Amagi Brilliant Park

Amagi Brilliant Park
V1 - Chapter 2 Part 3


__ADS_3

Setelah tutup hari itu, sebuah pengumuman lewat saluran bisnis terdengar, “Pemeran asli, berkumpul di taman atap.” ‘Pemeran asli’ merujuk pada para penghuni Maple Land (dan daratan sihir lainnya) yang bekerja di dunia manusia. Moffle adalah salah satunya, beserta Macaron, Tiramii, dan Sento Isuzu. Pegawai dari dunia manusia hanya disebut ‘pemeran.’


Jadi waktunya akhirnya tiba, pikir Moffle sambil merapikan atraksinya.


Latifah dan Isuzu punya pengumuman penting untuk para pemeran asli? Itu pasti berita buruk.


Dalam perjalanannya ke Kastil Maple, dia bertemu dengan Macaron, maskot berbulu seperti domba, yang adalah kenalan terlama Moffle di taman.


“Halo di sana, ‘Peri Manisan.’” goda Macaron.


“Tutup mulutmu. Kaulah ‘Peri Musik,’ fumo,” Moffle membalas.


Itu hal menyedihkan yang masih kau lakukan di umurmu yang segini, itulah yang tampaknya diucapkan keduanya.


Meski dia mungkin menjadi ‘Peri Manisan,’ Moffle tidak benar-benar punya kesukaan pada hal-hal manis. Jika terpaksa, dia akan mengatakan da suka salami dan semacamnya—pada titik di mana dia diberitahu kalau itu bukanlah manisan, itu adalah camilan untuk minum-minuman.


Macaron menyebut dirinya ‘Peri Musik,’ tapi dia tidak tertarik dengan lagu anak-anak. Genre favoritnya adalah funk dan rap—khususnya rap gangsta Amerika, dengan deskripsi grafis tentang kekerasan dan ****. “Aku meletuskan sumbat 9mm pada pemimpin geng saingan dengan Glock 19ku,” atau “Biarkan aku memberitahumu tentang wanita seksi dengan payudara besar ini,” dan semacamnya.


“Kau cukup mabuk tadi malam. Semua baik-baik saja, ron?”


“Hampir tidak. Semuanya menjadi kosong setelah bar kedua, fumo…”


Tadi malam, dirinya, Macaron, dan rekan mereka satunya—sang ‘Peri Bunga,’ Tiramii—menjadi sangat mabuk di pesta seusai kerja. Mereka memulai malam dengan pembicaraan ngawur, tapi subjeknya segera berganti menjadi masa depan taman, dan kemudian suasananya berubah menjadi suram.


Moffle pingsan tak lama setelah itu, hanya untuk bangun pada pagi hari di dapur rumahnya. Untuk beberapa alasan, ia berbaring telentang di lantai, tertutupi spageti dingin. Melawan sakit kepala dan mual, ia membersihkan diri dan baru akan pergi bekerja ketika ia menemukan bungkus saus carbonara siap jadi kosong di kotak suratnya. Kemana sausnya pergi? Ia bertanya-tanya. Ke perutku sendiri, ia menyadari. Sudah lama sekali sejak dirinya mabuk separah itu.


“Moffle, kau tidak berbicara apapun selain tentang Latifah, ron.”


“Benarkah, fumo?”


“Sebagian tentang kutukannya, tapi setelah itu sesuatu tentang dirinya mencium anak yang dipilih oleh ramalannya… kau terus-terusan membicarakannya… Kau menangis di akhir, ron.”


“Moffu,” ia mengucapkan kata kotor. “Benarkah?”


“Ya.” ucap Macaron simpatis.


“Yah… aku minta maaf karena menyebabkan banyak masalah bagimu. Kuharap kau melupakan apa yang kukatakan, fumo…”


Macaron menepuk ringan punggung Moffle. “Moffle. Kami tidak keberatan kau mabuk, karena kau tidak pernah bicara buruk tentang orang-orang.


Saat kau mabuk, kau hanya berbicara baik tentang semuanya.”


“Benarkah, fumo?”


“Kau bahkan bilang anak itu punya keberanian, ron.”


“Aku meragukannya. Aku tidak akan pernah memuji pengecut kecil itu, fumo.”


“Yah, terserah saja, ron.” Wolnya bergetar dengan tawa yang nyaring, Macaron menaiki lift ke taman atap, dan Moffle mengikutinya. Lima atau enam orang pemeran asli berlari untuk menaikinya, dan dengan segera, liftnya penuh.


“Um… Moffle-san…” seorang gadis dengan sayap kupu-kupu di punggungnya memanggilnya dengan ragu.


Gadis ini, yang memakai gaun yang sangat terbuka, adalah seorang peri, Muse. Dia melakukan pertunjukan musik di Bukit Penyihir, daerah yang sama dengan tempat kerja Moffle. Dia adalah pekerja keras, meskipun dia masih muda.


“Ya, fumo?”


“Mereka biasanya tidak memanggil kita semua seperti ini. Apa kau pikir… ini adalah berita buruk?”


Lift itu menjadi sunyi senyap. Semuanya melihat ekspresi Moffle dengan saksama. Moffle adalah seorang veteran, terkait dengan Latifah, dan punya relasi dengan keluarga kerajaan Maple Land. Balasannya akan menentukan suasana hati pemeran asli lainnya.


