
Ambulans dan mobil polisi tiba, membuat kantor berada dalam kekacauan selama beberapa waktu.
Seorang detektif Departemen Kepolisian Amagi terus menginterogasi mereka; mereka mempertunjukkan ketidakbersalahan yang bisa dipercaya, dan saat semuanya sudah tenang, sudah sekitar pukul 8:00 malam. Taman ditutup untuk hari itu.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” Seiya bertanya saat ia mengepel noda darah yang menggelap yang Bando Biino tinggalkan di lantai.
“Kita seharusnya mewawancara para pekerja paruh waktu hari ini. Sebagai gantinya, kita mendapat satu mantan aktris AV—yang membuat dampak cukup besar, dirinya sendiri—diikuti oleh seorang gadis yang nyaris membuat kita dituduh karena sebuah tindak pidana! Ini konyol…”
“Itu benar, fumo. Kita adalah korban di sini,” bisik Moffle. Ia juga sibuk menggosok noda darah di dinding. “Polisi itu mencoba membuatku mengakui niat membunuh, fumo. Aku berulang kali mengatakan itu adalah pertahanan diri!”
“Aku bisa mengerti kenapa ia mengasumsikan pertahanan diri yang berlebihan, mengingat kau mematahkan rahang pria itu… Kurasa ia benar-benar akan minum melalui sedotan untuk sementara waktu.”
“Hm. Yah, mungkin aku bisa menahan diri sedikit lagi, fumo.”
“Kau sangat kuat,” Seiya menuduh. “Tunjukkan sedikit belas kasihan.”
“Moffu…”
Menurut detektif, pria dalam pakaian dalamnya benar-benar kakak Biino. Seiya tidak tahu gangguan mental apa yang ia miliki, tapi tampaknya ia sangat membatasi gaya hidup Biino, di antara hal lainnya. Ia telah menyebabkan banyak insiden di masa lalu, dengan ini menjadi intensifikasi terakhir. Tidak pantas menertawakan hal itu, tapi pada saat yang sama, apa yang bisa kau lakukan selain tertawa?
“Sekarang, gadis Biino itu. Apa yang kau pikir akan terjadi padanya, fumo?”
“Bagaimana mungkin aku tahu?” Seiya membalas. “Kuharap aku tidak pernah mendengarnya.”
“Dia benar-benar punya gairah, bagaimanapun juga.”
“Apa, maksudmu kau mau mempekerjakan dia?”
“Nah, aku tidak bilang begitu, fumo.” Berpura-pura polos, Moffle melanjutkan pembersihan.
“……Sento, bagaimana menurutmu?” Seiya bertanya pada Isuzu, yang baru saja kembali dengan seember air.
“Maksudmu, tentang apakah kita harus mempekerjakannya atau tidak?” Dia mengurangi melakukan hal “Hmmmgh!” itu sekarang, tapi masih ada kewaspadaan dalam nada bicaranya. Dia menjaga tangannya tetap di dekat mulutnya setiap saat.
“Hmmmgh!” yang terus diulangi oleh Isuzu selama tanya-jawab dengan polisi menyebabkan masalah yang rumit, meski mereka berhasil menghapuskannya dengan ‘dia menjadi panik ketika melihat darah.’
“Ya,” Seiya membenarkan. “Kaulah yang melakukan penyaringan, kan? Aku mau mendengar pendapatmu.”
“Aku mengerti…” Isuzu berpikir sejenak. “…Kebijakan umum adalah bahwa dia tidak bisa dipekerjakan. Di sisi lain, dia bisa menjadi sebuah aset perihal menangani masalah di atas panggung.
Bagaimanapun juga… meski ditusuk, dia sanggup mempertahankan senyum dan rasa tanggung jawabnya. Dengan pelatihan yang tepat, gairahnya bisa menjadikannya kekuatan positif yang kuat bagi taman kita.”
“Hmm…” Akhirnya, pikir Seiya, dia masuk akal. Analisis pribadi dan penilaian karakter Isuzu selalu tepat pada saat-saat seperti ini.
