Amagi Brilliant Park

Amagi Brilliant Park
V1 - Chapter 3 Part 1


__ADS_3

BAB 3 : Ada Fasilitas Yang Tidak Digunakan Selama Beberapa Dekade


...----------------...


Saat para pemeran datang untuk bekerja pagi harinya—hari Selasa—mereka mendapati pengumuman besar dipasang di dalam gerbang pegawai.


Pengumuman itu menyatakan tiga hal:




Taman akan ditutup untuk hari ini.




Setiap pemeran harus membersihkan dan memperbaiki pos masing-masing.




Pos yang tidak menunjukkan kemajuan di penghujung hari akan ditutup untuk waktu yang belum ditentukan.




Ini diikuti oleh sedikit informasi tambahan, yang lalu diikuti dengan tanda tangan dari ‘Manajer Pelaksana’ Kanie Seiya dan Latifah Fleuranza, yang mengesahkan pemberitahuan itu.


Itu ditujukan kepada ‘Semua Pemain,’ yang artinya tidak hanya berlaku bagi para pemeran, tapi juga bagi semua orang yang bekerja di taman ini, termasuk orang-orang yang menjalankan atraksi, pemandu, pemilik toko, penjual makanan, keamanan, dan penjual tiket. Itu tidak hanya berlaku bagi mereka yang berasal dari alam magis seperti Maple Land, tapi juga bagi pegawai manusia.


“Apa… Apa-apaan ini, fumo?!” Moffle, datang untuk shiftnya seperti biasa pagi itu, berteriak saat melihat pengumuman itu. Ia berbalik dan berlari lalu memasukkan kepalanya ke pos keamanan terdekat.


“Okuro-san! Okuro-san! Bagaimana kau bisa membiarkan seseorang memasang tanda iseng itu?! Kau harus mengawasi dengan lebih baik, fumo!” Moffle memarahi Okuro, penjaga keamanan shift pagi. Ia lalu menyadari bahwa Okuro sedang merapikan kantornya menggunakan sapu.


“Oh, Moffle-san,” Okuro menyapanya. “Itu bukan tanda iseng. Itu dipasang oleh manajer pelaksana dan Isuzu-san pagi ini.”


“Manajer pelaksana? Bocah itu, fumo?”


“Yap. Menyuruhku membereskan pos keamanan juga… Yah, lagipula aku ragu ia akan menutup keamanan, tapi meski begitu, kupikir aku akan melakukan pekerjaanku dengan benar. Bukannya aku punya hal yang lebih untuk dikerjakan saat ini.”


“Di mana ia sekarang, fumo?”


“Ia bilang akan berkeliling ke area panggung. Tunggu sebentar, hmm… ah, itu di sana,” ucap Okuro, memakai sambungan keamanannya untuk memeriksa di mana saja Seiya sudah menggunakan kartu ID-nya. “Ia memasuki Rumah Manisanmu tiga menit lalu.”


“Moffu…!” Moffle berlari, bahkan tidak berhenti sebentar untuk menyapa rekan kerja akrab yang dilewatinya.


Ia melompat ke kereta listriknya dan berangkat melalui lorong bawah tanah. Itu sangat lambat—sangat lambat hingga jalan cepat bahkan lebih cepat. Ia dengan cepat melompat keluar dan berjalan menciak-ciak menyusuri koridor. Begitu ia mencapai area Bukit Penyihir, ia kembali ke atas tanah, lalu memasuki Rumah Manisan Moffle, posnya yang biasa.


Kanie Seiya berdiri di pintu masuk, mengusapkan jarinya di sepanjang dinding yang dihiasi dengan potongan menyerupai krim segar. Isuzu tidak bersamanya; ia sendirian.


“Apa yang kau lakukan?!”


Mendengar raungan Moffle, Seiya berbalik. Ia sama sekali tidak tampak terkejut melihatnya. “Yah, setidaknya kau tidak terlambat.”


“Bocah, ini tempat kerjaku, fumo. Aku tidak suka seorang amatir meletakkan tangannya di semua tempat.”