Ia menatap Macaron, tapi temannya—yang sekaligus tampaknya mengintuisikan ini, tapi juga tidak mau terganggu karenanya—hanya mengangguk seakan mengucapkan, “Terserah padamu.”


“…Aku belum mendengar apapun, fumo.” Moffle akhirnya berkata.


“B-Benarkah? Tapi…”


“Yah, itu mungkin hanya ekspektasimu saja, fumo.” Itulah kata-kata terakhirnya pada topik itu. Saat lift sampai di lantai teratas, orang-orang yang menaikinya mengisi taman atap.


Begitu Muse yang tampak gelisah dan yang lainnya sudah berjalan cukup jauh, Macaron berbisik ke Moffle, “Moffle. Kau bisa menangani itu lebih baik lagi, ron.”


“Aku tidak mau mendengarnya darimu, fumo. Kau seharusnya tidak melimpahkan semuanya padaku.”


“Aku tahu… tapi para anak muda mengandalkanmu. Kau tidak boleh sombong, ron.”


“Mempermanis keadaan tidak akan mengubah masa depan taman, fumo.”


“Mungkin tidak, tapi…”


Keduanya melanjutkan menuju taman atap.


Taman atap Kastil Maple masih seindah dulu. Sebagian besar pemeran asli sudah berkumpul sekarang, dan bisikan gugup bisa terdengar di sana dan sini. Tidak semua orang terlahir di Maple Land yang seperti dongeng. Beberapa datang ke sini sebagai pindahan dari alam sihir lain.


Moffle dan Macaron menjaga di sudut taman dan menunggu dimulainya konferensi. Tiramii, maskot Pomerania bejat, tiba segera setelahnya, lalu duduk di sebelah mereka. Ia mengatakan, “Hei, senang melihat kalian, mii. Kau pikir malam ini adalah malam di mana kita menyerah, mii?”


“Mungkin. Yah, 30 tahun bukanlah perjalanan yang buruk untuk sebuah taman hiburan yang gagal, ron.”


“Bukan 30 tahun. Baru 29 tahun, fumo.” ucap Moffle dengan suara tegang.


Taman ini, didirikan di atas kekayaan melimpah dari gelembung ekonomi tahun 80an, akan berumur tiga puluh tahun tahun depan. Sekarang, itu tidak akan terjadi.


“Perhatian! Perhatian!” Sebuah suara feminim bergema ke seluruh taman.


Sento Isuzu, berpakaian seragam taman, meneriaki mereka dari beranda satu lantai di atas. Dia melihat ke bawah pada para pemeran di taman seperti seorang aktor di atas panggung.


“Perhatian, pemeran dari Amagi Brilliant Park yang agung! Putri Pertama Maple Land, keturunan dari pendiri negeri kita, Slim, Priestess Wahyu, dan manajer kita yang terhormat, Latifah Fleuranza, akan berbicara! Kalian akan memberinya perhatian penuh!” Suaranya menusuk, tapi juga megah. Seandainya hadirin adalah anggota militer Maple Land, mereka mungkin akan membereskan seragam mereka dan berdiri tegak.


Tapi para pemeran asli di sekitar Moffle tidak terkesan.


(Dia pikir dia sangat seksi…)


(Apa sekarang benar-benar waktunya untuk kemegahan dan status sosial?)


(Dia hanya akan mengumumkan kalau kita akan tutup…)


Ada beragam reaksi: beberapa berbisik, beberapa mengomel, dan beberapa angkat bicara tanpa malu. Beban kebencian mereka ditujukan pada Sento Isuzu.


Tentu saja, ada alasannya.


Sento Isuzu dikirim ke sini setahun yang lalu oleh raja untuk melayani Latifah sebagai penasihat dan wali, namun fakta bahwa mereka berada di situasi ini membuatnya jelas bahwa dia tidak melakukan satu pun hal baik. ‘Anggota elit pengawal kerajaan’ adalah gelar yang agung, tapi pada akhirnya dia adalah seorang tentara, dan tidak lebih. Tidak mungkin seseorang dengan latar belakang seperti dirinya bisa memahami usaha menjalankan taman hiburan, atau seluk beluk industri hiburan.


Bukannya Isuzu tidak mencoba. Tapi dengan cara memerintahnya yang kejam pada setiap orang, tidak butuh waktu lama baginya untuk kehilangan dukungan dari para pemeran. Dia berinteraksi dengan para tamu sambil berdiri tegak, mengancam pemeran yang malas dengan senapannya, dan tidak membuat alasan untuk para investor. Dia adalah petugas yang sangat baik, jelas, tapi sifat itu tidak membuat taman berfungsi.


Semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Isuzu tidak cocok untuk pekerjaan semacam ini, tapi dalam pekerjaan di mana memerintah dengan kasar dibutuhkan, dia tampak sangat betah.


“Dalam nama semua roh—Yang Mulia! Kami menunggu kata-kata Anda!” Sikap resmi Sento Isuzu tidak seperti ketidakpeduliannya yang biasanya.


Tentu saja, itulah tentara, pikir Moffle, sebagai bekas tentara itu sendiri.


Latifah muncul dari belakang beranda. Tubuhnya sangat lemah, menyakitkan untuk dilihat. Gaun dan mata tertutupnya yang cantik—


Moffle mendadak merasa ingin menggantikannya, untuk menjelaskan situasinya kepada kerumunan ini sendirian.


Latifah meminjam tangan Isuzu pada awalnya, lalu meletakkan ujung jarinya di pagar beranda. Kemudian, setelah berhasil menahan dirinya sendiri dengan kekuatannya, dia berbicara.