“Lagi pula, setelah insiden tidak menyenangkan seperti itu, aku yakin kau tidak akan tertarik padan—hmmmgh!”
Ya ampun, tidak lagi. Seiya bertukar pandang dan mengangkat bahu dengan Moffle.
“…Sepertinya aku masih menderita efek samping dari kacang itu,” Isuzu mengaku. “Kau mungkin tidak seharusnya membuatku bicara…”
“Kacang?” Seiya meminta keterangan.
Moffle menepukkan tangan hewannya dan mengangguk. “Ah… aku paham sekarang, fumo. Mereka memberimu kacang kebenaran, kan? Dan itulah kenapa kau mencoba membunuh Macaron dan Tiramii siang ini, fumo?”
“Ya.” ucap Isuzu.
“Yah, itu hanya lelucon tak berdosa. Cobalah untuk memaafkan mereka, fumo.”
“Tidak,” dia tidak setuju, “itu adalah lelucon jahat. Aku tidak akan memaafkan mereka.”
Seiya tidak sepenuhnya yakin, tapi sepertinya perilaku aneh Isuzu hari ini disebabkan oleh ‘kacang’ ini yang Moffle sebutkan.
“Kacang apa yang sedang kalian bicarakan ini? Apa itu membuatmu menyela dirimu sendiri dan meneriakkan ‘Hmmmgh!’ di tengah-tengah kalimat?” tanyanya.
Tapi Moffle dan Isuzu hanya mengalihkan pandangan, seolah tidak yakin bagaimana menjelaskannya.
“Erm… Bukan tugasku untuk mengatakannya, fumo.”
“Ini seperti berhasil membubuhi alkohol pada minuman seseorang,” ucap Isuzu. “Kau tidak perlu khawatir tentang hal ini.”
Mereka tidak tampak ingin menjelaskannya. Jadi, memutuskan bahwa itu akan membuang-buang waktu jika menuntut lebih lanjut, Seiya kembali ke topik asli: “Yah, oke, terserah. …Aku paham apa yang kau katakan tentang Bando Biino. Bagaimana dengan subjek pertama kita, Adachi Eiko-san? Apa pendapatmu tentangnya?”
“Kenapa kau memanggilnya Eiko-san?” Isuzu menuntut.
“Geh…” Seiya terbatuk.
“Yah, bagaimanapun… aku tidak berpikir ada risiko riwayatnya merusak citra taman,” Isuzu memperkenankan. “Tidak ada banyak persilangan antara jenis orang yang akan tahu tentang dia dan basis pelanggan kita. Dan… gadis dengan riwayat seperti dirinya seharusnya bisa menghadapi setiap tamu dengan senyuman. Dia juga bisa menjadi kekuatan positif yang kuat di taman.”
“Hmm… semuanya poin yang lumayan.” ucap Seiya.
“Namun,” Isuzu memperingatkannya, “keduanya juga adalah sumber masalah yang berpotensi. Wanita dengan riwatyat Adachi Eiko bisa menyebabkan perselisihan di tempat kerja. Dan Bando Biino tampaknya tidak memiliki kehidupan rumah yang amat stabil, jadi bahkan kalau insiden hari ini dikurangi, ada kemungkinan dia akan membawa masalah ke taman di masa depan.”
Setelah mendengarkannya, Seiya dan Moffle bergumam terkesan.
“Apa yang kalian gumamkan?” tanya Isuzu dengan curiga.
“Yah… Aku hanya terkejut karena kau mengatakan sesuatu yang sangat masuk akal.” ucap Seiya.
__ADS_1
“Moffu,” Moffle menyetujui. “Bagaimana bisa seseorang yang sangat pandai dalam menilai orang bisa sangat buruk dalam berkomunikasi sampai-sampai dia harus mengekspresikan dirinya dengan sebuah senapan, fumo?”
“Itu juga tidak konsekuen dengan waktu kau merekrutku,” Seiya mencatatkan. “Apa itu semacam kelainan psikologis?”
Komentar tidak peka mereka memicu tatapan berbahaya dari Isuzu, dan seperti biasa, dia mulai menjangkau ke bawah untuk mengeluarkan musketnya dari ruang misterius di bawah roknya. “Kalau itu ejekan, aku akan membuat kalian menyesalinya…”
“Lihat? Lihat? Itulah yang kumaksud!”
