Altar Sania

Altar Sania
The Man


__ADS_3

"San, nanti pulang gue ada liputan di yayasan" ucap Tiana sambil menatap teman yang duduk disebelahnya


"Iya ntar gue juga rapat OSIS kok, gampang gue"


"Gimana Lo di OSIS, enak?"


"Yagitudeh, Lo?"


"Pusing sih kalo udah didateline berita, mana britanya kan tentang anak Kaltter sama sekolah lain juga"


"Gue sebel banget tau nggak sama si Altar?"


"Kenapa?"


"Ya dari jaman ospek nih tu anak ngajak berantem mulu, masa kemaren gue dikatain pendek sama dia"


"Yauda diemin aja, iseng kalik"


"Sebel aja gue"


"Tumben Lo, biasanya juga ga peduli"


"Makanya gue juga heran, padahal gue ga pernah kaya gini, mungkin karena dia super nyebelin kalik, waktu ospek dia ga pernah ga ribut ama gue"


"Jadi?"


"Gatau gausa dipikirin, kedepan yuk mau nyampe halte nih"


Sania sama Tiana pun turun dari bus dan segera menuju ke sekolah. Hari ini dia melihat kak Dinda sama bang Fandi rupanya mereka tugas piket hari ini, anak OSIS baru belum dikasi piket pagi soalnya masih ada pembagian devisi nanti sepulang sekolah


"Hei san ntar jangan lupa ya rapat" sapa kak Dinda dengan senyuman dimatanya


Dia sangat cantik sungguh, Sania dari awal emang suka sama kak Dinda, wibawa banget orangnya


"Iya kak, siap" saut Sania tak kalah ramah


Kelas yang berada di lantai 3 membuat Sania sama Tiana cukup kesal, sekolah ini memang sengaja menaruh kelas 1 di lantai paling atas karena lantai paling bawah digunakan untuk anak kelas 3 dan club' jurnalistik. Sedangkan lantai 2 untuk mid class dan ruang club' juga ruang osis, dilantai 3 sendiri cuma ada kelas yang ditempati anak kelas 1. Kalau koperasi sekolah perlantai disediakan karena mengingat banyaknya siswa siswi disini


Setelah *** berakhir anak anak OSIS segera menuju ruang OSIS sesuai arahan bang Ratur di group


"Welcome guys, pertama gue mau ucapin congrat buat kalian karna mengingat ga gampang ngelaluin seleksi kemaren dan gue mau ingetin sama kalian, kita OSIS pasti udah jadi sasaran sama anak anak. Mereka cenderung benci sama anak anak OSIS karena mereka pikir kita peganggu dan cari muka sama guru. Gue harap kalian ga keganggu sama hal itu dan ga gampang kepancing emosi buat hal hal sepele. Oke karna ini pertemuan kita yang pertama kita pembagian devisi aja, kita juga udah tau nama satu sama lain kan karena seleksi kemaren. So jadi ini pembagiannya"


Anak anak OSIS baru disana nampak serius memperhatikan Ratur, mereka menulis skema devisi yang dituliskan Ratur sang ketua osis di white board dengan spidol hitam ditangan kanan nya


Sania berada di devisi humas, dimana dia pasti akan bertemu dengan banyak orang nantinya dan berurusan dengan orang-orang dari luar membuat surat permohonan dan sebagainya. Dengan kak Dilla sebagai pembimbing dan Farhan sebagai partner Sania di devisi ini. Sedangkan Arneo berada di devisi dokumentasi dan Stella berada di devisi perlengkapan.

__ADS_1


Rapat OSIS pun berakhir dan mereka membubarkan diri dari ruangan itu


"Lo balik naik apaan?" Tanya Arneo


"Naik bis, gue duluan" saut Sania


"Hati-hati" saut Arneo, kebetulan hari ini dia ada latihan basket sama Altar dan temen temen lainnya


Berjalan menuju halte Sania melihat seseorang yang familiar dimatanya tapi ia lupa bertemu dimana dengan orang itu. Dia membawa tas gitar yang pastinya ada Gitar didalamnya. Laki laki itu juga menatap Sania seperti mengingat sesuatu


"Hei, Lo naik bus juga" tanya pria disampingnya


Sania mengernyitkan dahinya, jadi dia benar kalau dia pernah melihat laki laki ini dan laki laki ini juga pernah melihatnya. "Iyaa" jawab Sania dengan nada agak ragu.


