
BAB 1 : Tipikal Tempat Kencan Yang Buruk
...----------------...
Minggu tiba.
Stasiun Amagi di Jalur Toto adalah tempat pertemuanya dengan Sento Isuzu. Saat Seiya melewati gerbang tiket, ia melihat pos polisi di dekatnya dan berhenti di depannya, memikirkan sesuatu. Seorang petugas paruh baya menyadarinya, dan bertanya padanya: “Ada masalah, Nak?”
“Tidak…” Seiya menggelengkan kepalanya. Untuk sesaat, membayangkan apa yang akan terjadi jika ia mengatakan apa yang ada di pikirannya kepada petugas:
Siswi pindahan aneh ini mengajakku berkencan di bawah ancaman tembakan musket! Ya pak, dia punya musket. Ya, seperti senapan di ‘The Three Musketeers.’ Senjata itu juga cukup terkenal sebagai senjata gadis penyihir saat ini. Tolong, kau harus menangkapnya!
Petugas itu tidak akan menanggapinya dengan serius.
Tidak hanya petugas saja. Selama tiga hari ini, Seiya ragu-ragu apakah ia harus memberitahu guru dan pamannya tentang apa yang terjadi atau tidak. Setiap kali ia memberitahukannya, ia sampai pada satu kesimpulan, dan berakhir tidak mengatakan apapun.
“……?” Petugas itu segera menatapnya dengan tajam. Merasa canggung, Seiya menjauhkan dirinya dari pos polisi, berjalan ke arah sebaliknya menuju toserba kecil yang ada di sebelah.
Ia iseng mengecek pakaiannya di pantulan kaca. Oh, ya. Lihatlah dirimu, tampan!
Ia memakai jaket berwarna gelap dan celana panjang, dengan kaos v-neck yang sama polosnya, pakaiannya menekankan bahwa dia ramping, dengan otot-ototnya yang dipertegas. Rambutnya dilicinkan dan berkilap untuk memberi kesan hanya sedikit gerakan yang terjadi. Ia memiliki alis dan mata yang panjang dan tipis, dan wajahnya tertahan pada 45 derajat yang menyombongkan kecerdasan dan kemurniannya.
Ahh, bahkan aku akan jatuh cinta pada orang yang ada di cermin itu! Dengan penampilanku yang menakjubkan, ditambah nilai terbaik di sekolah, tidak mengejutkan jika seorang siswi pindahan yang belum pernah kuajak bicara mengajakku berkencan…
…Masalahnya ada pada ancaman “Jika kau menolak, aku akan membunuhmu.” Gadis itu… ya, dia adalah salah satunya—tipe ‘yandere’ yang banyak kudengar! Cintanya yang besar padaku menyebabkannya hancur secara emosional. Seorang wanita dengan kondisi mental yang buruk berhak mendapat rasa iba lebih dari apapun…
(Tidak, tidak, tidak…)
Mana mungkin aku akan mengasihaninya ketika dia mengayun-ayunkan senapan itu. Jika itu adalah pisau buah, pisau ukir, pemecah es—jenis senjata yang ada di film thriller bermutu rendahan—mungkin aku bisa mengerti…
Tapi jika dipikir-pikir… dari mana dia mengeluarkan senjata itu? Dia memanggilku pertama kali dengan tangan kosong, Seiya sadar. Senapan itu muncul entah dari mana ketika aku bertanya, “Ada apa?” padanya. Mungkin itu hal pertama yang seharusnya kupertanyakan…
“Di sana kau rupanya.” Ucap Isuzu.
“Hngah?!” Suara tiba-tiba yang datang dari belakang Seiya mengeluarkannya dari lamunannya.
Panik, ia berbalik dan bersiap untuk menghadapi apapun yang akan datang, tapi Sento Isuzu telah sampai di titik pertemuan tanpa senjata.
Hebat! Dan yang paling hebatnya adalah, dia tidak membawa musket-nya!
“Ayo pergi.” Isuzu berkata, tanpa basa-basi.