“Terima kasih sudah datang, semuanya,” ucap Latifah dengan nada ceria.


Mereka semua tahu apa yang akan datang. Dia hanya mencoba untuk memberitahu mereka dengan caranya sendiri, dengan senyuman, agar tidak melukai perasaan.


“Aku takut kabar yang akan kuberikan adalah kabar yang menyedihkan. Dua minggu dari sekarang, Amagi Brilliant Park akan diruntuhkan…”


Reaksi mereka adalah menghela napas secara bersamaan dari setiap sudut taman.


“Alasannya adalah karena kita gagal mencapai kuota kehadiran para tamu tahun ini. Kontrak kita menyatakan bahwa jika kita gagal mencapai kuota ini selama lima tahun berturut-turut, kita harus menyerahkan administrasi taman, dan menyerahkan kontrol atas fasilitas dan lahan pada perusahaan manajemen properti, Pengembang Amagi.”


Keheningan menyakitkan menggantung di taman. Semua orang tahu ceritanya.


“Batas waktunya tepat di depan kita. Aku sudah menetukan, dengan kondisi taman saat ini, dan dengan dua minggu tersisa, akan mustahil mencapai jumlah kedatangan yang kita butuhkan. Karena itu… semuanya…” Latifah ragu untuk sesaat. “…Kita harus mengucapkan selamat tinggal sekaligus. Aku harus melakukan apa yang kubisa untuk menemukan pekerjaan untuk kalian mulai April. Aku tahu ini akan sulit, tapi…”


“Sulit? Sulit, pii?!” seorang anggota pemeran asli berteriak dari kerumunan. Semua mata tertuju pada orang yang memprotes.


Itu datang dari maskot mirip kadal bernama Wanipii. Ia adalah karakter yang bekerja di Lembah Liar, area di sebelah Bukit Penyihir. Ia tidak ‘mudah dipeluk’ seperti Moffle dan teman-temannya; ia berwajah cekung, dan mulut besar dengan lidah yang teruntai. Penampilannya kocak, bisa dibilang terlalu jelek sampai-sampai itu lucu, dan ia terutama populer di kalangan pengunjung taman asing.


“Latifah-sama! Tidakkah kau tahu akan sesulit apa untukku nantinya, pii?! Aku hampir tidak punya sebutan! Tidak mungkin aku akan terkenal di tempat lain, pii!”


“Kau tidak tahu pasti,” balasnya sungguh-sungguh. “Kalau kau mau melamar—”


“Melamarkan diriku tidak akan berhasil, pii!” Suara Wanipii mendekati suara jeritan. “Aku akan terjebak membagikan tisu di suatu stasiun di suatu tempat, pii! Orang-orang akan melupakanku, aku akan kehabisan animus… lalu aku akan menghilang, pii! Itu monos, pii!”


Keributan terjadi di antara para pemeran. Tampaknya yang lainnya berbagi ketakutan yang sama dengan Wanipii. Maskot yang kehilangan popularitas di dunia manusia tidak bisa kembali ke alam sihir; mereka hanya menghilang. Itulah fenomena yang mereka sebut dengan monos.


“Bukan aku saja, pii! Kita semua akan menghilang! Apa yang akan kita lakukan, pii? Suatu hari, kupikir aku akan bisa pulang dan menikmati masa pensiunku, dan sekarang… Sekarang semuanya sudah berakhir… semuanya sudah berakhir, pii!”


“Tutup mulutmu, Wanipii.” ucap Moffle pedas.

__ADS_1


“Moffle! Tapi—”


“Sudah berapa tahun kau di sini, fumo?”


“D-Dua belas tahun, pii…”


“Kalau begitu kau sudah punya kesempatan, fumo. Terlalu jelek sampai-sampai itu lucu tidak akan populer selamanya, tapi pernahkah kau berusaha meningkatkan karya senimu? Tidak, kau malas, dan membiarkan taman membawamu daripada memperoleh pelanggan tetap saat kau bisa. Jangan marah tentang itu sekarang, fumo.”


“Tapi, tapi…!”


“Sekarang, tenanglah, fumo. Aku akan membagikan tisu bersamamu. Kita sudah beberapa kali bersama di panggung, kan? Kalau kita bisa mendapat kembali gairah itu, kita akan mendapat sedikit ketenaran di kalangan anak-anak sekitar, dan itu sudah lebih dari cukup untuk bertahan.” Ia mengguncang pelan pundak Wanipii.


Tapi Wanipii, matanya tertuju ke bawah, memuntahkan balasannya: “…Kau bisa bicara seperti itu karena kau adalah maskot utama, pii.”


“Ada apa dengan itu?” Moffle menuntut.


“Kau bisa bicara begitu karena kau adalah Moffle, pii! Karena kau adalah bagian dari pemeran atas! Kau bisa dengan mudah mendapat pekerjaan di taman hiburan lain, pii!”


“Hentikan itu sekarang juga, Wanipii. Aku—”


“Semua orang tahu itu! Kau berteman dengan Mackey, bintang besar Urayasu Digimaland! Kalian berteman baik, pii! Ia akan memberimu pekerjaan jika kau mau, pii!”


Mackey adalah maskot istimewa yang bekerja di Digimaland. Tidak ada orang di dunia yang tidak tahu namanya. Dalam istilah manusia, ia bagai aktor Hollywood pemenang Oscar.