"Gue pernah bikin kepala Lo kepentok pintu" saut laki laki itu yang paham kalau Sania sedang berusaha mengingatnya


"Ooh iya sorry kak gue lupa"


"Gue kalik yang sorry bikin jidat Lo merah, waktu itu gue buru-buru mau latihan jadi gasempet minta maaf yang bener sama Lo"


"Iya gapapa santai aja kak" ucap Sania


"Rega" ucapnya


Sania pun menoleh kesamping dimana laki laki itu berada


"Sania Marca" ucap Sania dan mengulurkan tangannya


Jadi cowo yang bikin jidat Sania memar namanya Rega.


"Kak gue duluan, bus gue nih"


"Iya hati hati, Skali lagi sorry ya"


"Iya santai"


Hari ini agak mendung, langit cerah yang biasa nemenin Sania seiring berjalannya bus dikalahkan sama langit gelap.


'mana gue gabawa payung' batin Sania


Tebakan saniapun benar adanya, sesampainya dihalte daerah rumah Sania, hujannya cukup deras. Masa iya dia harus nunggu dihalte sampe reda. Kalau nekat dia mau mau aja tapi kalo dia sakit gara gara ini bang Ben pasti ngelarang dia naik bus lagi. Setelah turun dari halte Sania melihat sesosok laki laki tinggi yang sempat jadi pikiran dia tadi. Abangnya dengan tampilan casual tapi keren menyilaangkan tangannya di dada sambil tangan kirinya membawa payung.


"Abang"


"Lama Lo, udah 4 bis gue disini"

__ADS_1


"Kan hujan, jadi pelan jalannya. Lo ngapain"


Apa Sania tidak melihat, abangnya sedang menunggu dia


"Nungguin Lo, ngerepotin Lo pake naik bus segala"


"Justru gue ga ngrepotin karna gue naik bis jadi Lo ga perlu nganter gue"


"Ya udah yok cepet"


"Lo jalan?"


"Gaklah tuh mobil diseberang, sinian ntar kehujanan"


"Iya iyaa"


Beruntungnya Sania punya Abang kaya bang Ben, meski mereka sering ribut bang Ben bener bener bikin Sania aman dan nyaman, meski kesannya kasar dan gapeduli Bendick ini dinilai terlalu memanjakan Sania menurut temen temennya, karna dia jarang bilang enggak ke Sania, kecuali kalo masalah cowo Bendick sering nolak permintaan adiknya.


Menurutnya dia lah yang paling berhak atas Sania. Cindy emang beruntung dapetin Bendick yang sikapnya kaya batu es jadi pacarnya. Cindy juga gapernah protes kalau Ben ngutamain Sania, secara dia sama Sania juga temenan. Yah Sania sama Cindy itu temen dari SMP, Cindy juga sekolah di Guardian cuma Cindy ini kakak tingkatnya Sania mereka jarak satu taun. Bendick yang katanya jatuh cinta sama Cindy pada pandangan pertama langsung gercep minta Sania buat comblangin dia.


Sania juga seneng seneng aja abangnya pacaran sama temennya sendiri, walau dia pasti ikut ribet kalau mereka ribut.


"Lo gada makul?"


"Nggak, udah tadi siang doang. Lo udah makan?" Ucap Ben


"Belom, laper gue pengen seblak"


"Seblak palalo, namanya makan tuh nasi"


"Yauda kita ke mall, Lo pesen nasi gue pesen seblak"


"Gamau gue pengen ayam bakar madu depan"


"Ya udah gue bilang kak Cindy kalo Lo DM cewe cewe disekolah gue" ancam Sania


Bendick ini tipe cowo yang takut sama pacar. Padahal dia garang banget didepan temen temennya. Mana mantan preman sekolah juga


"Fitnah Lo, dihati gue cuma ada Cindy"


"Yauda ayo, kak Cindy tu pasti percaya sama gue tau bang"


"Anak setan Lo emang, yauda jangan minta macem macem Lo awas"


"Iyaa paling eskrim doang"

__ADS_1


Bendickpun menghela nafas kasar dan melajukan mobilnya ke arah mall, daripada nanti dia harus ribut sama Cindy.


__ADS_2