“Orang benci wanita kasar sekarang, fumoke?!”
Seiya dan Moffle memprotes sambil bersembunyi di balik pel dan meja masing-masing.
“Ghh…” Reaksi Isuzu menunjukkan bahwa penggunaan senapan itu refleksif, dan dia memindahkan tangannya tanpa menariknya.
“…Ya ampun. Hari ini membuatku sangat lelah, fumo,” Moffle mendesah. “Aku akan check-in di Rumah Manisanku, lalu pulang. Begitu kau memutuskan jadwal untuk wawancara besok, kirim surel padaku, fumo.”
Semua keributan di sekeliling Biino-san memaksa mereka untuk membatalkan wawancara yang tersisa. Sisa pelamar akan terlihat esok hari, dan seterusnya. Setelah Moffle pergi, Seiya dan Isuzu tetap tinggal, menyelesaikan pembersihan dalam diam.
Sekitar dua menit kemudian, seseorang mengintip ke dalam ruang konferensi.
“Pe-Permisi…”
“…?” Keduanya mendongak.
“Apa ini tempat di mana wawancara dilangsungkan?” tanya sang orang asing. Dia adalah seorang gadis seusia SD dengan rambutnya dikuncir dua serta mata yang bulat dan besar. Pakaiannya cukup modis, tapi dia juga tidak akan terlihat janggal jika memakai ransel bergaya randoseru.
“Siapa kau?” Seiya ingin tahu.
“Chujo Shiina. Aku melamar untuk pekerjaan paruh waktu… tapi aku terlambat untuk wawancaraku…” ucap sang gadis terbata-bata.
“Kami mengalami sebuah insiden; wawancara ditunda hingga esok hari. Lagi pula, kami tidak bisa mempekerjakanmu.”
“A-Apa?! Kenapa tidak?”
“Hukum pekerja anak,” jelasnya. “Kau terlalu muda.”
“T-Tapi aku…”
“Pintu keluar ke sebelah sana. Terima kasih sudah mampir.” Seiya menyatakan secara sembrono. Chujo Shiina pergi, bahunya merosot.
“Mimpiku menjadi kenyataan lagi… tapi tidak persis. Apa-apaan yang terjadi di sini?” Isuzu bergumam pada dirinya sendiri.
“Apa yang kau bicarakan?” tanya Seiya. “…Dan kenapa ada seorang anak datang untuk wawancara? Kaulah yang menyaring para pelamar, kan?”
“Kenapa aku tidak menyadarinya sebelumnya? Aku memimpikan hal itu karena aku sudah memeriksa resume semua orang. Memori itu bekerja di alam bawah sadarku, dan itulah kenapa aku memimpikan hal i—hmmmgh!”
“‘Hmmmgh!’ itu lagi, huh?” komentarnya. “Sudah cukup…”
“Hahh… hahh… maafkan aku…” ucap Isuzu, bahunya naik-turun.
“Tapi itu bukanlah kesalahan dalam penyaringan. Dia memang siswi SMA. Dia terlihat seperti anak-anak, tapi dia bersekolah di SMA Amagi, seperti kita. Dia adalah siswi tahun pertama.”
“Apa? Uhh…” Seiya menjulurkan kepalanya ke lorong, tapi dia sudah pergi.
“Kenapa kau tidak mengatakannya sebelumnya?!”
“Aku mau saja… tapi aku takut aku akan berbicara terlalu banyak lagi.”
“Ya ampun… kita harus mengiriminya surel permintaan maaf nanti.” Seiya menggerutu.
“Aku ragu dia akan melamar lagi setelah caramu memperlakukannya.”
“Ya, tapi itu adalah hal yang pantas untuk dilakukan.”
Isuzu terpana dengan betapa tulusnya dirinya terdengar. “…Begitu.”
Mereka selesai membersihkan ruang konferensi tidak lama setelah itu. Mereka menyimpan peralatan kebersihan, kemudian menuju kantor mereka, yang terletak di bangunan yang sama, untuk bersiap pulang.