“…Aku tidak menyadarinya saat aku datang hari Minggu, tapi hiasan di sini luar biasa,” Seiya mengomentari. “Ini seperti hasil kerja pengrajin asli… Kupikir ini adalah busa uretan, tapi tidak. Aku tidak tahu bahan apa ini… Ini tidak mungkin ukiran tangan, kan?”


“Kau menjauhlah dari sana, fumo.” Sebelum Moffle bisa menyerbu dan menangkapnya, Seiya melangkah menjauh dengan santai dari dinding. Lalu, dengan langkah kaki senyap, ia mulai berjalan mondar-mandir di sekitar pintu masuk.


“Aku secara resmi menerima posisi sebagai manajer pelaksana dari Latifah kemarin,” ujarnya. “Kupikir aku bisa sesuka hati pergi kemana pun di taman, ya kan?”


“Jadi kau datang untuk menggangguku, benar begitu, fumo?”


“Kau sungguh berpikir aku punya waktu untuk itu? Aku sibuk menyiapkan keajaiban.”


“Masih berbicara tentang itu, baiklah, fumo.” Moffle menatap lama sang pria muda itu, tapi Seiya hanya mengangkat bahu sambil tersenyum acuh tak acuh. “Tapi bukan itu alasanku ke sini… ini tentang pengumuman itu, fumo! Kau tidak bisa menutup taman tanpa peringatan! Selama 29 tahun ini, kami tidak pernah melakukan itu, fumo!”


“Oh, jadi ini tentang itu?” Seiya mengarahkan pandangannya ke atas, menyipitkan mata melawan cahaya yang mengalir masuk melalui jendela di atap. “Prioritas nomor satu kita adalah mengembangkan penampilan taman. Sampah di mana-mana, debu di semua tempat… ini tampak mengerikan. Ini adalah pekerjaan penting yang akan menghabiskan sehari penuh untuk dikerjakan.”


“Itu memang bagus,” Moffle berpendapat, “tapi kita tidak bisa menutup taman tanpa peringatan, fumo! Bagaimana kau akan menjelaskan pada para tamu yang datang ke sini jauh-jauh, dengan asumsi kita akan buka?”


Seiya merengut. “Hari ini Selasa. Kita tidak akan dapat banyak orang, bagaimanapun.”


“Tapi kita tetap akan dapat beberapa!” Moffle meraung. “Bahkan jika hanya satu keluarga, membiarkan gerbangnya terbuka dan menyambut para tamu masuk adalah kesopanan dasar untuk taman manapun!”


Itu memang benar bahwa fasilitas manapun di bisnis hiburan harus beroperasi sepanjang tahun selain hari penutupan pra-pendirian. Taman ini sudah menjaga janji itu selama 29 tahun; mengingkarinya sekarang akan menghancurkan semua kepercayaan yang sudah mereka bangun selama itu.


Bocah itu hanya tidak tahu apapun. Ada beberapa usaha yang hanya tutup di hari Selasa; ahli kecantikan, misalnya, dan bar pilihan. Untuk anak-anak dengan orang tua yang memiliki pekerjaan itu, Selasa adalah satu-satunya hari yang mereka punya untuk kesenangan keluarga.


“Saat taman hiburanmu sejelek ini,” Seiya mengomentari, “Aku tidak yakin ‘kesopanan dasar’ itu berlaku…”


“Beraninya kau!” Moffle menggeram.


“Tapi… Aku paham apa maksudmu. Aku sudah berkeliling melihat atraksimu ini, dan—” Seiya tiba-tiba berhenti berjalan. “Sepertinya ini tidak perlu pembersihan apapun. Ini seperti orang yang aneh dan obsesif sudah membersihkannya setiap hari.”


“…?”


“Dengan kata lain, tikus… setelah apel pagi, kau akan punya banyak waktu luang. Aku akan membuka plaza depan, dan kau bisa menghibur tamu-tamu kita yang kurang beruntung di sana.”


“Apa-apa… fumo?”


“Lakukan beberapa juggling, beberapa tarian—apapun yang kau suka. Hibur para tamu, dan kirim mereka pulang dengan senang,” Seiya memberitahunya dengan membantu. “Kemudian, kita setidaknya akan bisa mengatakan bahwa kita sedang buka. Itu akan jadi pekerjaanmu hari ini.”