“Kubilang berhenti, fumo!” Menahan beberapa hal lain yang ingin diucapkannya, Moffle menarik kerah Wanipii. Wanipii mengeluarkan suara tersedak. “Kau dengarkan aku. Ia dan aku bukanlah teman. Kami kenalan lama, itu saja. Tidak mungkin aku akan meminta bantuannya, fumo. Lain kali kau menghinaku seperti itu… Aku akan mencabuti sisikmu satu per satu! Kau akan berharap kau tidak pernah dimunculkan di dunia manusia, fumo!”


“Aku sudah mengharapkannya sejak dulu… ow! Hei, itu menyakitkan, pii! Maafkan aku! Maafkan aku, pii!”


“Kalian berdua, berhenti, ron!”


Dengan Moffle yang mengancam, dan Wanipii menangis sambil berteriak, Macaron memisahkan keduanya dari satu sama lain.


“Latifah-sama di sana, ron! Dialah yang paling menderita di sini! Kalian tahu itu, ron!”


Kata-kata itu membuat Moffle tersadar. Latifah berdiri terdiam di beranda, wajahnya menghadap ke bawah tanpa berkata apapun.


Memang, dia tentu akan menjadi yang paling terluka jika menyaksikan para pemeran saling bertengkar. Moffle sudah tahu itu, namun, ia membiarkan amarahnya menguasainya di depan kerumunan besar.


“…Maafkan aku, fumo.”


“Tidak apa-apa…” Latifah memberinya senyum sedih, lalu memberi sinyal pada Isuzu untuk menurunkan senapannya. Dia mungkin sudah berencana untuk menembak Moffle dan Wanipii dengan peluru sihirnya sebelum terjadi sesuatu.


“Tapi ada satu hal yang tidak kupahami, mii…” ucap Tiramii yang sedari tadi diam. “Kenapa kau memutuskan untuk memberitahu kami ini hari ini?”


Bahu Latifah menegang mendengar pertanyaan Tiramii. “Ah, kau tahu… kandidat yang kulihat dalam ramalanku secara resmi menolak untuk membantu kita.”


“Kandidat… maksudmu, untuk menjadi manajer?”


“Ya. Kami memohon padanya dengan sungguh-sungguh sebisa kami, tapi…”


“Itu salahku,” Isuzu menyela. “Aku yakin kalian bisa membayangkan bagaimana jalannya. Ia adalah manusia biasa, dan aku bertingkah seperti anggota pengawal kerajaan di sekitarnya. Maafkan aku.”


Para pemeran terdiam menghadapi permintaan maaf ini.


“Kupikir, aku terlalu memaksa,” dia melanjutkan. “Ia menjadi sangat marah dengan sikapku, dan ia pergi.”


Pengakuan segera muncul dalam diri semua orang, termasuk Moffle. Mereka tahu orang seperti apa Isuzu itu. Tapi bahkan jika ia terpilih oleh ramalan, pria itu masih seorang manusia. Tentu saja ia tak akan berusaha keras untuk menyelamatkan taman hiburan tua yang sudah hancur.


“Kita tidak tahu apakah semua akan berhasil di bawah kepemimpinannya atau tidak, tapi pria dalam ramalan itu adalah harapan terakhir kita. Sekarang setelah ia menolak kita, pilihan kita sudah habis. Itulah keputusanku, dan itulah kenapa kami mengumpulkan kalian di sini.” Isuzu menggantungkan kepalanya, dan mendesah kecil. “Itulah kenapa semuanya menjadi seperti ini. Semuanya… Aku minta maaf.”


Tidak biasanya melihat Isuzu bertingkah sangat rendah hati. Tapi pada saat yang sama, para maskot berpikir, Meminta bantuan pada manusia tidak akan menyelesaikan permasalahan ketika sudah separah ini. Rumor sudah menyebar tentang seperti apa manusia yang dipilih oleh ramalan.


Ia hanyalah siswa SMA biasa. Ia tidak memiliki pendidikan bisnis secara khusus; ia bahkan belum mendapat posisi sebagai manajer di tempatnya bekerja paruh waktu.


“Aku menyadari betapa beratnya semua ini bagi kalian…” Latifah melajutkan untuk Isuzu. “Tapi selama kita hidup di dunia manusia, kita tidak bisa menghindar dari urusan keuangan. Aku sungguh minta maaf, semuanya. Kuharap aku bisa meminta maaf lebih banyak…”


Kali ini, tidak ada yang mengajukan keberatan, suasana keheningan berat menggantung di atas taman yang diselimuti malam. Semua orang hanya berdiri di tempat, lemas, mencoba menerima kebenaran menyedihkan di depan mereka. Beberapa mengarahkan pandangan ke tanah, beberapa ke langit; beberapa menahan air mata…


“Semuanya, aku minta maaf…” Latifah mengulangi. “Aku sungguh minta maaf.”


Dan itulah dia. Tidak peduli bagaimana mereka meratapinya, tidak peduli bagaimana mereka mengutukinya, takdir taman tidak akan berubah. Mereka sepertinya telah sampai pada kesimpulan itu, dan baru akan bubar—


Ketika tiba-tiba, suara baru seorang pria berbicara. “Terlalu awal untuk meminta maaf, bukankah begitu?”


Yang berbicara adalah Kanie Seiya, sedang berdiri di pintu masuk menuju taman.



...----------------...