Mereka baru akan pergi dengan tas di tangan mereka ketika tiba-tiba Isuzu angkat bicara. “Kanie-kun.”
“Hmm?”
“Kau benar mengenai apa yang kau katakan.”
Itu muncul begitu saja sehingga Seiya tidak tahu apa yang dibicarakannya. “Apa yang kukatakan tentang apa?”
“Apa yang kau dan Moffle katakan sebelumnya… bahwa aku punya penglihatan yang bagus terhadap orang-orang, tapi juga memiliki masalah berkomunikasi.” Isuzu mengakui dengan kaku.
“Ahh…”
Dia terus berbicara ketika mereka menyusuri lorong yang kosong. “Aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti. Ketika aku bekerja untuk seseorang, menganalisis orang lain, aku bisa tetap tenang. Tapi ketika aku yang bertanggung jawab… aku kehilangan keobjektifanku. Itulah kenapa aku membuat begitu banyak kesalahan. Aku sungguh berada di ambang melakukan kerusakan permanen…”
Seiya teringat bahwa, sebelum kedatangannya, dia adalah manajer pelaksana di sini. Isuzu tampaknya bekerja cukup keras, tapi tidak ada usahanya yang membuahkan hasil. Akibatnya, taman menjadi terdorong menuju ambang penutupan. Pada akhir tahun lalu, mereka mendapati diri mereka berada dalam posisi yang mustahil untuk mendapatkan 100,000 pengunjung ke taman dalam dua minggu. Saat itulah dia meminta pada Seiya, dan ia mencapai keajaibannya (yang curang). Manajer pelaksana saat ini telah membuat hal-hal luar biasa terjadi, sementara mantan manajer pelaksana tidak melakukan apa pun: dan sekarang, dia harus mengabdi sebagai sekretarisnya. Ia tidak bisa membayangkan betapa frustrasinya hal itu baginya.
Sayang sekali ia tidak bisa memakai sihirnya untuk membaca pikirannya. “Menilai orang dan berinteraksi dengan mereka adalah bakat yang benar-benar berbeda,” ia memberitahunya. “Kau tidak perlu terlalu khawatir tentang hal itu.” Pernyataan itu tidak terlalu penting; itu seperti memberitahu seorang pemain baseball, ‘melempar dan memukul adalah bakat yang benar-benar berbeda.’
__ADS_1
Tapi dia terdiam, dengan mata melebar… dan setelah beberapa saat, dia tersenyum. Itu adalah ekspresi yang belum pernah ia lihat darinya sebelumnya—seolah-olah dia akan menangis karena rasa terima kasih. “Kanie-kun. Kau benar-benar kejam,” ucapnya. “Akan jauh lebih mudah jika hanya iri dan membencimu, tapi kau tidak akan membiarkanku melakukannya. Aku sudah berusaha mengatakan pada diriku sendiri bahwa perbedaaan keterampilan di antara kita adalah suatu pemberian, tapi bukan itu yang sebenarnya kurasakan: Aku sangat iri padamu. Aku hanya tidak bisa menerima perasaan itu karena aku—hmmmgh!”
Apa-apaan? pikir Seiya dengan jengkel. Kembali lagi ke “hmmmgh”?
“Hei… sudahlah, kendalikan dirimu.” Seiya menyaksikan, tercengang, ketika Isuzu membenturkan kepalanya ke jendela lorong. “Kurasa kacang itu masih bekerja…”
Tepat ketika tampaknya dia berbicara dari hati untuk pertama kalinya, ini terjadi. Tidak mungkin ia bisa menganggapnya serius. Tapi satu hal yang ia ketahui adalah bahwa Sento Isuzu memiliki banyak konflik internal.
Tentu saja, itu bisa dimengerti jika seseorang yang biasa-biasa saja akan berjuang di hadapan seorang pria Renaisans zaman sekarang seperti dirinya… “Yah, itu wajar kalau kau akan iri dengan talentaku,” ucapnya tidak sopan. “Itu terjadi setiap saat, jadi jangan biarkan hal itu mengganggumu; itu tidak menggangguku sedikit pun.”