“Ke mana?”
“AmaBuri.”
“Er?” Seiya kebingungan.
“AmaBuri,” jelas Isuzu, “Amagi Brilliant Park.”
Amagi Brilliant Park. Itu adalah taman hiburan tua, sekitar sepuluh menit dari stasiun menggunakan bus.
“Busnya berhenti di terminal kedua. Ikuti aku.” Isuzu berjalan menjauh dengan cepat, tapi ia menghentikannya.
“Tunggu, Sento—”
“Berhenti mengulur waktu.” Tegurnya.
“—tunggu sebentar. Kenapa kita pergi ke taman bermain itu?”
“Itu bukan taman bermain. Itu taman hiburan.”
“Aku tidak peduli. Tidak bisakah kau memberitahuku apa yang sedang terjadi? Kenapa dua orang yang nyaris tidak saling kenal harus pergi ke taman bermain yang mencurigakan bersama?” Seiya bertanya, frustasinya bertambah.
“Mencurigakan…?” Dalam sekejap mata, Isuzu sudah mengeluarkan musket-nya dari bawah rok berlipatnya, memutarnya hingga persis 260 derajat, dan mengarahkannya ke ************ Seiya.
Seorang wanita dan anaknya di dekat mereka berhenti dan mematung.
Anaknya berkata, “Mama, perempuan itu memakai ****** ***** biru bergaris. Itu sangat biasa…” Yang mana wanita itu membalas, “Hus! Jadilah anggota teladan masyarakat dan berpura-puralah kau tidak melihatnya!”
Seiya tidak berada di posisi yang tepat untuk mengidentifikasi apakah pernyataan anak itu tepat atau tidak, tapi melihat ia menganggap ****** ***** biru bergaris sebagai ‘sangat biasa’ membuat Seiya takut akan jadi apa ia saat dewasa nanti. Tapi… tidak, tidak, jangan pikirkan itu sekarang…
Sebaliknya, Seiya berbicara: “Kenapa kau marah?”
“……”
“…Ada banyak hal yang ingin kumintai penjelasan darimu,” ucapnya, “termasuk dari mana kau mengeluarkan senjata aneh itu.”
“Ayo.”
__ADS_1
Ia diabaikan.
Isuzu menyimpan musketnya, memanfaatkan hukum fisika apapun yang tidak dapat dijelaskan, yang dia gunakan untuk mengeluarkannya.
Terletak di Amagi, sebuah kota komuter di bagian barat Tokyo, taman hiburan itu mungkin memerlukan sedikit penjelasan:
Amagi Brilliant Park. Orang bodoh mana yang memberikan sebutan sepayah itu—”brilliant?” Amagi Brilliant Park (alias AmaBuri) dibangun pada tahun 1980-an, sebuah taman hiburan (mereka bersikeras pada tema taman hiburan) berdiri di tengah-tengah gelombang dari kelebihan gelembung ekonomi terbesar.
Tahun 1980-an. Itu adalah era di mana anak-anak nakal memiliki potongan rambut seperti haluan kapal tempur luar angkasa, idol dengan potongan rambut menyerupai jamur sangatlah populer, dan anime dipenuhi dengan bayangan bergaris hitam dan pose karakter yang ekstrem.
Reputasi AmaBuri cukup buruk jika dibandingkan dengan taman hiburan kelas dunia lainnya. Sebutan dari orang-orang bermacam-macam. Beberapa menyebutnya, “Sebuah warisan yang meragukan dari gelembung ekonomi.” Beberapa menyebutnya, “Penghancur hubungan yang pasti bagi para pasangan yang datang untuk berkencan di sana.” Beberapa menyebutnya, “Peninggalan yang akan membingungkan arkeologis di masa depan yang kebetulan menggali Kota Amagi.” Dan di antara para pemuda di bagian barat Tokyo, AmaBuri dikenal sebagai “Tipikal tempat kencan yang buruk.”
Seiya merasa ia sudah pernah pergi ke sana dengan seseorang ketika ia masih kecil, tapi sekarang ketika ia SMA, ia nyaris tidak mengingatnya.