Itu tidak bisa dimengerti, pikir Moffle. Di plaza kosong yang hanya di dalam gerbang itu, apa yang harus dilakukannya untuk puluhan orang—sudah pasti orang-orang tidak senang—yang bisa mereka harapkan untuk hari ini?


“Kau bisa melakukannya, kan?” Seiya memancingnya. “Kau seorang veteran, kan?”


“Moffu. Yah…”


“Kalau begitu, kau tidak bisa?”


“Aku… Aku bisa, fumo!” Moffle akhirnya berhasil berkata tanpa berpikir.


“Bagus. Aku akan mengirim pemeran lain ketika mereka selesai dengan pembersihan mereka. Bagaimanapun, aku akan meninggalimu itu.”


...----------------...


Seiya berjalan menjauhi Rumah Manisan Moffle serta Moffle yang kurang optimis dan tercengang yang ia tinggalkan di sana. Meski begitu, ia sungguh menjaganya dengan baik… pikirnya. Ia tidak bohong saat ia bilang rumah itu tidak perlu pembersihan.


Itu adalah atraksi yang agak besar, namun kelihatannya itu seperti dibersihkan secara harian, dengan semua bagian mekanisnya terjaga dalam kondisi baik. Karena taman hanya punya keuangan yang minim, dipakai untuk pemeliharaan, Moffle pasti menjaganya sendiri. Berdasarkan catatan kartu kehadiran, Moffle lembur melewati tengah malam beberapa kali dalam seminggu. Ia kemungkinan tetap tinggal setelah tutup untuk melakukan pembersihan dan perbaikan.


Mengingat sikapnya saat mereka pertama bertemu, Seiya sudah berasumsi kalau Moffle adalah tipe pemalas, tapi ternyata ia melakukan pekerjaannya dengan cukup serius.


Masalahnya adalah kekeraskepalaannya, dan ketidakmampuan totalnya hanya untuk mempercayaiku… Yah, Aku tidak bisa menyalahkannya. Aku juga belum mempercayai tikus itu… Jika taman bisa bertukar pemeran seperti baseball menukarkan pemain, Moffle akan jadi pilihan pertamaku untuk dieliminasi. Bagaimanapun, apa yang akan Moffle lakukan dengan perintah yang kuberikan? Waktunya melihat kemampuannya…

__ADS_1


(Sekarang, hal selanjutnya dalam agenda…) Seiya tertahan menguap, dan naik ke salah satu sepeda khusus taman yang ia simpan di belakang panggung. Ia sudah menjadwalkan pertemuan dengan kepala departemen jam 9:00 pagi, tapi ada sebuah fasilitas yang ia ingin periksa secara pribadi.


Ia sudah berkendara ke sisi timur area belakang panggung dan memeriksa peta panduan pegawai saat ia disapa oleh seorang pegawai yang berjalan ke tempat kerja.


“Ah… Kanie-san! Selamat pagi!”


Dia masih belum check-in, jadi dia masih mengenakan pakaian bepergiannya: down jacket dan celana jeans, dengan topi bulu menutupi rambut peraknya. Dia adalah gadis yang cantik, dan sekilas tampak seperti orang luar negeri, tapi ada suatu kejepangan yang terlukiskan dari caranya membungkuk padanya dan tersenyum.


Siapa lagi dia? Seiya bertanya-tanya. Ada sesuatu yang familiar tentangnya, tapi ia tidak bisa mengingatnya.


“Ah… maafkan aku! Namaku Muse,” dia memperkenalkan dirinya. “Aku pemeran dari ‘Aquario’…”


“Ah.” Ia ingat sekarang. Dia adalah ‘peri’ yang menanyakan pertanyaan yang ia butuhkan selama kemegahannya di pertemuan tadi malam. Ia memakai gaun yang terbuka dengan sayap yang besar saat itu, jadi ia belum membuat hubungan dengan penampilannya yang lebih duniawi sampai saat ini.


Gadis Muse ini juga pasti penduduk dari alam magis— Seiya menyadari, meskipun, saat ini, dia tampak seperti siswa sekolah persiapan yang dalam perjalanan menuju simulasi ujiannya.