“Kanie-kun… sikap ‘memandang rendah dirimu dari kedudukanku yang agung’ itu cukup kejam…” Isuzu menggumam sendu.
“Bagaimana aku bisa tidak memandang rendah dirimu?” ia ingin tahu. “Aku memang benar-benar berada di atasmu.”
“Dewi Libra, bawakan kesengsaraan pada pria ini…” Isuzu mendesah, kemudian mengembalikan tasnya ke bahunya.
Mereka berdiskusi singkat mengenai jadwal mendatang mereka, kemudian berpisah di lorong bawah tanah taman.
...----------------...
Isuzu menuju Kastil Maple, di pusat taman, sementara Seiya menuju pintu masuk pegawai. Seiya masih memiliki cukup banyak pekerjaan untuk dilakukan, tapi sebagian besar adalah mengirim surel, jadi ia memutuskan akan melakukannya setelah sampai di rumah.
Ia melewati pintu masuk menuju parkiran sepeda. Ia mengendarai sepeda ke tempat kerja akhir-akhir ini, karena fakta bahwa ia cenderung bekerja larut malam membuat mengejar bus menjadi tidak nyaman. Untungnya, tempat tinggalnya dekat, jadi meski berjalan dengan santai, tidak butuh waktu lebih dari 30 menit.
“Ah, Kanie-san. Kerja bagus hari ini.” Seorang anggota pemeran, sedang menuju halte bus, menyapanya.
Seiya membalas dengan sebuah “hei,” dan tidak lebih, lalu mulai menaiki sepedanya. Saat itu malam hari di bulan April, jadi masih dingin di luar, dan ia menutup ritsleting jaketnya dengan satu tangan sambil mengayuh sepedanya.
Ia meninggalkan jalan kecil sempit yang digunakan oleh para karyawan menuju jalan utama, dan memotong jalan melalui perbukitan hijau ke arah pusat Kota Amagi.
“Tetap saja, itu benar-benar tampak seperti…” Seiya berbisik, suaranya cukup lirih untuk ditelan oleh angin.
Ia tidak bodoh. Ia juga tidak benar-benar lupa. Ia memiliki gambaran samar tentang apa yang ‘kacang’ itu perbuat pada Isuzu. Ia mendengar apa yang dikatakannya setiap kali sebelum dia menahan dirinya, dan ia ingat. Dan pola hal-hal yang dia hindari untuk dikatakan menunjukkan—
Ia tidak bisa yakin, tapi—
Itu hanya sebuah hipotesis, tapi—
Apa dia tertarik padaku?
Ia berharap itu hanya obsesinya terhadap dirinya sendiri yang biasa, tapi… Suatu jenis kacang yang aneh memaksa Sento Isuzu—yang biasanya tidak pernah mengekspresikan dirinya dengan cara selain kemarahan—untuk berbicara dari hati, dan dia berusaha untuk mengendalikan dirinya. Itulah kenapa dia bertingkah seperti itu. Jika tidak ada alasan lain, itu hampir pasti bahwa dia memendam semacam perasaan untuknya.
Persoalan yang lebih besar adalah bahwa pada saat ia menyadari hal ini, ia mendapati jantungnya sendiri berdegup sedikit lebih cepat. Ia berharap ia bisa tinggal mengatakan “ya ampun, sungguh suatu perubahan peristiwa yang merepotkan” dan tetap menjadi seseorang yang keren dan di atas segalanya seperti biasa. Tapi ia tidak bisa. Ia bersemangat. Ia bahkan agak menyukai pemikiran itu.
Tetap saja, ia tidak bisa membayangkan beberapa masalah:
Masalah satu: Dia dan aku (masing-masing) masih bos dan karyawan.
Tidak baik bagi seorang bos untuk mengencani seorang karyawan, katannya dalam hati. Itu seperti seorang ketua klub berkencan dengan wakil tim: Emosi mengaburkan penilaian, dan kepercayaan tim hancur. Seorang manajer (yang bertindak) mengalami ketegangan seksual dengan sekretarisnya benar-benar sulit dipercaya.
