
Pengumuman karyawisata kemaren memang sangat mendadak, buktinya anak anak OSIS sekarang pada bingung. Karena anak kelas 1 yang join jadi absen rapat karena karyawisatanya juga bersifat wajib alhasil semua senior Sania di OSIS yang hadir dirapatnya.
Tapi Sania tetep harus nyerahin ringkasannya, begitupun semua ketua kelas, jika referensi Sania meluas satu sekolah, maka Rifan sang ketua kelas cuma sebatas teman sekelasnya aja.
Dan dari kemaren bang Ben belum pulang entah apa yang dilakukan bocah itu
Chat Sania dari tadi juga belum dibales sama abangnya, Sania paling benci kaya gini dia ngga suka rasa khawatir karena rasanya gaenak banget dihati.
.
.
-Altar side-
Hari ini Altar sama temen temennya berada dirumah Judan. Ujian udah selesai dan minggu depan udah karyawisata aja. Hari ini Altar ada rencana balap udah lama dia gaturun. Karena semenjak jadi pacar Sania dia pengennya sama Sania terus, tapi hari ini temen temennya nyuruh Altar milih mereka. Kekasihnya juga sibuk sama kurikulum menyebalkan itu jadilah Altar mau ikut balap.
"Ada bang Ben hari ini" ucap Judan mengejutkan
Setelah kejadian mereka bertemu bang Ben mereka sebenernya punya grup bareng. Cuma dinamain sama Altar Alumni Paulin biar pas Sania pinjem hpnya dia ga curiga.
"Kata siapa?" tanya Altar
"Bang Tora nih baru aja di group" saut Judan sambil melihat kearah Altar
"Yauda bagus dong, sekalian kita bahas masalah itu" final Altar
Selama ini kalau Altar ke rumah Sania dan ketemu bang Ben mereka tidak pernah sekalipun bahas masalah Guardian sama Kaltter. Mereka ngobrol pun soal Sania. Karena bang Ben bener bener gamau Sania tau kalau dia sebenernya masih terlibat masalah kaya gini. Bahkan sebelum Altar minta tolong sama dia.
"Katanya ada anak Guardian nanti" saut Mario sambil melihat ke arah Dom dan berharap agar si Dom bisa datang
"Gue usahain" dengus Dom
"Ini kesempatan kita, bang Ben nyuruh kita semua dateng" ucap Dewangga sambil membaca roomchat group mereka yang baru.
-Basecamp-
Bang Ben sama temen temennya udah berada disana, kayanya mereka juga mau turun balap.
"Sania ada ngechat Lo nggak?" tanya bang Ben
"Iya trakhir gue pamit mau kesini, baru aja, kenapa emang?"
"Dari kemaren gue gapulang, gue mau jawab apa kalau Sania tanya muka gue babak belur gini" ucap Ben murung
Wajah bang Ben memang jauh dari kata baik baik saja, pelipis kirinya luka , sudut bibir nya ada darah mengering dan jangan lupakan tulang pipi kanan bang Ben yang membiru.
Bang Ben sengaja mengabaikan chat dari Sania. Kalau dia bales Sania pasti langsung vc abangnya. Pokoknya Sania ngelakuin berbagai cara sampe abangnya pulang, dan Ben selalu jatuh sama triknya Sania maka dari itu mengabaikannya adalah pilihan terbaik saat ini
Semua temen temen abangnya juga udah dichat sama Sania. Mereka semua kompak menjawab tidak tau posisi Ben. Sania pasti tau kalau temen temen abangnya boongin dia. Kalian harus tau semua wajah temen temennya bang Ben penuh luka juga. Mungkin karena inilah mereka minta ketemu
"Siapa bang" tanya Dom to the point
"Gatau juga, mereka nyerangnya tiba tiba mana pada bawa kayu juga kita hampir mampus tau nggak" ucap Tora
"Dimana ?" tanya Altar
"Belakang Paulin" jawab Ben
"Disitu gada cctv jadi gue gabisa cari siapa mereka, cuma si Aren liat salah satu dari mereka punya tato, jadi gamungkin kalo ini anak sekolahan" jelas Zidan
Altar sama temen temennya pun mengangguk mereka sedang memikirkan cara menemukan penyerang bang Ben, karena mereka pake embel embel Kaltter pas gebukin bang Ben sama temen temennya.
