Altar Sania

Altar Sania
Ex and Future (?) 2


__ADS_3

Meski sempat menyita perhatian orang orang didalam gedung itu, perhatian mereka kembali ke Scorpion Band yang sedang bernyanyi dengan saat indah. Lagu ini seperti menggambarkan seseorang yang mendambakan seseorang menjadi cinta sejatinya.


Jauhi jangkauanku seperti awan yang melewati kepalaku


Jangan pedulikan betapa aku memikirkanmu


Aku akan memanggil semua kesepian dan kesedihan yang telah kau berikan padaku


Cinta jadi biarkan aku menggantung dengan sedikit godaan


Senyummu mencairkan kegelisahanku seperti cuaca bulan Mei


Tatapanmu membekukan hatiku seperti dinginnya bulan Januari


Dengan senang hati berenang di lautan kebingungan


Aku menyanyikan sebuah lagu mengetahui aku merindukanmu dalam satu arah


Tolong hidup dan bernapas dalam imajinasiku


Seperti kedalaman tak berwujud dari galaksi yang tidak diketahui


Agar aku bisa mencintaimu selamanya


You are my cosmos


Duniaku


Jangan kehilangan kilau yang membuatmu sulit untuk menatap


Kau adalah kosmosku


Duniaku


Jangan jatuh seperti kelopak bunga


Dia memiliki fitur wajah yang harmonis


Dia memiliki senyum segar


Dia memiliki suara seolah-olah dia telah menelan bunga


Bahkan napasnya yang halus membuatku merasa gembira


Dia bisa menjadi lukisan di museum


Dan masih membuatku merasakan semua ini


Ratuku, satu-satunya kerinduanku di hari kosongku


Berikan padaku, keputusasaan baru yang akan menghancurkanku


Cintamu membuka mataku lalu membuatku buta


Tolong hidup dan bernapas dalam imajinasiku


Seperti kedalaman tak berwujud dari galaksi yang tidak diketahui


Agar aku bisa mencintaimu selamanya


..._KIMHANBIN-COSMOS_...


Lagu dengan lirik indah masuk ditelinga mereka, hati Sania menghangat mendengarnya kenangan bersama seseorang yang didepannya terulang seperti film klise. Andai dia tidak membuat keputusan itu apa iya dia masih bersama Jevon sekarang?


Sania mencoba keluar dari pikirannya, ia sudah melupakannya tidak seharusnya ia kembali sama masa lalunya.


Sampai suara tepuk tangan meriah menyadarkannya dan tak tahu kenapa ia malah tambah gugup


Tangannya dingin berkeringat. Acara pun dimulai dan peserta dengan nomor undian pertama pun sudah berada dipanggung dan siap menunjukkan bakatnya.


Suara bisik bisik terdengar ditelinga Sania, tiba tiba pandangan orang orang disini beralih padanya.


"Hei" sapa laki laki yang mengambil hati para gadis disini dengan lagunya.


Yang disapapun cuma senyum dan mengedarkan pandangannya.


"Aku boleh duduk sini?" tanya nya lagi


"Boleh boleh duduk aja silahkan, heh pindah Lo" ucap kak Dilla ke Vito yang memang duduk di sebelah Sania


Sania pun hanya melihat sinis kakak kelasnya ini dan menghela nafas dan tersenyum singkat


"Hei San apa kabar?" Tanya Jevon tanpa menyerah, padahal dari tadi dia diabaikan Sania


"Gue baik" jawab nya tanpa melihat seseorang yang sudah duduk di sebelahnya


"Aku seneng bisa ketemu kamu" ucapnya ditengah keramaian suara sorak sorak yang mendukung peserta dipanggung itu


"Lo ngapain disini? Emang disana gada tempat duduk buat gues star?"