Apa yang mungkin kau capai? ia terus berkata pada dirinya sendiri. Ini gila. Berhentilah bertindak bodoh, dan langsung pulang ke rumah.


Tapi terlepas dari itu semua, ia akhirnya berhasil sampai ke taman, di mana ia berdiri di belakang pohon, mendengarkan semua yang Latifah, Isuzu, dan kerumunan besar para pemeran katakan. Ia bisa saja pergi dan melupakan bahwa ia telah mendengar semuanya. Lagipula tidak ada yang tahu ia ada di sana.


Namun, Seiya menampakkan diri. Ia menampakkan diri di depan semua orang yang sedang patah hati itu. Bahkan mengetahui bahwa hal itu kemungkinan tidak menghasilkan apapun selain mengambil beban luar biasa berat gadis itu untuk dirinya, ia melangkah menampakkan diri.


Ia tidak memiliki alasan, kecuali satu, yang mana ia tidak tahan melihat gadis itu berdiri di depan kerumunan itu, menahan air mata, lebih lama lagi. Itulah satu… satu-satunya alasannya.


Ini tidak seperti dirimu sama sekali, bodoh, pikirnya terhadap dirinya sendiri.


Meski begitu, Seiya mengangkat suaranya. “Kalian semua menyedihkan! Sebelum kalian pergi mengeluh dan menyesali diri kalian, setidaknya lakukanlah semua yang kalian bisa lebih dulu!” Sangat jelas bahwa apa yang dikatakannya memicu kemarahan.


Ada berbagai jenis orang di sana: beberapa tertutupi oleh bulu tebal, beberapa bersisik; beberapa bersayap, dan beberapa memiliki taring yang menakutkan. Beberapa bahkan terlihat seperti manusia sepenuhnya, selain dari kostum mencolok yang mereka kenakan. Dan mereka semua menatap Seiya lekat-lekat.


“Kanie-kun?” Isuzu melihat ke bawah pada dirinya dari beranda, matanya terbuka lebar.


Latifah, berdiri dalam diam, mengeluarkan ******* kecil. Ekspresi di wajahnya menunjukkan kelegaan lembut.


“Siapa itu? Apa yang dilakukan manusia biasa di sini, mii?” tanya seorang maskot mirip Pomerania—Peri Bunga, Tiramii.


“Apa dirinya yang dipilih oleh ramalan itu? Ia pergi, kan? Apa yang sedang terjadi di sini, ron?” tanya seorang maskot mirip domba—Peri Musik, Macaron.


Seiya sudah membaca lewat pamflet, jadi kurang lebih ia sudah mengetahui nama dan penampilan dari para maskot yang bekerja di taman.


Para pemeran ini benar-benar berasal dari alam sihir, jadi ia juga kurang lebih menerima bahwa para maskot bukan hanya orang dalam kostum. Mengingat semua hal luar biasa yang ia alami beberapa hari belakangan, sepertinya agak bodoh bersikeras tentang “itu hanya kostum.”


Ketika Isuzu mengatakan “tidak ada siapapun di dalam,” maksudnya persis bahwa; benar-benar tidak ada siapapun di dalam para maskot ini. Mereka adalah peri sungguhan, dari daratan sihir. Tentu saja, rincian tentang fenomena luar biasa ini tidaklah penting saat ini—ia di sini sekarang, jadi ia harus melakukan apa yang harus ia lakukan.


Saat Seiya berjalan menuju beranda di mana Latifah dan Isuzu berdiri, seseorang menghalangi jalannya. Ia adalah Sang Peri Manisan, Moffle, maskot yang ia lawan sebelumnya. Mata kancingnya menatap Seiya dengan kecurigaan yang jelas. Entah bagaimana, itu mengingatkannya pada seorang sherif di Hollywood barat.


“Baiklah, bocah,” geram maskot itu. “Kau sebaiknya memberitahuku apa tujuanmu kemari, fumo.”


Jadi ia bisa bicara juga? Di pertemuan sebelumnya, yang ia katakan hanya ‘moffu’…


“Menyingkir dari jalanku,” tuntut Seiya. “Aku mau bicara dengannya.”


“Dia tidak punya apapun untuk dibicarakan denganmu. Berbalik dan pulanglah, fumo.”


“Aku tidak bisa melakukan itu. Aku sudah memutuskan untuk membantu, jadi itulah yang akan kulakukan.”


Moffle mendengus, dan menyipitkan matanya dengan mengancam. “Kami tidak butuh bantuan dari seorang manusia, fumo. Masalah kami biar kami yang selesaikan.”


“Dan betapa cemerlangnya penyelesaianmu.” Seiya membalas dengan sarkastik.


“Apa kau bilang?”


Seiya menatap tajam pada kerumunan yang berkumpul di taman. “Lihatlah diri kalian, berdiri di sana, putus asa! Kalian tidak bisa menarik pelanggan, kalian tidak bisa menghasilkan uang, dan tempat kerja kalian direnggut. Ya, kalian sudah melakukan kerja yang cemerlang untuk menyelesaikan masalah ini sendiri, kan? Dan sekarang kalian menganggap diri kalian tidak kompeten?! Bahwa kalian tidak butuh bantuanku?! …Kalian tahu, pria dari tempat Pengembang Amagi itu mengatakan sesuatu yang lucu padaku hari ini. Kalian mau mendengarnya?” Ia berdeham. “‘Siapapun yang datang ke taman ini adalah orang bodoh!’”


Udara di sekitar para pemeran menegang dalam sekejap.