Mereka sudah berada di bus selama kurang lebih lima menit. Mereka telah melewati area perumahan yang biasa saja dan keluar di daerah berbukit yang dibalut dengan warna hijau pada awal musim semi, dan sekarang sebuah kastil bisa terlihat di balik pepohonan. Itu adalah kastil yang indah, dicat dengan warna biru pastel.
Wow. Lebih mengesankan daripada yang kukira… pikir Seiya. Ia menduga taman hiburan tua itu akan terlihat hancur, tapi bahkan pewarnaannya memiliki kepekaan yang bagus dan modern. Di luar dugaannya, tempat itu terlihat sangat luar biasa.
Kastil dari kejauhan perlahan mendekat.
“Pemberhentian selanjutnya adalah Amagi Brilliant Park. Penumpang yang turun, tolong—” Seiya baru saja akan menekan bel, ketika Sento Isuzu, duduk di sebelahnya, dan menggenggam erat lengan bajunya.
“Ada apa?”
“Satu pemberhentian lagi.” jawab Isuzu.
“Huh? Tapi kita akan pergi ke Amagi Brilliant Park, kan?” Seiya bertanya.
“Bukannya kastil itu gerbang depannya?”
“……tel.” Isuzu menggumamkan sesuatu, tapi ia tidak bisa mendengarnya karena bisingnya suara mesin bus.
“Aku tidak bisa mendengarmu.”
“…hotel.”
“Aku bilang aku tidak bisa mendengarmu.”
Dengan rasa pasrah yang mendalam, Isuzu akhirnya bergerak mendekat ke Seiya dan berbisik ke telinganya. “Itu adalah hotel cinta. Itu tidak ada hubungannya dengan taman hiburan.”
“Be…Begitu.” ia tergagap.
Saat mereka mendekat, tanda besar di sebelah kastil muncul; itu dibaca ‘Hotel Alamo.’ Di samping itu ada tanda listrik yang jelas memproklamirkan ‘kamar yang tersedia.”
…Alamo? Itu konyol! pikir Seiya. Alamo bukanlah sebuah kastil melainkan sebuah benteng. Dan itu juga tidak berstruktur barok; itu berstruktur defensif, terkhususkan selama bentrokan antara Republik Texas dengan tentara Meksiko. Itu adalah tempat darah dan bubuk mesiu berasap, bukan hanya sekedar kastil dongeng di mana korban kekerasan rumah tangga dengan bodohnya kehilangan sepatu kacanya!
Uh, sungguh menyesatkan. Dan itu memaksanya untuk berpikiran yang tidak semestinya dipikirkan. Kau sebaiknya melakukan sesuatu yang bagus untukku, dasar kastil sialan!
Tapi Seiya berhasil menahan berbagai keinginan terselubungnya, dan dengan sepenuhnya tenang mengatakan: “Sungguh menyebalkan. Kenapa mereka tidak mengganti nama pemberhentiannya?”
“Taman sudah mengajukan petisi penggantian ke Kota Amagi beberapa kali, tapi selalu ditunda dengan berbagai alasan,” jawab Isuzu. “Banyak tamu tanpa sengaja turun di sini dan terpaksa berjalan ke stasiun selanjutnya.”
“Tamu?”
“Para pengunjung taman. Kebanyakan taman hiburan menyebut mereka dengan sebutan ‘Tamu’ dan para pekerjanya disebut ‘Pemeran.’ Ingat itu.”
“Oh, benarkah? Itu hal yang aneh untuk diketahui.”
Isuzu tidak merespon observasinya—dia hanya mengabaikannya sekali lagi.
Bus lewat di depan Hotel Alamo dan sampai di pemberhentian selanjutnya, “Futomaru Barat.” Ia berasumsi bahwa ini adalah nama dari area perumahan lokal.
“Kita sampai.” Isuzu memberitahu.
Ia mengikutinya turun dari bus.