"Aku pengen liat kamu dari deket" jawab Jevon sambil tersenyum, dia senang Sania mau ngobrol sama dia


"Gue gasuka jadi perhatian orang orang, dan gue yakin Lo tau sekolah kita rival" ucap Sania dengan pandangannya tetap kedepan


"Sekolah aku kan ga ikut kompetisi jadi bebas aku mau duduk dimana aja, lagian rival Guardian itu Skyhaltter bukan Kaltter tauk" ucap Jevon halus


Sania cuma diem dia ngga nanggepin Jevon, tapi dia tau betul Jevon memperhatikan dia menatap dia terus dari tadi. Jujur saja jantungnya berdetak agak cepat karna ini.


"Lagu aku bagus nggak"


"Yaa lumayan"


"Semua lagu aku inspirasinya kamu, mau lagu yang bahagia apa penuh luka itu tetep tentang kamu" ucap Jevon yang membuat Sania menatapnya


"Gue tau gue nyakitin lo, tapi semua udah berlalu. Sekarang gue udah buka lembaran baru"


"Tapi aku gabisa"


"Lo harus bisa, Lo tau kita gabisa bareng lagi. Dan Lo tau apa alasannya"


"Kamu masih mikir aku ngehianatin kamu san?? Setelah bukti yang aku kasih ke kamu?"


Perdebatan mereka didengar sama anak anak OSIS, gimana enggak mereka duduk di belakang Sania. Stella duduk disamping kiri Sania.

__ADS_1


"Je.." Sania gatau harus jawab apa


"Bahkan kamu blokir semua media sosial aku, id line kamu juga ganti"


"Ya udah Lo mau nya apa?" desis Sania


Sania pengen semua selesai, dia tau watak Jevon kalau Jevon belum dapet apa yang dia mau, dia ga bakal pergi. Karna dia sama sama keras kepalanya sama Sania.


"Buat saat ini bisa nggak kamu buka blokir kamu dan kasih id line kami yang baru?"


"Oke" ucap Sania sambil mengeluarkan hpnya dia membuka blokirnya.


"Mana id line kamu?"


"Ketik aja saniamarca kecil semua" jawab Sania singkat. Biasanya kalau ada yang minta linenya Sania nunjukin barcode. Tapi kali ini beda karna sebenarnya dia ga mau, dan pengen Jevon tau kalo dia ga ikhlas


'ting'


"Masuk" ucap Jevon


"Kenapa?lopikir gue boong?"


"Enggak, aku balik ke backstage dulu ya. Jangan di-block lagi ya San" ucap Jevon sambil membelai lembut kepala Sania


Sania menghela nafasnya kasar, apa iya keputusannya bener kali ini? Tapi kalau ngga gitu Jevon bakal tetep disini dan dibikin keributan.


"Gila Lo san, bisa bisanya judesin cowo kaya Jevon" ucap Nethy OSIS seangkatan sama dia


"Berisik" jawab Sania


Sepertinya Sania membenci Jevon, tapi kenapa? Anak anak disana sungguh penasaran dengan kisah cinta Sania sama Jevon


'ting'


...


...


Jevon mengirim pesan ke Sania kalau dia mau ajak Sania pulang bareng, tentu saja Sania menolak.


Sania pun cuma ngeread chat nya Jevon. Pikirannya campur aduk sekarang.


Tak terasa kompetisi pun selesai. Pengumuman pemenang akan segera disampaikan setelah jeda.


Seseorang yang dicari cari sama anak anak OSIS pun muncul. Arneo datang dengan kameranya berjalan lunglai ke arah temen temennya. Tiana mengekor dari belakang, sepertinya mereka kerja sama buat berita tentang kompetisi ini.


"San" ucap Tiana. Dia tentu tau masalahnya dengan Jevon dan yang terjadi hari ini pasti bikin Sania pusing


"Pusing gue, dia punya line gue sekarang Ti" lirih Sania


"Yauda biarin semua ngalir aja San" ucap Tiana sambil menepuk pelan pundak Sania


"Kalo bang Ben tau gimana?"