“Karena mereka bisa melakukan apapun, namun mereka datang ke taman hiburan jelek, membosankan, dan tidak berguna ini! Mereka menghabiskan uang yang mereka peroleh dengan susah payah untuk waktu yang menyedihkan ini! Ya ampun, itu adalah argumen yang kuat! Aku sama sekali tidak berpikir kalau ia salah!”


Ia bisa merasakan amarah sunyi mengisi taman—amarah yang sunyi, tapi kuat.


“Dan apa yang kalian lakukan tentang hal itu? Tidak ada! Kalian hanya berdiri di sana, mengadakan pesta menyedihkan! Semuanya masuk akal sekarang! Mereka benar-benar seperti orang bodoh, untuk memberi uang ke orang-orang seperti kalian!”


“Kenapa, kau…” suara Moffle bergetar. “Kau tutup mulutmu, manusia. Apa yang kau tahu tentang taman ini, fumo?!”


“Semuanya!” Seiya menggelora. “Aku menghabiskan seharian berjalan di sini, dan jelas bagiku bahwa kalian semua adalah pecundang yang tidak kompeten!”


“Dasar bajingan! Aku akan menutup mulut—”


Moffle meraihnya, tapi Latifah menghentikannya dengan tangisan menusuk. “Cukup.”


Tangan hewan bundar dan lembut itu terhenti di tengah serangan. “Moffu…”


“Moffle-san,” dia menceramahinya, “akulah yang mengundang Kanie Seiya-sama ke sini. Ia telah terpilih untuk menyelamatkan tamanku, meskipun dengan penyerangan yang Isuzu-san berikan padanya. Apa kau ingin lebih mempermalukan kita semua?”


“Aku… yah…” Dengan enggan, Moffle memberi jalan. “Baiklah, fumo. …Kalau begitu lanjutkanlah, manusia.”


Meski terpana sesaat oleh tekad baja Latifah, Seiya melewati Moffle dan menuju tangga yang mengarah ke beranda. Ia bisa mendengar Macaron di belakangnya, menegur Moffle dengan berbisik, “Kau selalu banyak makan di kedai pinggir jalan. Ada apa dengan kearoganan ‘manusia’ tadi, ron?”


Dengan cemberut, Moffle membalas, “Diamlah, fumo.”

__ADS_1


“Kanie-sama, Aku minta maaf atas nama semua orang di sini. Tolong maafkan kami,” ucap Latifah pada Seiya saat ia mencapai beranda.


“Oh, yah…” suaranya mengecil, tidak yakin apa yang harus dikatakan.


“Aku… Aku yakin kau akan datang.” Ada sedikit kehangatan dalam suara indahnya.


“Ah, um… Yah…” Seiya menggerakkan mulutnya dengan sia-sia, tiba-tiba kehilangan kata-kata. Meski biasanya bisa menjaga aura sombongnya, ia selalu terlihat kehilangan ketenangannya kapanpun ia berada di dekatnya.


“Kanie-kun. Bisakah kami berasumsi kalau kau berubah pikiran?” Isuzu bertanya.


“Yah… Aku…” ia memulai, lalu menguatkan dirinya lagi. Tidak, tidak. Aku datang ke sini mengajak berkelahi. Kalau aku bimbang sekarang, semuanya akan sia-sia…


“Sepertinya aku belum memperkenalkan diriku. Aku Kanie Seiya!” ia mengumumkan pada kerumunan yang berkumpul di sekitar beranda. Ia lalu menangkupkan tangannya ke telinga, bersandiwara seolah ia sedang mendengarkan mereka.


“Hmmm… Kupikir aku bisa mendengar apa yang ada di pikiran kalian,” ejeknya. “Pertama yang kudengar… ya, kalian semua membenciku!”


Ia belum menggunakan ‘kekuatan’ miliknya. Itu sudah sangat jelas, mengingat bagaimana sebagian besar pemeran menatapnya saat ini.


“Ah, tapi ada yang lebih dari kebencian. Aku mendapat beberapa hal lain… ‘Bocah kurang ajar ini.’ ‘Ia pikir dirinya siapa?’ ‘Apa kita harus menyerahkan taman di tangannya?’ ‘Perubahan apa yang bisa ia buat hanya dalam dua minggu?’ …Aku percaya itu sudah semua. Tidak, tunggu, ada satu hal lagi; Aku sedikit mendengar ‘Idola kami Latifah-sama memilih pria ini? Argh, aku tidak tahan!’” Seiya tersenyum menantang ke arah mereka.


Tidak ada yang tertawa.


“Tidak suka, huh?” ia mengolok-olok. “Apa kalian marah? …Bagus, karena aku di sini bukan untuk meminta sesuatu dengan sopan. Aku di sini untuk mengatur kalian dengan tinju besi!” Ia membanting tinjunya ke pagar beranda. “Mulai detik ini, kalian akan melakukan persis seperti yang kukatakan! Satu kata bantahan, dan kalian keluar! Jika taman jelek ini akan ditutup bagaimanapun juga, berarti aku bebas memperlakukan kalian dengan kasar dengan sisa waktu kita! Tapi… aku juga bisa memberitahu kalian satu hal. Dalam dua minggu, bocah kurang ajar yang sangat kalian benci ini akan membuat keajaiban terjadi! Itu benar, aku akan bawakan 100,000 orang ke taman ini!”