Tujuan mereka kurang lebih 80 meter dari pemberhentian bus, menaiki tanjakan santai, dan ketika mendekati puncak, gerbang depan taman hiburan bisa terlihat. Trotoarnya retak. Gerbangnya memudar. Tanda berkarat bertuliskan “Selamat Datang di Tanah Keajaiban, Amagi Brilliant Park!”
Walaupun, tidak ada sambutan yang ramah, pikir Seiya. Itu lebih terasa seperti orang tua pemilik toko ramen tua mengatakan, “Apa itu seorang pengunjung? Nah, jika kau mau, aku akan membuatnya… tapi, apa kau yakin?” Jujur, hotel cinta sebelumnya terasa jauh lebih luar biasa.
Ia mengambil tiket masuk seharian yang sudah Isuzu siapkan untuknya, melewati gerbang depan dan menuju ke dalam taman. Di balik gerbang, ia disambut oleh air mancur plaza berukuran besar.
“……”
Kolam di tengah air mancur plaza benar-benar mengering. Tidak ada air yang menembak ke atas dari sana… faktanya, tidak ada air sama sekali, hanya sekelompok patung bulat yang tertutupi oleh lumut coklat kotor.
Dari kejauhan di balik plaza tampak sebuah benteng besar—bukan sebuah kastil, sebuah benteng. Sama sekali tidak ada keajaiban cerita dongeng di dalamnya. Itu lebih terasa seperti benda yang dibangun di Kerajaan Jerusalem selama Perang Salib, sebuah tempat berbau kematian, diisi oleh tentara yang siap memberikan nyawanya untuk mengusir tentara sesat.
__ADS_1
Ia menyadari bahwa tempat ini jarang ada pengunjung, padahal ini hari Minggu. Seiya memang tidak sering datang ke taman hiburan, tapi meski begitu, ia belum pernah melihat bagian depan plaza seterlantar ini. Terlihat seperti mereka tidak membersihkannya dengan benar.
“Ada banyak sekali sampah di tanah…” Seiya berbisik pelan ketika tiba-tiba Isuzu berbalik dan bicara.
“Ke mana kita akan pergi?”
Putaran itu menyebabkan rok berlipatnya berdesir. Itu akan jadi pemandangan yang cukup menarik jika mereka benar-benar di sini untuk berkencan, tapi—
“Kau yang membawaku ke sini,” omelnya. “Kau yang pilih.”
Sebagai balasan, Isuzu meletakkan tangannya di dagunya dan berpikir. “…Kalau begitu, ayo pergi ke Bukit Penyihir.”
“Bukit Penyihir?”
“Itu adalah salah satu dari lima tempat bertema di AmaBuri. Kerajaan dongeng penuh keajaiban, rumah bagi para maskot dari alam magis, Maple Land.”
“Nadamu yang datar tidak menunjukkan adanya keajaiban di sana.” ujar Seiya.
“Ikuti aku.” perintahnya. Dia mulai berjalan ke utara—di labeli dengan nama Bukit Penyihir di pamflet.
“Haaaah…”
Dia sedingin es. Bagaimana ini bisa disebut kencan? “Berbangga diri” adalah rencana awal Seiya, tapi bahkan ia mulai menyadari fakta bahwa Sento Isuzu tidak memiliki rasa apapun terhadapnya.
Lalu kenapa? Ia terus berpikir, tapi tetap tidak menemukan jawabannya. Sepertinya ia tidak punya pilihan lain selain berkeliling dengannya untuk sementara.
Mengelilingi taman hiburan yang meragukan ini… seperti yang sudah Isuzu gambarkan, Bukit Penyihir punya semacam tema cerita dongeng: Hampir semua di dalamnya berasal dari buku, mulai dari pola berwarna pastel hingga bermacam-macam atraksi, peluncur, dan komedi putar.
Pemberhentian pertama Isuzu adalah atraksi ‘peluncur mendebarkan.’
Seiya tampak sedikit tak nyaman, dan dia melihatnya dengan pandangan ragu.
“Kau tidak takut, kan?” tanyanya.