“Pas sekali,” ucapnya. “Bagaimana caraku pergi ke area selatan?” Ia menunjuk ke lokasi yang disebut—tempat luas di peta panduan yang nyaris kosong.


“Oh. Area selatan ada di seberang jalan raya,” ia memberitahunya setelah melihat peta. “Kau harus menggunakan jembatan pejalan kaki atau jalan bawah tanah… meski kami sedang menggunakan jalan bawah tanah, jadi mungkin akan sulit untuk lewat menggunakan sepeda…”


“Jembatan pejalan kaki, ya? Baiklah.” Seiya baru saja akan menaiki sepedanya ketika Muse menghentikannya.


“Tunggu, akan kutunjukkan jalannya!” dia berseru. “Mudah untuk tersesat.”


“Kuhargai itu,” ia memberitahunya, “tapi… bukankah kau dalam perjalanan ke tempat kerja?”


“Oh, aku masih punya waktu. Lewat sini!”


Ia akhirnya membiarkan Muse menjadi pemandunya. Terlepas dari penampilan duniawinya, dia tampaknya sangat pandai berbicara. ‘Aquario’ adalah teater musikal, jadi mungkin sifat itu secara alami mendatanginya yang seorang pemain panggung?


Dalam perjalanan ke sana, ia bertanya. “Sudah lama di sini?”


“Apa?” tanyanya, tidak memahami pertanyaannya.


“Maksudku, bekerja di sini,” Seiya menerangkan.


“Oh… yah, baru sekitar setahun! Sebelumnya, aku adalah penari latar belakang di Highlander Fujimi!”


Highlander Fujimi adalah taman hiburan di tepian Kanagawa. Ia lebih banyak mendengar tentang ketegangan yang melebihi batas daripada lagu dan rutinitas menari.


Kau tahu… pikirnya. Untuk semua pembicaraan tentang daratan magis ini, mereka masih punya pemindahan tempat kerja dan hierarki pemeran. Bukan sepenuhnya fantasi, saat kau bekerja di sana.


“Um, Kanie-san. Bisakah aku bertanya padamu?” Muse bertanya.


“Apa itu?”


“Um… apa kau benar-benar bisa membawa semua tamu itu?” dia bertanya dengan penuh keraguan. “Seratus ribu… hanya dalam dua minggu?”


“Tentu aku bisa,” Seiya langsung membalas. Itu bohong, tentu saja, tapi ia tidak bisa membiarkan keraguan apapun ada dalam pikirannya. “Ini adalah bagian dasar yang kuletakkan untuk itu. Lagipula, ini akan membutuhkan banyak persiapan.”


“S-Sungguh!” Nada Muse seperti nada seseorang yang tidak sepenuhnya percaya, namun tetap senang untuk bergantung pada harapan tak terlihat.


“Jadi, apa yang terjadi tadi malam?” Seiya bertanya, mengarahkan pembicaraan mereka ke topik yang lebih aman. “Apa kalian semua berkumpul untuk menghinaku setelah itu?”


“Oh, tentu saja tidak…” dia langsung membalas. “Yah, itu benar bahwa banyak dari mereka yang tidak senang denganmu, tapi kami semua tahu bahwa kami dalam situasi yang sangat mendesak. Dan banyak dari mereka bersedia memberimu kesempatan…”


“Begitu.”


Gadis Muse ini tampaknya tidak cakap dalam penghilangan strategis, atau sungguh, dalam melakukan apapun selain mengucapkan isi pikirannya. Ia tidak akan pernah perlu menggunakan sihirnya untuk tahu apa yang dia pikirkan.


…Faktanya, Seiya belum banyak menggunakan sihirnya sejak kemarin. Ia bahkan menunda menggunakannya ke Kurisu Takaya dari Pengembang Amagi; sadar ia hanya bisa memakainya sekali per orang berarti ia harus memilih waktunya dengan hati-hati.


Ah, tapi meski begitu—


—caraku menggunakan sihirku sangat terasa seperti itu.


“Lewat sini.” Muse benar tentang jembatan pejalan kaki yang sulit ditemukan. Ia mengayuh sepedanya ke jalan kursi roda, kemudian melewati jalan raya, menuju area selatan.