Keheningan singkat menggantung di taman, dan kemudian terjadi keributan. Kebanyakan terdengar seperti omelan, kritikan, dan hinaan, tapi tampaknya ada beberapa, yang, kaget dengan gertakannya, mulai menunjukkan ketertarikan yang ragu.


Oke, ayolah. Siapa saja dari kalian. Katakan padaku, cepat! Kata-kata yang mau kudengar sejak lama, ya—


“Em… apa yang membuatmu yakin kalau kau bisa melakukannya?”


Itu dia!


Orang yang menanyakan pertanyaan yang sudah Seiya tunggu untuk didengar adalah seorang gadis dengan gaun dongeng yang aneh. Seiya memutar ingatannya, dan ingat bahwa dia adalah Peri Air, Muse, yang adalah bagian dari pertunjukan musik.


“Ramalan itu, rencana rahasiaku, dan kepercayaan diri yang tak tergoyahkan,” ia memberitahunya. “Kenapa, aku bisa membawakan 500,000 orang jika perlu! Kita akan sibuk, bagaimanapun juga, jadi bersiaplah untuk bekerja sangat keras!”


Keributan menjadi semakin besar. Suara-suara itu masih tampak lebih mengkritisi Seiya daripada sebaliknya, tapi beberapa kata yang terdengar menonjol di antara percakapan itu: “Ramalannya…” “Mungkin…” “Apa kau pikir…”


Ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan, untuk saat ini. Sisanya tidak penting.


“Aku akan mengedarkan instruksi terperici nanti,” ia mengakhiri. “Untuk saat ini, melaporlah besok untuk shift biasa kalian, dan sebaiknya kalian tepat waktu! Paham?”


Ia melirik Isuzu.


Dia sudah menatapnya, tercengang, tapi kembali sadar untuk meneriakkan, “Bubar!”


Begitu para pemeran pergi, Seiya, Isuzu, dan Latifah ditinggal sendiri di taman. Moffle sudah pergi dengan segera bersama maskot lainnya—maksud tersiratnya adalah ia tidak punya apapun lagi untuk diucapkan ke Seiya.


“Apa yang akan kita lakukan dengan Moffle?” Isuzu berbisik.


“Apa tikus itu selalu seperti itu?” Seiya bertanya padanya.


“Tidak. Biasanya, ialah yang menjaga para pemeran tetap pada jalur, agak seperti bintara senior di militer manusia. Ia juga terkenal.” dia menambahkan.


“Begitu,” Seiya mengerutkan kening. “Jadi ialah sersan pelatih kita yang keras hati, benar begitu?”


“Itulah kenapa aku mau memperkenalkannya padamu hari Minggu.” jelas Isuzu.


Sepertinya ia harus segera menyelesaikan masalah Moffle jika ia ingin semuanya terselesaikan di sini. Ia adalah tipe ‘pemimpin di tempat’ yang memiliki kekuatan sungguhan dalam organisasi semacam ini—kepala perawat di rumah sakit, mandor di tempat konstruksi, manajer shift di restoran…


“Paman… em, Moffle-san adalah pria yang angkuh,” ucap Latifah lemah. “Terlepas dari ramalanku, ia mungkin masih merasa meminta bantuan pada manusia itu salah.”


“Yah, bisa kumengerti,” Seiya bersimpati. “Lagipula ia baru saja dihina oleh orang luar.”


“Itu hampir seperti kau sadar kalau kau melakukannya…” Tampaknya ada lapisan maksud tambahan dalam perkataan Isuzu.


Latifah tampaknya juga menyadari sesuatu, dan bicara lagi, dengan ragu.


“Ah… Kanie-sama, hal-hal yang kau ucapkan cukup sulit untuk kami terima. Mungkinkah…”


“Ya,” ia mengaku, “itu pertunjukan. Aku mencoba membuat mereka marah.”


“Kau… mencoba?” Latifah terdengar bingung.


Seiya menggaruk belakang kepalanya, merasa sedikit canggung. “Aku mengatakan pada mereka bahwa pengunjung mereka adalah orang bodoh untuk meguji mereka. Jika perkataan itu mendapat respon lesu, mungkin ini akan jadi sia-sia; mereka benar-benar akan menjadi pecundang, dan aku akan langsung berjalan keluar, kalau begitu. …Tapi mereka tidak. Mereka menjadi sangat marah.”


“…Yang artinya…?” Latifah mendesaknya.


“Itu artinya aku bisa bekerja bersama mereka.”


“Ahh…”


“Ada banyak industri yang berkenaan dengan memberi kebahagiaan pada orang-orang, kan? Menyanyi, berakting, menulis, menggambar komik, memasak… Para ahli di bidang itu bisa tahan dicemooh—yah, beberapa tidak, tapi yang bertahan paling lama adalah yang bisa—tapi ada satu jenis hinaan yang sama sekali tidak bisa mereka tahan,” Seiya menjelaskan. “Apa kau tahu apa itu?”


“Menghina… pelanggan mereka?” tebaknya.


“Tepat. Mereka bisa mengatasi kritik tentang kekurangan mereka, tapi jika kau menghina orang-orang yang menyukai kinerja mereka… itu memicu amarah. Mereka marah seolah-olah kau sudah menghina keluarga atau teman mereka. Itu adalah trik psikologi yang aneh.”


“……”


“Bagaimanapun, kalau mereka marah karena aku mengejek pengunjung mereka, itu artinya mereka masih serius dengan pekerjaan mereka. Dan itu artinya mungkin masih ada harapan.”