“Tentu saja tidak,” cibir Seiya. “Aku hanya berpikir bahwa ini terlihat seperti sesuatu yang tidak seharusnya dinaiki seorang pria dewasa.”
“Begitu. Pokoknya ayo naik.”
Dengan ekspresi suram, Seiya dan Isuzu duduk bersebelahan di peluncur kosong lainnya. Keriuhan aneh terdengar dan keretanya berangkat.
Kecepatannya tetap pada laju yang nyaman dari awal sampai akhir. Tidak banyak yang bisa dilihat di jalur terjal, bahkan belokan tertajam tidak memberikan apapun selain sedikit ayunan. Untuk sebuah “peluncur mendebarkan,” tidak banyak debaran yang bisa ditemukan.
Saat mereka keluar dari peluncur, Isuzu berkata: “Apa kau bersenang-senang?”
“Tidak.”
“Begitu,” ujarnya. “Kalau begitu, ayo lanjut.” Dia dengan cepat berjalan ke tujuan baru.
Tanpa mengatakan apapun, Seiya mengikuti dalam diam.
Pemberhentian mereka selanjutnya adalah sebuah atraksi bernama “Petualangan Bunga Tiramii.” Sebuah bangunan seukuran GOR sekolah, dengan tumbuhan dalam dongeng tercetak di dinding. Di pintu masuknya ada patung dari maskot yang sedikit terlihat seperti Pomerania: Mata kancing berbentuk bundar, dan tubuh bundar-gemuk yang berdiri setinggi kurang lebih tiga kepala. Desainnya cukup imut, mempertimbangkan keseluruhan. Maskot ini, simpulnya, pasti “Tiramii.”
Atraksinya sendiri adalah menaiki mobil empat orang di lintasan, yang akan mengantarmu berkeliling taman dongeng yang dibuat oleh Tiramii. Yang ini, juga—“Mengerikan.”
Bagian terburuknya adalah mobilnya terlihat kurang melekat pada lintasan, yang menyebabkan seringnya berdesak-desakan. Bagaimanapun, ini lebih “mendebarkan” daripada peluncur mendebarkan sebelumnya. Ini juga membuatku mual.
Di sini dan di sana, mereka disapa oleh animatronik “bunga yang berbicara,” tapi rakitan penggeraknya pasti sudah rusak, karena gerakan mereka tampak gelisah. Selain itu, tidak ada apapun yang ditambahkan ke dalam proses audio mixing-nya, jadi sangat sulit untuk mengetahui apa yang para bunga katakan: mereka mungkin seharusnya mengatakan “Selamat datang di Petualangan Bunga Tiramii!” tapi apa yang sebenarnya terdengar jauh lebih mengganggu “Mat… angdi… engan… enga… mii!” Lebih dari apapun, itu memberi kesan sebuah pekikan menjengkelkan dari mandragora mematikan ke kepala Seiya.
“Bagaimana menurutmu?” Isuzu bertanya lagi.
“Bertahun-tahun hidupku serasa diambil.”
“Begitu. Ayo kita lanjut lagi.” Kali ini, ada sesuatu yang terdengar setengah hati dari jawaban Isuzu.
“Tunggu,” ucap Seiya. “Apa kau akan terus seperti ini sepanjang waktu?”
“Seperti apa?”
“Maksudku…”
Terlihat muram, dia menyadari petunjuknya. “Kupikir teater musiknya akan menyenangkan. Lihat, di sana.”
Tapi “Teater Musik Macaron,” yang tandanya menunjukkan maskot mirip domba memainkan biola, menyatakan “Hari Ini Tutup.”
“Tapi ini hari Minggu,” ia menolak tidak percaya. “Mereka mengambil cuti?”
“…Dia pergi ketika dia tidak mood,” Isuzu mendesah. “Peri Musik, Macaron, bermain cukup hebat—tapi sayangnya, dia punya sifat seorang seniman.”
“Ahh…”
__ADS_1
“Ayo lanjut.”
...----------------...