Bahkan dengan sudut pandang jembatan pejalan kaki, ia masih tidak bisa memahami dengan baik apa isi dari area selatan, terima kasih banyak, pada pertumbuhan pinus yang menjalar dan tinggi yang menutupi lahannya seperti selubung. Di balik pepohonan, ia hanya bisa melihat sejenis struktur besar dan rendah—bayangan raksasa yang tampak janggal dengan tanaman hijau tak tersentuh dari bukit yang mengelilinginya.


“Area selatan ini… jarang digunakan, apa aku benar?”


“Ya, itulah yang kudengar,” Muse setuju. “Mereka bilang tempat itu punya bumi perkemahan dan area permainan petualangan, tapi sekarang ditutup… jadi hampir tidak ada orang yang pernah ke sana.”


Ada jalanan aspal, tapi sudah ditinggalkan pada alam, dengan rerumputan layu tumbuh melalui retakan di sana-sini. Pernyataan “Lewat sini menuju Bumi Perkemahan Kegembiraan!” dan “Bergabunglah dengan kami di Plaza Kenakalan!” tetap nyaris terbaca pada tanda yang membusuk, yang tertutupi tanaman merambat. Ada rasa kesepian mendalam ketika melihat frasa semacam itu di tempat terpencil seperti ini.


“Aku tidak terlalu tahu kenapa ini ditinggalkan begitu lama, tapi…”


“Tampaknya mereka akan memakai lahannya untuk perluasan,” ucap Seiya, mengingat salah satu dokumen yang Isuzu berikan padanya tadi malam.


“Perluasan?” Muse bertanya.


“Suatu ketika, taman ini melakuan usaha yang hebat,” Seiya menjelaskan. “Ini terjadi selama gelembung ekonomi tahun 80-an hingga awal 90-an, ketika mereka dibanjiri uang. Sebelum gelembungnya pecah dan keuangan menjadi kacau, mereka punya rencana membangun taman kedua di area selatan ini.”


“Oh? —Tunggu, maksudmu, um…”


“……?” Seiya menunggunya menyelesaikan pertanyaannya.


“Apa kau berencana membangun taman kedua itu sekarang?!”


“Huh? Hanya dalam dua minggu?” Seiya menatapnya bingung. Muse cepat-cepat melambaikan tangannya.


“M-Maaf. Kau bilang kau akan membuat keajaiban terjadi, jadi aku menebak kukira itu mungkin sesuatu sebesar itu…”


“Aku tidak tahu tentang kalian, tapi aku bukan penyihir,” Seiya memberitahunya dengan datar. “Jangan salah.”


Muse menundukkan kepalanya. “Kau benar… Kau adalah manusia, bagaimanapun juga, Kanie-san. Aku sungguh minta maaf.”


“……? Lagipula, rencana untuk taman kedua tampaknya tidak terwujud setelah gelembungnya pecah. Mereka menggunakan uang yang tersisa untuk membangun bumi perkemahan yang agak menyedihkan, dan saat itu gagal menjadi populer, mereka menutupnya. Area selatan sudah ditinggalkan sejak saat itu.”


Sebatas itu yang Seiya tahu. Dokumen yang ia baca semalam agak terbatas pada informasi mereka, yang menyebabkan kenapa ia perlu datang ke sini secara pribadi; untuk mencari tahu lebih banyak tentang area selatan.


Saat itu, ia tidak melihat apapun yang mungkin membantunya menyelesaikan kebutuhannya. Tapi—begitu mereka sampai di tanah terbuka di pepohonan, mereka mendapati diri mereka berdiri di depan struktur yang sangat besar.


Awalnya, ia pikir itu adalah kapal tanker minyak yang karam yang ditinggalkan di sini oleh seseorang untuk suatu alasan. Struktur itu punya dinding luar yang tinggi dan melengkung lembut yang meluas jauh ke kejauhan, dan kerangka baja rumit yang tertutupi oleh tanaman merambat.


“Apa ini…” Muse berbisik.


“Kupikir ini adalah stadion,” Seiya merespon, memandang bangunan besar itu. “Itu adalah satu fasilitas yang mereka selesaikan menjelang proyek taman kedua.”