Masalah dua: Bagaimana dengan Latifah?
Yah, bukannya dia dan aku sedang jatuh cinta atau apa, katanya dalam hati dengan rasa bersalah. Dia memang menciumku karena ‘ramalan’ miliknya itu, dan sejujurnya, dari semua wanita dalam hidupku sejauh ini, dia mungkin adalah wanita yang paling menarik bagiku. Tentu saja, dia melupakan semua itu, tapi itu tidak berarti ketertarikanku padanya terhapuskan… Itu adalah hubungan yang rumit.
Masalah tiga: Bagaimana kalau aku hanya membayangkannya?
Kurasa tidak, tapi bagaimana kalau suatu kesalahan kecil dalam penilaian namun fatal membawaku pada hipotesis yang salah? ia termenung. Bagaimana kalau lidahku terselip membuatnya terdengar seperti aku tertarik, dan Isuzu berkata, “Kelihatannya kau salah paham” atau “Maaf, aku merasa kau sangat tidak menarik”? Aku tidak pernah bisa kembali. Harga diriku akan hancur selamanya. Ia harus menjatuhkan dirinya sendiri dari Kastil Maple dan mati—dan ia tidak ingin mati.
“Hmm…”
Jalannya menurun dari sini. Sebuah truk lewat di sampingnya, menyibakkan angin dingin.
Di depan ada persimpangan empat arah. Saat lampu berubah menjadi kuning, ia mengerem dan berhenti. Sesaat kemudian, sebuah truk tangki besar merobek penglihatannya, menggetarkan tanah di bawahnya. Truk itu berjalan cukup cepat. Jika ia tidak berhenti di lampu kuning, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi padanya.
Apa ini semacam pertanda? Seiya bertanya-tanya, mencengkeram tuas rem dengan erat.
Oke, ia memutuskan. Itu adalah lampu kuning. Kuning. Kuning artinya hati-hati.
Pura-pura saja kau tidak menyadari apa yang terjadi hari ini, katanya dalam hati. Aku hanya seorang lelaki yang kasar dan tidak sadar. Aku tidak tahu apa yang kacang aneh itu perbuat. Aku tidak akan berpikir dalam-dalam tentang perkataan Isuzu. Itu seharusnya menunda segalanya untuk sementara.
Telah mengambil keputusan, ia merasa jauh lebih baik. Biasanya ia ingin berbicara dengan seseorang dan menenangkan pikirannya, tapi ia tidak memiliki siapa pun yang bisa ia curahkan isi hatinya padanya: Kanie Seiya adalah pria yang tertutup.
Pada saat itu, ia merasakan smartphone yang tersimpan jauh di saku belakangnya bergetar. Ia baru saja menerima sebuah surel.
“……!”
Itu mungkin sebuah spam, tapi terlepas dari itu, ia mengeluarkan ponselnya dan memeriksanya. Asalnya dari Sento Isuzu. Seiya terkesiap, meski tidak cukup panik—lebih seperti ketegangan.
Ia membuka surel itu. “……Ya, sudah kuduga.”
Seperti yang ia kira, itu hanya tentang pekerjaan: jadwal wawancara untuk besok, dan seterusnya; recananya untuk berurusan dengan Chujo Shiina, orang yang ia palingkan mukanya darinya sebelumnya; informasi tambahan mengenai Adachi Eiko dan Bando Biino. Dia menjelaskan itu semua secara sederhana dan tanpa tambahan apa pun.
《Aku mengerti. Sampai jumpa lagi》Ia balik mengetik dengan singkat.
Lampu berubah menjadi hijau. Ia mengebut menyusuri jalan dua jalur satu arah ketika ponselnya kembali bergetar. Ia menghentikan sepedanya dan memeriksa surelnya: itu dari Isuzu.
《Terima kasih untuk semuanya. Aku minta maaf tentang hari ini.》Sebuah pesan singkat. Bagaimana ia harus mengartikannya? Seiya menghabiskan sisa malam itu memikirkannya, tapi ia tidak bisa mencapai sebuah kesimpulan.
__ADS_1
...----------------...