“Begitu… Sungguh mendidik.” ucap Latifah, dengan senyum di suaranya.


Apa dia benar-benar memahami situasinya? Seiya bertanya-tanya.


“Kalau begitu, kau akan membantu kami?” Isuzu bertanya dengan waspada.


Kenyataan tentang ‘Sebuah taman hiburan yang dijalankan oleh para maskot dari alam sihir sedang dalam masalah keuangan’ dan ‘Aku, seorang siswa SMA biasa, akan menjadi manajer mereka’ belum sepenuhnya terpercaya, tapi— Yah, setelah menunjukkan keangkuhan seperti itu di depan pertemuan para monster ini, ia tidak bisa mengatakan “Tidak, aku keluar” di titik ini.


“Akan kuambil pekerjaannya,” ia akhirnya bicara. “Tapi hanya untuk dua minggu.”


“Dua minggu?”


“Aku masih seorang siswa SMA,” jelasnya. “Aku harus fokus pada belajarku.”


Video gameku juga. Aku tidak mau kehilangan waktu bermain gameku yang berharga untuk pekerjaan bodoh ini. Ujian akhir sudah dekat, diikuti libur musim semi, dan orang bodoh macam apa yang menghabiskan libur musim semi dengan bekerja? Aku ingin bermain game dari pagi hingga malam.


“Belajarmu, hmm?”


Seiya menepis tatapan curiga Isuzu, lalu melanjutkan, “Kau hanya perlu melewati rintangan dalam waktu dekat ini, kan? Nasib taman akan ditentukan dalam dua minggu. Jadi apapun hasilnya, pekerjaanku berakhir saat itu. Sepakat?”


“…Ya,” Latifah tersenyum. “Tetap saja, aku berterima kasih yang terdalam padamu.”


“…Jangan berterima kasih padaku dulu.” Seiya menghela napas panjang, lalu duduk di kursi taman terdekat. Untuk beberapa alasan, ia merasa sangat lelah saat ini.


Ia berpikir sejenak apakah ia harus mengungkapkan pemikirannya pada Latifah dan Isuzu atau tidak. Lalu pada akhirnya, ia berkata. “Kupikir aku harus jujur padamu. …Aku adalah siswa ulung. Aku cemerlang. Aku juga sangat tampan dan punya banyak bakat.”


“Apa kau mulai membanggakan dirimu sendiri tanpa alasan?” kening Isuzu mengkerut.


“Diam dan dengarkan. …Jadi di antara ramalanmu dan kekuatan aneh yang kau berikan padaku, ada suatu takdir tertentu yang meliputi keberadaanku.


Itu mungkin tampak seperti orang dengan bakat sepertiku bisa membuat keajaiban terjadi, tapi—dan maafkan aku mengatakan ini—mendapat 100,000 orang dalam dua minggu itu mustahil.”


Seiya sudah bisa melakukan estimasi kasar dari kedatangan mereka kemarin berdasarkan apa yang sudah ia lihat; itu mungkin ada di antara 2,500 dan 3,500. Itu di hari Minggu, jadi itu mungkin yang tertinggi yang bisa mereka harapkan di waktu-waktu ini, di awal Maret. Kalau begitu, di hari kerja, akan menjadi sebagian kecil dari itu.


Asumsikan rata-rata 1,500 pengunjung per hari, jika dijumlahkan totalnya 21,000 dalam dua minggu. Mereka memiliki target 100,000, tapi mereka sesuai jadwal dan mendapat sekitar 20,000 dan kembali. Tidak heran para pemeran sangat putus asa.


“Jadi?” Isuzu bertanya.


“Akan kulakukan semua yang kubisa,” ia memberitahu mereka, “tapi ini mungkin tak akan mengubah hasil. Aku hanya mau kalian bersiap untuk hal itu.”


“Lalu yang kau katakan pada mereka sebelumnya…”


“Itu bohong, tentu saja. Aku tidak punya rencana rahasia.” Sebuah senyum menyalahkan diri sendiri muncul di wajah Seiya.


“……”


“Aku harus mengatakan itu pada mereka,” ia mengakui, “karena aku butuh mereka untuk berharap jika aku mau mereka mengerahkan semua usaha mereka.”


Isuzu mengalihkan pandangannya ke lantai dengan sedih. Tapi Latifah menatap ke kejauhan, masih tersenyum. “Begitu… Tapi Kanie-sama, aku masih tetap percaya kau akan membuat sebuah keajaiban terjadi.”


Seiya tercengang. Dia jelas punya kepemilikan penuh atas pancaindranya, jadi… Apa dia entah bagaimana tidak mengerti tentang keadaannya sendiri?


“Oh?” ia bertanya penasaran. “Apa itu yang ramalanmu katakan padamu?”


“Tidak,” Latifah memberitahunya. “Ramalanku hanya memberitahuku jalan yang harus kuambil. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”


“Lalu bagaimana kau bisa begitu yakin?” Seiya ingin tahu.


“Itu hanya perasaanku. Saat kau datang ke sini sebelumnya… Aku berpikir, ‘ini adalah pria yang akan membuat keajaiban terjadi.’”


Benar-benar omong kosong, cibirnya dalam hati. Aku bukanlah orang bodoh yang mengharapkan keajaiban… Merasa jijik dengan kata-kata Latifah, Seiya ingin mengatainya. Tapi ia tidak bisa. Kenapa ia tidak melakukannya… ia bahkan tidak tahu pasti.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2