“Aku selalu melihatnya dari jauh,” Muse berkomentar. “Aku tidak tahu kalau itu adalah stadion. Aku bahkan tidak sadar kalau itu bagian dari taman kita…”


“Tampaknya belum pernah digunakan, tapi ini sudah selesai. Apa yang tidak bisa kupahami, dari apa yang kubaca, adalah kenapa pendahulu kita membangun stadion seperti ini.”


“Tema taman kedua dulunya akan menjadi olahraga.” ucap sebuah suara baru dari belakangnya. Itu Sento Isuzu, berjalan ke arah mereka, mengenakan seragam merah cerah.


Setelah memasang pengumuman di gerbang pegawai, dia mengatakan “Aku akan mandi,” lalu pergi. Dia pasti baru saja selesai; kulitnya mengkilap dengan aneh.


“Apa, kau mengikutiku ke sini?”

__ADS_1


“Kau mungkin tidak tahu ini, tapi…” ucap Isuzu saat dia melewati mereka, “…Muse adalah anggota pemeran kami yang sangat populer. Ketika seorang pria muda, baru saja mendapat kekuasaannya, membawanya ke kawasan taman yang sepi… Sebagai asisten manajer pelaksana, sudah menjadi tugasku untuk melindunginya dari ancaman pelecehan seksual.”


“Berhenti membuatnya terdengar sangat hina,” Seiya mencibir. “…Dan jauhkan senjata itu! Berhenti mencoba melukaiku!”


Isuzu mengarahkan senapan yang biasanya padanya. Ketika Seiya meneriakinya, Muse memerah, dan mulai berusaha mengayunkan tangannya.


“Um, um, Isuzu-san! I-Ini bukan seperti itu… Aku hanya mencoba berbuat baik… Maksudku, aku memang berpikir kalau Kanie-san itu tampan, sepertinya… tapi aku hanya menunjukkan jalan padanya, um, dan aku penasaran…”


“Kuhargai usahamu untuk melindungiku, tapi kau tidak perlu mengatakan bahwa aku tampan; semua orang tahu itu.”


“Ahh?”


Seiya melihat dengan pandangan sekilas, dan melipat lengannya saat Muse kehilangan kepercayaan dirinya. “…Bagaimanapun, Isuzu, dia hanya menunjukkan jalan. Jauhkan senapan anehmu itu.”


Isuzu dengan patuh menyimpan senapannya. “Sungguh disayangkan… Akan jadi kesempatan bagus untuk mencoba ‘Paradise Lost.’”


“Apa itu?” tanyanya.


“Itu adalah peluru yang membuatmu kehilangan fungsi reproduksimu selamanya,” dia menjawabnya.


“Jangan coba itu padaku!”


“Um… kembali ke topik…” Muse menyela dengan malu-malu. “Aku yakin kau memberitahu kami konsep dari taman kedua…?”


Itu benar; mereka berbicara tentang bagaimana stadion bisa sampai di sini.


“Ya, itu benar,” Seiya membenarkan. “Kau bilang itu akan punya ‘tema olahraga.’ Apa maksud sebenarnya?”


“Aku tidak tahu lebih dari itu,” Isuzu mengakui. “Yang kutahu hanya mereka berencana untuk pergi ke arah yang sangat berbeda dengan taman saat ini, dan stadion ini dibangun sebagai penanda.”


“Hmm…” Seiya memandang stadion lagi. Itu tidak memiliki atap segala cuaca, tapi itu cukup besar—mungkin salah satu yang terbesar di daerah Kanto. Bahkan sebagai sisa dari gelembung ekonomi, semua pemborosannya cukup memberinya sakit kepala.


“Kenapa tidak digunakan setelah lebih dari dua puluh tahun?”


“Kelihatannya, Kota Amagi dan Pengembang Amagi tidak akan memberi izin. Mereka menyebutkan berbagai alasan… pemberitahuan dari pemadam kebakaran, persoalan tentang layanan kesehatan… Sama seperti halte bus.”


“Ah.” Ia mengingat kebingungannya sendiri tentang nama-nama pemberhentiannya saat ia ke sini naik bus dengan Isuzu hari Minggu. Pemberhentian di pintu masuk lama tetap bertuliskan ‘Amagi Brilliant Park,’ yang membuatnya mudah untuk keliru antara hotel cinta setempat dengan taman itu sendiri. Saat itu, Isuzu memberitahunya bahwa mereka sudah mengajukan petisi ke Kota Amagi untuk menggantinya, tapi mereka tidak memberi izin.