Bang Ben juga dipusingkan dengan masalah adiknya, gimana sama Sania. Dia kan harusnya jagain Sania tapi malah ngehindari Sania kaya gini.
__ADS_1
"Sania lagi di supermarket bang sama bi Aning" ucap Altar ke Ben yang terlihat gelisah
"Malem malem gini?" tanya Ben
"Iya bang sama pak Ali juga"
Ben lumayan lega, tapi itu tetap tidak membuat dia tenang. Sebenernya Sania tadi sempet chat kalau dia khawatir sama abangnya karna gada kabar, tapi Altar gabilang sama bang Ben. Takutnya Ben makin kalut stelah balapan selesai dia bakal bilang kalau Sania khawatirian dia
"Bang kalian inget nggak gimana cara mereka nyerang?" Siapa tau bisa dijadiin petunjuk, ucap Judan yang mengalihkan pembicaraan
"Menurut gue mereka nyerangnya asal asalan sih itu yang gue lihat, mereka yang panting nyerang" ucap Zidan yang dianggukin sama Ben
"Bener, kalau kita nyerang dititik yang bisa bikin lemes, orang orang kemaren lebih nyerang secara brutal mereka gaada teknik" jelas Ben
"Dan biasanya yang kaya gitu adalah anak sekolahan" ucap Dom dan Altar serentak
Semua pun mengangguk
"Jadi tatonya cuma pengalihan?" Saut Aren
Sialan mereka mikirnya jauh ke depan juga dan sayangnya Altar bang Ben dan gengnya satu langkah didepan mereka
Getar hp Altar membuyarkan lamunannya yang sedang berfikir tentang penyerang bang Ben
"Marca bang" ucap Altar sambil menatap bang Ben
"Angkat"
Altar pun menyalakan lounds nya
"Al, aku bingung" suara Sania benar benar serak
"Kamu kenapa" jawab Altar halus
Yang disana sontak menatap Ben semua
'brengsek ! Ben Lo emang brengsek ! bisa bisanya bikin adik kesayangan lo kaya gitu' batin Ben
"Hei hei kamu udah coba telfon" Altar merasa brengsek juga sekarang
"Uhk..dahh" ucapnya sesenggukan
"Aku ke sana yaa"
"Aku takut Abang aku kenapa napa, dia gapernah ngabai in chat aku sampe 2 malem gini Al"
"Iya aku kesana ya sekarang"
"Gausah, tapi aku bisa minta tolong bantuin cari bang Ben? Kamu pasti kenal banyak anak paulin kan Al"
"Iyaa nanti aku coba hubungin, kamu tenang ya"
"Aku udah cari disemua tempat nongkrong dia tapi gada"
Ben pun mebelakakan matanya, bagaimana bisa Sania bisa ceroboh ke tongkrongan abangnya pasti disana banyak cowo gabener, dan gimana kalau ada musuh Ben yang nyerang dia
"Kamu ada dimana sekarang" Altar yang peka sama reaksi Ben pun menanyakan posisi kekasihnya
Sania yang menelfon Altar dan lemah ke Altar menarik perhatian Aren, dia gatau kalau Sania bisa kaya gini sama Altar, kenapa kalau sama dia Sania gapernah menunjukan kelemahannya? Kenapa cuma sama Altar?