"San!" Seru Tiana ia teringat sesuatu


"Kenapa sih"


Sial Sania gamikir sampai sini, bener juga pasti portal sekolah Kaltter, Guardian nyiarin berita ini bahkan media sosial


"WTF ah gue gatau gue mau pulang" ucap Sania jengah


"Tapi acaranya belom selesai San" saut Stella


"Bang gue ijin pulang ya badan gue gaenak, gue udah catet beberapa kok kalau mau buat laporan ntar gue kirim" ucap Sania ke bang Ratur


"Yauda gapapa Lo balik aja, Arneo juga udah dokumentasi banyak kok. Bentar lagi kita juga pulang"


"Lo mau pulang sekarang Ne?"tanya Sania


"Hah tunggu bentar, Lo kedepan aja dulu ntar gue susul"


Arneo tampak menelpon seseorang, yang diseberang sana pun mengiyakan permintaannya.


Sania menunggu Arneo didepan gedung, banyak orang yang liatin dia. Ini pasti gara gara tadi. Ia ingin cepat pulang dan dimana Arneo sekarang


"Heh pendek, Arneo mana" ucap laki laki dengan motor besarnya menyapa Sania


Oh bahkan itu ngga pantes disebut sapaan


"Ngapain Lo disini?" Bukannya menjawab Sania malah balik tanya


"Neo mana"


"Gue juga nungguin dia, dia didalem tunggu aja"


Arneo pun keluar dengan kamera masih ditangannya. Tidak ada tanda dia siap pulang karena kameranya bahkan belum masuk tas jaketnya pun belum dipakai


"Oii Tar gue minta tolong dong anterin Sania pulang, gue masih harus buat laporan dokumentasi nih" ucap Arneo yang mengejutkan keduanya


"Kalo Lo gabisa nganter gue bilang dong, kan gue bisa naik ojek atau bis Ne" kesal Sania


"Iyaa, lokan tadi bilang minta tolong buat jemput Lo, kenapa jadi nganterin si pendek"


"Gue juga ga mau sama Lo tiang listrik nyebelin ih" sengit Sania


"Plislah Tar gue sama Tiana ngejar dateline nih, laporannya kita kerjain berdua biar bisa share brita tepat waktu"ucap Arneo


"Gamau, gue naik bis aja kalo gitu. Lo selesain aja tugas Lo, daripada kena damprat Mr Galmet"


"Gabisa, gue gaenak. Plis Tar tolong banget gue" ucap Neo ke Altar


"Yauda, buru naik Lo" ucap Altar melihat ke arah Sania


"Gausahh" eyel Sania


"Gausa batu, kalo Lo diculik yang kena masalah gue sama Neo"


"Lo ga bakal nurunin gue ditengah jalan kan?" Ucap Sania curiga dan menaikan sebelah alis nya


Altar pun mengulum senyumnya. Sania ini kenapa lucu banget, kenapa juga dia harus nurunin Sania ditengah jalan


"Gila Lo lopikir gue cowo apaan nurunin cewe ditengah jalan" ucap Altar

__ADS_1


"Gue balik Ne, salamin sorry buat bang Ratur sama yang lain"


Sania pun segera menaiki motor Altar yang sayangnya agak tinggi. Sampai Altar harus memiringkan motornya sedikit agar gadis didepannya ini bisa menjangkau jok motor nya.


"Gausa ketawa" ucap Sania sambil memakai helm yang cukup besar


"Pendek pendek" gumam altar yang tak didengar Sania


Altar pun melajukan motornya dengan kecepatan rata rata


"Gede banget, pala cewe Lo kenapa gede banget sih" ucap Sania ditengah kebisingan jalan raya


"Itu punya Judan" jawab Altar seadanya


"Oh, kenapa dimotorlo?"


"Karna dia nebeng gue kalo berangkat"


Sania pun cuma menganggukan kepalanya, menurut Altar itu sangat lucu helmnya sangat besar dikepala Sania yang kecil. Itu seperti helm balap, Ben juga punya kaya gini.