Ini mungkin penolakan berputar yang sama dari pemerintah setempat dan para pemegang saham yang menahan potensi penuh stadion untuk disadari.


“Kuakui bahwa lokasinya memang tidak nyaman,” Isuzu mengakui. “Stasiun terdekat adalah Stasiun Amagi, dan itu sepuluh menit naik bus… Akan sulit untuk membawa cukup orang untuk mengisinya.”


“…Benar,” Seiya setuju. “Kalau aku yang bertanggung jawab di sini saat itu, aku akan menghapus gagasan tentang stadion sejak tahap perencanaan.”


“Kudengar Pengembang Amagi ingin mengubah area selatan menjadi lapangan golf atau kompleks perumahan,” ucap Isuzu. “Jadi bangunan stadion ini seperti aksi penolakan melawan itu.”


Seiya sudah mendapat pemahaman yang kurang lebih kukuh pada niatan apa yang berbagai perusahaan dan pemerintah setempat miliki untuk taman ini. Ini adalah situasi yang merepotkan.


Amagi Brilliant Park beroperasi dengan pendanaan dari sejumlah kesatuan. Sekutu Latifah terdiri dari sebuah perusahaan bernama Maple Real Estate dan beberapa sponsor lain. ‘Musuh’ yang Isuzu sebut adalah Pengembang Amagi, yang didanai oleh Kota Amagi dan Kereta Toto.


Maple Real Estate itu sendiri didanai oleh alam magis Maple Land. Memperoleh pendanaanmu dari daratan fantasi tampak seperti kemungkinan yang cukup meragukan, tapi uang yang berasal darinya dicuci sepenuhnya melalui bank-bank dan perusahaan asing, dan saat sampai di Maple Real Estate, semuanya bersih. Bagaimanapun, Maple Real Estate adalah wakil untuk Maple Land, yang artinya mereka berminat menjaga taman tetap berjalan.


Musuh mereka, Pengembang Amagi, adalah organisasi sektor ketiga yang dijalankan oleh para manusia dari dunia manusia. Itu adalah perusahaan manajemen yang pragmatis, didanai dengan investasi dari Kereta Toto (perusahaan dengan kekuatan hebat di Tokyo bagian barat) dan badan-badan hukum lainnya, serta pemerintah Kota Amagi.


Sedikit banyak, sejarah Amagi Brilliant Park adalah sejarah persaingan antara Maple Real Estate dan Pengembang Amagi. Dalam dua puluh tahun sejak gelembung pecah dan pendanaan menjadi semakin jarang, keberpihakan di kedua sisi hanya menjadi semakin dalam.


Maple Real Estate, bekerja keras menjaga taman tetap hidup—Pengembang Amagi, mencoba mematikannya.


Situasi mereka sekarang terasa seperti lanjutan dari itu semua, dengan Pengembang Amagi yang memanfaatkan ketentuan kontrak itu sebagai serangan penyelesaiannya.


“Ada sesuatu yang mau kau lakukan di sini?” Isuzu bertanya.


“Tidak… Aku hanya mau melihatnya, sebagai referensi.”


“Begitu. Hampir waktunya untuk pertemuan. Kita harus kembali.”


...----------------...


Pertemuannya dimulai jam 9:00 tepat. Itu dihadiri oleh kepala dari berbagai departemen, termasuk: urusan umum, akuntansi, pemeliharaan, HR, layanan makanan, keamanan, perencanaan, dan pemasaran, serta kepala dari setiap area taman. Ada sekitar 25 orang yang hadir, dan mereka semua berbeda-beda dalam hal usia.


Kebanyakan dari mereka adalah apa yang Isuzu dan Latifah sebut sebagai ‘pemeran asli’—orang-orang dari alam magis—fakta yang nyata bahkan di antara staf di balik layar yang jarang berinteraksi dengan para tamu. Beberapa tampak seperti hewan lucu yang berlagak baik seperti manusia, yang lainnya seperti makhluk dunia dongeng; beberapa tampak seperti mereka keluar dari anime.