"Lagi cari bang Ben sama pak Ali, aku mana bisa tenang Al"
Sial !! Ben harus gimana sekarang
__ADS_1
"Kamu pulang yaa biar aku yang nyari sama anak anak, kamu pulang Ca bahaya oke?" Ucap Altar sangat halus
Semua juga bisa melihat ada ketulusan di hati Altar
"Tapi bang Ben belum ketemu"
"Aku yang cari oke aku yang cari, aku sama anak anak bakal nyariin bang Ben sekarang aku mohon sama kamu Ca kamu pulang sekarang, oke?" Ucap Altar berusaha tenang ia rasanya ingin menyusul Sania sekarang.
Altar setengah mati khawatir sama Sania sekarang. Dia bakal nyusul Sania kalau dia gamau pulang
"Tap-"
"Kasih hp kamu ke pak Ali, sekarang" ucap Altar halus tapi menekan
"Iya mas Altar"
"Pak Ali sekarang bawa Marca pulang, pak Ali aku mau bilang tapi pak Ali diem dan jangan kasih reaksi yang bikin Marca curiga. Dengerin Altar baik baik pak, sekarang Altar udah sama bang Ben, tapi bang Ben lagi ada kendala pak Ali pasti tau kenapa, jadi pak Ali sekarang pulang karena bang Ben ada disini sama Altar"
"Baik mas Altar"
"Kasih ke Marca lagi pak tolong" sopan Altar
"Kamu ngomong apa kenapa lama banget"
"Aku marahin pak Ali karena bawa kamu keluar jam segini. Kalau kamu gamau aku marahin pak Ali kamu pulang sekarang"
"Iyaa aku pulang, tapi cariin bang Ben ya"
"Iya sayang pasti"
"Janji"
"Iyaa, pulang yaa hati hati. Iloveyou Ca"
"Iyaa kamu juga jangan malem malem pulangnya. Love you too"
Ben yang melihat Altar begitu menyayangi adiknya sangat bersyukur, karena Sania ketemu sama laki laki sebaik Altar.
Altar merasa bersalah sama kekasihnya, bisa bisanya dia bohong kaya gini. Kalau Sania tau pasti dia kecewa banget.
Altar udah banyak bohong ke Sania, Altar juga gabilang kan kalau dia deket sama Ben lebih dari yang Sania bayangkan. Mana tau Sania kalau mereka ada hubungan gelap kaya gini.
"Makasih" ucap Ben
Ucapan makasih dari Ben ini cukup berarti buat Altar. Altar pengen Ben percaya kalau dia bisa jagain Sania
"Nurut juga si Sania sama Lo" ucap Zidan ke Altar
"Gue juga nurut sama dia" jawabnya singkat
"Minggu depan kita omongin rencana ini lagi, sementara biar gue sama temen temen gue cari info soal yang nyerang kita dulu" ucap Aren mengganti topik pembicaraan
"Gabisa bang, Minggu depan kita karyawisata soalnya" saut Dewangga
"Serius Lo? Kok baru sekarang?" Tanya Ben
"Iya bang dipending karna banyak lomba"
Ini berarti Ben harus segera pulang, ia harus membantu adiknya menyiapkan kebutuhannya saat karyawisata. Baiklah ia akan cari alasan yang tepat tentang wajahnya. Ben sangat dendam sama yang ngelakuin ini ke dia. Gara gara wajahnya kaya gini dia bikin adeknya nangis.
Tapi yang membuat Altar sama temen temennya kagum, Ben sama gengnya dihajar abis abisan sama orang yang jumlahnya 3x lipat dari mereka dan bawa senjata juga tapi luka yang diterima mereka termasuk ringan. Altar jadi lebih segan sama Ben, jujur saja dia ciut kalau sama Ben. Begitu juga sama gengnya Altar.
"Gue pulang deh kayanya, gue perlu siapin keperluan kurcaci kalau dia mau karyawisata" ucap Ben pelan
__ADS_1
Yang disana pun cuma diam bingung juga nanggepin apa. Ben emang sesayang itu sama adek perempuannya.