"Mungkin bentar lagi helm Lo yang standby di motor gue" ucap Altar


"Hahh Lo ngmong apa gue gadenger" teriak Sania


"Pegangan ntar Lo jatoh" teriak Altar sambil ketawa kecil


"Iyaa"


Altar pun mengikuti maps di motornya, tadi Sania udah bilang dimana perumahan nya. Ternyata searah sama rumah Altar.


"Altar" teriak Sania


"Kenapa"


"Gue laper"


"Mau makan dulu?"


"Iyaa Lo mau nggak? Gue traktir deh tanda makasih karna nganter gue"


"Boleh, dimana? Jangan terserah"


"Emmm ayam bakar madu aja deket pom depan" ucap Sania sambil tertawa


Merekapun sampai di resto yang dimaksud Sania, Sania cukup sering kesini sama abangnya


"Lo sering kesini?" Tanya Altar


"Iya sama Abang gue, Lo mau apa"


"Sama kaya Lo aja"


Sania pun mengantarkan tulisan pesanannya ke kasir dan membayarnya. Dan balik ke meja dia sama Altar


"Lo tadi lagi dimana kenapa mau jemput si Neo?"


"Lagi nongkrong aja"


"Ooh, rumahlo jauh?


"Gak sih, tapi kalo gue pulang lewatin rumahlo"


"Tau darimana?" tanya Sania


"Kan Lo ngasih alamat nya ke gue" heran Altar


"Oiyaa hehe"


Pesanan mereka pun dateng, Sania menyantap makanannya dengan lahap ia benar benar lapar, sepanjang acara ia ga mood makan karena Jevon. Altar pun tanpa sadar tersenyum liat Sania lahap makan kaya gitu


"Kenapa?" Tanya Sania karena ia melihat Altar mentertawakan nya


"Gapapa Lo lucu"


"Makasih" jawab Sania cuek


"Lo kenapa ga minta cowo Lo jemput?" Tanya altar


"Kalo gue punya pasti gue udah minta dia jemput gue" jelas Sania sambil meminum leci tea nya


"Lo gapunya pacar?" Tanya Altar yang dijawab gelengan sama Sania


"Sama dong" ucap Altar


"Serius Lo? Tapi banyak yang ngomong kalo Lo punya pacar tuh banyak malah"


"Gosip didengerin"


"Kenapa Lo jomblo?" tanya Sania


"Nungguin Lo" ucap Altar sambil menatap mata Sania


"Kaya rubah Lo licik sombong dasar playboy" ucap Sania yang cuma dapet tawaan keras dari Altar


Baru kali ini ada yang senyablak ini sama dia, biasanya cewe cewe kalo sama dia selalu bersikap sok manis


Altar tau dia sebenarnya tertarik sama gadis yang sekarang duduk didepannya ini. Cuma dia belum yakin aja, dia harus nemuin moment yang bikin dia yakin sama yang diarasain sekarang. Altar gamau kalau perasaan nya ke Sania cuma pelampiasan aja.


Setelah selesai mereka pun menuju rumah Sania. Rumah Sania ini bisa dibilang kawasan elit rumah dikawasan ini punya garasi yang besar dan bangunannya semua mewah tapi clasic


"Masuk aja, rumah gue agak pojok soalnya"


Merekapun sampai dirumah yang bangunannya clasic dan elegant. Pinter juga orang tua Sania cari rumah pikir Altar


"Thanks Al"


"Iya sama sama thanks juga ayam bakarnya"


"Hati hati Lo"


"Iya gue balik bye"


Sania pun masuk ke dalam rumah setelah melihat Altar meninggalkan kompleknya. Dia ingin segera mengistirahatkan pikirannya. Hari ini energinya terkuras cukup banyak dan Sania punya feeling kurang enak saat hari esok tiba.

__ADS_1


__ADS_2