Kelihatannya ada manusia biasa juga di beberapa departemen, tapi meski begitu itu adalah pemandangan yang aneh.


Moffle juga di sana. Ia menyandang gelar ‘pemimpin pemeran’ untuk pemeran di Bukit Penyihir, yang artinya ia adalah koordinator untuk pemeran yang berinteraksi dengan pengunjung di area itu.


Semua kepala departemen pasti sudah mendengar rumor tentang Seiya. Meski mereka memandangnya dengan kecurigaan tinggi, mereka tetap mendengarkan dengan tenang apa yang ia ucapkan—sampai ia menyatakan “mulai besok, semuanya akan sepenuhnya gratis.” Itu disambut dengan ledakan keberatan dan hinaan.


Membuat semuanya sepenuhnya gratis adalah cara terbaik bagi mereka untuk meningkatkan kedatangan mereka. Tanpa harga untuk apapun. Tiket masuk, atraksi, makanan dan minuman—semuanya gratis.


“Aku menentangnya, fumo.” Moffle menyatakan.


“…Dan kenapa itu?” Seiya bertanya.


“Kami profesional, fumo. Dalam keadaan apapun kami tidak bisa menghibur para tamu secara gratis. Itu akan membuat sistem hiburan-untuk-kompensasi hancur, fumo.”


“Mengingat standar hiburan yang kau berikan, aku tidak akan khawatir.” Seiya membalas dengan sarkastik, merujuk pada interaksi mereka di hari Minggu.


Moffle mengeluarkan suara tersedak, lalu menatap Seiya lagi. “…Aku salah untuk bertingkah seperti itu dan aku minta maaf, fumo. Tapi kualitas hiburan tidak masalah. Sekali kau membuatnya ‘gratis,’ pelanggan tidak akan pernah menerima ‘tidak gratis’ lagi, fumo.”


“Hmm, begitu.” Seiya bisa memahami apa maksud Moffle.


“Selain itu, bagaimana dengan modal kerja kami, fumo? Bahkan pada waktu-waktu ini, biayanya sekitar 3 juta yen per hari untuk menjaga taman tetap berjalan. Selama dua minggu, itu bertambah hingga 42 juta. Siapa yang akan membayar itu semua, fumo?”


“Kita berhutang apa adanya,” Seiya memberitahu. “Kita bisa memikirkan itu nanti.”


Moffle terkesima dengan pengeluaran cerobohnya. “Memikirkan tentang 42 juta—”


“Kalian sudah berhutang 400 juta kalau kalian tutup sekarang,” Seiya mencibir. “Apa salahnya menambah beberapa juta lagi? Jangan khawatir.”


“Tapi—”


“Kalau kapalmu kecelakaan dalam badai dan kau tenggelam, apa kau akan pilih-pilih dengan papan yang menjagamu tetap terapung? Apa kau akan mengkhawatirkan siapa yang mendapatkan papannya?”


“Mgh…”


“Taman ini tenggelam,” Seiya mengumumkan dengan datar. “Prioritas utama kita adalah keluar dari air. Kita bisa mengkhawatirkan tentang di pantai apa kita terdampar nanti. Tetap saja…”


Ia bisa memahami apa yang Moffle katakan—bahwa sebagai seorang ahli, ia tidak bisa mentolerir pemikiran bekerja untuk sepenuhnya gratis.


“Tapi… ya, aku paham. Kalau kita tidak bisa membuatnya gratis, kita akan membuatnya mendekati gratis; 30 yen untuk masuk.”


Keributan terjadi di kelompok itu.


“…Kenapa 30 yen, fumo?”


“Karena tahun depan akan menjadi hari jadi taman yang ke-30. Ini alasan yang bagus, dan ini akan membuat orang membicarakannya.”


Keributan lain terjadi di kelompok itu, ditandai oleh berbagai variasi penerimaan dan kecurigaan.

__ADS_1


“Kita harus mulai mengiklankannya segera,” Seiya memutuskan. “Siapapun yang bertanggung jawab dalam hal itu, tetap di sini; yang lain bisa kembali ke pos masing-masing. Kita selesai di sini. Bubar.”


...----------------...


__ADS_2