteriak. Wajah Alan terlihat sangat menyeramkan saat berada di kegelapan dan cahaya yang remang-remang ini, lalu... kedua mata cowok itu terlihat bengkak.


Mungkin dia tak bisa tidur, sehingga matanya menjadi seperti itu. Pikir Aira.


Aira mengedikkan bahunya acuh, dia berlari terbirit-birit menuju dapur walaupun masih sedikit ada rasa terkejut dengan cowok itu.


Aira membasahi tenggorokannya dengan segelas air putih dingin. "Ahh... Seger banget." Setelah itu dia menutup pintu kulkas dan hendak kembali ke kamarnya.


Namun saat berbalik, Aira terkejut setengah mati  mendapati Alan yang tiba-tiba di depannya.


"Ng..ngapain lo?!" Kesal gadis itu.


Alan hanya diam cukup lama. Aira masih menunggu cowok itu berbicara. Jujur, dia merasa aneh dengan Alan saat ini, dia merasa bahwa Alan sangat berbeda dari biasanya.


Mungkinkah cowok itu marah perihal tadi?


Aira menggaruk rambutnya, ia merasa dirinya juga aneh. Sejak kapan dia peduli dengan cowok itu?


Arghh Alan! Hilangin gengsi lo bangsat! Teriak Alan dalam hatinya.


"Ee—ehhh! Lo mau ngapain?!" Aira terkejut saat tiba-tiba Alan merangkul pinggangnya, menggiringnya menuju ke sofa dengan langkah yang begitu cepat.


Alan menepuk tempat di sebelahnya, memberikan isyarat kepada Aira yang masih berdiri.


"Ogah! Gue mau tidur, lagian tuh sofa juga nggak empuk." Pikirannya berkelana, mengapa Alan menyuruhnya untuk duduk disini? Apakah dia mengajak menonton televisi? Tapi bisa saja Alan...


Aira semakin takut, dia belum siap!


Tangan kekarnya menarik pinggang ramping Aira sehingga gadis itu terduduk di pangkuannya.


Aira terpekik sampai tak bisa berkata-kata, walaupun cahaya disini remang-remang, namun wajah Alan sangat terpampang jelas di depannya saat ini.


Glek... Cewek itu menelan ludahnya dengan susah payah, kedua matanya sampai melotot. Dia memberontak, namun tubuhnya yang kecil ini kalah oleh tubuh besar milik Alan.


"Lo apa-apaan sih! Gue belum siap tau nggak! Kita itu masih sekolah!!" Teriak Aira dengan tatapan mata yang tajam.


"Belum siap?" Gumam Alan menautkan kedua alisnya, setelah sadar, ia tersenyum jahil.


"Kalau nggak mau bikin gue macem-macem, turutin kata gue. Dan... Nggak usah banyak omong, telinga gue udah panas denger suara lo."


Suara berat Alan membuat bulu kuduk Aira berdiri dalam waktu sekejap, entah sadar atau tidak, ia meremas kaos yang di gunakan Alan.


Apa? Menurutinya? Memangnya dia siapa? Presiden??


"A-aneh banget sih lo! Turunin gue nggak?!" Aira menatap Alan garang.


Alan menautkan kedua alisnya, "Inget, kita udah sah. Jadi gue bebas ngelakuin apa aja yang gue mau." Dia tersenyum smirk. Yang masih membuat Aira semakin takut dan berpikiran aneh-aneh terhadap Alan.


Ingin sekali Aira menoyor kepala cowok itu. "Bebas pala lo!" Aira memalingkan wajahnya.


"To the point aja, gue mau lo—" Alan menggantungkan ucapannya, saat tiba-tiba Aira menatapnya dengan jarak yang sangat dekat.

__ADS_1


Alan berdehem, untuk menghilangkan kegugupannya.


"Suapin gue."


Perkataan Alan membuat Aira melototkan matanya lebar, sebelum ia berteriak untuk tertawa, Alan menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya.


"Hwshshshshhh—Kanebo kering! Lo ngapain sih, engap tau nggak!" Kesal Aira.


"Shhhhtttt, jangan teriak, nggak enak kalau tetangga denger."


Aira menyadari tatapan Alan yang ingin menjahilinya, dia hanya mendengus kasar.


"Gue udah bilang, nggak usah banyak omong." Suara Alan terdengar dingin.


"Terserah gue dong! Orang gue punya mulut!! Ini ngapain sih pake nahan-nahan gue segala?!!" Teriak Aira memberontak dari Alan.


Alan memutar bola matanya malas, "Ck! Lama." Tangan kirinya memegang pinggang Aira, lalu tangan kanannya ia gunakan untuk mengambil piring di atas meja.


Aira terkejut setengah mati, dia hampir saja jatuh jika tak di pegang oleh Alan. "Suapin, gak pakai lama." Ia menyodorkan piring tersebut.


"Mata lo buta?! Gue nyuapin pake apa? Pake kaki??!!" Kesal Aira setengah hidup.


Mendengar itu, Alan melepaskan Aira, membiarkan gadis itu turun dari pangkuannya yang akhirnya dia pun duduk di sebelah Alan.


Bola mata Alan berada di ujung mata, melirik Aira yang sedang berkutat dengan sepiring nasi goreng itu.


Kenapa gue dapet istri yang lemot?


"Ck, cepet!"


"Iya iya!!"


Perlahan, Aira mengarahkan sesendok nasi goreng ke mulut Alan yang terbuka.


Dia bergulat dengan pikirannya, sebelum hari pernikahan nya dengan Alan, Liona memang pernah membicarakan ini kepadanya.


"Alan itu kalau nggak disuapin sebelum tidur, dia nggak akan bisa tidur Ai. Jadi mama mohon kamu bisa jaga Alan, termasuk ngelakuin hal yang biasanya Mama lakuin buat Alan sebelum tidur."


Sempat Aira tertawa mengejek kepada Alan, tetapi ada sisi serius dari nada bicara Liona. Walaupun ia tak begitu suka dengan Alan, dia tak munafik.


Sekarang pria yang ia benci itu sudah menjadi suaminya,  nampaknya Aira keberatan jika harus menyuapinya seperti ini.


"Untung-untung gue nggak ngantuk, kalau mata gue udah segede gaban kayak lo, udah gue tampol tuh mulut." Omel Aira yang masih menyuapi Alan.


Aira melotot, "Kok bisa, ya?" Dia terbengong melihat Alan yang sudah tertidur dengan bersandar di sandaran sofa. Hanya dengan empat suap nasi, cowok itu sudah tertidur???


Entah sadar atau tidak, kini tangan kanan Alan berada di atas paha Aira yang membuat gadis itu geli sendiri.


"Apaan nih! EEHH—KANEBO KERING?!"


grep.


Aira jatuh dalam pelukan Alan, saat ia menyingkirkan tangan cowok itu, tiba-tiba saja Alan menariknya untuk tidur di sofa.

__ADS_1


"BANGS*T!!!!!"


__ADS_2